Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : JEJAK YANG MULAI TERLIHAT
...BAB 24...
...JEJAK YANG MULAI TERLIHAT...
Pagi itu, setelah memastikan suhu tubuh Bintang kembali normal, Amelia akhirnya bersiap untuk pulang.
Bayi itu sudah terlihat jauh lebih ceria. Bahkan sejak bangun tadi, Bintang sudah kembali mengoceh dan memainkan mainannya.
"Syukurlah, sudah nggak panas lagi," ujar Amelia sambil menyentuh dahi Bintang.
Reyga yang sedang membuat susu untuk Bintang mengangguk. "Iya."
Amelia mengambil tasnya. "Aku pulang dulu ya." sahutnya.
Reyga menoleh. "Lo mau kerja?"
"Iya. Hari ini aku masuk."
Reyga melihat jam. "Tapi ini masih pagi."
"Justru itu. Kalau aku telat, bosku bisa mengamuk." Amelia berjalan menuju pintu.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara Reyga terdengar. "Amelia!"
Amelia menoleh ke belakang. "Ya?"
"Nomor rekening lo berapa?" tanya Reyga tiba-tiba.
Amelia mengernyit. "Buat apaan?"
"Gue mau transfer."
Amelia tersenyum mengingat lagi obrolan mereka semalam. Tentangnya yang minta bayaran menjaga Bintang. "Nggak perlu, Reyga. Aku bantu Bintang bukan karena uang."
"Gue tahu." Reyga menatapnya serius. "Makanya gue nggak menganggap ini bayaran."
"Terus?"
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku."
Amelia masih menggeleng. "Aku benar-benar
nggak enak."
Reyga menghela napas. "Lo punya ibu dan dua adik, kan?"
Amelia terdiam.
"Pakai kalau memang ada kebutuhan di rumah."
"Tapi..."
"Amelia." Reyga memotong. "Gue bukan sedang kasihan sama lo."
Amelia menatapnya.
"Gue cuma menghargai bantuan lo. Dan kalau uang itu bisa meringankan kebutuhan lo sama keluarga, kenapa harus ditolak?"
Amelia tidak langsung menjawab. Ia memang masih punya tabungan walau sedikit, tetapi kebutuhan rumah tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap bulan sekali, harus membeli ibunya obat dan rutin periksa ke Dokter. Ada mendadak biaya keperluan sekolah Intan dan juga Dika. Belum lagi kebutuhan sehari-hari mereka.
Akhirnya Amelia pasrah, dan menyebutkan nomor rekeningnya.
Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi.
Transferan masuk. Amelia membelalak melihat nominalnya.
"Reyga... ini terlalu banyak!" Amelia menutup mulut dengan tangannya.
"Sudah gue bilang, pakai kalau perlu." Reyga tersenyum.
"Aku nggak bisa menerima sebanyak ini." Amelia menggeleng kepala.
"Bisa."
"Tapi—"
"Kalau lo nggak mau pakai buat diri sendiri, belikan sesuatu buat ibu atau adik-adik lo."
Amelia terdiam. Justru kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Reyga mungkin tidak tahu seberapa berat tanggung jawab yang ia pikul di rumah. Reyga juga tidak tahu berapa banyak kebutuhan yang selama ini harus ia pikirkan sendiri.
Namun lelaki itu seolah memberinya ruang untuk bernapas sedikit.
"Terima kasih," ucap Amelia pelan.
Reyga hanya mengangguk. "Jangan terlalu dipikirkan."
Amelia tersenyum kecil. "Tetap saja... Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Reyga menjawab singkat. "Ya."
Lalu Amelia kembali berpamitan. "Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Ya hati-hati."
Amelia mengangguk lalu keluar. Namun sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh lagi.
Reyga sudah kembali menggendong Bintang. Anehnya, pemandangan sederhana itu membuat hati Amelia bahagia.
45 menit kemudian...
Begitu Amelia tiba di kantor, ia langsung menuju ruang atasannya. Namun baru beberapa langkah masuk...
"Amelia."
Nada suara atasannya membuat langkah Amelia berhenti.
"Ya, Pak?"
"Mana beritanya?"
Amelia mengernyit. "Berita yang mana?"
Atasannya langsung menatap tajam. "Reyga."
Amelia terdiam.
"Dan Alessia." lanjutnya.
"Oh..."
Atasannya berdiri dari kursinya. "Saya sudah kasih kamu waktu."
"Maaf, Pak. Saya belum sempat..."
"Belum sempat?" Pak Hendra mengernyit. Lalu beberapa lembar foto dilemparnya ke atas meja.
Plak!
Amelia terkejut. Ia mengambil salah satunya. Foto Reyga sedang berdiri bersama Alessia di pesta. Foto lainnya memperlihatkan Alessia tersenyum kepada Reyga. Ada pula foto mereka sedang duduk berbicara dekat kolam renang.
Amelia membeku. "Ini..."
"Berita itu sudah tersebar sejak tadi malam." sahutnya.
Amelia menelan ludah.
"Media lain sudah memberitakannya lebih dulu." Atasannya menghela napas kesal.
"Kamu tahu kenapa saya marah?" tanya Hendra wajahnya sedikit merah.
Amelia menunduk. "Karena kita terlambat Pak?"
"Betul." tegasnya.
Amelia memandang foto itu lagi. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.
Ia tidak tahu mengapa. Padahal dirinya memang hanya seorang reporter yang sedang mencari berita.
Tetapi melihat Reyga berdiri dekat dengan Alessia... rasanya berbeda. Sangat berbeda.
"Mulai hari ini," kata Hendra lagi. "kamu harus dapat wawancarai Alessia."
Amelia mengangguk. "Baik, Pak."
"Dan cari tahu seberapa jauh hubungan mereka." perintahnya lagi.
Amelia terdiam. Hubungan mereka?
Tangannya tanpa sadar menggenggam foto itu sedikit lebih erat.
"Baik." Ia berbalik meninggalkan ruangan.
Namun begitu sampai di mejanya, Amelia kembali melihat foto tersebut.
Reyga tampak begitu berbeda malam itu. Terlihat rapi, tampan.
Reyga tersenyum manis di foto itu..Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada Amelia. Amelia segera meletakkan foto itu.
"Kenapa aku jadi peduli?" Ia menggeleng cepat. "Kerja, Amelia."
*****
Sementara itu di tempat lainnya, Berry masih belum kembali ke apartemen. Sudah hampir seminggu ia terus berada di sekitar pabrik.
Namun setiap kali pekerjaan selesai, mobil sport kuning miliknya justru membawa Berry ke tempat lain.
Rumah makan tempat Melda bekerja. Berry selalu parkir cukup jauh dari sana.
Ia tidak pernah mendekat. Tidak pernah menyapa. Hanya mengawasi.
Hari itu, Melda terlihat membawa beberapa piring. Langkahnya lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Berry langsung memperhatikannya. "Please, kamu jangan terlalu capek, Melda..." gumamnya.
Tak lama kemudian, seorang kurir datang membawa sebuah paket yang sudah Berry suruh sebelumnya.
Melda terlihat bingung. Paket itu berisi makanan dan kali itu dengan beberapa helai pakaian. Bukan pakaian mahal. Tetapi pakaian yang nyaman untuk perempuan hamil.
Melda mulai curiga. "Siapa yang terus mengirim ini padaku?"
Ia bertanya kepada pemilik rumah makan. "Entahlah." jawabnya, tak ada yang tahu mengenai paket yang dikirim untuk Melda.
"Setiap hari? Kurang lebih." Malamnya di kamar kosannya Melda menatap paket tersebut.
Ia sama sekali tidak pernah meminta. Apalagi menerima bantuan dari orang lain.
Lalu esok harinya, Melda keluar untuk membuang sampah. Langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di seberang jalan terlihat sebuah mobil sport berwarna kuning terparkir.
Melda langsung mengenalinya. Jantungnya berdegup. "Mobil itu... Seperti mobilnya Berry."
Matanya menyipit. Melda teringat beberapa hari terakhir. Makanan, buah-buahan, susu lalu pakaian.
Semuanya datang tanpa nama pengirim. Melda kembali menatap mobil itu. Namun kaca mobil gelap. Tidak terlihat siapa yang berada di dalam.
"Berry..." Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Di dalam mobil, Berry yang sedang memperhatikannya langsung menunduk.
Ia tidak ingin ketahuan. Namun terlambat. Melda sudah mulai berjalan mendekati mobilnya.
Berry langsung menyalakan mesin. Melda berhenti.
Mobil sport kuning itu perlahan bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Melda hanya berdiri memandanginya. Kini kecurigaannya semakin kuat.
"Jadi selama ini..." Tangannya menyentuh perutnya. "...kamu yang mengirim itu semua?"
Melda menggigit bibir. Ada rasa marah dan sedih. Tetapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Sementara mobil Berry terus melaju. Tangannya mencengkeram kemudi.
Ia menghela napas panjang. "Ketahuan tidak ya?"
Untuk pertama kalinya, Berry tidak tahu harus bersembunyi ke mana lagi. Namun ia juga belum siap menghadapi Melda.
Karena jika perempuan itu sampai bertanya, kenapa dia terus mengikutinya?
Berry sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab. Apakah karena rasa bersalah? Karena anak yang dikandung Melda?
Atau karena... ia mulai benar-benar mencintai perempuan yang dulu ia tinggalkan?
Berry menatap jalan di depannya. Dadanya kembali terasa sesak.
Sementara di belakangnya, Melda masih berdiri. Matanya mengikuti mobil kuning itu sampai menghilang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Melda mulai bertanya-tanya. Apakah Berry benar-benar sudah berubah?
Bersambung...
Ada karya baru lagi author nih... Monggo bisa mampir lagi disini 😍🤗