sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11
Hari ini hari libur sekolah, siswa dan siswi yang tidak peduli masa depan mereka akan banyak menghabiskan waktu mereka dengan aktivitas tidak penting.
"Zean, ayah berangkat dulu. " pamit ayah Zean.
"ya, ayah. " sahut Zean dari dapur. sesudah berberes, dia kemudian bergegas pergi. Dia sudah memiliki janji dengan Faris dan Arine untuk belajar bersama.
....
Hari yang cerah tapi tidak di mansion ini.
tek, tek, tek.. suara ketukan jari seseorang yang tidak lain adalah Gavin. dia duduk di kursi sambil menatap tak suka dengan hal di depannya ini.
"Apa ini? " tanya Gavin .
para pelayan menunduk karena takut pada tuan muda satu ini. hanya bibi sari yang berani menjawan.
"tuan muda. ini adalah guru private anda. Kata tuan, sebentar lagi anda akan menghadapi ujian nasional. jadi, tuan mencarikan guru yang cocok untuk anda. " jelasnya panjang.
"Iya. senang bertemu dengan anda tuan muda. " sapa guru itu ramah.
'ck, jelek sekali' batinnya menilai guru itu.
'apa tidak ada guru yang lebih fresh dipandang olehnya? '. Tanpa sadar, kalimat yang hanya ada di dalam pikirannya itu justru terlontar begitu saja dari mulutnya.
mereka semua terkejut, mendengar ucapan Gavin baru saja....
Guru itu terdiam beberapa saat. Wajahnya langsung berubah kesal mendengar ucapan Gavin.
"Apa kamu baru saja mengatakan aku jelek?". tanyanya, menahan amarah.
Gavin terdiam.
"Kalau kamu tidak suka dengan cara aku mengajar, kamu boleh bilang. Tapi jangan pernah mengomentari fisik seseorang seperti itu.'
Tatapannya menajam.
"Saya datang ke sini untuk mengajar, bukan untuk dinilai olehmu. " marahnya.
para pelayan berusaha menenangkan nya tapi.. sudahlah, guru itu kemudian menelpon Adrian.
"ya, halo? " jawab dari seberang.
"Halo pak Adrian. maaf, saya tidak bisa mengajari putra anda.. " ucapnya. belum sempat Adrian membalas, guru itu melanjutkan kembali...
"sepertinya bukan guru akademik yang dia butuhkan, tetapi guru sikap dan perilaku. " langsung saja guru itu menutup telepon nya dan pergi begitu saja.
semua disana shock. begitu juga Gavin,
'apa-apaan ini? sensitif sekali. ' batinnya.
"tuan muda:(.." ucap mereka sedikit sedih dengan kejadian tadi.
Gavin? biasa saja.
"sudahlah, siapa juga yang butuh guru. gua bisa belajar sendiri. " ucapnya sambil memakan apel yang ada di meja makan dan berjalan menuju kamarnya dengan bersenandung kecil..
ngapain? lanjut tidur lah.
huhh.. mereka hanya bisa menghembuskan nafas saja melihat tuan muda mereka yang tidak sadar sadar.
....
tutt tutt..
panggilan dimatikan sepihak. Adrian menghela nafas lelah. dia tidak menyangka akan mendapatkan panggilan dari rumah saat rapat seperti ini. Adrian juga tidak sengaja membesarkan volume nya.
tentu, seisi ruangan ini tau seperti apa tingkah anaknya ini.
"Putra anda sangat pemberani seperti anda tuan Adrian. mencoba hal baru. " celetuk seseorang, dan ada tawa di akhir nya.
"Adrian, dia berulah lagi? " tanya sahabatnya.
dan hanya mendapat anggukan dari Adrian.
Sahabatnya itu langsung menepuk pundak Adrian berharap bisa mengurangi stres nya ini. dia sangat tau seperti apa Gavin, putra Adrian. jika Adrian pembisnis handal dan cakap dalam segala apapun. maka, ujian terbesar untuknya yaitu putranya sendiri.
" GAVINEAL ADRIAN "
"shh, Gavin.. gavin. " keluh ia sambil memijat pelipis nya.
sang pelaku yang dibicarakan, sedang tidur dengan tenang dikamarnya.
Clara masuk ke kamarnya untuk meletakkan buku yang sedari tadi disiapkan untuk dia belajar. tapi buku itu kembali kosong. dia mendekati Gavin, dan menyisir pelan surau rambutnya. Bagaimanapun, Clara menyayangi Gavin dan sudah menganggapnya seperti putranya sendiri. dia mengecup singkat dahinya.
Clara, menoleh ke beberapa tumpukan buku sebelum akhirnya ke luar dari kamar tersebut.