"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 #Benih baik di tanah yang subur
Langkah kaki Bening terasa begitu berat saat melangkah menuju teras rumahnya. Erika berjalan tenang di sampingnya, memegangi lengan sahabatnya dengan penuh rasa iba. Begitu pintu kayu rumah itu terbuka, keheningan yang mencekam langsung menyergap indra pendengaran Bening.
Tidak ada lagi suara mungil yang menyambutnya di depan pintu. Tidak ada tawa riang atau celoteh polos Kaivandra yang biasanya meramaikan rumah sederhana itu. Belum genap 1 jam berpisah, Bening merasa hatinya sudah teriris begitu dalam. Rasanya ia ingin detik itu juga berlari dan memeluk kembali putra kecilnya.
"Aku pulang ke rumah dulu, Ning? Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku," ucap Erika lembut, mengusap bahu Bening.
"Iya, Er... Terima kasih banyak ya," sahut Bening dengan seulas senyum tipis yang dipaksakan.
Setelah Erika pergi, Bening melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang berukuran sedang, lalu perlahan membuka laci meja riasnya. Di bagian paling dalam, tersembunyi sebuah kotak beludru hitam yang dilapisi kain tipis.
Dengan jemari gemetar, Bening membuka kotak itu. Di dalamnya tersimpan rapi foto-foto kenangan masa lalunya bersama Gibran, foto saat mereka tertawa bersama di taman, foto pernikahan mereka, serta sebuah lingkaran logam berkilau, cincin pernikahan mereka yang tak pernah dijual Bening meski saat-saat tersulit melanda ekonominya.
Bening mengusap permukaan foto wajah Gibran yang sedang tersenyum bahagia, senyuman hangat yang kini telah berganti menjadi tatapan dingin dan penuh kebencian.
"Semoga... dengan hadirnya Kaivandra di sisimu, setidaknya bisa menghapus sedikit rasa sakit di hatimu tentang perceraian kita, Mas..." bisik Bening lirik, air matanya menetes menimpa kaca bingkai foto. "Meskipun aku tidak pernah bersalah... meskipun aku hanya korban dari jebakan kejam itu..."
Bening mengusap air matanya dengan tegas, lalu menutup kembali kotak kenangan itu dan menguncinya rapat-rapat. Ia bangkit berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia tidak boleh terus-menerus terpuruk dalam kesedihan. Ia sudah berjalan sangat jauh selama enam tahun ini. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah mempertahankan posisinya, tetap bekerja keras, dan menjauh dari jangkauan Gibran serta Wira Aditama agar Kaivandra tetap aman.
***
Di Kediaman Besar Aditama, atmosfer yang bertolak belakang sedang tercipta. Tidak ada kesunyian maupun duka di lantai dua gedung megah tersebut.
Kaivandra berdiri terpaku di tengah-tengah kamar barunya yang amat luas. Kamar itu didekorasi secara khusus sesuai impian anak-anak, tempat tidur berukuran king-size dengan seprai bergambar Spider-Man, set komputer canggih lengkap di meja belajar, rak-rak yang dipenuhi buku cerita serta buku pelajaran sekolah, hingga area bermain khusus yang berisi puluhan mobil-mobilan mahal dan robot yang bisa berjalan serta bersuara sendiri.
"Wah... Ini keren sekali!" seru Kai dengan mata berbinar-binar, melompat kecil di atas karpet empuk. Bocah kecil itu berbalik, menatap dua pria dewasa yang berdiri di ambang pintu. "Terima kasih banyak, Papa! Terima kasih, Kakek!"
Wira Aditama yang berdiri di samping Gibran mengelus janggutnya dengan senyum puas yang mengembang lebar. Di dalam benak piciknya, Wira merasa sangat bangga. Pria tua itu mengira, dengan melimpahi Kaivandra fasilitas serba mewah dan memanjakannya, bocah enam tahun itu akan dengan sangat mudah melupakan sosok ibunya yang sangat ia benci.
Merasa tugas pertamanya sukses, Wira menepuk bahu Gibran. "Biarkan Kai menikmati kamar barunya, Gibran. Papa mau ke ruang kerja sebentar."
"Baik, Pa," sahut Gibran singkat.
Begitu Wira pergi dan Gibran melangkah masuk mendampingi putranya. Gibran berjalan mendekati meja belajar, lalu mengambil sebuah tas sekolah ransel bermerek ternama yang sengaja ia belikan tadi pagi. "Kai, lihat. Papa sudah siapkan tas sekolah baru untukmu. Gambarnya robot, kamu suka kan?"
Kai mendekat, melihat tas mahal itu, lalu menatap Gibran dengan sepasang mata coklatnya yang polos dan jernih.
"Papa... tas sekolah Kai yang ada di rumah Mama sebenarnya masih sangat bagus kok," ucap Kai dengan nada suara yang tenang dan sopan. "Mama baru saja membelikannya bulan lalu."
Gibran tertegun sebentar. "Tapi tas dari Papa ini lebih besar dan bagus, Kai."
Kai tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Mama selalu mengajarkan pada Kai untuk tidak menjadi anak yang manja dan boros, Papa. Kata Mama, selagi barang yang kita punya masih layak dipakai dan berfungsi baik, kita tidak perlu malu menggunakannya di depan teman-teman. Tapi... terima kasih banyak ya, Papa. Kai akan tetap pakai tas dari Papa ini nanti, karena Papa sudah susah payah membelikannya untuk Kai."
Deg.
Dugaan dan prasangka Wira Aditama salah besar, Kaivandra justru menjunjung tinggi nama ibunya di setiap kata dan cerita yang keluar dari mulut kecilnya.
Gibran membeku di tempatnya berdiri. Tatapan matanya terkunci pada sosok putra kecilnya. Ia benar-benar tertegun dan takjub melihat bagaimana bocah enam tahun di depannya mampu menanggapi sesuatu dengan sangat bijak, dewasa, dan sama sekali tidak menyinggung perasaan orang lain. Karakter itu... jelas dibentuk oleh pola didik Bening yang luar biasa sabar.
Belum sempat Gibran mencerna rasa takjubnya, Kai memegang ujung jas Gibran, mendongak dengan tatapan memohon.
"Papa... Kai boleh minta sesuatu tidak?" tanya Kai pelan.
"Minta apa, sayang? Mainan lagi? Atau ponsel baru?" sahut Gibran cepat.
Kai menggeleng. "Bukan, Papa... Kai mau minta sarung ukuran kecil dan peci."
Alis Gibran berkerut bingung. "Sarung? Untuk apa, Kai?"
"Kai harus semakin rajin beribadah dan sholat, Papa," jawab Kai dengan binar mata yang begitu tulus. "Soalnya... Allah sudah baik sekali mengabulkan doa-doa Kai setiap malam untuk bisa bertemu dengan Papa. Mama selalu bilang sama Kai, kita harus selalu sujud syukur saat mendapatkan sesuatu yang kita mau. Mama bilang, kita tidak boleh melupakan ibadah, baik disaat kita sedang susah maupun sedang senang."
Kalimat polos yang meluncur jujur dari bibir kecil Kaivan seketika menghantam dada Gibran dengan kekuatan luar biasa. Pria tinggi besar itu mendadak merasa seperti ditampar keras oleh realita.
Kebencian, prasangka buruk, dan doktrin jahat dari ayahnya tentang Bening yang selama ini ia pelihara... seketika goyah dan runtuh berantakan.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang dituduh jahat, licik, dan pengkhianat sanggup mendidik seorang anak menjadi begitu santun, rendah hati, berakhlak mulia, dan takut akan Tuhan? Bening tidak menanamkan dendam sedikit pun pada diri Kaivan, melainkan menanamkan benih kebaikan dan iman yang begitu kokoh.
Gibran perlahan berlutut di hadapan Kaivan. Tangannya yang bergetar terulur, merengkuh tubuh kecil putranya ke dalam pelukan hangat, menyembunyikan matanya yang mendadak berkaca-kaca karena penyesalan yang mulai menyusup perlahan ke dalam relung hatinya.
ga bakal ketauan ortu sendiri