NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. PESAN KAKEK

Bab 6. Pesan Kakek

"Saya tidak membutuhkan waktu sebanyak itu."

Kalandra menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Kalau tidak ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan hari ini, saya bisa menyelesaikannya sebelum jam pulang kantor."

Kalandra menatap Hagia tanpa berkedip. "Kamu yakin?"

"Kalau hasilnya tidak memuaskan, Anda boleh memindahkan pekerjaan saya ke divisi administrasi."

Nada bicara Hagia tetap tenang. Tidak terdengar menantang, tetapi keyakinannya begitu jelas hingga memenuhi ruangan yang sejak tadi sunyi. Untuk sesaat Kalandra hanya menatap wanita di hadapannya. Ia pernah bertemu banyak arsitek berbakat, tetapi jarang ada yang berani mempertaruhkan posisinya pada tugas pertama.

"Baik." Kalandra menutup map lain yang berada di hadapannya. "Saya tunggu hasilnya."

Hagia mengangguk singkat lalu kembali ke mejanya tanpa membuang waktu. Map itu segera dibuka kembali, lalu satu per satu gambar kerja dikeluarkan dan disusun memenuhi permukaan meja. Beberapa menit kemudian, tablet grafis, stylus, dan layar monitor gandanya telah dipenuhi berbagai sketsa awal yang terus berubah seiring pikirannya menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Kalandra sempat memperhatikan dari balik mejanya.

Tidak ada keraguan sedikit pun dalam cara Hagia bekerja. Wanita itu tidak terburu-buru menggambar. Ia justru menghabiskan beberapa menit pertama hanya untuk membaca keseluruhan struktur bangunan. Sesekali ia mencoret sesuatu di buku catatan kecilnya, lalu kembali membuka denah dari sudut yang berbeda. Seolah-olah sebelum mengubah satu garis pun, ia ingin memahami cara bangunan itu yaitu... "bernapas".

Tanpa sadar, sudut bibir Kalandra terangkat tipis. Setidaknya, Hagia tidak gegabah. Beberapa saat kemudian, ponsel di atas mejanya bergetar pelan. Layar menampilkan nama Haris. Kalandra segera menerima panggilan itu.

"Pak, dokter sudah mengonfirmasi jadwal pemeriksaan Tuan Besar siang ini. Kalau Bapak berangkat sekarang, masih sempat bertemu beliau setelah selesai berkonsultasi."

Kalandra melirik jam di sudut layar komputernya. Ia memang sudah menjadwalkan kunjungan itu sejak beberapa hari lalu.

"Siapkan mobil dan sopir," perintahnya pada Haris.

Panggilan pun berakhir. Kalandra kembali mengalihkan pandangannya ke arah Hagia. Wanita itu sama sekali tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan. Seluruh perhatiannya tertuju pada layar monitor. Jemarinya mulai bergerak lincah di atas stylus, menggambar beberapa garis awal sebelum menghapusnya lagi, lalu mengganti dengan pendekatan yang berbeda.

Melihat kesungguhan itu, Kalandra mengurungkan niat untuk memberikan instruksi tambahan.

Ia justru merasa kehadirannya di ruangan mungkin akan menjadi gangguan. Pria itu berdiri, membiarkan jasnya tetap tergantung di sandaran kursi, lalu berjalan mendekati meja Hagia.

"Saya keluar beberapa jam."

Hagia baru mendongak. "Baik, Tuan."

"Kalau ada yang diperlukan, hubungi Haris."

"Siap."

Kalandra mengangguk singkat sebelum melangkah keluar dari ruangannya. Begitu pintu otomatis kembali menutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Hagia mengembuskan napas pelan.

Ruangan itu terasa jauh lebih tenang tanpa keberadaan Kalandra.

Ia menarik kursinya sedikit lebih dekat ke meja, lalu kembali memusatkan seluruh pikirannya pada gambar kerja di hadapannya.

***

Mobil hitam milik Kalandra melaju meninggalkan pelataran Arshaka Group menuju rumah sakit tempat kakeknya dirawat. Di sepanjang perjalanan, tablet yang sejak tadi berada di pangkuannya tetap menampilkan jadwal rapat dua hari ke depan. Namun, untuk pertama kalinya sejak berangkat dari kantor, pikirannya tidak benar-benar tertuju pada tumpukan pekerjaan yang menanti.

Bayangan Hagia yang tenggelam dalam gambar-gambar rancangan terus melintas di benaknya. Wanita itu bekerja dengan kesungguhan yang jarang ia temukan, bahkan di antara para arsitek senior yang telah bertahun-tahun menjadi bagian dari perusahaan. Tidak ada keluhan, tidak ada usaha mencari perhatian, apalagi memanfaatkan kedekatan mereka sebagai suami istri.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki area parkir rumah sakit. Sopir segera membukakan pintu, sementara Kalandra langsung menuju ruang praktik dokter yang telah menunggunya.

"Silakan duduk, Pak Kalandra," ujar dokter setelah mempersilahkannya masuk.

Kalandra langsung bertanya tentang perkembangan kesehatan kakeknya, setelah mereka duduk berhadapan. Dokter membuka hasil pemeriksaan terbaru sebelum menjawab dengan tenang.

"Secara umum, kondisinya lebih stabil dari sebelumnya. Fungsi jantungnya masih harus terus dipantau, tetapi respons beliau terhadap pengobatan cukup baik. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kondisi emosinya agar tidak terlalu lelah."

"Artinya?"

"Beliau tidak boleh terlalu banyak memikirkan persoalan yang bisa memicu stres. Selama suasana hatinya baik, peluang pemulihannya juga akan lebih besar."

Kalandra mengangguk pelan. "Terima kasih, dok."

Setelah berbincang beberapa menit lagi mengenai jadwal kontrol berikutnya, Kalandra meninggalkan ruang dokter dan berjalan menuju ruang perawatan VIP di ujung koridor. Ia mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk. Pria tua yang sedang duduk bersandar di ranjang itu langsung menoleh. Wajahnya tampak jauh lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya.

Begitu melihat cucunya datang, senyum hangat segera terukir di wajahnya. "Kamu datang juga."

Kalandra menghampiri, lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang. "Bagaimana keadaan Kakek hari ini?"

"Masih cukup kuat untuk memarahi kamu kalau perlu."

Jawaban itu membuat sudut bibir Kalandra terangkat tipis.

Belum sempat ia mengatakan sesuatu, sang kakek lebih dulu mengedarkan pandangan ke arah pintu.

"Istrimu mana?"

Pertanyaan itu datang begitu cepat hingga Kalandra hanya bisa mengembuskan napas pelan.

"Di kantor."

"Tidak kau ajak?"

"Ini hari pertama dia kerja. Saya memberinya tugas."

Alis pria tua itu langsung bertaut.

"Kamu meninggalkannya di kantor dengan sebuah tugas?"

"Dia sedang mengerjakan rancangan renovasi Arshaka Mall, Kek. Lain kali kuajak."

Beberapa saat ruangan menjadi sunyi. Sang kakek memandang cucunya cukup lama sebelum menggeleng pelan.

"Kal... sepertinya kamu masih belum mengerti."

Kalandra hanya tersenyum.

"Aku ngerti, Kek. Jangan khawatir." Kalimat itu seperti diucapkan untuk kesekian kalinya.

"Menjadikan dia karyawan di Arshaka Group, bukan berarti kamu bebas membuat dia susah. Itu bukan tujuan kita."

Kalandra mengangguk.

"Perlakukan dia lebih baik dari tujuan kamu yang sebenarnya."

Tatapan Kalandra mulai melembut.

Pria tua itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.

"Kakek, untuk sekali ini, tolong percaya pada cucumu. Kakek sudah mencari dan menemukannya, sekarang giliran saya yang bekerja."

Hening menyelimuti seluruh ruangan.

"Kal."

"Ya, Kek."

"Belajarlah menikmati hidupmu."

Kalandra menatap pria tua itu tanpa berkedip.

"Sesekali, bawa dia keluar dari urusan kantor yang penat. Biarkan dia menghirup udara selain ruang rapat. Biarkan dia melihat tempat baru. Kalau perlu, kosongkan pikiran kalian dari urusan kantor selama beberapa hari."

Kalandra menghela napas pelan. "Itu tidak mudah."

"Jika kalian bisa saling melengkapi, semuanya akan mudah."

Kalandra tidak langsung menjawab. Saran itu terdengar sederhana, tetapi perlahan terasa mulai masuk akal baginya. Namun, ia butuh menyesuaikan banyak hal untuk mengubah ritme kerjanya yang selama ini dikenal totalitas tanpa batas dan berhasil mengantarkannya menjadi CEO termuda Arshaka Group sepanjang sejarah.

Sebelum waktu berkunjung habis, Kalandra meninggalkan rumah sakit menjelang tengah hari. Mobil yang membawanya kembali ke Arshaka Group melaju tenang membelah padatnya lalu lintas Jakarta, sementara pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama sang kakek beberapa saat yang lalu.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!