NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Ruang Interogasi di Kementerian Kehakiman bukanlah tempat yang ramah. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu dingin yang menyerap suara, dan udara di dalamnya berbau lembap bercampur dengan aroma besi tua dan keringat ketakutan.

Tidak ada jendela yang ada hanya sebuah meja kayu yang berada di tengah ruangan, diterangi oleh dua batang lilin yang menyalanya bergoyang-goyang karena hembusan angin dari celah dinding.

Gu Wenhao duduk terikat di kursi kayu, pergelangan tangannya di ikat dengan rantai besi berat. Jubah putihnya yang dulu ia banggakan kini kotor, kusut, dan robek di bagian siku. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, matanya liar menatap ke segala arah seolah-olah mencari jalan keluar dari kegelapan.

Di hadapannya,

Duduk Shen Qianhe, Paman kedua dari Putri Li Yuexin dan Menteri Kehakiman. Pria ini dikenal sebagai "Hakim Besi" karena kejujurannya yang kaku dan ketidaktertarikannya pada hal suap menyuap.

Di sampingnya, berdiri Kakek Shen Guotai, sang Perdana Menteri, dengan wajah datar yang tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Gu Wenhao," ucap Paman Shen Qianhe, suaranya rendah namun bergema di ruangan sempit itu. Dia tidak berteriak karena hal itu tidak perlu. Keheningan sebelum badai selalu lebih menakutkan daripada guntur. "Kau ditangkap mencoba menyuap Kapten Zhao, penjaga Gerbang Barat, dengan lima puluh tael emas. Dan kau juga membawa gulungan berisi jadwal patroli rahasia. Jelaskan!."

Gu Wenhao menelan ludah, tenggorokannya kering. "Yang Mulia Menteri... ini... ini salah paham! Hamba hanya... hamba hanya ingin memastikan keamanan istana! Hamba khawatir akan ada penyusup, jadi hamba ingin membantu!"

"Membantu?" Kakek Shen Guotai mengangkat alisnya, nada suaranya penuh ejekan dingin. "Dengan menyuap penjaga? Dengan membeli informasi rahasia militer? Sejak kapan seorang sarjana muda memiliki wewenang untuk 'membantu' urusan keamanan negara?"

"Hamba... hamba mendapat instruksi!" teriak Gu Wenhao, panik.

Otaknya bekerja keras mencari alasan. Dia tidak bisa menyebutkan nama Putri Li Yuexin. Jika dia menyebut Putri Kekaisaran memberikan informasi itu, dia akan dituduh memfitnah anggota kerajaan, dan pasti hukumannya mati.

Dan dia tahu Putri Li Yuexin akan menyangkalnya dengan bukti bahwa dia tidak pernah bertemu Gu Wenhao secara pribadi hari itu karena pertemuan mereka di Taman Bambu tidak tercatat oleh pelayan lain.

"Instruksi dari siapa?" tanya Paman Shen Qianhe tajam. Matanya menatap lurus ke jiwa Gu Wenhao.

Gu Wenhao diam, bibirnya gemetar. Jika dia menyebut Marquis Han, Han Cheng akan menyangkal dan menghancurkannya. Jika dia menyebut Lin Mei, ayahnya Lin Meirong, itu akan merusak reputasi calon mertuanya sendiri. Dia saat ini sudah dalam posisi terjepit.

Kakek Shen Guotai berdiri perlahan. Dia berjalan mengelilingi meja, langkah kakinya berat dan ritmis.

Tap.

Tap.

Tap.

Suara itu seperti palu godam yang memukul kepala Gu Wenhao.

"Gu Wenhao," kata Kakek Shen Guotai pelan. "Kami menemukan catatan keuangan di rumahmu. Hutang judi sebesar dua ratus tael emas kepada rentenir gelap 'Naga Hitam'. Kami juga menemukan surat-surat cinta yang tidak senonoh antara kau dan Lin Meirong, sahabat masa kecil dari Putri Li Yuexin. Dan sekarang, upaya sabotase keamanan istana."

Wajah Gu Wenhao hancur seperti darahnya surut dari wajahnya. Mereka tahu.... Mereka tahu semuanya.

"Kau pikir kau pintar," lanjut Kakek Shen Guotai, berhenti tepat di belakang kursi Gu Wenhao. Dia membungkuk, bisikannya terdengar jelas di telinga Gu Wenhao. "Kau pikir kau bisa menggunakan nama Keluarga Shen, menikahi putri kami, lalu mengkhianati kami dari dalam bersama selir kesayangan Kaisar. Tapi kau lupa satu hal, anak muda."

Gu Wenhao menggigil. "A-Apa itu, Yang Mulia?"

"Kami adalah Naga dan naga tidak bermain dengan tikus, karena kami memangsa mereka."

Kakek Shen Guotai kembali ke kursinya. "Shen Qianhe, bawa masuk saksi berikutnya."

Pintu besi terbuka lagi, terlihat dua penjaga menyeret masuk seorang pria gemuk yang menangis histeris. Itu Lin Mei, ayah Lin Meirong.

"Bos Gu! Bos Gu!" teriak Lin Mei saat melihat Gu Wenhao. "Katakan pada mereka! Katakan bahwa Marquis Han yang menyuruh kita! Dia janji akan melindungi kita! Jangan biarkan aku mati sendirian!"

Gu Wenhao terpaku... Pengkhianatan. Lin Mei, orang yang seharusnya menjadi sekutu keluarganya, langsung melemparkannya ke serigala demi menyelamatkan nyawanya sendiri.

"Lin Mei!" geram Gu Wenhao, matanya merah karena marah. "Kau pengecut!"

"Aku tidak mau mati!" tangis Lin Mei, bersimpuh di lantai. "Marquis Han memberi kami uang! Dia bilang jika bendungan Utara gagal, Shen Mingyuan akan dihukum mati! Dia bilang Putri Li Yuexin sudah bosan dengan Gu Wenhao dan akan mendukung Pangeran Jianyu! Dia bohong! Dia pakai kami sebagai umpan!"

Paman Shen Qianhe mencatat setiap kata dengan tenang. Ini adalah pengakuan yang cukup, dari Lin Mei, Gu Wenhao, dan Marquis Han telah terbentuk. Dan yang lebih penting, motif politik yang akan menjatuhkan Paman Shen Mingyuan untuk menguntungkan Pangeran Jianyu telah terungkap.

Kakek Shen Guotai tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Terima kasih, Lin Mei. Kau baru saja menyelamatkan nyawamu sendiri, meski mungkin hanya untuk sementara."

Dia menoleh pada Gu Wenhao. "Kau mendengar itu? Kau bukan pemain utama, Gu Wenhao. Tapi kau hanya sebuah alat , pisau sekali pakai. Dan sekarang, pisau itu sudah tumpul."

Gu Wenhao merasa dunia di sekelilingnya sudah runtuh. Ambisinya, rencananya, kesombongannya... semua hancur dalam hitungan menit. Dan dia baru menyadari betapa bodohnya dia.

Dia mengira dia memanipulasi Putri Li Yuexin, padahal Putri Li Yuexin lah yang memegang tali kendali sejak awal. Ingatan tentang tatapan dingin Putri Li Yuexin di Taman Bambu tiba-tiba muncul di benaknya. Senyum manis itu... itu bukan tanda kasih sayang. Itu adalah senyum pemakam.

"Aku... aku ingin berbicara," bisik Gu Wenhao, suaranya pecah. Air mata mengalir deras di wajahnya yang kotor. "Aku punya informasi lain, ini tentang Selir Rong dan tentang dana hitam..."

Kakek Shen Guotai mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu. "Simpan energimu, Gu Wenhao. Malam ini masih panjang. Dan kami punya banyak pertanyaan. Tapi ingat... kejujuran adalah satu-satunya mata uang yang masih berlaku bagimu sekarang."

Sementara itu,

Di Istana Bulan Giok, Putri Li Yuexin sedang duduk di depan cermin, membersihkan jepit rambut phoenix-nya dengan kain sutra halus. Qingyu masuk dengan wajah bersinar.

"Nona! Ada berita dari Kementerian Kehakiman! Tuan Gu dan Tuan Lin Mei sudah mengaku! Mereka menyebutkan nama Marquis Han dan rencana sabotase bendungan!"

Putri Li Yuexin tidak menoleh, dia terus menggosok permukaan emas jepit rambut itu hingga berkilau sempurna. "Bagus. Sekarang, kirim pesan rahasia ini ke Paman Mingyuan: 'Tanah sudah digoncang. Waspadai longsor susulan.'"

"Dan apa yang harus kita lakukan dengan Tuan Gu Wenhao, Nona? Apakah dia akan dihukum mati?"

Putri Li Yuexin akhirnya menoleh. Matanya dingin, tanpa belas kasihan. "Tidak. Kematian terlalu mudah baginya. Biarkan dia hidup di penjara bawah tanah. Biarkan dia mendengarkan berita kejatuhan Lin Meirong, kejatuhan Marquis Han, dan kejatuhan Selir Rong satu per satu. Biarkan dia sadar bahwa dia kehilangan segalanya karena keserakahannya sendiri. Itu adalah hukuman yang lebih berat daripada pedang."

Qingyu mengerjap, sedikit ngeri tapi juga kagum. "Nona benar-benar... kejam."

"Aku adil, Qingyu," koreksi Putri Li Yuexin lembut. "Dia meracuni hidupku di kehidupan pertama. Sekarang, aku memberinya rasa pahit yang sama di kehidupan ini. Bedanya, kali ini aku yang menentukan dosisnya."

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Kasim Tua Zhou masuk, wajahnya serius.

"Tuan Putri," kata Kasim Zhou. "Selir Rong meminta audiensi mendesak dengan Kaisar malam ini. Dia tahu tentang penangkapan Gu Wenhao. Dia berencana menyalahkan semuanya pada Gu Wenhao sebagai tindakan seorang yang gila, dan mencoba memutus hubungan dengan Marquis Han."

Putri Li Yuexin tersenyum. Senyum predator yang melihat mangsanya berusaha melepaskan diri dari perangkap.

"Biarkan dia mencoba," kata Yuexin. "Semakin keras dia berusaha membersihkan namanya, semakin banyak kotoran yang akan tersingkap. Siapkan dokumen keuangan palsu yang kita ambil dari rumah Lin Mei tadi siang. Aku akan menyerahkannya pada Ayahanda Kaisar besok pagi. Tepat saat Selir Rong selesai berbohong."

Kasim Zhou membungkuk hormat. "Hamba akan menyiapkannya."

Saat Kasin Zhou pergi, Putri Li Yuexin berdiri dan berjalan ke jendela. Hujan mulai turun lagi, deras dan tanpa ampun. Di kejauhan, kilat menyambar, menerangi langit sesaat sebelum kembali gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!