NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Dengan kecepatan sedang, Abi membelah dinginnya angin malam menunggangi sepeda motornya. Jarak dari rumah Bu Marni ke gapura desa memang tak begitu jauh, hanya butuh waktu sekitar lima menit berkendara.

Sesuai tebakan Nadia, lampu penerang dari warung sederhana di dekat gapura itu masih menyala terang.

Abi segera memarkirkan motornya di pinggir jalan lalu berjalan mendekat. Bu Nanik, sang pemilik warung yang sedang merapikan beberapa wadah bumbu, langsung mendongak dan menyunggingkan senyum ramah.

"Lho, Mas Abi? Tumben malam-malam begini ke sini," sapa Bu Nanik hangat sambil mengelap tangannya dengan serbet.

"Mau beli apa, Mas?"

"Iya nih, Bu Nanik. Mau beli pecelnya, masih ada nggak?" tanya Abi.

"Wah, pas banget! Masih ada sisanya sedikit. Untung sampeyan datang sekarang, kalau sepuluh menit lagi mungkin udah tak beresin," jawab Bu Nanik renyah.

"Beli berapa bungkus, Mas?"

"Beli dua bungkus ya, Bu. Yang satu pedas sedang buat adiknya, satu lagi bungkus khusus anak-anak, bumbunya dikit aja atau dipisah biar nggak pedas," ujar Abi menyampaikan pesanan Nadia dan Aqil.

"Lho, Mas Abi?"

Abi menoleh, dan benar saja, Yanti sudah berdiri di sana dengan gaya khasnya, memegang kantong plastik berisi gorengan. Senyumnya langsung mengembang lebar begitu melihat sosok Abi di depan warung.

"Malam-malam begini nyari pecel juga, Mas? Wah, jodoh memang nggak kemana ya," goda Yanti centil sambil membetulkan letak jilbabnya.

Bu Nanik hanya terkekeh pelan sambil meracik pesanan Abi, sudah terbiasa melihat tingkah Yanti yang memang terang-terangan menaruh hati pada duda beranak dua itu.

Abi, yang sudah paham betul dengan kelakuan tetangganya ini, hanya mengulas senyum tipis ala kadarnya.

"Iya, Mbak Yanti. Ini beliin titipan Nadia sama anak-anak."

"Oalah, beliin buat anak-anak..." Yanti melirik Abi dari samping.

"Kasian banget Mas Abi, malam-malam gini masih riwa-riwi sendiri beliin jajanan anak. Coba kalau ada yang ngurusin di rumah, kan Mas Abi tinggal duduk manis, biar ada yang bikinin pecel sendiri di dapur..."

"Nggak apa-apa, Mbak. Sekalian keluar cari angin."

Yanti malah makin berani. Ia menggeser posisinya hingga jaraknya dengan Abi hanya menyisakan beberapa senti saja. Bau parfum menyengat langsung menusuk hidung Abi.

"Halah, cari angin kok sendirian, Mas..." bisik Yanti mendayu-dayu sambil memiringkan kepalanya, matanya melirik Abi dari bawah ke atas. "Malam dingin begini, kalau dicariin angin terus yang ada nanti malah masuk angin lho. Mending dicariin pendamping... biar hangatnya pas, nggak bikin sakit."

Tangan Yanti bahkan mulai bergerak, pura-pura hendak mengibas debu imaginer di lengan jaket Abi.

Sontak bulu kuduk Abi langsung berdiri. Mengelus bulu tangannya yang merinding hebat, Abi refleks mundur dua langkah besar ke belakang sampai punggungnya hampir menabrak tiang kayu warung.

"Mbak Yanti, tolong jaga jarak," tegur Abi.

Bu Nanik yang melihat tingkah Yanti sampai menggelengkan kepala sambil menahan tawa. "Huuu, Yanti! Wong Mas Abi-ne sampai merinding ketakutan gitu kok ya ditempel-tempelin terus. Wis, iki pesenane wis dadi, Mas Abi."

Bagaikan mendapat bantuan dari langit, Abi langsung menyambar dua bungkus pecel dari tangan Bu Nanik dan menyodorkan uang pas.

"Matur nuwun, Bu Nanik! Saya pamit dulu!" ucap Abi cepat-cepat tanpa menunggu kembalian karena memang uangnya pas, lalu melangkah seribu langkah menuju motornya, mengabaikan teriakan Yanti yang masih berusaha memanggilnya.

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, sorot lampu motor Abi menatap sebuah mobil travel berwarna putih yang berhenti di tepi jalan yang agak gelap. Kap mesinnya tertutup, tapi lampu hazard-nya berkedip-kedip pasrah.

Merasa kasihan, Abi memelankan laju motornya dan berhenti di samping mobil tersebut.

"Kenapa mobilnya, Mas?" tanya Abi dari atas motor.

Sopir travel itu keluar sambil menyapu keringat di dahi, wajahnya tampak lelah. "Kempes Mas bannya. Di sini ada tukang bengkel nggak, Bang?"

"Ada, itu yang di sana," jawab Abi sambil menunjuk ke arah tikungan jalan yang berjarak sekitar dua ratus meter dari posisi mereka.

"biasanya jam segini masih buka."

Sopir itu menepuk jidatnya sendiri. "Oalah... Tadi nggak nampak. Gelap banget soalnya tikungannya."

Belum sempat sopir itu melangkah untuk mengecek bengkel, pintu tengah mobil travel bergeser terbuka. Seorang perempuan muda melangkah keluar, merapikan jaket dan tas selempangnya.

"Saya turun di sini saja, Pak. Rumah saya dekat lagi ini," kata perempuan itu pada sang sopir.

Sopir travel itu menoleh ragu, merasa tidak enak hati. "Beneran nggak apa-apa, Mbak? Ini jalanan agak sepi lho, malam-malam gini."

"Nggak apa-apa, Mas. Barang-barang saya tolong dikeluarkan ya," sahut perempuan itu mantap sambil tersenyum tipis.

Sopir travel itu pun segera membukakan bagasi belakang dan menurunkan dua tas besar milik perempuan tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar ongkos, perempuan itu berdiri di tepi jalan yang sepi, memegangi tali tasnya di bawah pendar redup lampu jalan.

Melihat seorang wanita sendirian di jalanan sepi malam-malam begini, apalagi membawa barang bawaan cukup banyak, naluri penolong Abi langsung bergerak. Niatnya murni hanya ingin membantu sesama warga desa.

"Mbak... kalau rumahnya dekat, mau sekalian saya antar saja?" tawar Abi sopan dari atas motornya. "Lumayan berat itu barangnya kalau dijinjing malam-malam begini."

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan, menatap Abi lurus-lurus.

Matanya memperhatikan Abi dari ujung helm sampai ke kaus yang dilapisi jaket sederhananya, lalu beralih ke kantong plastik berisi pecel yang menggantung di stang motor. Tatapannya dingin dan menyelidik, seolah sedang menimbang-nimbang apakah pria di atas motor ini aman atau justru berniat jahat.

Suasana mendadak hening selama beberapa detik, hanya diselingi suara jangkrik dan deru mesin travel yang masih menyala di belakang mereka. Abi yang ditatap seperti itu jadi serba salah dan agak canggung.

"Tenang, Mbak. Saya Abi, rumah saya di sekitar sini juga," tambah Abi cepat-cepat.

"Ini saya baru selesai beliin pecel buat anak-anak di rumah."

Perempuan itu menghela napas pelan, ketegangannya sedikit mengendur mendengar penuturan jujur Abi. Ia melirik kantong pecel yang beraroma gurih di stang motor, lalu kembali menatap wajah Abi yang memang tampak polos dan tak berniat macam-macam.

"Tahu rumah Pak Darno, Mas?" tanya perempuan itu akhirnya dengan suara yang terdengar lumayan lelah.

"Kita ke sana saja."

"Oalah, tahu, Mbak. Dekat itu," jawab Abi lega. "Mari, taruh saja tasnya di depan, nanti Mbak duduk di belakang. Daripada dijinjing sambil jalan kaki malam-malam begini."

Sopir travel yang sedang bersiap memindahkan mobilnya ke bengkel ikut menimpali sambil tersenyum. "Nah, bener itu Mbak. Ikut Masnya saja, mumpung ada warga lokal."

Perempuan itu mengangguk pelan. "Terima kasih banyak ya, Mas."

Ia mengangkat salah satu tasnya ke bagian depan motor Abi, lalu menaiki jok belakang dengan sopan, memberikan jarak aman di antara mereka.

Setelah membantu menurunkan dua tas besar milik perempuan itu di depan teras rumah Pak Darno.

"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap perempuan itu tulus saat Abi mulai menyalakan mesin motornya kembali.

"Sama-sama, Mbak. Mari..." balas Abi singkat sebelum perlahan melajukan motornya membelah kegelapan jalanan desa menuju rumahnya sendiri.

Tidak butuh waktu lama, suara deru mesin motor Abi memasuki halaman rumahnya yang sederhana. Dari kejauhan, sorot lampu motor langsung menangkap sosok mungil yang duduk bersila di ambang pintu depan yang terbuka sedikit.

Itu Aqil. Anak bungsunya itu tampak menopang dagu dengan kedua tangan kecilnya, matanya berbinar begitu mengenali motor sang ayah.

"Ayah datang! Nenek, Ayah sudah pulang bawa pecel!" teriak Aqil gembira sambil langsung bangkit berdiri dan berlari kecil menyambut Abi yang baru saja mematikan mesin motornya.

Abi tersenyum melihat tingkah anak bungsunya yang begitu antusias. Ia mengacak pelan rambut Aqil sebelum melepaskan kantong plastik berisi pecel dari stang motornya.

"Nih, pecelnya," ujar Abi sambil menyerahkan bungkusan itu ke tangan kecil Aqil.

"Hati-hati bawanya, jangan sampai tumpah. Suruh Tante Nadia pindahin ke piring ya," pesan Abi lembut.

"Siap, Ayah!" jawab Aqil girang. Dengan kedua tangan memegang erat bungkusan pecel yang masih hangat itu, ia berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil bibinya.

"Tante Nadia! Ini pecelnya datang!"

1
ig: denaa_127
komen pilih
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti
ig: denaa_127
setuju ngga mas Abi sama Kayla?
Elly Maryani
mas Abi diam" suka neng Kayla nih... gercep bgt... mau ngapain mas nanti lebaran haji kerumah neng Kayla?🤭😅😂
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!