Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
BAB 14: Sinar Bulan di Lantai Teratas dan Janji yang Mengakar
Deru halus mesin mobil sport hitam milik Zayn Dominic membelah kesunyian malam jalanan ibu kota yang basah sisa gerimis. Di dalam kabin mobil yang hangat, atmosfer terasa begitu tenang dan damai. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan rasa cemas yang mendera sebelum mereka berangkat ke kediaman utama keluarga Dominic beberapa jam lalu.
Elva Ileana menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela, memandangi kerlip lampu-lampu gedung pencakar langit yang berlarian di kegelapan. Senyuman tipis tidak pernah lepas dari bibir manisnya.
Jemari tangan kanannya masih tertaut erat, tenggelam di dalam genggaman tangan kiri Zayn yang bertumpu di atas paha cowok itu. Zayn menyetir hanya dengan sebelah tangan, namun kendalinya pada kemudi tetap stabil dan kokoh—sama seperti kendalinya dalam menjaga hidup Elva.
"Masih kepikiran omongan Papa?" tanya Zayn memecah keheningan, suaranya berat dan rendah, menggema lembut di dalam kabin mobil. Dia melirik sekilas ke arah Elva tanpa melepas genggaman mereka.
Elva menoleh, menatap profil samping wajah tampan Zayn yang diterangi cahaya lampu jalanan secara bergantian. "Nggak, Zayn. Aku cuma... masih nggak percaya aja. Segalanya terasa kayak mimpi yang terlalu indah."
Zayn mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang hangat terukir di sudut bibirnya. "Itu bukan mimpi, Elva. Mulai malam ini, nggak akan ada satu orang pun yang bisa mengusik lo lagi. Bokap gue udah turun tangan, artinya perlindungan hukum lo udah mutlak secara legal. Istana kertas keluarga lo udah bener-bener runtuh."
Elva mengangguk pelan, meremas tangan Zayn sedikit lebih erat sebagai bentuk rasa terima kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Beban tak kasat mata yang selama belasan tahun ini merantai pundaknya, membuat napasnya sesak di rumah mewah orang tuanya, kini telah hancur berkeping-keping.
Beberapa menit kemudian, mobil sport hitam itu berbelok masuk ke dalam area parkir bawah tanah gedung apartemen penthouse mewah mereka. Begitu mesin mobil dimatikan, keheningan yang familier kembali melingkupi mereka. Zayn turun terlebih dahulu, berjalan memutari kap mobil dengan langkah lebar untuk membukakan pintu bagi Elva—sebuah kebiasaan baru yang selalu dia lakukan dengan telaten tanpa pernah merasa bosan.
Mereka berjalan beriringan memasuki lift pribadi yang langsung membawa mereka menuju lantai teratas gedung. Begitu pintu lift terbuka dan menampilkan interior apartemen mewah bernuansa monokrom yang kini terasa sangat hangat, Elva mengembuskan napas lega. Tempat ini benar-benar telah bertransformasi menjadi rumah yang sesungguhnya bagi dia.
Zayn melepas jaket kulit hitam andalannya, menyampirkannya begitu saja di atas lengan sofa ruang tengah. Dia membalikkan badan, memperhatikan Elva yang sedang sibuk melepas sepatu hak tinggi yang tadi dibelikan oleh ibunya, Victoria. Gadis itu mengaduh pelan sambil memijat pergelangan kakinya yang tampak sedikit memerah.
"Lecet?" Zayn mengernyitkan dahi tajam, langsung melangkah mendekat.
"Nggak lecet kok, Zayn. Cuma agak pegal aja karena nggak terbiasa pakai sepatu kayak gini lama-lama," jawab Elva sambil mendongak, memberikan senyuman polosnya yang selalu sukses meluluhkan ketegangan di wajah Zayn.
Tanpa banyak bicara, Zayn tiba-tiba berjongkok di depan Elva. Kedua tangan kekarnya meraih pergelangan kaki Elva yang ramping, mengangkatnya dengan sangat hati-hati dan meletakkannya di atas lututnya sendiri.
"Z-Zayn... kamu ngapain? Nggak usah," ucap Elva panik, wajahnya seketika merona merah sempurna karena terkejut dengan tindakan impulsif cowok itu. Dia mencoba menarik kakinya kembali, namun cengkeraman tangan Zayn yang hangat menahannya dengan lembut namun tegas.
"Diem," ketus Zayn, mata elangnya menatap lurus ke arah pergelangan kaki Elva yang memerah. Jempol tangannya yang besar mulai bergerak memijat pelan urat-urat di sekitar pergelangan kaki gadis itu dengan tekanan yang pas.
"Gue udah bilang ke Mama tadi, jangan beliin sepatu yang haknya terlalu tinggi. Tapi Mama tetep keras kepala. Besok-besok pakai sepatu flat aja."
Elva tertegun, rasa hangat yang teramat sangat menjalar dari pijatan tangan Zayn langsung menuju ke ulu hatinya. Dia menatap rambut hitam acak-acakan Zayn yang berada di bawahnya. Seorang Zayn Dominic—tuan muda yang ditakuti satu sekolah, yang bisa menghancurkan perusahaan orang dengan satu telepon—kini sedang berjongkok di lantai marmer apartemennya hanya untuk memijat kaki seorang gadis yang sempat dibuang oleh keluarganya sendiri.
"Zayn..." panggil Elva lirih, suaranya melembut secara signifikan.
"Kenapa? Kekencangan pijatan gue?" tanya Zayn tanpa mendongak, tangannya masih telaten memijat.
"Nggak, pas kok," Elva men jeda kalimatnya sejenak, menahan rasa haru yang kembali membuncah di dadanya.
"Aku cuma mau bilang... terima kasih. Terima kasih karena udah menjadi rumah buat aku. Terima kasih karena nggak pernah lepasin tangan aku dari awal."
Gerakan tangan Zayn perlahan terhenti. Cowok itu mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata bulat milik Elva yang memancarkan ketulusan murni tanpa rekayasa. Zayn menegakkan tubuh tegapnya, beralih duduk di sebelah Elva di atas sofa beludru yang luas.
Zayn meraih kedua tangan Elva, membawa jemari lentik itu ke depan dadanya, membiarkan Elva merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup dengan ritme yang konstan dan kuat.
"Gue nggak akan pernah lepasin lo, Elva. Di dunia ini, gue selalu dikelilingi sama orang-orang yang masang topeng demi bisnis dan kekuasaan keluarga gue. Tapi lo... lo beda."
Zayn memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Elva bisa merasakan kehangatan napas cowok itu menerpa wajahnya. "Malam ini, pas lo berani berdiri di depan bokap gue dan bilang kalau lo rela pergi demi melindungi gue... di detik itu juga, gue sadar kalau hidup gue udah seutuhnya terkunci di lo. Lo bukan beban, Elva. Lo itu mentari di dalam hidup gue yang selama ini dingin dan membosankan."
Air mata kebahagiaan yang sedari tadi ditahan Elva akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang kini sudah bersih dari bekas luka memar. Namun, sebelum air mata itu jatuh lebih jauh, Zayn dengan lembut menggunakan ibu jarinya untuk mengusapnya hingga kering. Sentuhan jemari Zayn begitu hangat, seolah sedang menyembuhkan setiap luka lama yang pernah ditorehkan oleh keluarga Ileana pada jiwa Elva.
Elva memajukan tubuhnya, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada bidang Zayn, menghirup dalam-dalam aroma mint dan kayu cendana yang menenangkan dari kaus hitam yang dikenakan cowok itu. Kedua lengan kekar Zayn bergerak otomatis melingkari pinggang mungil Elva, menariknya ke dalam sebuah pelukan posesif yang sangat erat namun sarat akan kelembutan yang tiada tara.
Di luar jendela kaca besar penthouse lantai teratas itu, sinar bulan purnama memancar terang, menembus ruangan yang temaram dan memantulkan bayangan dua insan yang sedang berpelukan erat di atas sofa. Di dalam kesunyian malam Jakarta, di bawah perlindungan mutlak seorang Zayn Dominic, Elva akhirnya tahu bahwa badai besar dalam hidupnya telah benar-benar berlalu. Dia tidak perlu lagi takut pada hari esok, karena di dalam dekapan cowok ini, dia telah menemukan tempat pulang yang abadi.