NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mempertanyakan sikap

Malam itu, Zalina sedang memasak di dapur untuk makan malam mereka berdua.

Sementara Reyhan tampak duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Lengan dan kakinya masih dibebat dengan perban. Ia masih menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan. Walau pun ruang geraknya masih terbatas, namun sebisa mungkin ia melakukan semampunya sendiri.

Tanpa terasa sudah hampir tiga minggu ia tidak bekerja karena kondisinya. Ia mulai merasa khawatir pada keadaan ekonomi mereka, juga tempatnya bekerja. Apakah bosnya masih tetap memperkerjakan dirinya setelah libur panjang?

Jika ia tidak bekerja, bagaimana mereka akan memperoleh uang untuk memenuhi semua kebutuhan hidup?

Belum lagi, ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar cicilan hutang kepada rentenir sebelum akhir bulan?

Ia lalu menghela napas panjang sejenak, seolah ada beban berat yang kini menghimpit dadanya.

"Ayah, makanannya sudah siap."

Suara Zalina yang ceria seketika menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu tampak berjalan menghampirinya, lalu berdiri tepat di belakang kursi roda Reyhan. Ia mendorongnya ke ruang makan.

Di atas meja makan mereka yang kecil, sudah tersedia ikan goreng, sayur bayam bening dan juga sambal goreng kesukaan ayahnya. Menu sederhana yang selalu membuat nafsu makan Reyhan bertambah.

Pria itu memakannya dengan lahap. Sesekali ia tampak memperhatikan wajah putrinya yang terlihat penuh keceriaan seperti biasanya, seolah tidak ada beban sedikit pun dipundaknya.

Padahal Reyhan tahu bahwa putrinya itu pasti kelelahan mengurusnya, juga mengurus rumah ini seorang diri.

Ia hanya punya seorang anak, namun kenapa ia tidak bisa membuatnya bahagia. Rasa bersalah selalu membayangi dirinya yang gagal.

"Nak," panggilnya, di sela makan malam mereka yang terasa hening. "Bagaimana pertemuanmu tadi dengan Kaiden? Apa pembicaraan kalian berlangsung lancar?"

"Iya, Ayah. Semuanya berjalan lancar." sahut Zalina santai.

"Baguslah kalau begitu."

Suasana kembali tenang. Namun...

"Tadi, aku bertemu dengan Ibu di restoran. Ibu tampak sehat dan ceria seperti biasa..." jelasnya terdengar lirih.

Hal itu seketika membuat Reyhan menghentikan gerakannya. Ia terdiam sejenak, menatap lurus ke arah Zalina yang kini tampak sedih.

"Apa kau tidak ingin tinggal bersama ibumu, Nak?" tanyanya pelan dan hati-hati. "Ayah yakin kehidupanmu akan jauh lebih terjamin jika tinggal bersama ibumu."

Zalina sontak mengangkat kepala dan berhenti makan. Ia menatap Ayahnya seketika. "Lalu... Ayah akan hidup seorang diri di sini?"

"Ayah bisa menjaga diri, Nak. Kau tidak perlu khawatir."

Zalina tersenyum lirih ketika mendengarnya. Apa yang baru saja terlontar dari mulut ayahnya, sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di depannya.

"Kalau ayah bisa menjaga diri, ayah tidak akan berakhir di kursi roda itu."

"Ini sesuatu yang tidak pernah Ayah duga, Nak." sahut Reyhan pelan.

"Justru karena itu, Yah. Aku tidak bisa meninggalkan Ayah seorang diri. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Ayah, sementara aku tidak ada di sini bersama Ayah? Siapa yang akan mengurus dan menjaga Ayah?"

Zalin mencecar ayahnya dengan serentetan pertanyaan yang menusuk.

"Sudah, tidak perlu tanya lagi. Jawabanku akan tetap sama, Yah." lanjut Zalina dingin.

Suasana ruangan kembali sunyi. Keduanya tampak melanjutkan makan mereka dengan hati yang kini terasa sedikit sesak.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu rumah mereka.

Dahi Zalina seketika berkerut halus. "Siapa yang malam-malam begini bertamu, Yah? Apa Ayah punya janji dengan seseorang?"

Reyhan menggeleng pelan. "Tidak, Nak. Ayah tidak punya janji dengan siapa-siapa."

Zalina lalu pergi ke arah pintu rumah. Ia lebih dulu mengintip dari balik tirai jendela sebelum membukanya.

Sosok seorang pria dan wanita, tampak berdiri di luar dengan beberapa tas belanja di tangannya.

Dan Zalina familiar sekali dengan wajah keduanya.

Zafran dan Belinda.

Ia lalu membuka pintu dan mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah.

"Ternyata kalian." ucap Reyhan, setelah melihat keduanya masuk dan menghampiri dirinya di meja makan. "Ada apa malam-malam begini datang berkunjung?"

Belinda lebih dulu menyerahkan beberapa tas belanja yang ia bawa kepada Zalina. Sisanya ia letakkan di atas lantai. Begit pun dengan tas bawaan Zafran.

"Apa semua ini, Bu?" tanya Zalina bingung.

"Ini semua kebutuhan dapur juga beberapa pakaian untuk kalian berdua." jelasnya santai.

Tak lama, seorang supir menyusul masuk dan membawa beberapa karung beras, beserta kotak-kotak berisi kebutuhan pokok dan meletakkannya di lantai.

"Apa yang sedang kau lakukan, Zafran, Belinda? Untuk apa kau membawa semua ini?" Reyhan ikut heran dan terkejut melihatnya.

"Aku tidak tahu harus membawa apa saat datang ke sini. Kau juga pasti menolak jika aku membelikan barang-barang mewah untukmu. Jadi, aku membeli beberapa kebutuhan pokok yang pasti kalian butuhkan." jelas Zafran.

"Tapi ini terlalu berlebihan, Zafran. Tidak perlu sampai sebanyak ini. Aku jadi sungkan untuk menerimanya." sahut Reyhan.

"Kalau kau tidak menerimanya, barang-barang ini akan mubazir. Jadi, jangan menolak bantuan dari kami, oke?" timpal Belinda, tampak membujuknya.

"Tapi... kalau seperti ini, aku malah terlihat seperti orang yang sedang memanfaatkan kalian." ucap Reyhan lirih.

"Tidak apa-apa. Kami memang suka dimanfaatkan." sahut Zafran santai.

Belinda lalu melihat ke arah meja. Lauk sederhana yang masih tersisa setengahnya di dalam piring.

Hal itu tak luput dari perhatian Zalina. "Ibu... dan paman sudah makan malam? Tapi, maaf yang ada hanya lauk seadanya." jelas Zalina, merasa sungkan.

Belinda tampak tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Zalina dengan penuh kasih.

"Ketulan kami belum makan malam. Apa kamu boleh ikut bergabung di meja?" Zafran yang menjawab.

"Tentu saja." sahut Reyhan senang. "Zalina, tolong ambilkan piring lagi di dapur." pintanya pada putrinya.

"Iya, Ayah."

Zalina lalu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil piring dan gelas.

Ia langsung kembali ke meja setelahnya. Ia meletakkan piring kaca bening di hadapan mereka berdua. Piring kaca yang ia dapatkan dari hadiah sabun cuci pakaian.

Reyhan dan Belinda tampak mengambil ikan serta sayuran, lalu segera memakannya.

"Hmm... ini sangat lezat, Nak. Paman tidak menyangka jika kau pandai sekali memasak." ucap Zafran terdengar antusias.

Belinda juga tak kalah lahap memakannya. Rasanya, sudah lama sekali mereka tidak makan makanan sederhana seperti ini. Dulu, sewaktu hidup susah dan tidak punya makanan, mereka bahkan hanya bisa makan nasi dengan garam saja.

Beruntung putra mereka Kaiden, tidak mengeluh dan menerima keadaan seperti Zalina sekarang.

Suasana makan malam itu tampak hangat dan menenangkan. Mereka sesekali tampak mengobrol dan membahas tentang masa lalu yang penuh dengan perjuangan dan air mata.

Belinda juga sempat menyinggung tentang makan siang tadi pada Zalina karena penasaran.

"Nak, Ibu bukannya ingin memaksamu. Namun, Ibu sangat berharap jika kau mau menerima perjodohan ini dan menikah dengan Kaiden."

"Ibu sangat menyayangimu, Nak. Ibu sudah menganggapmu seperti putri kandung Ibu sendiri."

Zalina terdiam. Ucapan itu terasa hangat, sekaligus menyesakkan.

Ia menunduk, gerakannya terhenti seketika.

"Ibu tahu ini tidak mudah," lanjut Belinda dengan suara lembut, lalu meraih tangan Zalina. "Apalagi kalian baru saling mengenal. Tapi... Ibu yakin bahwa kehadiranmu pasti bisa membuat Kaiden bahagia."

Hening sejenak.

Zalina menghela napas panjang, yang terdengar berat. "Bu, saya tidak meragukan niat baik Ibu. Tapi, pernikahan bukan hal kecil." suaranya lirih, namun tegas. "Saya takut jika semua yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan."

Belinda menggenggam tangannya lebih erat. "Takut itu wajar, Nak. Tapi terkadang... kebahagiaan juga datang dari keberanian untuk mencoba.

Zalina tersenyum tipis, senyum getir yang begitu menyesakkan. "Saya masih memikirkannya, Bu."

"Pelan-pelan saja. Waktu kita masih sangat panjang."

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!