NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

...~Malu-malu Meong~...

Deru motor mereka baru saja memasuki jalanan teduh menuju pedesaan. Namun, Arka cukup menyadari bagaimana Naira semenjak tadi hanya diam membisu di jok belakang. Bahkan, pegangan tangan gadis itu pada jaketnya seolah sengaja diberi jarak, tidak seerat biasanya.

"Nai," panggil Arka pelan, sengaja menurunkan sedikit tarikan gas motornya agar suaranya tidak tenggelam oleh angin.

"Kenapa, Mas?" sahut Naira datar.

"Kamu kenapa?"

"Memang kenapa?"

Arka kehilangan kalimatnya untuk sesaat. Kelempengan pria itu mendadak buntu menghadapi respons dingin yang tidak biasa ini. "Ya... dari tadi diam saja."

"Capek, Mas."

Jawaban singkat Naira itu rupanya cukup melegakan bagi Arka. Pria itu mengangguk paham tanpa curiga sedikit pun, lalu kembali melajukan motornya dengan tenang hingga akhirnya mereka sampai di halaman rumah Naira dengan selamat.

Ketika sampai di sana, Ayah Naira dan Seno tengah duduk di kursi teras. Tubuh mereka masih penuh dengan sisa debu pematang. Bahkan, sebuah cangkul pun masih tergeletak begitu saja di dekat keran air.

Arka baru saja menurunkan standar motornya ketika Naira melangkah turun lebih dulu dan bergegas ke dalam. "Makasih ya, Mas."

Hanya ucapan pendek itu yang meluncur datar, sebelum gadis itu pergi begitu saja masuk ke dalam rumah.

"Ada apa, Ka?" tanya Ibu Naira melihat bagaimana raut wajah putrinya yang tampak kecut mrengut.

"Katanya capek, Bu."

"Capek? Naira ngambek itu, Mas."

Arka melongo sesaat.

"Kenapa, Bu?" tanya Ayah Naira ikut penasaran.

"Lihat tuh. Bibirnya saja sudah seperti bebek mau nyosor."

Mendengar celetukan calon mertuanya, Arka mendadak diselimuti rasa gusar. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung melipir menyusul ke area dapur. Di sana, ia mendapati sosok Naira yang tampak sedikit berkeringat di ceruk lehernya, sedang berdiri menghadap meja—membelakangi pintu—sambil meneguk segelas air.

Wajah gadis itu masih memerah, perpaduan antara hawa panas jalanan dan rasa kesal yang menumpuk di dada. Saat menyadari kehadiran Arka, dengan gerakan agak emosional, Naira mengentakkan gelas belimbing itu cukup keras ke atas meja. Mata gadis itu melirik sekilas ke arah samping begitu langkah tenang sang calon suaminya yang perwira terdengar semakin mendekat.

"Nai."

"Kenapa lagi, Mas?!" tanyanya dengan sedikit menaikkan nada suara.

Arka belum sempat berdiri sejajar dengannya ketika gadis itu memilih bergeser dan duduk di sisi lain meja makan, seolah sengaja membuat pembatas. Hanya untuk sesaat, pria itu tampak mengatupkan bibirnya rapat.

"Tidak apa-apa. Aku haus."

Entah karena bisikan halus dari mana, kegusaran di hati Naira sedikit mereda melihat wajah polos calon suaminya. Gadis itu akhirnya meraih satu gelas kosong lainnya, menuangkan air dari teko plastik di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Arka.

"Ini."

Arka mengambil gelas itu. Ia menarik kursi, lalu duduk di seberang Naira dan meneguk air minum yang dituangkan oleh calon istrinya.

"Aku mau lihat sebentar wajahmu yang begini," ucap Arka tiba-tiba setelah meletakkan gelasnya. Ucapan itu seketika membuat Naira mendongak, memandang lurus pria di hadapannya.

Tatapannya tajam dengan bibir yang masih mencebik kesal. Alisnya hampir tampak menyatu dengan merah di wajah yang belum sepenuhnya sirna.

"Apaan sih, Mas!"

"Kata Ibu, itu wajahmu kalau lagi ngambek."

"Ibu sok tahu."

Arka terkekeh pelan. "Tapi dari tadi kamu diam saja. Sampai bayar es buah sendiri."

Suasana dapur mendadak hening sejenak, sebelum Arka kembali bersuara dengan nada yang jauh lebih rendah dan sungguh-sungguh. "Nai, aku minta maaf kalau ada yang salah."

Tangan Arka menggenggam gelasnya sedikit erat. Perhatiannya jatuh lurus pada sepasang mata Naira yang perlahan tampak sedikit melembut.

"Buat apa?" tanya Naira pelan.

"Ya... kalau memang ada salah. Soalnya dari tadi aku cuma kamu diemin."

Naira mengangkat satu sudut bibirnya, membiarkan pipi sebelahnya menggembung lucu. Punggungnya disandarkan ke sandaran kursi, mencoba menata debar di dadanya yang mendadak berantakan. "Iya, iya deh."

"Besok kita sudah mau lamaran."

"Terus?"

Arka menatapnya lekat, seolah ingin menyalurkan seluruh keseriusannya lewat tatapan mata itu. "Cukup percaya, soal mantan pacarku dulu itu... sudah berlalu. Benar-benar selesai."

Deg!

Ucapan Arka seketika memberi ruang lega yang begitu besar di hati Naira. Meski ia mencoba menahannya, rasa cemas yang menghantuinya sejak di warung es buah tadi perlahan mengikis, menyisakan kehangatan yang menjalar pelan. Gadis itu menatap lekat mata Arka sesaat, mencari kebohongan di sana namun nihil.

"Mas..."

"Maaf ya," bisik Arka tulus.

"Hmmm..." Naira hanya bergumam pelan sebagai jawaban, tidak tahu harus merespons apa lagi karena jantungnya sudah berpacu terlalu cepat.

Melihat reaksi malu-malu itu, Arka mengulurkan tangannya ke seberang meja. Pria itu mengambil tangan Naira, lalu menggenggam jemari kecil tersebut dengan erat namun lembut.

"Kita sudah beli cincin. Aku sama kamu, sebentar lagi terikat."

Naira menatap genggaman tangan Arka. Ia menggigit bibirnya samar. Tangannya sedikit bergetar halus, belum lagi rasa sesak di dada akibat deguban jantung yang mendadak menggila.

"Mas Arka mau minum apa lagi?" tanya Naira mengalihkan perhatian, suaranya kini melunak.

"Saya sudah cukup minum air ini."

"Aku tadi... cuma capek kok, Mas." Naira perlahan melepas genggaman tangan itu dengan canggung. "Jadi, jangan dipikirkan yang aneh-aneh ya," ucapnya kemudian sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang manis.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!