Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 MENGAGUMI LUNA
Keesokan harinya Rena dan Runa sudah kelihatan segar karena sudah mandi. Rena membantu adiknya untuk mandi dan dia juga sekalian mandi. Rena melilitkan handuk ke tubuhnya Runa dan Rena sendiri juga melakukan seperti Runa.
Mereka sekarang sudah wangi dan bajunya juga bagus sekali. "Bajunya bagus-bagus ya, Kak!" seru Runa yang senang mempunyai baju yang bagus, nggak seperti sebelum ketemu Luna.
"Ceklek" bunyi pintu dibuka dari luar. Muncullah Luna yang juga sudah cantik.
"Selamat pagi, adik-adiknya Kak Luna!" sapa Luna dengan tersenyum.
"Selamat pagi juga Kak Luna yang cantik," jawab mereka serempak.
"Kalau Kak Yana, cantik juga nggak?" tanya Yana yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang ditempati Rena dan Runa.
"Hmmm...nggak cantik karena datang-datang seperti hantu bikin aku kaget," celetuk Runa dengan polos. Yana cemberut dikatakan seperti hantu.
"Tapi cantik juga kok, cantik semua deh hehehe," jawab Runa kembali dan membuat Yana tersenyum.
"Ada apa ini, pagi-pagi kok sudah kayak pasar ramainya?" tanya Arya karena pintu kamar mereka dibuka.
Rena dan Runa yang mendengar suara laki-laki langsung bersembunyi di belakangnya Luna.
"Lho kok pada sembunyi, ayo kenalan dulu dengan Bang Arya. Katanya kemarin ada yang mau mengucapkan terima kasih kepada Bang Arya!" seru Luna. Mungkin mereka takut kalau yang datang seperti pamannya yang jahat.
Rena mengintip dibalik tubuh Luna dan bisa melihat Arya yang tersenyum, lalu dia keluar dari belakang tubuh Luna. "Bang Arya! Terima kasih sudah menyediakan kamar untuk kami. Dan membelikan baju yang bagus-bagus buat kami. Semoga Abang panjang umur dan rezekinya tambah banyak!" seru Rena dengan kepalanya menunduk masih takut dengan Arya.
"Ayo sini salim dulu pada Abang, nanti Abang akan kasih oleh-oleh dari Korea, mau nggak?" tanya Arya yang mulai mengakrabkan dirinya.
"Mau...mau!" jawab Runa yang sudah lari ke arah Arya dan memeluk kakinya Arya dan nggak lupa mencium tangannya Arya. Rena juga ikut mendekat ke arah Arya dan mencium tangannya Arya.
"Oke, nanti Abang akan kasih hadiah tapi sebelumnya kita harus sarapan dulu. Kita sudah ditunggu Mommy dan Daddy dibawah. Yuk sarapan dulu!" ajak Arya kepada Luna, Yana. Rena dan Runa sudah digandeng Arya dibawa menuju ke lift.
"Ayo Dek Runa, dibantu pencet tombolnya! Harus pencet yang mana?" tanya Arya lagi.
"Pencet tulisan huruf G kan, Bang?" tanya balik Runa sambil jarinya menekan huruf G.
"Wah, Dek Runa pintar sekali. Terima kasih sudah membantu!" seru Arya untuk membiasakan berucap terima kasih setelah dibantu.
Sampai di lantai bawah, Runa langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan Arya dan berlari ke arah Freya.
"Selamat pagi Mommy, Daddy!" sapa Runa, dia menyodorkan tangannya minta salim kepada Freya dan Vindra.
"Selamat pagi, cantiknya Mommy. Sudah kenalan dengan Abang Arya belum?" tanya Freya kepada Runa yang sudah duduk di sebelahnya.
"Sudah, Mom. Tadi Abang juga bilang nanti setelah sarapan mau dikasih hadiah. Hmmm...darimana tadi Bang? Hehehe Runa lupa?" tanyanya kepada Arya.
"Korea..."
"Ya, Mom. Dari Korea," jawab Runa dengan tersenyum.
Mereka mulai sarapannya yang sebelumnya sudah dipimpin doa oleh Arya. Freya mengambilkan makan dulu buat suaminya. Luna membantu Rena mengambilkan makan nasi goreng.
"Sayang, kamu jadi bawa Rena ke Rumah Sakit?" tanya Vindra kepada Luna.
"Jadi, Dad. Nanti Rena ikut Kakak ke Rumah Sakit ya, Dek. Rena mau nggak sembuh dari mimpi buruk yang selalu datang waktu Rena tidur?" tanya Luna menoleh ke arah Rena yang duduk di sebelahnya.
Rena menganggukan kepalanya, "Mau, Kak. Apa bisa hilang, Kak. Itu mulai ada semenjak, Paman jahat itu tinggal di rumahnya Rena?" tanya Rena dengan sedih, dulu dia pernah nggak akan mau tidur. Karena ya itu setiap tidur dia pasti ketakutan dengan Paman dan selalu mengingat kejadian waktu Pamannya mukul Runa.
"Insya Allah bisa hilang. Tapi Rena harus berusaha melawan mimpi itu ya. Kakak akan bantu supaya, kamu nggak mengingat kejadian itu lagi," jawab Luna dengan tersenyum.
Mereka berpamitan untuk berangkat ke aktivitas masing-masing. Hari ini Vindra, nggak ikut ke kantor.
Rena ditinggal di rumah dengan kedua orang tuanya.
"Ayo, Dek. Kita turun sudah sampai di Rumah Sakit tempat bekerja!" ajak Luna kepada Rena. Luna membantu Rena turun dari mobilnya.
"Berarti, Kakak Luna dokter dong?" tanya Rena dengan mata berbinarnya. Luna menganggukan kepalanya sambil mengusap kepalanya Rena dengan lembut.
"Selamat pagi, Sus Ririn!" sapa Luna kepada suster yang selalu membantunya.
"Selamat pagi, dokter Luna. Duh kok bawa adik cantik ke sini. Namanya siapa, Sayang?" tanya Ririn.
"Rena, suster!" seru Rena sambil menyodorkan tangan minta salim dengan suster Ririn.
Luna membawa Rena masuk ke dalam ruangan dan nggak lupa memakaikan masker, menyuruhnya duduk di sebelah kanan karena di sebelah kirinya buat pasiennya yang ingin periksa.
Jam sembilan pintu ruangan Luna sudah diketuk dari luar, masuklah pasien anak dengan kedua orang tuanya.
"Ada yang dikeluhkan dengan putrinya, Bu, Pak?" tanya Luna dengan ramah.
"Ini semalam dia nggak mau tidur dok, badannya juga agak hangat, dok," jawab ibunya.
"Baik, silahkan tidurkan di ranjang ya, Bu. Biar saya periksa!" perintah dokter Luna.
Ibu itu menidurkan gadis kecilnya di ranjang pasien. Luna memakai stetoskop memeriksa badan anak kecil itu, Rena sangat senang melihat Kakaknya yang sedang memeriksa pasiennya."Keren" satu kata untuk Luna.
"Coba buka mulutnya, Sayang. Kakak dokter mau lihat mulutnya gadis cantik ini!" seru Luna dengan lembut dan tersenyum.
"Adik cantik ini. Kalau menelan makanan disini sakit nggak, Dek?" tanya Luna sambil menunjuk leher ada itu. Dia langsung menganggukan kepalanya. Luna juga melihat termometer yang diselipkan diketiak anak kecil itu.
"Tiga puluh delapan koma lima derajat celsius. Agak tinggi ya Bu, adiknya sakit radang tenggorakan. Sementara kurangi yang dingin-dinginnya Bu, es cream, air dingin jangan dikasihkan dulu. Di rumah ada muntah nggak, Bu?" tanya Luna sambil menulis resep buat anak kecil itu.
Pasien pertama sudah selesai dan satu per satu pasien sudah terselesaikan dengan cepat, Luna sudah dichat oleh Sindy. Nanti sepuluh menit lagi, ketemuan di depan ruang Fahri.
" Kak Luna, keren. Aku juga nanti kalau besar mau menjadi dokter seperti, Kakak," seru Rena dengan semangat.
"Lho kok pilih menjadi dokter, terus perusahaan percetakan siapa nanti yang meneruskan?" tanya pura-pura Luna kepada Rena.
"Hmmm...biar adik saja, Kak. Aku mau menjadi dokter seperti, Kakak," ucap Rena lagi. Dia ikut turun dari kursinya dan penggandeng tangannya Luna, keluar dari ruangannya. Dia akan membawa Rena ke lantai lima dimana dokter Fahri buka praktek.
"Lho, Dek...!"