Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 hari tanpa Aira part 2
Layar ponsel Arka masih menampilkan nada panggil yang tersambung ke nomor Nenek. Sementara ponselnya berdering, mendadak sebuah ingatan melintas cepat di kepala Arka.
Mata Arka membelalak hebat. Pria tegap berotot itu tiba-tiba teringat satu kenyataan krusial: Rehan!
Rehan adalah sepupu laki-laki Aira yang berusia lima tahun, anak dari adik Arka yang baru datang dari luar kota. Masalah besarnya, Aira sangat mengidolakan Kak Rehan! Setiap kali bertemu, Aira selalu nempel terus seperti perangko, memuji Rehan setinggi langit, dan mengabaikan Papanya.
"A-ASTAGA, SAYANG!" jerit Arka panik setengah mati, memegang dadanya yang mendadak berdebar kencang karena cemburu. "Di rumah Mama kan ada si Rehan?! Anak kecil sok ganteng yang jago main mobil-mobilan itu?!"
Nala yang duduk di sofa terkekeh santai. "Iya, Mas. Tadi Aira pas mau berangkat heboh banget bilang kangen sama Kak Rehan."
"ENGGAK BOLEH! AIRA GAK BOLEH LEBIH SAYANG SAMA REHAN!" igau Arka cemburu drama. "Rehan tuh cuma bisa bikin benteng mainan! Aku ini Lead Structural Engineer! Muka aku lebih ganteng dari Rehan!"
Belum sempat Arka meratapi cemburunya lebih jauh, KLIK! Video call diangkat oleh Nenek.
Layar ponsel seketika menampilkan ruang tengah rumah Nenek yang riuh. Di sana, Aira sedang duduk bersila di atas karpet bersama Rehan, sibuk menumpuk bantal sofa.
"MAMA! AIRA MANA, MA?! MANA SI REHAN?!" cerocos Arka cepat tanpa basa-basi, menempelkan mukanya rapat-rapat ke kamera HP.
Nenek mengarahkan kamera ke Aira. Arka langsung memasang muka garang bercampur cemburu sambil mendekap Polo erat-erat di dadanya.
"Aira! Kenapa Aira cuma izin sama Mama Nala doang?! Kenapa Papa enggak diizin?!" protes Arka melengking, suaranya dipasang sok merajok. "Aira kan bisa telepon Papa! Mau Papa lagi rapat proyek kek, lagi sibuk di jalan kek, kalau Aira telepon kan Papa pasti angkat! Kenapa main pergi gitu aja tanpa izin Papa?!"
Aira melirik ke layar HP Nenek sekilas. Namun, bukannya merasa bersalah, Aira justru memasang mode sok cuek dan sok dingin! Bocah tiga tahun itu sengaja memalingkan mukanya kembali ke arah Rehan.
"Gimana mau izin sama Papa Alka? Pasti gak bakal dibialin!" cerocos Aira menohok polos, tanpa beban sedikit pun. "Aila kan kangen banget sama Kak Rehan, Pah! Udah lah, Aila mau main dulu... Sekalang Aila lagi bangun benteng lalajaan sama Kak Rehan! Kak Rehan jago banget!"
PRANGGG!
Hati Arka serasa diremukkan sampai hancur berkeping-keping. Pria tegap itu makin nelangsa mendengar alasan logis sekaligus tajam dari putri kecilnya.
"Aira... astaga, Nak! Masa Papa dicuekin gara-gara Rehan?!" keluh Arka dengan suara serak menahan cemburu berat. "Rehan cuma bisa bikin benteng bantal! Papa bisa bikin jembatan sama gedung beneran buat Aira!"
Aira yang melihat ekspresi Papanya makin merana dan mau menangis di layar HP mendadak memegang dadanya. Bocah mungil itu mendekatkan wajah cantiknya ke kamera HP Nenek, lalu bernyanyi dengan suara melengking nan menggemaskan.
"Papa yang jauh di sana... jauh di mata..dekat di hati." celoteh Aira manis.
"Aira... Papa kan dekat di HP ini, Nak..." potong Arka melas.
Aira menepuk-nepuk layar HP Nenek dengan jemari mungilnya, memasang raut wajah sok puitis dan tenang layaknya orang dewasa.
"Papaaaa... Aila nginap cuma sebental ini..." puji Aira menenangkan, suaranya sangat menggebu-gebu. "Ini kan demi putli Papa yang lucu! Papa jangan malah-malah, takut nanti lekas tua!"
PFFTTT!
Nala yang berdiri di samping Arka meledak dalam tawa renyah hingga bahunya berguncang hebat. "Dengerin tuh, Mas! Papa jangan marah-marah, takut nanti lekas tua!"
Aira lalu menyengir lebar, menunjukkan gigi susunya yang berjejer rapi.
"Aila pulang besok kok, Papa !" seru Aira bersemangat. "Sekalang Papa jaga Polo baik-baik ya! Peluk Polo aja dulu... Nanti kalau Aila udah pulang, balu deh Aila yang dipeluk Papa!"
Arka yang mendengar petuah ajaib, nyanyian manis, dan perintah peluk Polo dari putrinya seketika terkunci rapat. Hati Pak Engineer tegap itu meleleh total. Pria berotot itu mendekap Polo makin erat di dadanya sambil tersenyum pasrah.
"Iya deh, Bos Kecil... Papa peluk Polo dulu sampai besok..." bisik Arka pasrah. "Besok sore Papa jemput paling cepat!"
"Siap, Papa ! Mwah! Dahhh Papa Alka!" seru Aira melempar ciuman jauh (kiss bye) bertubi-tubi ke layar sebelum kembali berlari mengejar Rehan.
(Hari ini Papa Alka pwolek kenapa Aila cuma izin sama Mama Nala! Tapi Aila bilang kalau izin sama Papa pasti gak dibialin. Terus Aila nyanyi 'Papa Jangan Marah-Marah' tlus suruh Papa peluk Polo dulu sampai besok Aila pulang! Papa Alka langsung pasrah tlus meluk Polo erat-erat!)
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga