Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riuhnya Dapur Sederhana
Hari-hari berikutnya di rumah petak berjalan dengan ritme yang jauh lebih hidup dan tertata. Setiap subuh, sebelum fajar sepenuhnya menyingsing, dapur mungil Rena sudah terlebih dahulu diterangi cahaya lampu bohlam yang temaram. Suara kompor gas dan aroma harum santan yang berpadu dengan daun serai serta lembaran daun salam konsisten menyapa pagi hari para tetangga di kontrakan.
Dengan modal yang semakin berputar dari hasil penjualan harian dan sisa uang menulis cerpennya, Rena kini menaikkan jumlah produksinya. Dari yang tadinya hanya tiga puluh bungkus, dalam dua minggu terakhir ia stabil menyiapkan lima puluh hingga enam puluh bungkus nasi uduk setiap hari.
Meskipun aktivitasnya cukup melelahkan—mulai dari berbelanja ke pasar tradisional, memasak seorang diri, hingga melayani pembeli di teras rumah—wajah Rena tidak pernah menyembunyikan kelelahan yang berlebihan. Justru, binar semangat dan senyum tulus selalu menghiasi bibirnya setiap kali ia melihat kaleng tempat penyimpanan uang hasil dagangannya semakin berat terisi lembaran rupiah.
Bagi Rena, lelah fisik ini jauh lebih mulia dan membahagiakan ketimbang lelah batin saat ia harus menderita sebagai pesuruh tak digaji di rumah besar Bu Darmi yang sudah tidak memberi upah tapi masih tetap menyangkal dengan semua hasil kerja Rena. Di sini, setiap butir keringat yang jatuh adalah miliknya, dan menghasilkan rupiah serta setiap rupiah yang didapat murni untuk kelangsungan hidup rumah tangganya bersama Gunawan. Tidak ada lagi bentakan, tidak ada lagi hinaan fisik maupun mental yang merendahkan martabatnya sebagai seorang istri. Di sini Uangnya dapat, harga dirinya tidak di injak.
Malam itu, setelah seluruh peralatan dapur selesai dibersihkan dan dibereskan, Rena kembali merebahkan diri di atas tikar plastik tipis. Di sampingnya, Gunawan tampak tengah menikmati kopi hangat buatan sang istri setelah seharian bergelut dengan debu dan mesin di pabrik sepatu. Suasana di dalam rumah petak terasa begitu damai, ditemani suara derik kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut ruangan.
"Capek ya, Ren?" tanya Gunawan lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Rena menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan nyaman.
"Capek sih pasti, Mas. Tapi rasanya beda banget, karena cape ini menghasilkan uang dan tidak di remehkan. Capek kerja buat diri sendiri dan suami itu, rasanya nggak ada apa-apanya dibanding dulu. Aku malah bersyukur kita berani ambil keputusan buat pindah ke sini. coba kalau waktu itu mas tidak berani membuat keputusan ini pasti hidup kita tidak seenak sekarang"
Gunawan tersenyum haru mendengar ucapan itu " maafkan mas ya sayang, mas terlambat sadar dan mengambil keputusan ini akhirnya kamu harus menderita dan tersikas serta kita tiga kali harus kehilangan anak kita"
Ia merangkul erat istrinya, merasa sangat beruntung memiliki wanita tangguh seperti Rena di sisi hidupnya. Lelaki itu bertekad dalam hati untuk bekerja lebih giat lagi agar kelak bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih layak bagi sang istri tercinta.
"iya mas, ini semua sudah di atur Tuhan, kita hanya menjalani dan bagaimana bisa keluar dari semua ini saja"
Namun, di balik ketenangan malam di rumah petak itu, tanpa disadari oleh Rena maupun Gunawan, sebuah gelombang perubahan besar dan tantangan baru sedang bersiap menyapa mereka di minggu-minggu berikutnya sebuah pesanan skala besar yang akan menguji kemampuan Rena dan membawa rezeki yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.