Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Cengkeraman Obsesi
"Kak, bisa nggak lepasin tanganku?" tanya Syafiya dengan suara panik, heran sekaligus takut melihat sikap kakak angkatnya.
Di dalam kabin mobil yang dingin, tangan kiri Zeffan yang berada di atas pangkuan Syafiya justru menggenggam makin erat jemari gadis itu, menganyam jemarinya hingga tak memberi ruang untuk lepas.
Zeffan hanya terkekeh pelan. Pria itu tetap memegang kendali setir dengan tangan kanannya tanpa berniat melepas Syafiya.
"Fokus saja menyetir, Kak!" tegur Syafiya tegas, berusaha merenggut tangannya kembali. "Ini berbahaya!"
"Aku bisa menyetir dengan satu tangan, Syafiya. Kamu tahu itu," balas Zeffan santai, ibu jarinya perlahan mengusap punggung tangan Syafiya.
"Tapi ini nggak benar, Kak Zeffan! Lepasin!" seru Syafiya setengah berbisik, matanya melirik cemas ke luar jendela. "Bagaimana kalau ada orang yang lihat?"
"Kaca mobil ini gelap dari luar. Nggak bakal ada yang lihat kita," sahut Zeffan tanpa beban.
"Bukan masalah kacanya!" napas Syafiya mulai memburu, dadanya naik turun menahan emosi. "Kakak itu suaminya Kak Valerie! Tadi pagi Kak Valerie bahkan siapin baju Kakak dengan tulus, tapi sekarang Kakak malah pegang-pegang tanganku kayak gini?"
"Kenapa harus selalu bawa-bawa Valerie?" nada suara Zeffan berubah agak dingin, tatapannya tetap lurus ke depan.
"Karena Kak Valerie itu istri sah Kakak!" tegas Syafiya, matanya mulai berkaca-kaca. "Dan aku ini adik angkat Kakak! Tolong ingat posisi kita masing-masing!"
Zeffan mendadak menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti mulus, dan Zeffan langsung menoleh sepenuhnya ke arah Syafiya. Tatapan matanya tajam mengunci iris mata gadis di sampingnya.
"Adik angkat?" Zeffan tersenyum sinis, tawa tipis keluar dari bibirnya yang membuat bulu kuduk Syafiya berdiri. "Sejak kamu masuk ke kamarku semalam, status 'adik' itu sudah nggak berlaku, Syafiya."
"Aku sudah bilang aku salah masuk kamar, Kak! Kenapa Kakak terus-terusan bahas itu?!" pangkas Syafiya dengan suara gemetar, air mata perlahan menetes membasahi pipinya.
Zeffan mengangkat tangan kanannya, mengusap lembut air mata di pipi Syafiya dengan jemarinya—gestur yang terasa begitu intim namun penuh ancaman.
"Mau sengaja atau nggak, kamu sudah masuk ke teritorialku," bisik Zeffan tajam. "Jadi mulai sekarang, terbiasalah."
Mobil kembali berjalan saat lampu lalu lintas berganti hijau. Suasana di dalam kabin kembali hening, sebelum suara berat Zeffan memecah udara.
"Syafiya, jadilah wanita simpananku."
Syafiya tersentak hebat, kepalanya mendongak menatap Zeffan dengan mata terbelalak lebar. "K-Kak Zeffan bicara apa, sih?! Kakak gila?!"
"Aku nggak gila, Syafiya. Aku sangat sadar," jawab Zeffan tenang, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan.
"Gila! Kakak benar-benar gila!" pekik Syafiya, air matanya menetes makin deras. Ia menarik tangannya sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas dari cengkeraman Zeffan. "Kakak punya Kak Valerie! Kakak punya Elvano yang masih satu tahun! Gimana bisa Kakak ngomong hal sebejat itu ke aku?!"
"Aku nggak peduli," sahut Zeffan pendek, tanpa penyesalan sedikit pun.
"Tapi aku peduli, Kak!" jerit Syafiya dengan suara gemetar. "Mommy sama Daddy udah membesarkan aku! Mereka merawat aku kayak anak sendiri! Terus sekarang Kakak minta aku jadi wanita simpanan Kakak?! Kakak mau aku mengkhianati Mommy sama Kak Valerie?!"
Zeffan melirik Syafiya sekilas, bibirnya mengukir senyuman dingin. "Kamu nggak mengkhianati siapa pun asal kamu tutup mulut dan nurut sama aku."
"Nggak! Aku nggak sudi!" tegas Syafiya geleng-geleng kepala. "Turunin aku sekarang, Kak! Turunin aku di jalan!"
"Duduk yang tenang, Syafiya. Jangan buat aku hilang kesabaran," ancam Zeffan, nada suaranya berubah amat dalam dan berbahaya.
"Lepasin aku! Aku mau turun! Aku lebih baik jalan kaki ke butik daripada harus satu mobil sama pria biadab kayak Kakak!" Syafiya meraba-raba gagang pintu mobil, berusaha membukanya meski mobil sedang melaju.
Cklik!
Zeffan langsung mengunci seluruh pintu mobil secara otomatis dari panel pengemudi.
"Pintunya udah aku kunci. Kamu nggak akan bisa keluar," ujar Zeffan dingin.
"Kak Zeffan, aku mohon..." tangis Syafiya pecah, kedua tangannya menyatu memohon di depan dada. "Tolong jangan kayak gini... Aku takut, Kak. Tolong hargai aku sebagai adik Kakak..."
Zeffan membelokkan setir dan menghentikan mobilnya secara mendadak di bahu jalan yang agak sepi. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu memajukan tubuhnya menyeberangi konsol tengah, mengikis jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Syafiya.
"Aku udah bilang dari awal, Syafiya," bisik Zeffan dengan tatapan mengunci. "Sejak kamu menginjakan kaki di kamarku semalam, aku nggak pernah lagi menganggap kamu sebagai adik. Kamu punya dua pilihan sekarang."
"P-pilihan apa...?" bisik Syafiya terbata-bata, tubuhnya merapat ke pintu mobil karena terdesak.
"Pilihan pertama, kamu nurut dan jadi milikku secara diam-diam," bisik Zeffan, jemarinya membelai dagu Syafiya. "Atau pilihan kedua, aku bongkar kejadian semalam ke Mommy, Daddy, dan Valerie. Aku bakal bilang kalau kamu yang sengaja datang dan menggoda aku di kamar."
"Kak Zeffan! Itu fitnah! Kakak jahat banget!" jerit Syafiya tak percaya dengan pemerasan yang dilayangkan kakak angkatnya.
"Menurutmu siapa yang bakal Mommy percaya, Syafiya?" Zeffan tersenyum sinis. "Anak kandungnya sendiri... atau anak angkat yang cuma numpang di rumahnya?"
Syafiya hanya diam saja. Air matanya terus menetes tanpa suara, membasahi pipi yang mulai memucat. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sudah dipikirkan oleh kakaknya sampai setega ini.
"Aku akan menagih jawabanmu nanti siang, Syafiya. Saat aku ke butik nanti," ucap Zeffan dingin sambil kembali membetulkan posisi duduknya dan memakai sabuk pengaman.
"Kenapa Kakak tega banget sama aku?" bisik Syafiya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh mesin mobil. "Aku salah apa sama Kakak?"
Zeffan kembali menjalankan mobilnya memasuki arus lalu lintas. "Kamu nggak salah apa-apa, Syafiya. Kamu cuma terlalu lugu dan bersikap seolah nggak tahu kalau selama ini aku selalu memperhatikan kamu."
"Tapi kita ini keluarga, Kak!" seru Syafiya, menoleh dengan tatapan terluka. "Mommy sangat sayang sama aku. Kak Valerie juga selalu baik sama aku! Apa Kakak nggak mikirin perasaan mereka sedikit pun?"
"Jangan bawa-bawa mereka lagi," potong Zeffan datar, pandangannya lurus ke depan. "Ini cuma antara aku dan kamu. Nggak ada hubungannya sama orang lain."
"Ini ada hubungannya sama semua orang di rumah itu, Kak Zeffan!" napas Syafiya memburu. "Kalau Mommy sampai tahu, Mommy bisa serangan jantung! Kakak mau ngebunuh Mommy secara perlahan?"
Zeffan terkekeh sinis. "Makanya aku bilang, semuanya tergantung kamu. Kalau kamu tutup mulut dan nurut, nggak akan ada satu orang pun yang terluka."
"Itu pemerasan namanya, Kak!" pekik Syafiya frustrasi, kedua tangannya mengepal kuat di atas pangkuan.
"Panggil terserah kamu," balas Zeffan santai. "Ingat, jam makan siang aku sampai di butik. Pastikan kamu sudah punya jawaban yang benar, Syafiya. Jangan sampai jawabanmu justru bikin aku terpaksa bicara hal yang enggak-enggak sama Mommy."
"Kak Zeffan biadab!" umpat Syafiya dengan suara gemetar, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela sambil memejamkan mata rapat-rapt, meratapi nasibnya yang kini benar-benar terasing di dalam cengkeraman sang kakak angkat.
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰