Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengepungan
Udara di luar Paviliun Sunyi mendadak dipenuhi oleh deru langkah kaki ribuan prajurit. Denting rantai besi dan gesekan sarung pedang bergaung membelah sunyinya malam istana. Nyala obor dari luar jendela melompat-lompat menembus kegelapan ruangan, menyinari wajah Long Junwei yang masih mendekap tubuh pingsan Shen Xianle.
"Long Junwei! Serahkan Yang Mulia Maharani, atau kami akan meratakan tempat ini menjadi tanah!"
Suara menggelegar dari Jenderal Lu terdengar dari balik dinding gerbang paviliun. Di luar sana, empat puluh ribu kavaleri telah mengepung istana. Setelah Xiaoyu mengirimkan sinyal darurat berupa kembang api merah, para jenderal veteran itu langsung menarik kesimpulan terburuk. Pangeran Bayangan telah mengkhianati tahta dan mencoba membunuh sang Putri Kesembilan.
"Yang Mulia, kita harus mundur melalui lorong bawah tanah sekarang," bisik Mo Reng, tangannya mencengkeram gagang belati dengan gelisah. "Pasukan Barak Barat tidak akan mendengarkan penjelasan kita dalam kondisi seperti ini. Emosi mereka sudah terpancing."
Junwei menatap wajah porselen Xianle yang bersandar lemas di dadanya. Helai rambut hitam sang maharani tampak berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
"Jika kita mundur sekarang, kita hanya akan membenarkan tuduhan mereka bahwa kita adalah pengkhianat," ucap Junwei, suara baritonnya yang berat terdengar sangat tenang, seolah tidak terpengaruh oleh kepungan puluhan ribu mata tombak di luar. "Napas istana ini baru saja stabil. Perang saudara yang baru hanya akan membuat Kekaisaran Zhao di utara kembali bergerak."
Junwei menggendong tubuh Xianle dengan satu tangan yang kokoh, sementara tangan kirinya mengambil pedang kuno yang masih bersarung di lantai. "Mo Reng, buka pintu gerbang paviliun."
"Tapi, Yang Mulia—"
"Buka," perintah Junwei, matanya berkilat dengan wibawa yang tidak bisa dibantah.
Krieeek...
Pintu kayu Paviliun terbuka perlahan. Angin malam yang dingin segera berembus masuk, menerbangkan debu-debu tua di lantai. Long Junwei melangkah keluar dengan tenang, menembus temaram cahaya obor yang dibawa oleh barisan prajurit.
Di hadapannya, Jenderal Lu, Jenderal Zhao, dan Xiaoyu berdiri di barisan paling depan dengan senjata yang sudah terhunus. Begitu melihat Xianle berada dalam kondisi pingsan di dalam dekapan Junwei, amarah Jenderal Lu meledak seketika.
"Bajingan! Kau benar-benar menyentuh putri dari Selir Lin?!" Jenderal Lu mengangkat kapak perang nya, siap mengayunkannya ke arah kepala Junwei.
"Lihat mataku, Jenderal Lu!" suara Junwei menggelegar, dilapisi oleh kekuatan internal yang padat hingga mampu membungkam gemuruh barisan prajurit di belakangnya. "Jika aku ingin membunuhnya, kepalanya sudah berada di ujung tombakku sejak tiga jam lalu. Titik akupunkturnya kukunci karena dia kehilangan kendali emosinya akibat hasutan faksi lain."
Jenderal Zhao yang lebih bijaksana segera menahan lengan Jenderal Lu. Mata tuanya yang rabun memeriksa kondisi Xianle dengan teliti
"Jenderal Pangeran, jika Anda mengatakan ada faksi lain yang menghasutnya, lalu siapa wanita tua yang tewas di dalam paviliun itu? Dan mengapa Anda berada di sini secara rahasia?"
"Wanita tua itu adalah Bibi Song, mantan pelayan Selir Lin. Seseorang sengaja membawanya ke ibu kota untuk menanamkan benih keraguan di antara kami," Junwei melirik ke arah Xiaoyu yang berdiri dengan wajah pucat di samping Jenderal Zhao. "Dan pelayan setia maharani ini... adalah orang yang membawa Bibi Song masuk tanpa memeriksa siapa yang berada di balik punggungnya."
Xiaoyu tersentak, langkah kakinya mundur setapak. "Aku... aku hanya menuruti perintah Yang Mulia Maharani untuk mencari kebenaran tentang kematian Selir Lin!"
"Kebenaran yang kau bawa adalah racun yang disiapkan oleh musuh kita, Xiaoyu," Junwei melangkah maju, meletakkan tubuh lemas Xianle ke atas tandu kebesaran yang dibawa oleh pengawal Barak Barat dengan sangat hati-hati.
Ia membalikkan badannya, menatap ketiga jenderal veteran tersebut. "Kunci akupunkturnya akan terlepas dalam waktu dua jam. Jaga dia di dalam Istana Kencana dengan seluruh pasukan kalian. Jangan biarkan ada satu pun lalat dari luar masuk ke kamarnya. Aku sendiri yang akan pergi mencari dalang sesungguhnya yang meletakkan kotak perak itu di Paviliun Anggrek."
Jenderal Zhao mengangguk pelan, meskipun sisa kecurigaan masih membekas di hatinya. "Kami akan menjaga Yang Mulia Maharani dengan nyawa kami, Jenderal Pangeran. Namun, jika beliau terbangun dan tetap menuntut nyawa Anda... Barak Barat tidak akan ragu untuk menarik pedang melawan Pasukan Bayangan."
"Aku tahu," jawab Junwei pendek.
Jubah hitam bersulam naga perak miliknya berkibar megah saat ia melompati atap-atap istana, menghilang ke dalam pekatnya kabut malam bersama Mo Reng, meninggalkan kompleks istana yang kian diliputi bara ketidakpastian.
----------------
Dua jam kemudian, di dalam kamar tidur utama Istana Kencana.
Shen Xianle perlahan membuka sepasang matanya. Rasa pening yang hebat langsung menyerang kepalanya, diikuti oleh rasa hangat yang perlahan memudar di bagian pangkal lehernya titik akupunktur yang dikunci oleh Junwei telah terbuka sepenuhnya.
Ia menatap langit-langit kamar yang mewah, lalu dengan cepat memeriksa pinggangnya. Belati peraknya masih ada di sana, bersih dari noda darah.
"Nona! Anda sudah sadar!" Xiaoyu yang duduk setia di samping ranjang langsung berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Xianle duduk dengan cepat, mencengkeram lengan Xiaoyu dengan erat hingga pelayannya itu meringis kesakitan. "Di mana Long Junwei?! Di mana para jenderal?!"
"Jenderal Lu dan Jenderal Zhao saat ini sedang menjaga ketat seluruh gerbang istana dengan empat puluh ribu kavaleri, Nona. Long Junwei... dia pergi setelah meletakkan Anda di sini. Dia mengatakan bahwa Bibi Song telah dihasut oleh faksi lain untuk memecah belah aliansi kita," tutur Xiaoyu dengan suara yang gemetar.
Xianle melepaskan cengkeraman tangannya, tatapan matanya kembali berubah menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan. Kata-kata Bibi Song sebelum tewas masih terukir jelas di dalam ingatannya. Long Junwei adalah pimpinan Faksi Naga Perak yang mengincar darah keluarga Lin.
Apakah Junwei benar-benar tidak bersalah dan hanya dijebak, ataukah pria itu sedang memainkan sandiwara yang jauh lebih besar untuk menidurkan kewaspadaannya kembali?
Tepat pada saat konflik batin Xianle berada di titik puncaknya, sebuah ketukan halus terdengar dari arah jendela kamar yang menghadap langsung ke arah taman belakang istana yang gelap.
Tok... Tok...
Xianle seketika menghunus belati peraknya, melompat turun dari ranjang dan bergerak mendekati jendela dengan langkah tanpa suara. Saat ia menyibak sedikit tirai sutra jendela, ia menemukan selembar kertas kecil yang diselipkan di sela-sela bingkai kayu jendela.
Kertas itu bertuliskan satu kalimat pendek dengan tinta emas yang sangat mencolok: “Jika Maharani ingin mengetahui mengapa Long Junwei menyelamatkan Anda dari dasar tebing malam itu, datanglah sendirian ke Makam Leluhur di Lembah Terlarang sebelum fajar menyingsing.”
Di bawah kalimat tersebut, terdapat cap stempel lilin berbentuk kepala serigala bermata tiga lambang misterius yang belum pernah Xianle lihat di seluruh penjuru Kekaisaran Han, namun memancarkan aura bahaya.
Xianle menggenggam kertas tersebut hingga remuk di dalam tangannya. Pintu keluar baru saja tertutup, namun kini labirin misteri yang jauh lebih gelap kembali menganga di hadapannya, memaksanya untuk memilih antara mempercayai sekutu yang mencurigakan, atau berjalan masuk ke dalam jebakan baru demi sebuah kebenaran.