Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Malam di Brooklyn dan Bayangan Sang Raja Merah
Deru mesin sportbike hitam pekat berkapasitas mesin besar itu membelah dinginnya angin malam Kota New York dengan kecepatan nyaris tanpa rem. Lampu-lampu jalanan Manhattan yang berkilauan bagai taburan berlian bergeser cepat menjadi garis-garis cahaya kabur di kedua sisi pengelihatan. Di atas jok motor, Ceisya—dengan gaun pengantin putih megah yang bagian bawahnya sengaja ia robek hingga sebatas paha menggunakan pisau lipat demi memudahkan pergerakan—meringis kecil sambil tertawa penuh kemenangan di balik helm full-face pinjaman.
Wajahnya yang tadi sempat berlapis dempul tebal dan riasan menor kini sudah setengah luntur terkena keringat dingin akibat aksi kejar-kejaran menegangkan di pusat kota. Namun, di balik kaca helm yang sedikit terbuka, sepasang manik mata hijau terangnya memantulkan binar liar kebebasan yang tak ternilai harganya.
"Sialan, para pengawal bayaran tadi benar-benar kurang kerjaan. Mereka beneran ngira gue bakal meringkuk di pojokan kamar pengantin sambil mewek bombay kayak di novel aslinya?" maki Ceisya pelan pada angin malam yang menderu kencang, memutar gas motornya lebih dalam hingga kendaraan roda dua itu melesat semakin beringas, menyeberangi jembatan beton menuju kawasan industri tua di Red Hook, Brooklyn.
Bagi warga sipil biasa atau para pebisnis elit Manhattan, labirin gudang-gudang tua terbengkalai, tumpukan kontainer karat yang menggunung, serta pelabuhan sepi di ujung wilayah Brooklyn adalah sarang penjahat paling berbahaya yang harus dihindari sejauh mungkin setelah matahari terbenam. Tempat itu adalah teritori kekuasaan mutlak para sindikat gelap dunia bawah. Tapi bagi seorang Ceisya yang membawa jiwa mantan pemimpin mafia sejati, tempat ini justru terasa seperti rumah lamanya sendiri—zona nyaman di mana ia bisa bergerak bebas tanpa pasang topeng kepalsuan.
Begitu mematikan mesin motornya dengan mulus di depan sebuah gudang terbengkalai yang tampak paling lapuk, Ceisya melompat turun dengan gesit. Ia meregangkan otot-otot leher dan bahunya yang terasa kaku akibat berjam-jam terjebak dalam balutan gaun berlapis korset ketat sialan.
Perutnya tiba-tiba berkeroncong hebat, mengingatkannya bahwa ia belum mengisi tenaga sejak pagi buta. "Sialan, pernikahan anjing tadi benar-benar bikin kalori gue terkuras habis. Untung di dalam jok motor curian ini masih ada sisa burger dingin semalam."
Tanpa membuang waktu berharga, ia melangkah masuk ke dalam kegelapan gudang yang berbau amis air laut dan debu tebal. Di sudut tersembunyi yang tertutup terpal usang, Ceisya langsung mengeluarkan laptop portabel miliknya yang terselip aman di balik jaket kulit tebal. Jemarinya yang lentik bergerak sangat cepat di atas papan tik, menembus lapisan enkripsi keamanan tingkat tinggi milik jaringan satelit dalam hitungan detik.
Ia tahu betul, para pengikut The Crimson King bukanlah hacker sembarangan. Ia harus segera membersihkan total seluruh jejak digital, nomor pelat kendaraan, serta sinyal ponsel lamanya agar sindikat Blackwood tidak bisa melacak posisi persembunyiannya dalam waktu dekat.
Namun, di belahan dunia lain yang berjarak beberapa mil dari tempatnya bersembunyi—tepatnya di jantung kota Manhattan—suasana di dalam gedung pencakar langit tertinggi justru jauh lebih panas dan mematikan.
Pesta pernikahan mewah yang tadinya dipenuhi para elit sosialita telah lama bubar dengan catatan sejarah terburuk. Pesta itu meninggalkan keheningan yang begitu pekat dan mencekam di dalam penthouse pribadi berlantai kaca penuh kemewahan milik sang penguasa puncak. Di ruangan remang-remang yang hanya diterangi pantulan cahaya lampu kota dari luar, tidak ada suara lain selain deru napas berat yang tertahan.
Sylus Blackwood duduk bersandar di kursi kerja kulit hitam berukuran besar dengan posisi mendominasi. Sepasang manik mata merah menyala bagai delima di kegelapan malam, menatap tajam tanpa berkedip ke arah layar monitor transparan raksasa yang memutar rekaman CCTV gedung resepsi berulang-ulang kali. Fokus mutlak pria itu hanya terkunci pada satu sosok: gadis bergaun pengantin putih dengan sisa riasan menor yang dengan sangat berani menendang pengawal utamanya hingga tersungkur, lalu tertawa lepas tanpa rasa takut sedikit pun kepada dunia.
Sudut bibir Sylus perlahan terangkat membentuk sebuah smirk dingin yang teramat berbahaya. Sebagai The Apex Sovereign yang menguasai seluruh aliran dana legal dan bursa saham Wall Street, sekaligus The Crimson King yang ditakuti setengah mati di dunia bawah Brooklyn, tidak pernah ada satu pun makhluk hidup di muka bumi ini yang berani mempermainkannya—apalagi mempermalukan harga dirinya di hari pernikahan lewat seekor anjing peliharaan.
"Menarik... permainan yang sangat menarik," suara bariton Sylus terdengar rendah, serak, dan menggelegar pelan di dalam ruangan yang sunyi senyap, menciptakan getaran mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Dia sama sekali bukan figuran bodoh yang hanya tahu menangis ketakutan di sudut ruangan. Dia adalah mangsa liar yang dengan sengaja memasang perangkap untuk menantang singanya."
Ajudan pribadi setianya, seorang pria bertubuh tegap berwajah dingin bernama Logan, berdiri kaku dengan kepala tertunduk di dekat pintu masuk ruangan. "Tim intelijen kami sedang melacak pergerakan sinyal terakhirnya, Tuan. Seluruh agen khusus sudah disebar untuk menyisir sudut-sudut kota Manhattan, tapi gadis itu rupanya bergerak lebih cepat dari perkiraan."
Mendengar laporan itu, Sylus perlahan bangkit dari kursi kebesarannya. Postur tubuhnya yang sangat tinggi, tegap, dan berotot terbalut sempurna oleh kemeja hitam formal tanpa jas, menegaskan aura kekuasaan mutlak seorang raja penguasa kegelapan. Ia melangkah tenang mendekati dinding kaca raksasa setinggi tiga lantai, menatap lurus ke bawah pada bentangan lampu kota New York yang seolah bersujud di bawah kakinya.
"Jangan buang waktu mencarinya di Manhattan," titah Sylus dingin tanpa menoleh, sementara manik mata merah menyalanya memancarkan gairah posesif yang mulai mendidih membakar aliran darahnya. "Gadis itu punya keliaran jalanan yang khas. Instingnya pasti menuntunya ke tempat-tempat kotor tempat ia bisa bersembunyi. Periksa seluruh wilayah pelabuhan lama di distrik Brooklyn... terutama kawasan industri terbengkalai di Red Hook."
Logan sedikit mengangkat kepalanya, menangkap ketegasan mutlak dari sang bos besar. "Baik, Tuan. Perintah segera dilaksanakan."
"Satu hal lagi, Logan," imbuh Sylus, di mana nada suaranya mendadak berubah menjadi bisikan serak yang sarat akan ancaman mematikan sekaligus nafsu tersembunyi yang kelam. "Jangan biarkan siapa pun melukai sehelai pun rambut di kepalanya. Kepung tempat itu, tangkap dia hidup-hidup tanpa lecet sedikit pun, dan bawa langsung ke hadapanku malam ini juga. Biar aku sendiri yang mematahkan seluruh perlawanan dan keliaran itu di atas ranjangku."
Kembali ke gudang tua yang gelap di pelabuhan Red Hook, bulu kuduk Ceisya mendadak meremang hebat secara tiba-tiba. Gadis itu menghentikan aktivitas mengetiknya di atas laptop dengan gerakan refleks, lalu mengedarkan pandangan mata hijau tajamnya ke setiap sudut gelap gudang yang dipenuhi aroma karat dan debu malam.
"Firasat sialan macam apa ini? Kok mendadak bulu kuduk gue merinding begini," gumam Ceisya pelan penuh kewaspadaan, tangannya secara perlahan meraba sela sepatu botnya untuk memastikan pisau taktis kesayangannya berada di tempat yang pas. "Pasti ada predator busuk yang lagi ngeliatin pergerakan gue dari kejauhan."
Benar saja. Belum sempat jari-jarinya kembali menyentuh papan tik laptop, suara gemuruh puluhan mesin kendaraan berat yang berjalan beriringan mulai memecah kesunyian malam di luar area pelabuhan. Sorot lampu jarak jauh dari belasan mobil lapis baja berwarna hitam legam tiba-tiba menyala serentak, menembus kaca jendela gudang yang kotor dan langsung mengepung total seluruh bangunan tempat Ceisya bersembunyi.
Pintu besi tua gudang berderit nyaring, bersiap dijebol. Permainan kucing-kucingan yang sebenarnya antara sang ratu jalanan yang urakan dan sang raja mafia bermata merah resmi dimulai malam itu juga. Dan di dalam kegelapan malam pelabuhan yang dingin, sebuah jebakan maut telah menutup rapat jalur pelarian Ceisya.