Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Bayangan dari Masa Lalu
“Dan kalau kita tidak bergerak, sebentar lagi semua orang di rumah sakit ini akan berdiri di belakangnya.”
Di ujung telepon, Rangga Pradana tertawa pelan.
Tawanya bukan tawa orang yang terkejut. Lebih seperti orang yang menemukan mainan lama di gudang dan baru ingat pernah mematahkannya.
“Ardi masih hidup saja sudah mengejutkan,” kata Rangga. “Sekarang dia mau jadi pahlawan rumah sakit?”
Hendro menutup tirai ruang kerjanya. “Dia sudah punya SIP lagi. Fajar, Direktur Hendra, bahkan beberapa pejabat mulai mendukung dia. Kalau dibiarkan, kasus lama itu bisa dibuka lagi.”
Kata “kasus lama” membuat suara Rangga berhenti malas.
“Jangan bicara soal itu lewat telepon.”
Hendro menelan ludah. “Lalu?”
“Ada acara besok malam. Seminar kecil, sponsor dari Surya Perkasa Group. Topiknya bedah jantung dan inovasi klinis. Saya akan undang beberapa dokter Soetomo. Pastikan Ardi datang.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengingatkan dia bahwa satu dua operasi tidak membuatnya sejajar dengan orang yang benar-benar punya dunia.”
Panggilan terputus.
Malam berikutnya, ballroom hotel di pusat Surabaya menyala dengan lampu hangat dan karpet tebal. Di pintu masuk, logo PT Surya Perkasa Group berdiri di samping spanduk bertuliskan seminar kardiotoraks. Nama sponsor dicetak lebih besar daripada judul ilmiah.
Ardi datang bersama Fajar dan Rudi.
Ia tidak ingin datang. Tapi undangan resmi dikirim ke RSUD Soetomo, dan Fajar berkata lebih baik melihat sendiri apa yang sedang disiapkan Hendro daripada menunggu pisau datang dari belakang.
“Tempatnya mewah juga,” bisik Rudi. “Gue takut napas terlalu keras kena biaya tambahan.”
Ardi meliriknya. “Kalau kamu pecahkan gelas, bayar sendiri.”
“Sadis. Baru jadi dokter resmi langsung kapitalis.”
Humor kecil itu berhenti saat Ardi melihat Rangga.
Pria itu berdiri dekat panggung, memakai jas gelap, rambut tertata rapi, senyum mudah yang biasa dimiliki orang kaya yang tidak pernah harus meminta izin untuk masuk ke mana pun. Di sampingnya, Dewi berdiri dengan gaun sederhana tapi mahal.
Mata Dewi bertemu mata Ardi selama satu detik.
Lalu ia memalingkan wajah.
Tidak cukup cepat untuk menyembunyikan rasa tidak nyaman.
Rangga justru berjalan mendekat.
“dr. Ardi Pratama,” katanya, membuka kedua tangan seolah menyambut teman lama. “Akhirnya kita bertemu lagi di tempat yang lebih layak daripada koridor pengadilan.”
Rudi langsung menegang.
Fajar menatap Rangga dengan wajah datar.
Ardi berdiri tenang. “Rangga.”
Tidak ada Pak. Tidak ada Mas.
Senyum Rangga menipis sedikit, lalu kembali. “Saya dengar kamu sudah dapat SIP lagi. Selamat. Indonesia memang negara penuh kesempatan kedua.”
“Dan kadang kesempatan pertama dicuri orang.”
Udara di antara mereka mengeras.
Dewi menatap Ardi cepat. Hendro yang berdiri tidak jauh pura-pura sibuk berbicara dengan tamu lain, tapi telinganya jelas mendengar.
Rangga tertawa pendek. “Masih suka menyindir. Bagus. Malam ini kita bicara ilmu, bukan masa lalu. Saya membawa tamu internasional. Mungkin kamu bisa belajar sesuatu.”
Ia menepuk bahu Ardi.
Ringan.
Tapi gesturnya seperti memberi makan anjing.
Ardi tidak bergerak sampai tangan itu turun sendiri.
Acara dimulai tiga puluh menit kemudian.
Pembicara utama diperkenalkan sebagai Dr. James Regan, “anggota AATS dan konsultan bedah jantung Eropa”. Pria asing berambut pirang kusam itu naik ke panggung dengan senyum tipis. Bahasa Inggrisnya lancar, tapi slide presentasinya terasa aneh bagi Ardi sejak halaman pertama.
Terlalu umum.
Terlalu aman.
Seperti seseorang yang membaca ringkasan artikel lama, bukan orang yang benar-benar hidup di garis depan bedah jantung.
Rangga duduk di barisan depan, sesekali melirik Ardi. Hendro duduk dua kursi dari belakang Ardi, wajahnya menunggu.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang moderator berkata, “Mungkin dr. Ardi dari RSUD Soetomo ingin bertanya? Saya dengar belakangan nama Anda cukup sering disebut.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Jebakan itu kasar.
Rudi berbisik, “Mau gue batuk keras biar sesi bubar?”
Ardi berdiri. “Tidak perlu.”
Ia menatap pembicara di panggung. “Dr. James, pada slide Anda tentang transplantasi jantung paralel, Anda menyebut pendekatan tekanan paru bisa distandarkan dalam tiga tahap. Bagaimana Anda menyesuaikan protokol itu pada pasien pediatrik dengan riwayat operasi korektif multipel dan adhesi perikardial berat?”
Ruangan menjadi lebih tenang.
James berkedip.
“Well, in general, the protocol is flexible,” jawabnya. “The surgeon must adapt according to condition.”
Jawaban itu benar secara kulit, kosong di dalam.
Ardi mengangguk. “Tentu. Adaptasi seperti apa? Apakah Anda memilih cannulation perifer lebih dulu, atau tetap sentral dengan modifikasi tekanan bertahap?”
James tersenyum lebih kaku. “It depends on the case.”
Beberapa dokter saling pandang.
Rangga masih tersenyum, tapi matanya mulai menyipit.
James berdeham. “This is too specific for tonight's general audience. We can discuss later.”
“Baik,” kata Ardi.
Ia duduk.
Tidak menyerang lebih jauh.
Justru itu membuat Hendro tampak kecewa.
Setelah acara, Rangga mendekat lagi. “Pertanyaanmu menarik, tapi jangan terlalu memaksa tamu internasional. Tidak semua orang suka gaya agresif.”
Ardi melihat ke panggung, tempat James sedang menerima ucapan selamat dari beberapa tamu. “Tamu internasional biasanya bisa menjawab pertanyaan internasional.”
Rangga tertawa, kali ini lebih dingin. “Hati-hati, Ardi. Orang yang baru berdiri lagi biasanya lupa tanah di bawahnya masih licin.”
“Saya sudah pernah jatuh. Saya tahu rasanya.”
Dewi menarik lengan Rangga pelan. “Rangga, ayo.”
Rangga menatap Ardi satu detik lebih lama, lalu pergi.
Di parkiran hotel, Rudi akhirnya meledak. “Itu orang nggak beres, Di. Yang bule itu juga aneh. Masa AATS jawabannya kayak brosur seminar?”
Fajar berjalan di samping mereka. “Kamu juga merasa begitu?”
Ardi mengangguk. “Saya mau cek namanya.”
Malam itu, di kamar kost, Ardi membuka laptop tua yang kipasnya berbunyi seperti hendak menyerah. Ia mencari nama James Regan, AATS, publikasi, institusi, nomor registrasi, semua yang disebut di brosur seminar.
Tidak ada yang cocok.
Ada beberapa James Regan di dunia medis, tapi bukan pembicara tadi. Tidak ada publikasi sesuai klaim. Tidak ada afiliasi AATS. Institusi Eropa yang disebut di slide bahkan salah menulis nama departemennya.
Ardi memotret layar, menyimpan tautan, lalu menghubungi nomor yang diberikan Hartono untuk urusan jaringan luar negeri.
Butuh satu jam sebelum balasan datang.
Short answer: no active AATS member by that profile. Likely fake credential.
Ardi menatap layar.
Di meja, dokumen SIP terletak di samping foto anak-anak. Di layar, bukti pertama kebohongan Rangga terbuka satu per satu.
Ia tidak langsung merasa puas. Bukti yang setengah matang hanya akan menjadi bahan tertawaan orang seperti Rangga. Ardi membuat folder baru, menyimpan tangkapan layar, mencatat waktu akses, lalu menulis tiga pertanyaan yang besok harus dijawab James di depan semua orang. Kalau lawan memakai panggung, maka panggung itu harus menjadi tempat mereka jatuh.
Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Fajar.
Besok acara lanjutan masih ada?
Balasan Fajar cepat.
Ada. Kamu menemukan sesuatu?
Ardi mengetik pelan.
Besok kita akan lihat siapa yang malu.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭