Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pagi datang dengan tenang, cahaya matahari menyusup melalui celah tirai dan jatuh lembut di atas lantai kamar Seraphina. Udara terasa segar, membawa aroma pagi yang biasanya menenangkan, seolah dunia berjalan seperti biasa tanpa gangguan apa pun. Segalanya tampak wajar, seperti hari-hari yang pernah ia jalani sebelumnya tanpa kecurigaan.
Namun bagi Seraphina, tidak ada yang benar-benar sama lagi. Keheningan pagi itu justru terasa lebih jelas, seperti ruang kosong yang mempertegas bahwa sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Ia sudah terbangun sejak lama, duduk di tepi tempat tidur tanpa bergerak, matanya terbuka tetapi tidak benar-benar melihat apa pun di sekitarnya.
Pikirannya terus berputar, mengulang semua yang telah ia alami dan semua yang kini ia ketahui. Ingatan itu tidak memudar, tidak melemah, justru semakin jelas setiap kali ia mencoba menenangkannya. Ini adalah pagi pertamanya setelah kembali, dan ia sadar bahwa setiap langkah yang ia ambil mulai hari ini tidak lagi bisa sembarangan.
Seraphina menarik napas pelan, membiarkan udara memenuhi paru-parunya dengan lebih teratur. Ia mengembuskannya perlahan, mencoba menstabilkan dirinya sebelum berdiri dari tempat tidur. Langkahnya menuju cermin terasa tenang, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang terus bergerak, mengingatkan bahwa ia tidak lagi sama.
Ia menatap bayangannya sekali lagi, wajah itu masih sama seperti semalam, muda dan bersih tanpa tanda kehancuran yang pernah ia alami. Tidak ada bekas penderitaan yang terlihat, tidak ada garis lelah yang mengkhianati apa yang telah ia lalui.
Namun yang berubah bukanlah wajah itu.
Melainkan isi di dalamnya.
Seraphina merapikan rambutnya dengan gerakan yang terukur, memastikan setiap helai berada di tempatnya. Jemarinya bergerak hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyiapkan sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak boleh terlihat salah sedikit pun.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Hari ini, ia harus kembali menjadi seseorang yang mereka kenal. Seseorang yang tampak tidak mengetahui apa-apa, seseorang yang masih mempercayai semua yang ada di sekitarnya.
Seraphina menghela napas sekali lagi sebelum berbalik dan melangkah keluar dari kamar. Koridor rumah itu terasa sunyi, hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar pelan di lantai marmer.
Ia berjalan tanpa tergesa, tetapi setiap langkah terasa penuh perhitungan. Ia tahu ke mana ia harus pergi, dan ia tahu apa yang akan ia temui di sana.
Ruang makan.
Tempat di mana semuanya akan terlihat seperti biasa, tempat di mana peran masing-masing akan kembali dimainkan seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Dan ia akan ikut bermain.
Saat ia mendekat, suara percakapan pelan mulai terdengar dari dalam ruangan. Pintu ruang makan terbuka, memperlihatkan pemandangan yang begitu familiar hingga terasa hampir menyesakkan.
Darius sudah duduk di kursinya, membaca sesuatu di tablet dengan ekspresi tenang. Penampilannya rapi seperti biasa, aura yang ia miliki tetap sama, tidak berubah sedikit pun dari apa yang selalu ia tunjukkan.
Lysandra duduk di sisi kanan, menyandarkan dagunya di tangan sambil memainkan sendok kecil di dalam cangkir teh. Wajahnya cerah, matanya berbinar dengan cara yang sama seperti yang selalu Seraphina ingat.
Kael duduk di sisi lain meja, diam dengan postur tegak, pandangannya tertuju ke arah meja tanpa banyak gerakan.
Semua terlihat normal.
Seraphina berhenti di ambang pintu, tidak langsung masuk. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, menatap mereka tanpa berkata apa-apa.
Pemandangan yang dulu selalu ia anggap sebagai kebahagiaan kini terasa berbeda. Perutnya berkontraksi halus, bukan karena lapar, tetapi karena rasa yang sulit dijelaskan.
Menjijikkan.
Ingatan tentang apa yang akan mereka lakukan padanya muncul tanpa ia undang. Senyum Darius saat berbicara tentang cinta, cara Lysandra memanggilnya dengan lembut, diamnya Kael yang dulu ia anggap sebagai sifat bawaan.
Kini semua itu terasa seperti lapisan tipis yang menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Seraphina menelan perlahan, menahan reaksi tubuhnya sendiri agar tidak terlihat. Ia tidak boleh menunjukkan apa pun, tidak di tempat ini, tidak di depan mereka.
“Seraphina?”
Suara Darius memanggilnya, membuatnya menoleh.
Senyum itu muncul di wajah pria itu, hangat dan penuh perhatian seperti biasa. Senyum yang dulu selalu membuatnya merasa aman kini terasa seperti sesuatu yang berbahaya.
“Kamu sudah bangun,” lanjut Darius. “Aku pikir kamu masih beristirahat.”
Seraphina menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Gambaran Darius di malam itu muncul begitu jelas di benaknya, membuat tubuhnya hampir membeku.
Namun ia memaksa dirinya untuk tersenyum.
Senyum yang sama seperti dulu.
“Aku tidak ingin terlambat,” jawabnya pelan.
Suaranya stabil, tidak menunjukkan apa pun yang ia rasakan.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan, menarik kursinya, lalu duduk seperti biasa. Gerakannya halus, tidak tergesa, seolah tidak ada yang berubah.
Lysandra langsung menoleh ke arahnya dengan wajah berseri. “Ibu, kamu terlihat segar hari ini.”
Kata-kata itu terdengar ringan dan manis.
Seraphina menatapnya, sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Ia melihat gadis itu dan mengingat semua yang pernah terjadi, bagaimana ekspresi itu berubah menjadi sesuatu yang dingin.
Sekarang senyum itu kembali, seolah tidak pernah ada hal lain di baliknya.
Seraphina merasakan sesuatu naik ke dadanya, emosi yang bercampur antara marah dan kecewa. Tangannya di bawah meja mengepal tanpa sadar.
Namun ia tidak menunjukkan apa pun.
Ia hanya tersenyum.
“Kamu juga terlihat cerah,” balasnya.
Nada suaranya lembut, persis seperti yang diharapkan.
Lysandra tersenyum lebih lebar, tampak puas dengan respons itu. Kael melirik sekilas ke arah mereka, lalu kembali menunduk seperti biasa.
Seraphina memperhatikannya diam-diam, mengingat setiap kata yang pernah ia ucapkan. Keputusan logis, hasil yang efisien, semua selesai dalam satu langkah.
Pikiran itu membuat jantungnya berdenyut lebih keras, tetapi wajahnya tetap tenang.
Darius meletakkan tabletnya, lalu menatap Seraphina. “Kamu mau sarapan apa? Aku sudah minta mereka menyiapkan beberapa pilihan.”
Nada suaranya terdengar penuh perhatian, seperti suami yang peduli.
Seraphina menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke meja. Makanan tersaji dengan rapi, aromanya seharusnya menggugah selera, tetapi kini terasa asing.
Ia teringat malam itu, anggur dengan rasa yang sedikit berbeda, dorongan halus untuk terus minum.
Perutnya terasa mual.
Namun ia menahannya.
“Apa saja tidak masalah,” katanya pelan.
Darius mengangguk dan memberi isyarat pada pelayan. Semua berjalan seperti biasa, percakapan ringan mulai mengalir di antara mereka.
Lysandra bercerita tentang rencananya hari ini dengan nada ceria. Darius menanggapi dengan tenang, sesekali tersenyum, sementara Kael tetap diam.
Seraphina duduk di antara mereka, mendengarkan setiap kata, setiap nada, setiap perubahan kecil dalam ekspresi mereka.
Kini ia melihat semuanya dengan cara yang berbeda.
Seperti seseorang yang akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Gerakan tangan Lysandra, cara Darius mengatur nada suaranya, diamnya Kael yang bukan sekadar kebiasaan.
Semua terasa jelas.
Terlalu jelas.
Seraphina meraih cangkir tehnya, membawanya ke bibir, tetapi tangannya sedikit bergetar. Ia segera menurunkannya kembali sebelum ada yang menyadari.
Ia tidak boleh lengah.
Tidak boleh terlihat berbeda.
“Kenapa?” tanya Darius tiba-tiba.
Seraphina menoleh, menjaga ekspresinya tetap tenang.
“Kamu terlihat sedikit tegang.”
Seraphina tersenyum tipis, hampir merasa ironis dengan pertanyaan itu.
“Aku hanya kurang tidur,” jawabnya.
Alasan yang sederhana dan mudah diterima.
Darius mengangguk pelan. “Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri hari ini.”
Seraphina menahan sesuatu di dalam dirinya. Kata-kata itu terdengar seperti perhatian, tetapi kini ia tahu bahwa semuanya hanyalah bagian dari peran.
Ia mengangguk. “Aku akan istirahat setelah ini.”
Percakapan berlanjut seperti biasa, seolah tidak ada yang salah. Namun bagi Seraphina, setiap detik terasa seperti berjalan di atas sesuatu yang rapuh.
Ia harus berhati-hati, lebih dari sebelumnya.
Sedikit saja kesalahan, semuanya bisa berubah.
Seraphina menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, mencoba menjaga dirinya tetap tenang.
Ia mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu.
Darius.
Lysandra.
Kael.
Orang-orang yang dulu menjadi dunianya, kini menjadi sesuatu yang harus ia hadapi dengan hati-hati.
Ia tidak boleh terbawa emosi, tidak boleh menunjukkan apa yang ia rasakan.
Karena kali ini, ia tidak akan menjadi korban lagi.
Seraphina tersenyum, senyum lembut seorang ibu yang mereka kenal. Senyum itu tampak sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah di permukaan.
Namun matanya kosong.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada kepercayaan.
Hanya ketenangan yang dingin.
Dan di dalam hatinya, sebuah kalimat terucap tanpa suara, perlahan namun pasti.
Sifat mereka ternyata sangat menjijikan.