Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Adikmu telah melakukan kesalahan besar, jangan membelanya!." Ayah memberi ultimatum pada Tomi agar tidak memberi pembelaan apapun terhadap adiknya. Bohong, jika hatinya tidak hancur dan terluka saat meminta putri kesayangannya itu angkat kaki dari rumah. Akan tetapi, sebagai seorang ayah, tuan Andrean merasa perlu mengambil sikap tegas untuk mendisiplinkan Zira yang telah melakukan kesalahan besar, terlebih menolak mengakui siapa pria yang telah merenggut kesu-ciannya.
Tomi yang tahu betul jika saat ini ayahnya sedang emosi, memutuskan untuk diam dan tidak membantah. Ia berniat mengajak ayahnya bicara lagi nanti setelah emosi ayahnya sedikit reda.
"Besok kita akan pergi menemui orang tua Leon!." Ujar ayah sebelum berlalu begitu saja menuju ruang kerjanya untuk menenangkan pikiran.
*
"Ada apa Leon? Kenapa wajah kamu kelihatan sedih seperti itu, nak?." Tanya mommy saat putranya kembali.
"Bukan apa-apa kok, mah. Leon hanya lelah saja." Leon masih menyembunyikan perihal Zira yang telah memutuskan hubungan diantara mereka, dengan harapan wanita itu bisa merubah keputusannya dan kembali melanjutkan hubungan mereka. Namun sebagai seorang ibu, Mommy tidak percaya begitu saja dengan ucapan Leon. Wanita paruh baya tersebut menyusul Leon ke kamarnya.
"Kamu mungkin bisa membohongi semua orang di dunia ini, tapi tidak dengan mommy, Leon. Sekarang jujur pada mommy! Apa yang sebenarnya terjadi, Leon?."
Leon menghela napas beratnya, rupanya tak semudah itu menyembunyikan sesuatu dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Zira telah menyudahi hubungan kami, mom." Pada akhirnya Leon mengakui hal itu dihadapan ibunya.
"Apa maksud kamu, Leon?." Pernikahan sudah didepan mata, tapi calon menantunya justru menyudahi hubungan dengan putranya, bagaimana mommy tidak bingung.
Leon lantas menceritakan semua pengakuan Zira kepada mommy-nya dan hal itu sangat mengejutkan bagi mommy. Pasalnya, selama ini ia mengenal Zira dengan sosoknya yang baik dan polos, lalu bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Saking syok nya mendengar cerita sang putra, mommy sampai terduduk di sofa. Rupanya firasatnya benar, ada hal buruk yang akan terjadi pada hubungan putranya. Ya, saat cincin pernikahan yang dipilihkan nya untuk Lexi sulit dilepaskan dari jari manis Zira, mommy sudah mulai merasakan firasat aneh akan kelanjutan hubungan Leon dan Zira.
"Apa mommy baik-baik saja?." Leon sadar jika kebenaran tentang Zira pastinya sangat mengejutkan bagi anggota keluarganya, terutama bagi ibunya.
"Bohong jika mommy baik-baik saja setelah mendengar kebenaran ini, tapi kalau memang kamu bersedia menerima Zira dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka mommy pun akan tetap merestui pernikahan kalian, nak." Mommy merasa tidak berhak menghakimi Zira.
Leon tertunduk lemas. "Masalahnya, Zira tidak ingin melanjutkan hubungan kami, mom."
Seseorang yang tengah melintas didepan kamar Leon sontak menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Leon. Pintu kamar Leon yang tidak tertutup dengan rapat membuat seseorang yang tak lain adalah Lexi tersebut dapat mendengar ucapan adiknya dengan sangat jelas.
Dengan raut wajah nyaris tanpa ekspresi, Lexi kembali mengayunkan langkahnya menuju kamarnya.
*
Keesokan malamnya.
Tuan Fernandez cukup terkejut dengan kedatangan Zira beserta kedua orang tua serta kakak laki-lakinya. Pasalnya, tamunya tersebut sama sekali tidak mengabarkan sebelumnya.
Di ruang tamu, di sinilah mereka berkumpul sekarang.
"Sebelumnya kami ingin meminta maaf karena tidak mengabarkan tentang kedatangan kami ke sini, tuan Fernandez." Dengan menahan rasa malu di hati, ayahnya Zira mulai berkata-kata.
"Tidak perlu minta maaf, tuan Andrean! Lagipula, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Jangan merasa sungkan untuk hal-hal kecil seperti ini!." Balas Tuan Fernandez yang tidak tahu-menahu tentang pengakuan Zira dihadapan putranya.
Mommy yang sudah bisa menebak maksud dan tujuan atas kedatangan Zira dan kedua orang tuanya, masih terlihat diam.
Sambutan hangat keluarga Fernandez semakin menambah perasaan bersalah sekaligus malu di benak tuan Andrean atas perilaku putrinya.
"Tuan.... Sebenarnya maksud dan tujuan dari kedatangan kami sekeluarga ke sini adalah untuk memohon maaf, karena tidak bisa melanjutkan pernikahan anak kami bersama nak Leon." Sekalipun ia sendiri merasa sangat kecewa dengan perilaku putrinya namun sebagai seorang ayah, tuan Andrean harus menekan rasa malunya dengan memohon maaf dihadapan orang tua Leon.
"Apa maksudnya semua ini, tuan Andrean?." mimik wajah hangat tuan Fernandez seketika berubah bingung mendengarnya.
Sadar ayahnya hampir tak punya muka dihadapan kedua orang tua Leon, Zira lantas bersuara dengan mengungkapkan tentang kondisinya yang tidak pantas menjadi pendamping hidup seorang pria sebaik Leonardo Fernandez. Bukan hanya itu saja, Zira juga mengaku bahwa kejadian yang telah merenggut kesuciannya tersebut terjadi sebelum ia mengenal Leon. Itu artinya, ia tidak pernah mengkhianati cinta Leon.
Melihat putrinya memohon maaf dengan berlutut seperti itu, membuat hati tuan Andrean terasa nyeri. Namun begitu, tuan Andrean berusaha tegar dan membiarkan putrinya melakukan sesuatu yang sudah seharusnya.
"Sekali lagi, Zira mohon maaf yang sebesar-besarnya..." Untuk kesekian kalinya Zira mengucapkan kalimat tersebut dengan kedua bola mata yang nampak berkaca-kaca. "Pria sebaik dan setulus Leon sepantasnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Zira."
Jujur, mendengar semua pengakuan Zira membuat tuan Fernandez terkejut bukan main.
Mommy berdiri dari duduknya, kemudian menghampiri Zira. "Berdirilah, nak!." Mommy membantu Zira menegakan tubuhnya. Permohonan maaf Zira begitu menyentuh hati mommy-nya Leon. Di saat kebanyakan wanita memilih merahasiakan hal yang dianggap memalukan, Zira justru mengakuinya dan memohon maaf.
"Apa kamu tetap tidak akan melanjutkan pernikahan ini meskipun Leon bersedia menerima kelebihan serta kekurangan kamu, Zira?." Mommy ingin mendengar jawaban tersebut langsung dari mulut Zira.
Zira menggelengkan kepalanya pelan. "Leon terlalu sempurna untuk wanita sepertiku, nyonya." Kali ini Zira tak lagi memanggil mommy-nya Leon dengan sebutan mommy seperti biasanya. Bukan apa-apa, Zira khawatir wanita itu tak lagi sudi dipanggil dengan sebutan mommy olehnya.
Mommy tak sanggup lagi membendung air matanya, mungkin karena sudah terlanjur sayang pada calon menantunya itu.
"Mommy percaya dengan kekuatan cinta, sama seperti mommy percaya dengan takdir. Mommy yakin hingga detik ini kamu dan Leon masih saling mencintai. Mommy akan menyerahkan semua ini pada sang pengatur takdir kehidupan. Kalaupun pada akhirnya kalian tidak berjodoh, mommy akan tetap menyayangimu, Zira. Jadi, tetaplah memanggilku dengan sebutan mommy, nak!." Ungkap mommy dengan berurai air mata.
"Apa kamu tidak ingin merubah keputusanmu, Azira? Jujur, semua pengakuanmu tidak sedikitpun mengurangi rasa cintaku padamu, sayang." Panggilan sayang dari Leon hampir menggoyahkan pendirian Zira, namun dengan cepat wanita itu menyadarkan dirinya bahwa ia tidak pantas untuk Leon.
"Aku juga sangat mencintaimu, dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, Leonardo Fernandez. Tetapi untuk melanjutkan pernikahan kita, rasanya aku tidak akan sanggup. Aku tidak akan sanggup membendung perasaan bersalah akibat membelenggu pria sebaik dirimu sebagai pasangan hidup wanita sepertiku."
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣