Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Terungkap
SEKTE AWAN TINGGI
Tetua Ming kembali ke Sekte Awan Tinggi dengan perasaan yang masih tak menentu, bahkan sejak dia berangkat, hatinya sudah penuh kejutan.
Selama ini, banyak orang di wilayah ini membicarakan sekte misterius yang baru muncul — Sekte Surgawi Langit.
Gelombang energinya luar biasa, namun tak ada yang tahu di mana letaknya. Dan yang membuatnya tak percaya... saat dia tiba di lokasi yang dituju, dia menyadari satu hal yang selama ini tak ada yang sadari.
Tempat itu... adalah puncak Gunung Langit. Tempat yang selama ratusan tahun dianggap tak berpenghuni.
Tiga utusan sebelumnya pernah ke sana, mereka pernah melihat gerbang giok yang megah itu — namun mereka hanya mengira itu sisa sekte kuno yang sudah hancur atau ditinggalkan ribuan tahun lalu.
Tak satu pun dari mereka menyangka... bahwa gerbang itu adalah pintu masuk Sekte Surgawi Langit — sekte yang sedang membuat seluruh wilayah gempar.
Dan di balik gerbang yang selama ini hanya terlihat sendirian itu... berdiri sebuah kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari yang mereka bayangkan.
Dengan perasaan penuh kegelisahan dan kekaguman, Tetua Ming langsung menuju Aula Utama — tempat Ketua Sekte Chang dan Dewan Tetua Inti sedang menunggu kedatangannya.
Sesampainya di dalam aula, kelima Tetua Inti dan Ketua Sekte Chang menatapnya serentak. Suasana menjadi hening, menanti kabar dari utusan yang mereka kirim.
"Kau telah kembali," ucap Ketua Sekte Chang dengan suara berat namun tenang, matanya menatap tajam. "Bagaimana? Apakah kau berhasil menemui mereka? Siapa pemimpin sekte itu?"
Tetua Ming menunduk hormat, lalu melangkah maju ke tengah ruangan. Wajahnya masih menunjukkan kekaguman sekaligus ketidakpercayaan yang mendalam — seolah dia belum bisa menerima apa yang baru saja dia temui.
"Kembali, Ketua Sekte," jawab Tetua Ming dengan suara pelan namun jelas, dan kata-kata pertamanya saja sudah membuat semua orang mengernyit. "Saya... saya menemui mereka. Tapi yang membuat saya terkejut... lokasi sekte itu... adalah puncak Gunung Langit."
Kata-kata itu membuat seluruh aula menjadi hening seketika. Tetua kedua langsung berdiri, wajahnya penuh ketidakpercayaan.
"Gunung Langit? Mustahil! Itu tempat yang selama ratusan tahun dianggap tak berpenghuni! Tiga utusan kita pernah ke sana, mereka hanya melihat gerbang giok yang berdiri sendirian — tak ada sekte, tak ada orang!"
"Itulah yang saya pikirkan juga," jawab Tetua Ming sambil menggeleng pelan, napasnya berat. "Tapi ternyata... gerbang giok yang selama ini kita kira peninggalan sekte kuno yang sudah hancur — itulah gerbang utama Sekte Surgawi Langit! Selama ini kita semua salah paham. Sekte yang sedang dibicarakan orang-orang, sekte yang memancarkan energi luar biasa itu... adalah sekte yang selama ini hanya terlihat gerbangnya saja di puncak gunung itu!"
Suasana ruangan menjadi hening seketika. Semua orang saling berpandangan, tak percaya mendengar itu. Selama ini mereka mengira itu reruntuhan kuno — ternyata itu sekte yang baru saja bangkit, dan berdiri tepat di bawah hidung mereka tanpa disadari.
"Lalu... bagaimana keadaan di sana?" tanya Ketua Sekte Chang, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. "Apakah kau dipersilakan masuk? Siapa yang menyambutmu?"
"Saya tiba di gerbang itu... namun saya tidak persilakan masuk," jawab Tetua Ming. "Saya hanya menunggu di luar. Dua orang berdiri menjaga gerbang — aura mereka dalam dan kokoh, saya sama sekali tidak bisa menebak tingkat kekuatan mereka. Gerbang itu sendiri... dibangun dari batu roh murni, jauh lebih megah dari yang dilaporkan utusan sebelumnya. Sejak kapan gerbang itu menjadi begitu hidup dan kuat?"
Salah satu Tetua langsung menegakkan badan, wajahnya penuh kemarahan.
"Apa?! Tidak persilakan masuk? Mereka berani memperlakukan utusan Sekte Awan Tinggi begitu?" seru Tetua ketiga dengan nada tinggi. "Ini penghinaan!"
"Tunggu dulu," potong Tetua Ming cepat, menggeleng pelan. "Itu bukan peng,hinaan. Justru... itulah yang membuat saya semakin takjub. Saat seseorang bernama Bai Yuan keluar menemui saya... saya merasa seolah-olah gunung agung sedang berdiri di hadapanku. Aura yang dia pancarkan... jauh lebih mendalam dibandingkan kedua penjaga gerbang itu. Wibawanya begitu kuat hingga saya hampir tidak berani menatapnya langsung."
Tetua Ming menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, suaranya bergetar pelan.
"Di Benua Langit Biru ini, belum pernah ada yang mencapai Tahap Nirmala. Namun... saat berdiri di hadapan Bai Yuan, saya sempat berpikir — mungkinkah itu aura Tahap Nirmala? Saya tidak tahu pasti. Saya hanya tahu... kekuatannya jauh melampaui apa pun yang pernah saya ketahui. Dan yang paling membuat saya takjub... sekte yang selama ini kita kira sudah mati dan hanya menyisakan gerbang itu... ternyata hidup, dan hidup dengan kemegahan yang bahkan tidak bisa saya bayangkan."
Kata-kata itu membuat seluruh aula menjadi senyap seketika. Sekte yang hanya terlihat gerbangnya saja — itu yang paling mengejutkan.
Selama ratusan tahun, tak ada yang pernah memperhatikannya. Tak ada yang pernah menyangka bahwa di balik gerbang yang berdiri sendirian itu... tersembunyi kekuatan yang mungkin melampaui Sekte Awan Tinggi sendiri.
"Jadi..." gumam Tetua kedua dengan wajah pucat. "Selama ini mereka ada di sana... tepat di puncak Gunung Langit... dan kita sama sekali tidak menyadarinya."
"Karena kita semua mengira itu sekte kuno yang sudah hancur," ucap Tetua Ming pelan. "Kita melihat gerbangnya, tapi kita tidak pernah berpikir untuk mengetuknya. Kita tidak pernah menyangka... di balik gerbang itu, ada sekte yang sedang bangkit dengan kekuatan yang luar biasa."
"Lalu... bagaimana dengan pemimpin sekte itu?" tanya Ketua Sekte Chang, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. "Apakah dia keluar menemuimu?"
Tetua Ming menggeleng pelan, matanya menatap lurus ke depan seakan masih melihat sosok itu di hadapannya.
"Tidak. Pemimpin mereka sama sekali tidak menampakkan diri. Bahkan untuk menerima undangan itu pun, dia hanya mengutus Bai Yuan. Dan pesannya — Sekte Surgawi Langit akan mengirim perwakilan untuk hadir di pertemuan itu. Artinya... pemimpin mereka sendiri tidak akan datang. Cukup perwakilannya saja."
Kata-kata itu membuat suasana di aula semakin berat. Tidak hanya karena ternyata sekte itu ada di tempat yang selama ini mereka abaikan — tetapi juga karena sikap itu.
Pemimpin Sekte Surgawi Langit bahkan tidak merasa perlu hadir. Seolah-olah Sekte Awan Tinggi belum layak untuk ditemui secara langsung.
"Mereka..." Tetua keempat berbicara dengan suara bergetar. "Selama ini mereka ada di sana... tumbuh kuat... dan kita sama sekali tidak menyadarinya."
"Bukan sekadar ada di sana," ucap Ketua Sekte Chang pelan, matanya menatap ke arah jendela seakan bisa melihat puncak Gunung Langit dari kejauhan. "Melainkan... mereka membiarkan kita melihat gerbangnya, tapi tidak pernah membiarkan kita melihat siapa mereka. Jika sekte yang selama ini hanya terlihat gerbangnya saja ternyata memiliki kekuatan seperti itu... maka kita sedang berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang kita duga. Dan jangan lupa — masih ada puluhan Tetua kita yang sedang berkultivasi tertutup. Jika perlu, mereka bisa dipanggil keluar."
Ketua Sekte Chang berdiri perlahan, jari-jarinya mengetuk meja pelan — kebiasaan saat dia sedang berpikir berat.
"Pertemuan antar sekte tetap dilaksanakan sesuai rencana," ucapnya dengan suara tegas namun penuh pertimbangan. "Kita lihat nanti siapa yang datang mewakili Sekte Surgawi Langit. Jika benar sekte yang selama ini kita abaikan ternyata bangkit dengan kekuatan seperti itu... maka kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita memusuhi kekuatan yang bahkan baru saja kita sadari keberadaannya."
"Tapi Ketua Sekte," ujar Tetua kedua dengan ragu. "Jika mereka benar-benar kuat seperti yang dikatakan... dan selama ini kita sama sekali tidak menyadarinya... bukankah itu berbahaya bagi posisi kita?"
"Berbahaya atau tidak, kita harus tahu dulu niat mereka," jawab Ketua Sekte Chang sambil menatap seluruh Tetua. "Satu hal yang pasti — Sekte Surgawi Langit bukanlah musuh yang bisa dipandang sebelah mata. Mulai sekarang, perketat pengawasan di seluruh wilayah kita. Siapkan murid-murid inti. Dan jika diperlukan... kirim pesan kepada para Tetua yang sedang berkultivasi tertutup, agar mereka siap muncul kapan saja."
Pertemuan itu berakhir dengan hati yang gelisah. Para Tetua keluar dari aula dengan wajah penuh keraguan dan kekhawatiran.
Selama ratusan tahun, Sekte Awan Tinggi berdiri sebagai kekuatan terbesar di wilayah ini. Namun kini... sekte yang selama ini hanya terlihat gerbangnya saja, yang mereka kira sudah lama mati — ternyata hidup, bangkit, dan mungkin jauh lebih kuat dari mereka.
Di ruangannya sendiri, Ketua Sekte Chang duduk diam dalam kegelapan malam, menatap ke arah puncak Gunung Langit yang samar di kejauhan — tempat di mana gerbang giok itu berdiri sendirian, dan di baliknya... sebuah kekuatan yang baru saja mereka sadari keberadaannya.
"Siapakah engkau..." bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Dan apa yang sebenarnya kau rencanakan... di balik kabut tebal itu?"
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥