NovelToon NovelToon
PERJALANAN LAKU SPIRITUAL

PERJALANAN LAKU SPIRITUAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
​Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
​Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
​Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
​Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Sakit Badan, Obatnya Hati

Siang itu matahari terik menyengat kulit. Fazam duduk santai di beranda, bersandar malas ke tiang kayu, sambil mengipas diri pakai daun pisang kering. Kakinya menjuntai ke bawah, mulutnya mengunyah ketan — wajahnya biasa saja, bahkan agak malas-malasan. Tidak kelihatan seperti orang yang dipuja desa — lebih mirip pemuda yang sedang libur kerja dan tidak mau diganggu siapa pun.

Tiba-tiba datanglah Pak Kancil — tetangga bertubuh kecil, jalannya cepat seperti dikejar semut. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, kedua tangannya memeluk perut erat-erat seakan ada ular melilit di dalam sana. Dia sampai di depan pagar sambil membungkuk-bungkuk, keringat dingin menetes di dahi.

Fazam melirik pelan, lalu senyum miring khasnya — senyum yang bilang "Aku sudah tahu kenapa kau datang, dan aku sudah tahu jawabannya juga."

"Assalamualaikum Le Fazam..." ucap Pak Kancil sambil duduk perlahan di bangku kayu, napasnya pendek-pendek menahan sakit, "Aduh... perutku seperti diaduk pakai sendok besi! Sudah minum obat toko, sudah makan bubur, sudah dibalur minum — tidak mempan! Katanya tanganmu berkah... tolong sentuhlah perutku ini, semoga sakitnya hilang seketika!"

Fazam diam sebentar, lalu malah tertawa kecil — tawa renyah yang bikin orang bingung. Dia menunjuk perut Pak Kancil dengan ujung jari sambil kedip-kedip lucu.

"Pak Kancil..." tanya Fazam santai, "Bapak ini makan apa kemarin sampai perutnya berontak seperti diserbu tentara? Sambal terasi satu piring habis? Atau ikan asin terlalu asin sampai lidah kerut?"

Pak Kancil melotot, lalu garuk lehernya malu. "Iya... kemarin makan sambal agak pedas sedikit... tapi itu bukan penyebabnya kan? Ini sakit dalam, Le! Obat sakti saja yang bisa!" jawab Pak Kancil sambil menepuk perutnya pelan.

"Obat sakti katanya?" sahut Fazam sambil senyum makin miring dan geleng-geleng kepala, "Kalau hamba sentuh langsung sembuh — nanti Bapak lari lagi makan sambal tujuh mangkok sekaligus, sakit lagi, datang lagi ke sini. Begitu terus sampai kapan? Sampai perut Bapak pindah ke orang lain?"

"Lah ya sudah kau sembuhkan dulu! Soal makan nanti aku jaga diri!" teriak Pak Kancil sambil menahan ngilu yang melilit perutnya.

"Janji ya? Jangan marah kalau caranya aneh!" ucap Fazam sambil berdiri perlahan dan berjalan mendekat dengan gaya santai sekali.

Fazam lalu lakukan kelakuannya yang nyeleneh itu — bukan langsung pegang perut, bukan baca mantra. Dia malah menunjuk Pak Kancil dengan telunjuknya.

"Sini — tarik napas dalam-dalam... tahan... hembuskan pelan... dan bilang ke perutmu sendiri: Maaf ya perutku, sudah aku perlakukan seperti tempat sampah!" ucap Fazam dengan tegas tapi matanya berkelakar.

"Kau bilang apa? Bicara sama perut?" tanya Pak Kancil melongo sampai mulutnya terbuka.

"Iya! Perutmu itu ciptaan-Nya juga, punya perasaan juga! Kau masukkan apa saja tanpa syukur — ya dia protes wajar! Bilang tulus dari hati!" sahut Fazam sambil melipat tangan di dada dan menatapnya menantang.

Pak Kancil ragu-ragu, melirik ke kiri dan kanan seakan takut dilihat orang lewat. Tapi sakitnya makin menjadi-jadi, akhirnya dia ikut — pelan dan malu: "Perutku... maafkan aku... sudah aku paksa makan sembarangan..."

"Nah bagus! Sekarang bilang: Terima kasih perutku, sudah bekerja tiap hari tanpa libur tanpa gaji!" teriak Fazam sambil menepuk bahu Pak Kancil pelan.

Pak Kancil menunduk dalam, suaranya gemetar sedikit — campuran malu dan haru. "Terima kasih perutku... sudah bekerja untukku..." ucap Pak Kancil pelan.

"Nah sekarang tutup mata — bayangkan ada air sungai jernih mengalir pelan di dalam sana — dingin, sejuk, dan sakitnya hanyut dibawa pergi!" ucap Fazam sambil meletakkan kedua telapak tangannya yang hangat di atas perut Pak Kancil — lembut, tidak ditekan, tidak ada cahaya ajaib — cuma kehangatan yang tulus.

Pak Kancil diam memejamkan mata. Beberapa saat berlalu — dan perlahan wajahnya yang tadi kerut menahan sakit mulai melonggar. Napasnya jadi teratur. Rasa melilit yang seperti tali erat perlahan terurai. Dia menghela napas panjang sekali — panjang dan lega.

Setelah sebentar, Fazam tarik tangannya perlahan, lalu kembali duduk di beranda sambil melipat tangan di dada — senyum miringnya kembali muncul.

"Nah — sudah enakan?" tanya Fazam santai sambil mengipas diri lagi pakai daun pisang.

Pak Kancil buka mata, lalu tepuk perutnya pelan-pelan kaget. Matanya melotot lebar. "Ajaib! Sakitnya hilang! Tinggal sedikit saja! Le Fazam... tanganmu ini ada kekuatan apa? Panas dan menenangkan sekali!" seru Pak Kancil kaget tidak percaya.

Fazam tertawa lebar sampai badannya bergoyang. "Kekuatan apa-apa tidak ada! Tangan hamba ini cuma kulit dan tulang seperti tangan Bapak juga! Yang menenangkan itu bukan tangan — tapi hati Bapak sendiri yang akhirnya minta maaf dan bersyukur!" jawab Fazam sambil menunjuk dada Pak Kancil sendiri.

"Tapi... kau tidak pakai obat sama sekali?" tanya Pak Kancil masih garuk kepala bingung.

"Obatnya ada di sini!" sahut Fazam sambil menunjuk dada Pak Kancil lagi, "Bukan di toko, bukan di dukun, bukan di hamba — di hati! Bersyukur sebelum makan, makan secukupnya, jangan rakus, jangan marah-marah tiap hari. Itu obat paling mahal tapi gratis seumur hidup!"

Pak Kancil menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum malu. "Kau ini... cara bicaramu nyeleneh sekali. Aku kira kau bacakan mantra rahasia — ternyata kau suruh aku minta maaf sama perutku sendiri!" ucap Pak Kancil sambil tertawa kecil.

"Karena rahasia terbesar itu paling sederhana!" teriak Fazam sambil menunjuk langit, "Dan ingat ya — kalau sakit lagi, jangan lari ke obat dulu! Coba tanya hati sendiri — apa yang salah? Makan terlalu banyak? Marah terus? Atau lupa bersyukur?"

"Iya iya — aku janji! Mulai sekarang aku jaga diri!" ucap Pak Kancil sambil berdiri tegak, jalannya sudah ringan sekali, "Terima kasih Le Fazam! Kau memang aneh — tapi anehnya itu yang menyembuhkan!"

Pak Kancil berjalan pulang sambil sesekali menepuk perutnya pelan seakan menyapa teman lama. Fazam melihat punggungnya menjauh, lalu kembali bersandar malas ke tiang kayu sambil mengipas diri.

Dari pintu rumah, Ibu keluar sambil tersenyum melihat kelakuan putranya. "Le... kau ini memang bisa saja. Bikin orang sadar tanpa merasa dinasihati." ucap Ibu lembut.

Fazam menoleh, senyum miringnya melebar lebar. "Kan lebih enak sadar sendiri, Bu — daripada disuruh-suruh seperti anak kecil. Lagipula — Gusti Allah itu tidak jauh di langit saja. Dia ada di hati, di napas, di perut, di setiap jengkal diri kita. Kalau kita jaga diri dengan baik — Dia menjaga kita pula." jawab Fazam santai lalu kembali mengunyah ketannya.

Sore itu matahari mulai turun perlahan, menyinari halaman rumah sederhana itu. Fazam duduk diam menikmati angin sepoi-sepoi — santai, sengklek, dan rendah hati — dan di dalam sanubarinya, zikir lembut terus mengalir tanpa henti:

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!