NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hari Pertama di Tempat Baru

Alarm bunyi jam lima pagi. Gue langsung bangun, kayak udah terbiasa. Tarik gorden — langit masih kelabu dikit, tapi di ujung timur udah mulai memerah. Udara dingin masuk lewat celah jendela, bikin gue merem sebentar sambil tarik napas.

Hari pertama. Kampus baru, orang baru, semua belum kenal.

Gue mandi, pakai baju rapi, lalu turun pelan ke lantai bawah. Di pintu depan, Farhan udah nunggu sambil berdiri tegak, tas di pundak, senyumnya cerah banget pas lihat gue keluar.

"Pagi, Mir. Siap taklukin dunia?"

"Siap taklukin gerbang kampus dulu aja." Gue senyum, jalan bareng dia. "Lo udah sarapan?"

"Belum. Mampir di warung kecil di tikungan yuk? Katanya enak."

Di warung itu, kita duduk berdua di bangku kayu. Udah ada beberapa orang — sepertinya mahasiswa juga. Suara tawa, bunyi sendok, bau nasi uduk dan kopi bikin suasana kerasa hangat.

"Kelihatannya gak seasing yang gue kira," kata gue sambil aduk teh manis.

"Karena kita bareng," jawab Farhan pelan. "Kalau sendirian, pasti beda rasanya."

Sampai di persimpangan jalan — ke arah kampus gue ke kiri, kampus Farhan ke kanan. Kita berhenti di pinggir trotoar, orang-orang lewat beriringan sibuk banget.

"Di sini pisah dulu," kata Farhan. "Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, bingung, atau cuma mau cerita — kabarin aja. Gue angkat, walau lagi sibuk."

"Lo juga. Jangan pendam sendiri kalau berat." Gue pegang tali tasnya pelan. "Nanti sore ketemu di sini lagi. Jam lima."

"Jam lima. Di tempat ini." Dia senyum, lalu melangkah ke kanan. Beberapa langkah, dia nengok sekali. "Semangat ya, Amira!"

"Semangat juga, Farhan!"

Gue jalan ke kiri. Jalan makin ramai, orang-orang makin banyak. Pas sampai di gerbang kampus, gue berhenti sebentar. Luas banget. Gedung-gedung tinggi, pohon rindang, papan nama jurusan yang barusan gue impikan. Jantung gue berdebar kencang — bukan takut, tapi campur aduk banget.

Di ruang kelas, semua orang belum saling kenal. Duduk sendiri-sendiri, lihat jadwal, bisik-bisik pelan. Gue pilih tempat di dekat jendela. Buka buku, tulis nama di halaman pertama — tangan gue agak gemetar dikit.

"Duduk boleh di sini?"

Gue nengok. Seorang perempuan senyum ramah, bawa tas besar.

"Tentu aja. Duduk aja."

"Namaku Lina. Dari kota sebelah."

"Amira. Dari jauh dikit lagi."

Dia ketawa. "Pertama kali di sini juga?"

"Iya. Masih bingung jalan-jalannya."

"Nanti kita cari bareng ya. Sama-sama baru, sama-sama belum kenal siapa-siapa."

Gue senyum lega. Ternyata gak sendirian.

Jam pelajaran berjalan lama banget. Dosen bicara cepat, catatan numpuk, tugas langsung dikasih. Kepala gue penuh. Tapi setiap kali buka HP, ada pesan dari Farhan — singkat, gak ngeganggu:

"Gue baru selesai satu kelas. Masih hidup lo?"

"Masih! Tugas udah tiga halaman. Lo gimana?"

"Lumayan. Dosennya seru. Nanti sore cerita semua ya."

Sore itu, gue jalan ke persimpangan tadi. Farhan udah nunggu di sana, berdiri di tiang lampu, lihat jam sesekali. Pas lihat gue, dia langsung senyum lebar.

"Lo datang tepat waktu."

"Gak telat kan?"

"Justru cepat. Gue baru aja sampai lima menit lalu."

Kita duduk di bangku taman dekat situ, cerita panjang lebar — dosen yang cepat, teman yang ramah, gedung yang tersesat, kantin yang mahal dikit. Semua hal kecil kerasa penting banget buat diomongin.

"Gue kira bakal sepi dan berat," kata gue sambil lihat orang lewat. "Ternyata... banyak orang juga lagi berjuang sama kayak kita."

"Karena setiap orang punya cerita sendiri," jawab Farhan pelan. "Kita cuma bagian dari ribuan orang yang berani mulai lagi."

Tiba-tiba HP gue bunyi. Dari Dimas. Foto bengkelnya yang udah dipasang papan nama: "Bengkel & Pusat Latihan — Bangkit".

"Lagi ngerapihin alat. Ternyata capek fisik enak. Gak banyak mikir, langsung lakuin. Semangat di sana ya! Kalian jauh, tapi gue di sini jagain rumah."

Gue tunjuk layar ke Farhan. Matanya berbinar banget.

"Dimas hebat banget," katanya lembut. "Beneran bangkit."

"Kita juga bakal kayak gitu kan? Pelan-pelan?"

"Pasti. Gak harus cepat. Yang penting jangan berhenti."

Malamnya, di kamar, gue baru selesai makan sambil belajar. Tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu kamar. Gue buka — Farhan berdiri di luar, bawa dua gelas susu hangat.

"Turun ke bawah beli. Kebayang lo belum makan yang bener."

Gue senyum, kasih jalan masuk. "Makasih ya. Lo perhatian banget hari ini."

"Bukan hari ini aja. Dari dulu gue mau jaga lo. Cuma sekarang... gue yang harus pastikan lo makan sendiri." Dia taruh gelas di meja, natap sekeliling kamar. "Sudah mulai kerasa kayak rumah?"

"Pelan-pelan. Kalau lo sering datang, makin kerasa."

Dia duduk di tepi kasur, hening sebentar. "Gue sempat takut tadi pagi. Pisah jalan di persimpangan... kayak bakal lama gak ketemu."

"Tapi kita ketemu lagi sore ini."

"Iya. Dan besok. Dan lusa. Selama kita mau cari waktu." Dia berdiri, kasih senyum tenang. "Istirahat ya. Jangan begadang. Kalau lo sakit, gue bakal panik di kelas."

"Siap, Pak." Gue ketawa pelan. "Lo juga istirahat."

Dia keluar, tapi di tangga balik nengok sekali. "Besok ketemu di depan ya. Jam yang sama."

"Pasti."

Gue tutup pintu, duduk di meja belajar. Buka buku catatan, tulis pelan:

"Hari pertama. Banyak yang belum tahu. Banyak yang asing. Tapi gue pulang ke kamar ini bukan sendirian. Ada orang yang cerita ke gue, ada orang yang kirim kabar, ada orang yang nunggu di persimpangan. Ternyata rumah bukan cuma di satu tempat. Rumah itu di mana pun ada orang yang tau nama lo dan senang lo datang."

Langit di luar udah gelap penuh, lampu-lampu kota menyala berderet. Bintangnya beda posisi, tapi tetap bersinar. Gue tarik selimut, pegang HP di samping bantal. Besok pasti ribet lagi — jalan baru, muka baru, tugas baru.

Tapi gue gak takut.

Karena gue tau — di lantai atas, di balik pintu itu, ada orang yang juga sedang berdoa supaya kita kuat. Dan di kota jauh di sana, ada orang yang kerja keras sambil ingetin kita jangan lupa pulang.

Kita masih di awal perjalanan. Belum sampai tujuan. Tapi langkah pertama udah diambil. Dan kaki gue gak terasa berat. Karena gue tau — ke mana pun gue melangkah, gue gak jalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!