Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyiksaan!
"Am... ampuni aku," ujar Rasman dengan suara yang nyaris habis, keluar dari sela-sela bibirnya yang sudah memutih dan tak berdarah.
Tubuhnya kini telah remuk redam akibat siksaan keji yang diterimanya bertubi-tubi sejak beberapa hari lalu. Setiap tarikan napasnya terasa seperti tusukan ribuan jarum di dada.
Sambil menahan perih yang membakar di kakinya yang hancur, Rasman menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
"Jangan siksa lagi... kalau kau ingin, bunuh saja aku," pintanya dengan sisa tenaga yang ada. Air mata bercampur debu dan darah mengalir di pipinya.
Pada titik ini, rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keputusasaan yang teramat sangat. Rasman benar-benar sudah berada di batas akhir pertahanan dirinya.
Dia jauh lebih rela langsung dibunuh dan kehilangan nyawa malam itu juga, daripada harus terus disiksa dan merasakan setiap jengkal sakit yang meremukkan seluruh tubuhnya.
Namun, sosok di kegelapan itu sama sekali tidak bergeming. Ia tidak menjawab, melainkan hanya kembali mengangkat palu besarnya tinggi-tinggi. Cahaya bulan yang menembus celah jendela kaca yang pecah memantulkan kilatan dingin pada permukaan logam yang berlumuran darah, siap untuk menghantam bagian tubuh Rasman yang lain.
BRAAAK!
Palu besi itu kembali menghantam telak, kali ini menyasar tulang kering sebelah kanan Rasman yang sebenarnya sudah retak.
Bunyi hantaman itu terdengar begitu merdu di dalam ruangan kosong, disusul oleh suara derak mengerikan dari tulang yang hancur menjadi serpihan.
"ARGGGHHH!!!"
Rasman menjerit sejadi-jadinya. Suaranya yang tadi nyaris habis mendadak melengking tinggi, didorong oleh rasa sakit luar biasa yang langsung menyengat saraf otaknya.
Tubuhnya yang terikat refleks melengkung ke atas, bergetar hebat menahan siksaan yang tak manusiawi itu. Napasnya memburu terputus-putus, dan dari sela-sela giginya yang bergemeletuk menahan perih, keluar cairan merah pekat yang membanjiri dagunya.
Namun, sosok berdarah dingin itu seolah tuli terhadap jeritan memilukan tersebut. Tanpa memberikan waktu sedetik pun bagi Rasman untuk meredakan rasa sakitnya, ia kembali mengayunkan palu berat itu memutar.
BUMMM!
Hantaman ketiga mendarat tepat di persendian lengan kirinya. Rasman kembali melolong panjang, sebuah jeritan kesakitan yang teramat sangat hingga membuat pita suaranya seperti akan pecah dan terdengar serak memilukan.
Rasa sakit yang bertubi-tubi itu membuat pandangannya mulai mengabur dan berkunang-kunang.
Setiap kali palu itu diangkat, Rasman hanya bisa merintih lirih, memohon dalam hati agar kegelapan segera merenggut kesadarannya.
Namun, sosok penyiksa itu tahu benar cara menjaga korbannya agar tetap terjaga, ia sengaja menghindari organ vital, membiarkan Rasman tetap hidup dan merasakan setiap jengkal kehancuran tubuhnya secara perlahan di bawah dinginnya cahaya bulan.
Sosok itu hanya menatap tanpa belas kasihan. Sepasang matanya yang gelap mengamati tubuh Rasman yang menggelepar di lantai, seakan kesakitan luar biasa yang dirasakan oleh pria tua itu adalah hal yang memang pantas Rasman dapatkan.
Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan, hanya ada keheningan dingin yang menguar dari figur misterius tersebut saat jeritan Rasman perlahan menyusut menjadi rintihan tak berdaya.
Setelah puas menyiksa Rasman, sosok itu menurunkan palu besarnya yang kini telah basah oleh darah. Ia berbalik, meninggalkan ruang tengah yang anyir tanpa sepatah kata pun.
Langkah kakinya terdengar berat namun pasti, menggema di seluruh penjuru bangunan saat dia lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Setiap anak tangga. Ia terus melangkah, masuk ke dalam sebuah kamar utama yang luas namun berdebu di lantai atas.
Sosok itu berjalan mendekati bingkai jendela besar yang kacanya sudah buram tertutup kotoran sambil menyeret kakinya sebelah, dia lalu menatap kosong ke arah jendela, memandangi hamparan kegelapan hutan desa di luar sana.
Keheningan malam itu terasa begitu pekat. Setelah beberapa saat terpaku dalam kebisuan. Kemarahan dan kekejaman yang memancar di lantai bawah tadi mendadak runtuh, digantikan oleh kesedihan yang teramat mendalam saat ia meneteskan air mata, membiarkan bulir-bulir hangat itu jatuh membasahi wajahnya yang gelap di balik bayang-bayang malam.