NovelToon NovelToon
Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Anak Genius / Mafia / Tamat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.

Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekal yang Tak Pernah Ditanya

Sore itu, langit mulai berubah jingga. Cahaya matahari yang menghangat sejak siang perlahan melembut, menyinari halaman luas Wijaya Mansion dengan warna keemasan. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam memasuki gerbang utama.

Suara mesin berhenti tepat di depan teras.

Seorang pelayan segera bergegas membuka pintu belakang. "Selamat datang, Tuan Muda Leon."

Leon turun tanpa banyak bicara. Tas ranselnya hanya disampirkan di satu bahu, sementara dasi sekolahnya sudah mengendur. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Ia melangkah melewati ruang tamu tanpa menoleh kepada siapa pun.

"Nak, mau disiapkan camilan?" tanya salah seorang pelayan.

"Tidak."

Jawaban singkat itu langsung memutus percakapan. Beberapa pelayan hanya saling berpandangan. Mereka sudah terbiasa dengan sikap Leon yang sulit didekati.

Sesampainya di lantai dua, Leon membuka pintu kamarnya dengan sedikit tergesa, lalu langsung masuk tanpa menoleh ke belakang.

Brak.

Tas sekolahnya dilempar begitu saja ke atas sofa. Ia mengembuskan napas panjang sebelum duduk di tepi ranjang sambil memijat tengkuknya yang pegal.

Beberapa saat kemudian...tatapannya tanpa sengaja jatuh pada kotak makan yang masih berada di dalam tas.

Leon terdiam. Entah mengapa, aroma ayam kecap yang tadi siang ia makan seolah masih teringat jelas.

Leon menggeleng pelan. "Aku cuma lapar."

Kalimat itu kembali ia ulangi, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. Bukan karena rasa masakannya yang istimewa. Apalagi karena orang yang membuatnya. Ia hanya kebetulan sedang sangat lapar.

Leon meraih kotak makan tersebut. Saat membukanya kembali, hanya tersisa sedikit aroma bumbu yang masih menempel di bagian dalam.

Ia memperhatikan kotak itu beberapa saat.

Biasanya. Kotak bekal yang tidak terpakai akan langsung ia serahkan kepada pelayan begitu saja.

Namun kali ini. Leon justru berdiri. Ia keluar dari kamar, lalu berjalan menuju halaman belakang mansion. Di sana terdapat sebuah keran air yang biasa digunakan para tukang kebun untuk membersihkan peralatan.

Leon menggulung sedikit lengan kemeja sekolahnya.

Kran dibuka.

Byur...

Air mengalir membasahi kotak makan itu.

Ia mengambil spons yang terletak di dekat wastafel luar, kemudian mulai menggosok bagian dalam kotak dengan gerakan perlahan.

Sesekali ia membilasnya hingga benar-benar bersih. Kotak makan itu kini terlihat bersih mengilap. Tak ada lagi sisa kuah maupun noda minyak yang menempel di permukaannya. Leon mengibaskan sisa air dari permukaannya.

"Habis juga..." gumamnya lirih.

Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Namun senyum kecil itu segera menghilang ketika ia merasa seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Leon menoleh cepat di balik jendela dapur. Naomi berdiri sambil membawa nampan berisi sayuran yang baru selesai dipotong.

Tatapan mereka bertemu hanya sesaat.

Leon langsung membeku tanpa alasan yang jelas, ia mendadak merasa tidak setenang biasanya sementara Naomi hanya memandang kotak makan yang berada di tangan Leon.

Dalam hati, ia sudah mengetahui jawabannya. Bekal itu benar-benar dimakan kalau tidak, Leon tidak mungkin repot-repot mencucinya sendiri.

Tapi tak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibir Naomi. Ia hanya tersenyum kecil.

Senyum kecil menghiasi wajah Naomi. Bukan karena ingin diakui atau berharap ucapan terima kasih, melainkan karena hatinya merasa lega melihat perhatian sederhana yang ia berikan ternyata tidak sia-sia.

Sesaat kemudian Naomi mengangguk pelan, lalu berbalik kembali ke dalam dapur, melanjutkan pekerjaannya seolah tidak melihat apa pun.

Leon masih berdiri mematung. Keningnya berkerut.

"Lho..." gumamnya pelan. "Kenapa Bibi itu nggak nanya?"

Biasanya. Setiap orang dewasa selalu melakukan hal yang sama kalau ia makan sedikit saja, mereka akan langsung bertanya.

"Enak, kan?"

"Habis semua?"

"Makanya dibilang juga apa."

Bahkan tidak sedikit yang memaksanya mengucapkan terima kasih tapi Naomi... sangat berbeda perempuan itu sama sekali tidak bertanya.

Naomi sama sekali tidak menyinggung soal bekal itu. Ia juga tidak menjadikannya alasan untuk mencari perhatian atau mendekatkan diri kepadanya.

Ia hanya tersenyum... lalu pergi begitu saja. Entah mengapa, sikap itu justru membuat Leon semakin bingung.

"Ck..." Ia mendecak pelan. "Aneh."

Kotak makan yang sudah bersih itu kemudian dibawanya kembali ke kamar.

☘️☘️☘️☘️

Malam pun tiba. Lampu-lampu kristal di ruang makan menyala terang, memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan.

Alan dan Rieke telah duduk di tempat masing-masing. Nathan juga baru saja pulang dari kantor. Suasana makan malam berlangsung cukup tenang.

Tak banyak percakapan. Seperti biasa, Nathan lebih banyak menikmati makan malamnya dalam diam. Naomi sesekali membantu pelayan menyajikan makanan.

Sementara Leon datang paling akhir. Remaja itu duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tak lama setelah makan malam selesai, para pelayan mulai membereskan meja.

Kepala pelayan kemudian menghampiri Leon. "Tuan Muda..."

Leon mengangkat wajah. "Ada apa?"

"Saya ingin mengambil kotak bekal sekolah."

"Oh."

Leon berdiri, lalu pergi ke kamarnya sebentar. Beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa kotak makan yang tadi sore dicucinya sendiri.

Kepala pelayan menerimanya dan begitu membuka tutupnya... pria paruh baya itu tampak terkejut.

"Lho..."

Leon menoleh. "Kenapa?"

"Kotaknya sudah bersih."

Ucapan itu membuat beberapa pelayan lain ikut memperhatikan. Biasanya mereka selalu menerima kotak makan dalam keadaan penuh atau paling tidak masih kotor karena sisa makanan.

Namun hari ini berbeda. Kotak itu bersih mengilap. Seolah baru selesai dicuci.

Kepala pelayan kembali bertanya dengan heran.

"Tuan Muda... siapa yang mencucinya?"

Leon menjawab singkat tanpa mengubah ekspresi. "Aku."

"Sendiri?"

"Iya."

"Kenapa repot-repot?"

Leon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya tetap datar.

"Aku nggak suka kotak makan bau."

Jawaban itu terdengar sangat biasa.

Namun tak seorang pun benar-benar mempercayainya beberapa pelayan saling bertukar pandang sambil menahan senyum.

Mereka tahu kalau bekal itu kembali dalam keadaan bersih... artinya makanan di dalamnya benar-benar habis.

Di sisi lain ruangan, Naomi yang sejak tadi berdiri membantu menyusun piring hanya melirik sekilas ke arah Leon. Ia kembali tersenyum kecil tetapi lagi-lagi. Ia memilih tidak mengatakan apa pun.

"Syukurlah bekalnya dimakan."

Tak ada pertanyaan,

"Enak tidak?"

Tak ada pula harapan agar Leon memujinya.

Baginya. Melihat seorang anak pulang dengan perut kenyang saja sudah lebih dari cukup.

Sementara itu, Leon diam-diam melirik ke arah Naomi. Perempuan itu sudah kembali sibuk membantu pelayan, seolah urusan bekal siang tadi bukan sesuatu yang penting.

Leon terdiam cukup lama. Semakin ia mencoba memahami perempuan itu, semakin sulit pula ia menebak maksud di balik setiap sikapnya. Semua perhatian yang diberikan Naomi terasa begitu sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya gelisah.

Bersambung. ...

1
Nani heri Upitarini
sakjane Iki crito alure piye....kok g jelas....
Ika Yanti Unyil
ceritanya beda dengan yang lain penuh dengan misteri.jadi penasaran tiap membaca bab baru.tapi masih banyak yang nggantung thor.masih kuranggg ceritanya.koq udahn di bab 30an thor.
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰
Nar Sih
cerita nya bagus kak tpi udah end ,kurang panjang bab nya
Nar Sih
kak ayu kok udh end pdhl blm puas bca nya dan sedikit bab nya ,😭
Nar Sih
semoga hubungan naomi dan nathan akan lebih baik lgi dan suatu saat nanti bnr ,,jdi psngn suami istri yg sebnr nya
Ayumarhumah: maaf ya Kak ....
total 1 replies
muna aprilia
lanjutkan
Nar Sih
gomong bnyk juga percuma ,tinggal penyesaalan mu yg pnjg..org tua yg pilih kasih ahir nya ank yg di bsnggakan justru menyakitkan🤣
Oma Gavin
sudah melek mata kalian terhadap anak kesayangan mu itulah alice playing victim muka tembok silahkan dinikmati saja sebentar lagi jiga nathan akan memenjarakan alice dan adrian
ros
🙏
Oma Gavin
mampusss kamu alicia seberapapun jauh kamu kabor pasti tertangkap juga
Nar Sih
lebih baik kmu nyerah aja alicia dri pada hidup mu terus gk tenang kabur sana sini 🤣
Nar Sih
lanjutt kak kadang q msih bingung dgn cerita nya
ros
masih byk teka teki nya
Nar Sih
semagat natan ,sgra selesai kan mslh ini biar naomi aman
Nar Sih
semoga sgra terungkap semua nya
ros
lanjut 🙏
Nar Sih
brati ada penyusup msuk suruhan alicia ,
Nar Sih
mungkin kah satpam tersebut suruhan alicia ,untuk memata,,i naomi hnya kak ayu yg tau
guest1053527528
siapa yg mata2 Thor dan semoga Naomi segara dapat orangx
Nar Sih
semagat nathan dan naomi💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!