NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Melangkah Menuju Perubahan Global

Undangan yang diterima Arka kali ini datang dari Aliansi Dunia untuk Bumi Lestari, sebuah organisasi internasional yang menaungi lebih dari 120 negara dan ratusan perusahaan serta lembaga riset terkemuka di dunia. Surat itu menyatakan bahwa Grup Pratama dipilih menjadi salah satu mitra strategis utama dalam proyek bertajuk "Menyelamatkan Masa Depan Bersama", yang bertujuan mengurangi emisi karbon secara drastis, melindungi hutan hujan tropis, dan menyebarkan teknologi ramah lingkungan ke seluruh negara berkembang di dunia.

Nilai komitmen yang dibutuhkan sangat besar—baik dari segi dana, waktu, maupun tenaga. Selain itu, tantangannya jauh lebih rumit karena harus bekerja dengan berbagai budaya, sistem hukum, dan kondisi ekonomi yang sangat beragam. Sebelum mengambil keputusan, Arka mengadakan pertemuan mendalam dengan Aldo, Naura, serta seluruh jajaran direksi dan penasihat perusahaan.

"Ini bukan sekadar proyek bisnis biasa," kata Arka sambil memaparkan isi undangan dan rincian tugas yang diemban. "Jika kita ikut serta, kita tidak hanya mewakili nama Grup Pratama, tapi juga menjadi wakil cara berpikir dan bertindak yang telah kita bangun selama puluhan tahun. Manfaatnya bisa dirasakan hingga ke generasi yang sangat jauh, tapi risiko dan tanggung jawabnya juga tidak ringan sama sekali."

Aldo menatap dokumen itu dengan pandangan penuh pertimbangan, lalu berbicara dengan nada tenang namun mantap. "Sejak awal, kita selalu berkata bahwa kebaikan tidak mengenal batas wilayah. Jika kesempatan untuk memberi manfaat yang lebih luas terbuka, kita tidak boleh mundur hanya karena merasa berat atau takut gagal. Tapi ingat satu hal: jangan pernah mengorbankan prinsip kita hanya demi mendapatkan pengakuan dunia. Di mana pun kita berada, cara kita bertindak harus tetap sama—jujur, adil, dan bertanggung jawab."

Naura menambahkan dengan bijaksana, "Dunia internasional memiliki aturan main yang berbeda dan sering kali penuh kepentingan tersembunyi. Banyak kesepakatan yang terlihat indah di atas kertas, namun di pelaksanaannya justru merugikan pihak yang lemah. Kamu harus pandai membaca situasi, tidak mudah tergoda janji manis, dan selalu memastikan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi semua pihak, bukan hanya segelintir orang saja."

Setelah mempertimbangkan segala aspek selama berminggu-minggu, Arka akhirnya mengambil keputusan: menerima undangan itu dengan syarat yang jelas, bahwa Grup Pratama akan berpartisipasi sepenuhnya namun tetap memegang standar dan nilai yang telah ditetapkan sejak awal berdirinya perusahaan.

Beberapa bulan kemudian, Arka berangkat ke markas aliansi yang berada di Eropa untuk menghadiri pertemuan perdana. Begitu tiba, ia langsung merasakan perbedaan lingkungan kerja dan pola pikir yang sangat mencolok. Di ruang rapat besar itu, hadir para pemimpin dari berbagai negara maju yang sebagian besar sudah terbiasa mengambil keputusan berdasarkan perhitungan ekonomi semata dan kepentingan negara atau kelompoknya masing-masing.

Pada sesi diskusi awal, terlihat jelas adanya kesenjangan pandangan. Negara-negara maju mengusulkan agar negara berkembang dibebani aturan yang sangat ketat untuk mengurangi emisi, namun tidak bersedia memberikan bantuan dana dan teknologi yang cukup untuk membantu mereka melaksanakannya. Sementara itu, perwakilan negara berkembang merasa tidak adil, karena pembangunan mereka terhambat sementara negara maju telah mencapai kemajuan dengan cara yang jauh lebih merusak lingkungan di masa lalu.

Suasana rapat menjadi tegang dan terjebak dalam perdebatan yang tidak menemukan jalan keluar. Saat itulah Arka diminta untuk menyampaikan pandangannya sebagai perwakilan dari Asia yang telah memiliki pengalaman nyata.

Ia berdiri tegak, membuka presentasi yang berisi data dan bukti langsung dari apa yang telah dilakukan Grup Pratama selama bertahun-tahun. "Saya mengerti kekhawatiran kedua belah pihak," ujarnya dengan suara yang tenang namun jelas terdengar hingga ke seluruh ruangan. "Perubahan iklim adalah masalah bersama, sehingga solusinya pun harus menjadi tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa meminta negara yang masih berjuang meningkatkan taraf hidup rakyatnya untuk berhenti berkembang, sama halnya kita tidak bisa membiarkan kerusakan alam terus berlanjut tanpa batas."

Arka kemudian mengusulkan pendekatan yang lebih adil dan bertahap. Ia menyarankan agar negara-negara maju berbagi teknologi dan memberikan dukungan pendanaan dengan bunga rendah tanpa syarat politik, sedangkan negara berkembang berkomitmen untuk menerapkan standar lingkungan yang sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya. Ia juga menjelaskan bahwa investasi di bidang pelestarian alam bukanlah beban, melainkan peluang untuk membangun perekonomian yang lebih kuat dan tahan lama.

"Pengalaman kami membuktikan bahwa ketika kita memberikan kesempatan dan dukungan yang tepat, kemajuan ekonomi dan pelestarian alam bisa berjalan seiringan. Kita tidak harus memilih salah satu, tapi mencari cara agar keduanya bisa tumbuh bersama," tutup Arka.

Pernyataan itu menarik perhatian banyak peserta. Pendekatan yang tidak memihak dan didasari bukti nyata mulai mengubah pandangan yang sebelumnya kaku. Dalam beberapa pertemuan berikutnya, Arka terus menyampaikan usulan-usulan praktis, menjembatani perbedaan pendapat, dan membangun kepercayaan dengan berbagai pihak. Namun, tantangan terbesar baru saja dimulai saat pelaksanaan program di lapangan.

Salah satu tugas utama yang dipercayakan kepada Arka adalah mengelola proyek pelestarian hutan hujan tropis yang membentang di tiga negara berbeda. Saat timnya mulai turun ke lokasi, mereka menghadapi berbagai kendala: perbedaan sistem pemerintahan, kesulitan akses ke daerah terpencil, aktivitas penebangan liar yang masih marak, serta kesalahpahaman dari masyarakat setempat yang khawatir akan kehilangan sumber penghidupan mereka.

Di salah satu daerah pedalaman, kepala suku setempat menolak kehadiran tim dengan sikap yang keras. "Selama ini banyak orang datang dengan janji manis, lalu mengambil apa yang ada di hutan kami dan pergi begitu saja, meninggalkan kami dalam keadaan lebih buruk dari sebelumnya. Mengapa kami harus percaya lagi?" ujarnya dengan nada curiga.

Arka tidak memaksakan kehendak atau menunjukkan kekuasaan. Ia meminta izin untuk tinggal bersama warga selama beberapa hari, mendengarkan keluh kesah mereka, memahami cara hidup dan ketergantungan mereka terhadap alam. Ia menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan jujur, tanpa janji berlebihan.

"Kami datang bukan untuk mengambil tanah atau hasil hutan kalian, dan bukan pula untuk melarang kalian memanfaatkan apa yang menjadi hak kalian. Kami ingin bekerja sama, agar hutan ini tetap ada dan terus memberi kehidupan bagi anak cucu kalian, sekaligus membantu kalian mendapatkan hasil yang lebih baik tanpa harus menebang pohon secara sembarangan," jelas Arka dengan sabar.

Ia kemudian memperkenalkan sistem pengelolaan hutan lestari yang telah diterapkan di Indonesia—cara mengambil hasil hutan tanpa merusak pohon induk, membudidayakan tanaman bernilai ekonomi yang cocok dengan kondisi hutan, serta membangun akses pasar yang adil agar hasil kerja warga dihargai dengan harga yang wajar. Ia juga menawarkan pelatihan dan bantuan peralatan secara cuma-cuma, tanpa meminta imbalan apa pun di awal.

Seiring berjalannya waktu, warga mulai melihat kebenaran dari niat itu. Ketika mereka melihat hasil percobaan pertama berhasil dan pendapatan mereka meningkat tanpa merusak lingkungan, kepercayaan pun tumbuh. Bahkan, mereka sendiri menjadi penjaga hutan yang paling setia, membantu tim mengawasi dan mencegah masuknya pihak-pihak yang ingin merusak.

Selama tiga tahun pelaksanaan, proyek ini menunjukkan hasil yang luar biasa. Luas hutan yang terjaga meningkat secara signifikan, populasi hewan dan tumbuhan langka mulai kembali berkembang, dan taraf hidup masyarakat setempat pun meningkat secara stabil. Keberhasilan ini menjadikan Grup Pratama dan pendekatan yang diterapkannya menjadi rujukan bagi proyek-proyek serupa di belahan dunia lain.

Berita pencapaian ini sampai kembali ke Indonesia. Di rumah, saat Arka bercerita tentang pengalamannya, Aldo dan Naura hanya bisa merasa bangga sekaligus bersyukur.

"Kamu telah membuktikan bahwa nilai-nilai yang kita tanamkan tidak hanya berlaku di tempat kita sendiri, tapi bisa diterima dan memberi manfaat di mana saja," kata Aldo sambil menepuk bahu putranya. "Inilah puncak dari apa yang kita cita-citakan: bukan kekuasaan atau kekayaan, tapi menjadi bagian dari perubahan baik yang meluas ke seluruh dunia."

Namun, di tengah pengakuan dan keberhasilan yang semakin luas, Arka menyadari bahwa tanggung jawabnya justru semakin besar. Banyak pihak kini menaruh harapan tinggi kepadanya, dan setiap langkah yang diambil akan menjadi teladan bagi banyak orang. Saat ia mulai merencanakan langkah selanjutnya, sebuah pertemuan penting di dalam lingkungan keluarga mengingatkannya bahwa perjalanan ini tidak hanya soal pencapaian dunia, tapi juga tentang melanjutkan warisan ke generasi berikutnya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!