Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 respon berbagai pihak
Bab 14 respon berbagai pihak
Di sebuah rumah megah bergaya Eropa klasik, Lena sedang merengek pada ayahnya. Gadis remaja itu duduk di sofa sambil menggoyang-goyangkan lengan Alex. Wajahnya penuh harap, sementara matanya menatap ayahnya tanpa berkedip sedikit pun.
“please dong yah, bela Nadia, dia yang udah bantu aku.” Tangannya menangkup di depan dada seperti orang sedang memohon belas kasihan.
Alex mengembuskan napas panjang. Sejak pagi dia sudah dibuat pusing oleh urusan Nadia. Bahkan beberapa orang yang dia kerahkan untuk membela gadis itu di media sosial malah ikut diserang netizen.
“ini ayah sudah bantu kerahkan orang untuk membela Nadia tapi malah diserang balik. Lagian kamu baru kenal Nadia, emang kamu tahu bagaimana Nadia? Foto dan video yang tersebar itu asli. Bagaimana ayah belanya lagi coba,” keluh Alex sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa nyut-nyutan.
“ih sebel, ya udah aku akan bela terus Nadia.” Lena langsung menyandarkan tubuh ke sofa dengan wajah cemberut. Kedua tangannya terlipat di depan dada seperti anak kecil yang protes karena keinginannya tidak dituruti.
“Lena lebih baik jangan lihat media sosial,” saran Alex.
“kenapa yah?” tanya Lena penasaran. Kepalanya langsung terangkat dan rasa ingin tahunya muncul seketika.
“akun mu itu, aku enggak tega lihatnya,” jelas Alex. Niatnya melarang, tetapi justru membuat Lena semakin penasaran.
Tanpa menunggu lagi, Lena langsung membuka ponselnya. Baru beberapa detik membaca notifikasi, matanya langsung membelalak. Padahal dua jam lalu dia hanya membuat satu postingan membela Nadia, tetapi sekarang seolah seluruh netizen menjadikannya musuh bersama.
“ayah ko mukaku jadi muka babi yah,” Lena terisak. Matanya mulai berkaca-kaca melihat foto profilnya diedit menjadi berbagai meme aneh.
“nah kan ayah bilang juga apa. Kamu jangan lihat media sosial, malah melihatnya.”
Alex menggeleng pasrah. Dia sudah berusaha mengimbangi opini yang berkembang, tetapi semakin dibela justru semakin banyak orang yang menyerang.
Di rumah Aldo, suasananya tidak jauh berbeda. Andika duduk di ruang kerja sambil sesekali melihat ponselnya. Semakin lama wajahnya semakin heran karena putranya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun.
“kenapa kamu enggak bela cewek lu boy?” tanya Andika.
Aldo masih duduk santai di kursinya sambil melihat layar ponsel. Tidak ada tanda-tanda panik ataupun kesal.
Kalau Andika yang turun tangan langsung, kolega bisnisnya pasti akan mencibir karena ikut campur urusan yang dianggap tidak penting. Harusnya Aldo yang bergerak, tetapi anaknya malah terlihat santai.
Padahal dia tahu betul kalau Aldo menyukai Nadia.
“nadia saja santai kenapa kita harus gelisah pah,” jawab Aldo tenang sambil terus melihat ponselnya.
“kenapa lu tenang amat?”
“harusnya aliansi STM bergerak, tapi mereka malah diam dan itu dikendalikan oleh Nadia. Artinya Nadia ikut terlibat dalam opini ini,” jelas Aldo.
Andika yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Minatnya tiba-tiba muncul.
“jadi Nadia menjelekan dirinya sendiri, maksudnya apa?” tanya Andika mulai antusias.
“ya nanti ayah akan tahu lah.”
Seringai tipis muncul di wajah Aldo. Dia tampak seperti seseorang yang sedang menonton pertunjukan menarik dan sudah tahu bagaimana akhirnya.
Sementara itu Nadia pulang ke rumah. Baju kotornya sudah dia kirim ke laundry. Biasanya dia mencuci sendiri, tetapi kali ini dia sedang merasa sedikit kaya. Kalau memang akan dapat uang banyak, sesekali memanjakan diri bukan masalah besar.
Begitu memasuki gerbang rumah, Nadia berjalan santai sambil sesekali bersiul. Seolah dunia maya yang sedang ramai menghujat dirinya sama sekali tidak berpengaruh pada hidupnya.
“nona sudah kembali.”
Seperti biasa, Johan sang kepala pelayan menyambut Nadia dengan ramah.
Kadang Nadia sendiri bingung dengan pria tua di depannya itu. Saat pelayan lain memilih mengabaikannya, hanya Johan yang selalu bersikap baik padanya.
“mau ambil baju, aku kehabisan baju,” jawab Nadia santai sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Johan hanya mengangguk sambil memperhatikan Nadia berjalan menjauh.
“kenapa anda tetap menyapanya?” ujar Sumi yang berdiri tidak jauh dari sana.
“dia anak majikan, kita harus hormat sama dia.”
“bos aja enggak ngehormatin dia, ngapain juga kita hormatin dia. Heran gua. Dia beda sama Nona Yulia.”
Tatapan Johan langsung berubah dingin. Wajahnya yang biasanya ramah mendadak terlihat tegas.
“kita tidak punya hak untuk komentar, Sumi.”
Setelah mengatakan itu, Johan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Dia harus selalu berada di dekat Rangga karena majikannya itu sering memberikan perintah mendadak kapan saja.
….
“nah ini dia biang kerok baru datang,” ujar Rani sambil menatap sinis ke arah Nadia yang baru saja masuk ke dalam rumah.
“papah kecewa sama kamu Nadia. Kirain papah kamu belajar dengan baik, tapi kamu malah merokok, maen PS, bilyard, ikut tawuran. Papah malu dihujat banyak orang.”
Kali ini Rangga benar-benar terlihat kecewa. Suaranya terdengar berat, sementara tatapannya tidak sekeras biasanya. Di balik kekecewaan itu masih ada rasa khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan. Berbeda dengan Rani dan Rini yang jelas-jelas memandang Nadia dengan kebencian.
“ka Nadia sebaiknya kaka jangan keluar rumah dulu. Di media sosial banyak orang yang mencari kaka. Bahkan ada yang mau demo, Ka. Mereka bahkan mau demo ke rumah ini.”
Yulia berbicara dengan wajah penuh kekhawatiran. Siapa pun yang melihat pasti mengira dia benar-benar sedang mengkhawatirkan kakaknya.
Padahal di balik semua itu, dia justru ikut menggiring opini dengan akun anonimnya. Bahkan beberapa unggahan yang mengarahkan netizen untuk berdemo ke rumah Nadia berasal dari dirinya sendiri. Demo ke sekolah Nadia terlalu berisiko karena sekolah itu berada di tengah pemukiman kumuh yang dihuni banyak mantan kriminal. Tidak banyak netizen yang berani datang ke sana.
“apa mereka akan demo ke rumah?” Rini langsung tersentak kaget.
Dia memang mengikuti perkembangan berita tentang Nadia, tetapi tidak terlalu intens karena masih harus mengurus perusahaan.
“iya ini aku lihat di grup Facebook,” jawab Yulia.
“kamu yah.”
Mata Rini langsung melotot ke arah Nadia yang sejak tadi hanya berdiri santai tanpa banyak bicara.
“pokoknya kamu jangan keluar rumah. Kalau ada yang demo kita serahkan sama para pendemo biar diadili.”
“enggak bisa. Aku banyak urusan di luar. Lagian aku di sini enggak dikasih makan, bisa kelaparan nanti aku di sini. Aku pulang cuma mau ambil baju aja,” ucap Nadia santai.
Jawabannya membuat Rini semakin kesal.
“enggak bisa!”
Suara Rini meninggi.
“pokoknya kamu harus di sini. Kami enggak mau jadi sasaran kemarahan para pendemo.”
“terus aku makannya gimana?” ucap Nadia.
“terpaksa kamu akan kami beri makan.”
Kali ini Rini yang menjawab. Mau tidak mau mereka harus menanggung Nadia untuk sementara waktu. Yang penting para pendemo tidak melampiaskan kemarahan mereka kepada keluarga Wijaya.
“baiklah kalau begitu aku mau ke atas dulu. Tolong antarkan makanan yang enak untukku. Aku malas makan bersama Ratu Drama idiot,” ucap Nadia santai.
“kurang ajar!”
Rani langsung membentak sambil berdiri dari duduknya. Wajahnya memerah karena jelas julukan Ratu Drama idiot itu ditujukan kepada Yulia, putri kesayangannya.
Namun Nadia sama sekali tidak terlihat takut.
“kalau marah-marah aku akan pergi lagi dan tanggung sendiri kemarahan mereka,” jawab Nadia santai.
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan langsung berjalan menuju tangga.
Tak ada rasa bersalah.
Tak ada rasa takut.
Langkahnya bahkan tetap santai seperti orang yang baru selesai mengobrol biasa.
“dasar anak kurang ajar,” geram Rani sambil mengepalkan tangan.
“sudahlah mah, yang penting Nadia ada di rumah saat pendemo datang,” ucap Rini mencoba menenangkan ibunya.
Sementara itu Nadia sudah sampai di lantai tiga, tempat kamarnya berada. Begitu masuk ke dalam kamar, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur tipis yang sudah lama menemaninya.
Dia mengambil ponsel lalu menelepon seseorang.
“leo kuras uang keluarga Wijaya. Bilang mau mengerahkan ribuan orang buat mengepung keluarga Wijaya.”
Setelah memberikan instruksi singkat itu, Nadia langsung memutus sambungan telepon.
Ponselnya diletakkan begitu saja di samping bantal.
Lalu dia menatap langit-langit kamar dengan senyum puas.
“enak sekali ya, ini namanya uang bekerja pada manusia. Duduk santai dapat uang.”
libas saja mereka si pecundang