Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempaan
"Kita mulai dari-" ucapannya terpotong lantaran Zara tiba-tiba terhuyung dan hampir jatuh. Lantas dengan sigap Bani menangkap tubuh Zara dan menopangnya untuk berdiri.
"Sarapan," imbuh Bani melanjutkan ucapannya barusan.
"Sepertinya kamu tidak tidur dan belum mengisi perut sama sekali sejak kemarin," ucap Bani sembari memapah Zara berjalan menuju ruang makan.
"Olahraga itu memang bagus untuk membentuk tubuh dan melatih otot, tapi harus dibarengi dengan asupan yang seimbang. Lainkali jangan lakukan begitu lagi," tutur Bani sembari berjalan memapah Zara yang gemetaran karena lemas.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Zara tiba-tiba.
"Hm? Tahu ... apa?" tanya Bani sembari mendudukkan Zara di kursi kayu tepat di depan meja makan persegi panjang.
"Bagaimana kamu bisa tahu kita akan sering bertemu?" tanya Zara sembari memejamkan kedua matanya, menyandarkan bahunya malas.
"Yah ... Anggap saja karena situasi kita sedikit mirip," jawab Bani sembari mengambil nampan berisi roti lapis, telur dadar, dan segelas susu.
"Maksudnya?" tanya Zara penasaran.
"Saya yakin, Bos melihat tatapanmu kan? Sama seperti saat Bos juga memungut saya di jalanan. Padahal waktu itu saya mau mencuri dompetnya," ungkap Bani berterus terang.
"Cih! Kenapa aku harus sama dengan budak pencuri?" kekeh Zara sembari memalingkan wajah mendecih.
"Ya, tentu saja berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa rendah. Karena saya punya alasan. Saya mencuri untuk bertahan hidup, demi orang tersayang saya," ucap Bani bangga.
Trak!
Ditaruhnya nampan itu di atas meja di hadapan Zara, lalu Bani duduk di depannya.
"Sekedar saran, tidak perlu mencari perhatian Bos untuk membuatnya terkesan. Lakukan saja seadanya, biar dia yang menilai, apakah kamu layak dipelihara, atau pantas untuk dibuang," tekan Bani menegaskan tanpa nada suara.
"Ha? Apa aku terlihat seperti itu? Mencoba menjilat? Bukankah kamu sedang membicarakan diri sendiri?" tanya Zara membuat Bani seketika membisu.
"Habiskan sarapannya segera, bersihkan badan, lalu ganti pakaian dengan ini. Setelah itu kamu ada kelas, dan ada misi," jelas Bani mengalihkan pembicaraan sembari menyodorkan sebuah tote-bag ke hadapannya, tepat di depan piring makan.
Zara mengunyah makanannya perlahan, matanya terlihat sayu karena lelah. Namun demikian, ia tidak mencoba membantah maupun memberontak lagi seperti saat pertama mereka bertemu. Karena meski ia merasa jengkel kepada Bani, pria berusia 20-an itu merupakan orang kepercayaan Garda yang kini telah memiliki hubungan kemitraan dengannya.
"Hufs! Harusnya malam itu tidur biarpun cuma setengah jam," dengus Zara menyesali perbuatannya.
Ia terlalu bersemangat melihat aneka peralatan olahraga, dan televisi besar yang sudah lama ia idamkan.
"Sepuluh menit lagi guru privat datang. Selesaikan segera, jika tidak mau Bos kecewa," tuntut Bani penuh peringatan.
"His, aku lebih suka mengerjakan sesuatu sampai lelah daripada harus didikte bocah ingusan," gerundel Zara.
"Mohon maaf, tapi saya kira–saya lebih tua beberapa tahun. Kalo tidak salah, Nona ini bahkan belum genap 17 tahun ya?" sarkas Bani diakhiri senyuman menusuk.
Trak!
Ditaruhnya garpu dan sendok dengan kasar, lalu Zara pun bangkit. Tanpa menoleh ke arah Bani, ia mengambil tote-bag kertas berisi pakaian yang tadi Bani sodorkan. Segera Bani pun mengekori Zara menuju kamarnya.
"Ngapain!?" bentak Zara.
"Yah, saya hanya memastikan seseorang tidak mencoba kabur lagi," jawab Bani.
"Diam disitu! Aku mau mandi, ganti baju!" teriak Zara sembari membanting pintu.
Brak!
Tak sampai lima menit, Zara sudah keluar dengan wajah yang lebih segar. Rambutnya juga sudah diikat lebih rapi.
"Ikuti saya. Sebentar lagi Pak Rendra datang. Dia mantan pejabat Dinas Perdagangan. Sepak terjangnya di dunia bisnis bukan main-main, dan dia akan jadi guru privatmu dalam mempelajari ilmu ekonomi, bisnis, hukum, strategi dan informasi mengenai banyak hal. Jangan main-main kalo tidak mau-"
"Mengecewakan Bos?" imbuh Zara memotong pembicaraan.
"Berhenti mengulang kata yang gak penting, kekanakkan!" dengus Zara sembari mengerlingkan netra.
Mendengar hal itu, Bani tersenyum lebar hingga kedua mata sipitnya menjadi seperti dua buah garis lengkung–seolah hal itu lucu. Namun nampak dengan jelas bahwa ia sedang berusaha keras menahan emosinya lantaran merasa jengkel pada Zara.
"Baik, lewat sini," titah Bani sembari mempersilahkan Zara untuk menunggu di sebuah ruangan.
"Waw ... Sebenarnya seluas apa rumah ini?" monolog Zara takjub.
Gadis itu mengedarkan pandangan meneliti setiap inci ruangan tersebut. Sebuah ruangan belajar dengan aneka perlengkapan media ajar dan perpustakaan khusus dengan buku-buku hukum, filsuf, dan ilmiah.
Brukh!
Zara menghempaskan tubuhnya di atas kursi nyaman di bawah lampu baca di sudut ruang.
"Saya akan kembali dengan Pak Rendra." Bani melengos pergi tanpa menunggu jawaban Zara terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang berjalan gontai bersama Bani. Sepertinya mereka bertemu di tengah jalan karena Zara merasa mereka datang terlalu cepat.
"Baik. Terimakasih, silahkan tinggalkan kami berdua," titah pria bernama Rendra sembari mempersilahkan Bani pergi.
Namun sebelum pria muda itu pergi, ia mendekat ke arah Zara terlebih dahulu.
"Simpan ini untuk berjaga-jaga jika kamu membutuhkan.sesuatu. Di dalamnya sudah ada nomor saya dan Bos Garda, tapi jangan hubungi beliau sampai sebelum jam 9 malam," ucap Bani diakhiri senyuman khasnya sembari menyodorkan benda pipih yang ternyata adalah sebuah smartphone.
Dengan kikuk Zara meraihnya. Itu adalah kali pertama gadis itu memiliki smartphone jadi canggung baginya menyentuh hal baru itu. Namun tentu saja, mengingat gadis itu harga dirinya begitu tinggi, ia tidak menunjukkan ekspresi kebingungan terlebih di hadapan Bani yang sejak awal sudah menunjukkan ketidak sukaan kepadanya.
"Nah. Nona Zara? Benar?" tanya Rendra sembari duduk bertumpang kaki.