Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Seperti biasa, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepatnya yang cela, Rena segera pergi ke rumah Ririn untuk bekerja. Pagi ini, drama yang dilakukan oleh ibu mertuanya tidak terlalu panjang seperti sebelumnya. Bu Broto hanya mendengus sinis dari sofa tanpa mengeluarkan makian yang berarti, mungkin karena sudah mendapatkan peringatan keras dari Aris tadi malam. Rena bisa melangkah keluar pagar dengan napas yang jauh lebih lega.
Sesampainya di rumah Ririn, Rena langsung bergelut dengan tumpukan setrikaan dan piring kotor. Dia bekerja seperti biasa dengan sangat cekatan dan teliti, hingga membuat Ririn yang memperhatikan dari kejauhan merasa sangat puas dengan hasil kerja Rena. Rumah yang semula sedikit berantakan kini kembali rapi dan wangi dalam waktu singkat.
Saat Rena sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap hendak pamit pulang, Ririn menahannya sejenak. "Mbak Rena, tunggu sebentar. Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan," panggil Ririn ramah.
Rena menghentikan langkahnya dan menghampiri Ririn dengan dahi berkerut halus. "Iya, Mbak Ririn? Apa ada yang kurang dari pekerjaan saya hari ini?"
"Oh, bukan begitu, Mbak. Pekerjaan Mbak Rena selalu sempurna kok," ujar Ririn sembari tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak gawai dari balik saku bajunya. Di saat itulah Ririn memberikan ponsel lamanya kepada Rena. "Ini untuk Mbak Rena. Ponsel lamaku, tapi kondisinya masih sangat bagus dan fungsinya normal semua."
Mata Rena membelalak kaget. Dia langsung menggelengkan kepalanya seraya memundurkan langkah. "Aduh, Mbak Ririn... Jangan, Mbak. Saya tidak pantas menerimanya. Itu barang mahal, Mbak."
Tapi Ririn memaksa, dia meraih tangan Rena dan meletakkan kotak gawai itu di atas telapak tangan asistennya. "Mbak, tolong diterima ya. Alasan ku ngasih ini supaya kita lebih mudah berkomunikasi. Kalau cuaca buruk atau aku butuh bantuan Mbak Rena datang lebih cepat, aku bisa langsung menghubungi Mbak tanpa kesulitan. Anggap saja ini fasilitas kerja."
Terpaksa Rena menerimanya dengan perasaan campur aduk antara haru dan sungkan. "Terima kasih banyak, Mbak Ririn. Bantuan Mbak sangat berarti untuk saya."
"Sama-sama, Mbak Rena. Gunakan dengan baik ya," sahut Ririn tulus.
Setelah urusan itu selesai, Rena langsung pulang ke rumah bersama Dio tanpa mampir ke mana-mana lagi. Dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya siang itu. Saat melangkah masuk, rumah terlihat sangat sepi. Tidak ada sepatu Siska ataupun suara televisi Bu Broto yang menggelegar. Tampaknya, ibu mertua dan adik iparnya itu sedang pergi keluar untuk menghabiskan waktu mereka seperti biasa. Rena bersyukur karena bisa tidur siang dengan tenang bersama putranya.
Malam harinya, suasana rumah kembali menegang setelah makan malam selesai. Aris memanggil Rena ke kamar. Pria itu tampak merogoh saku celananya, hendak memberikan uang bulanan kepada Rena karena hsri ini dia menerima gaji bulanan dari kantornya.
"Ren, ini uang bulanan untuk kebutuhan rumah," ucap Aris sembari mengulurkan beberapa lembar uang kertas.
Tapi, Rena tidak langsung menerimanya. Dia menatap uang itu dengan pandangan dingin, lalu beralih menatap Aris. Sebuah ide terlintas di benaknya untuk mengakhiri lingkaran setan tuduhan di rumah ini.
"Mas, bawa uang itu ke depan," ajak Rena dengan suara tegas. "Jangan berikan di sini. Berikan di hadapan Ibu dan Siska."
Aris mengernyitkan dahi, bingung. "Untuk apa, Ren? Ini kan urusan kita berdua."
"Ikut aku saja, Mas," potong Rena tanpa membantah.
Aris terpaksa mengekor di belakang istrinya menuju ruang tengah, di mana Bu Broto dan Siska sedang asyik menonton acara televisi. Di saat itulah, di depan mata mereka semua, Rena menunjukkan kepada ibu mertua dan adik iparnya berapa jumlah uang belanja yang sebenarnya diberikan Aris kepadanya selama ini.
"Ibu, Siska, tolong lihat ke sini sebentar," panggil Rena, memecah keheningan ruang tengah. Dia mengambil uang dari tangan Aris lalu menyebarkannya di atas meja kaca. "Lihat ini. Mas Aris hanya memberiku uang satu juta rupiah untuk sebulan."
Bu Broto dan Siska seketika menoleh, memandang lembaran uang di atas meja dengan tatapan heran.
"Uang satu juta ini harus dipotong untuk bayar listrik rumah sebesar dua ratus ribu," lanjut Rena, suaranya terdengar sangat jernih dan menusuk. "Sisanya, delapan ratus ribu, harus digunakan untuk belanja makan kita berempat, beli tabung LPG, beli beras, minyak goreng, dan keperluan dapur lainnya selama tiga puluh hari."
Rena menatap ibu mertuanya lurus-lurus, lalu menggeser tumpukan uang itu ke arah Bu Broto. "Jika Ibu atau Siska merasa bisa mengatur uang ini untuk makan enak dengan menu mewah seperti yang kalian tuntut selama satu bulan... silahkan, pegang uang ini sekarang. Belanjakan sesuka kalian, biar aku yang masak hasil belanja kalian. Aku nggak mau dengar lagi kalian ngomong seolah akulah yang menghabiskan uang mas Aris dan berfoya-foya di luar sana."
Mendengar kata-kata telak dari Rena, membuat Bu Broto dan Siska seketika terdiam seribu bahasa. Mereka berdua saling pandang dengan wajah yang mendadak kaku. Begitu juga dengan Aris, dia sama sekali tidak menyangka kalau Rena akan nekat menunjukkan uang bulanan yang ia berikan kepada ibu dan adiknya secara blak-blakan seperti ini. Wajah Aris sempat memerah menahan malu, dan dia sempat akan marah karena merasa harga dirinya dijatuhkan.
"Rena! Apa-apaan kamu ini? Kenapa masalah keuangan harus diumbar begini?!" tegur Aris dengan nada tinggi yang tertahan.
Tapi, ucapan Rena berikutnya seketika membuatnya bungkam dan tak mampu berkutik lagi.
"Maaf, Mas. Bukannya aku ingin mengumbar ini semua di depan mereka," ucap Rena, matanya mulai berkaca-kaca namun suaranya tetap terdengar tegar. "Tapi aku sudah sangat capek! Aku capek setiap hari dituduh foya-foya dan mencuri uangmu oleh Ibu dan Siska. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja, aku harus menekan pengeluaran sedemikian rupa agar cukup untuk satu bulan! Jangankan untuk foya-foya seperti yang mereka tuduhkan, untuk beli daster baru seharga tiga puluh lima ribuan saja aku tidak pernah bisa selama bertahun-tahun ini!"
Setelah mengatakan semua kalimat yang menyumbat dadanya itu, Rena langsung berbalik tanpa menunggu respons mereka lagi. Dia melangkah cepat masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruang tengah.
Di ruang tengah, Bu Broto kini menatap Aris dengan mata membelalak penuh tanya. Rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi. "Aris... apa benar yang dikatakan Rena? Kamu hanya memberi dia uang satu juta sebulan untuk mengurus rumah ini?"
Aris tidak bisa mengelak lagi. Di depan ibu kandungnya sendiri, dia hanya bisa menunduk dalam-dalam dan mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia merasa sangat malu karena kedoknya sebagai suami yang pelit kini terbuka lebar.
Tapi, bukannya merasa bersalah karena telah menuduh menantunya selama ini, kalimat Bu Broto selanjutnya justru membuat Aris kembali mengangkat kepalanya dengan tatapan heran.
"Kenapa Rena sekarang jadi berani seperti itu, Aris?" tanya Bu Broto dengan nada ketus, melipat tangannya di dada. "Dulu dia itu anak yang sangat penurut, tidak pernah membantah sepatah kata pun. Seharusnya sebagai istri dia juga bersyukur dengan apa yang diberikan suami, tidak perlu mengeluh dan mempermalukan kamu di depan Ibu seperti itu!"