Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 9
“Kuperingatkan sekali lagi untuk menjaga istriku selama kontrak ini berlaku. Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi kesalahan sekecil apa pun padanya.”
Amelia mematung di dekat brankar Rosa. Wanita itu masih tak sadarkan diri dengan beberapa selang tambahan di tubuhnya. Kelelahan sedikit saja benar-benar berpengaruh buruk untuk kesehatan Rosa.
Hanan dengan ekspresi yang sudah sangat Amelia hapal berucap dengan nada mengancam. Tatapan pria itu selalu menunjukkan kebencian yang membuncah.
“Mas, aku—“
“Dan satu lagi, berhenti memanggilku seperti itu. Rasanya terdengar menjijikkan saat kau yang mengatakannya. Panggilan itu hanya untuk Rosa.”
Amelia mengatupkan bibir—tak lagi berniat menyelesaikan kalimatnya.
Ini dia ... Hanan yang dia kenal dengan kebenciannya telah kembali. Rasanya tak jauh lebih baik, tapi begitu familier, meski tetap menyakitkan.
Semakin dekat hubungan mereka, semakin terasa kebencian pria itu padanya. Seolah dia kian mendekat pada pisau tajam yang akan memotong kehidupan baiknya.
Amelia tak menjawab apa pun lagi setelahnya karena dia tahu bahwa Hanan tak membutuhkan apa pun dari suaranya yang terdengar memuakkan di telinga pria itu.
Gadis itu menunggu sampai Hanan keluar dari ruangan Rosa sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di samping brankar kakaknya. Tak ada suara yang dikeluarkan oleh Amelia. Dia hanya memperhatikan tanda-tanda vital kakaknya di layar monitor yang masih menunjukkan adanya kehidupan rapuh, tapi berharga.
Lama terjebak dalam keheningan, Amelia menggenggam tangan kakaknya perlahan.
”Mbak lihat, ‘kan. Banyak orang yang sangat menyayangimu sampai rela melakukan apa pun. Jadi, ayo bertahan sampai akhir. Aku sudah mengabulkan keinginanmu. Sekarang waktumu mewujudkan satu-satunya keinginan kami untuk melihat wanita hebat ini sembuh.”
Keadaan Rosa yang tiba-tiba memburuk membuat acara pernikahan Amelia dan Hanan menjadi tak ada artinya. Ketika kepanikan melanda keluarga itu, tak ada yang lebih penting dari pada keselamatan Rosa. Semua orang bertingkah seakan tak ada hari spesial yang terjadi. Seolah mereka masih berada pada ikatan yang sama dan tidak ada yang berubah kecuali status Hanan dan Amelia di mata hukum.
Amelia tanpa sadar tertidur di samping brankar Rosa.
Langkah tegas dan perlahan memasuki ruangan wanita itu, bukan Hanan maupun orang tua Amelia, tapi sosok lain yang menjadi orang terdekat Hanan dan Rosa. Itu hanya bisa berarti satu hal.
Pembenci Amelia yang lain.
“Bangun.”
Amelia tersentak saat kepalanya mendapat dorongan keras yang nyaris membuatnya limbung dari kursi.
“Siapa?” Amelia berusaha menstabilkan tubuhnya dan berdiri perlahan hingga mendapati sosok yang membuat kesadarannya kembali dalam hitungan detik.
“Bagaimana? Sudah mengenaliku?” Pria itu menyunggingkan senyum miring yang membuat bulu kuduk Amelia berdiri. Gadis itu tanpa sadar mengambil langkah mundur hingga terbentur meja kecil di belakangnya.
Suara vas bunga yang bergeser menimbulkan suara tajam.
“Jika kau membuat kebisingan lagi dan gangguan untuk Oca, aku tidak akan segan-segan mematahkan lehermu.” Ancaman itu bukan omong kosong semata. Hanya Amelia yang tahu seberapa gila pria di hadapannya itu.
Tubuhnya bergetar tanpa bisa dikendalikan seolah reaksi tubuhnya lebih responsif memberi peringatan akan kehadiran pria itu yang membawa tanda bahaya yang nyata.
“Bagus, sepertinya tubuhmu masih mengingat dengan baik pelajaran yang kuberikan belasan tahun lalu.” Pria itu maju perlahan mengikis jarak di antara mereka.
Amelia nyaris menjerit, tapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat karena bahkan sebelum jeritannya terlepas, pria itu mungkin akan mematahkan lehernya lebih dulu.
Belasan tahun telah berlalu, tapi Amelia masih mengingat jelas wajah pria itu yang sebenarnya tampak lembut, tapi menyimpan segudang kejahatan yang tak dapat dia sebutkan satu per satu.
“Apa yang kamu inginkan? Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Apakah itu masih tidak cukup?” Air mata menggenang di pelupuk mata Amelia—menetes tanpa bisa dicegah.
“Cukup?” Suara pria itu terdengar sinis. “Hanya cukup jika kau mati dan lenyap dari pandangan Oca kesayanganku. Kau itu ... benalu yang harus segera disingkirkan dari hidup wanita suci sepertinya. Kau sama sekali tidak pantas mempertanyakan hal apa pun. Iblis sepertimu tidak pantas hidup.”
Amelia menurunkan pandangannya, tak berani menatap mata pria di depannya sedikit pun. Napasnya tercekat seolah batu besar telah mengganjal tenggorokannya.
Pria bermata abu-abu itu memiringkan kepalanya seolah sedang mengamati objek percobaan. Wajahnya yang semula tersenyum sinis berubah datar dengan tatapan benci.
“Kau tahu ... wajahmu ini membuatku muak. Oca pernah bilang bahwa dia iri padamu yang memiliki wajah kecil dan merah merona. Dia iri melihat wajahmu yang selalu berseri-seri. Dia mengatakannya dengan cemberut. Aku tidak suka itu. Harusnya dia hanya melihat kebahagiaan di dalam hidupnya, tapi berkatmu dia selalu merasa kekurangan. Haruskah aku melenyapkanmu sekarang agar kesedihan Oca kami berkurang?” Pria itu tampak menimbang-nimbang yang semakin membuat Amelia ketakutan.
Tangan pria itu bergerak cepat mencekik Amelia, untuk beberapa saat gadis itu merasa nyawanya benar-benar akan melayang saat itu juga, tapi suara pintu terbuka memecah situasi tegang di ruangan Rosa.
“Akhirnya kau datang.” Suara Hanan membuat Jetro melepas cekikannya dan mundur—memberi jarak pada Amelia, meski tatapannya masih begitu menyiratkan benci.
“Apa yang kau lakukan?” Hanan bertanya tak acuh.
“Hanya memberi pelajaran pada tikus kecil. Jangan khawatir.” Jetro menepuk pelan tangannya satu sama lain seolah berusaha menghilangkan kotoran dari sana.
Hanan melirik Amelia yang jelas tampak ketakutan. Tubuhnya masih bergetar dengan wajah pucat dan mata sembab. Namun, dia tak peduli sedikit pun dan fokus pada Rosa.
Merasa suasana kamar yang semakin berat, Amelia memaksakan dirinya keluar untuk mencari ketenangan. Dia takut akan mati dalam waktu singkat jika terus berada di ruangan yang sama dengan kedua pria itu yang seperti ingin membunuhnya dengan tatapan tajam.
Sesampainya di luar, Amelia memilih ke kamar mandi dan memperhatikan penampilannya yang menyedihkan. Hanya tersisa sembab di matanya, tapi semakin lama dia menatap pantulan dirinya di cermin, semakin banyak kristal bening menumpuk di matanya.
“Aku ....”
Amelia kebingungan harus merangkai apa untuk dikatakan pada dirinya sendiri. Semua seperti tersangkut di tenggorokan. Biasanya dia akan mengatakan kalimat-kalimat positif pada dirinya sendiri untuk menenangkan diri. Namun, kehadiran Jetro setelah sekian lama tidak muncul membawa rasa takut masa lalu.
Masa-masa kelam yang hanya bisa Amelia tahan tanpa bisa diungkap pada siapa pun. Masa di mana dia sulit membedakan antara rasa sakit sungguhan dan rasa sakit dari alam mimpi.
Amelia bersandar di dinding kamar mandi. Napasnya terputus-putus hingga akhirnya dia menyudutkan diri di salah satu bilik toilet dan menutup rapat pintunya. Mengunci diri dari dunia luar yang begitu menyiksa.
Bagi Amelia, pertemuan dengan Jetro bukankah interaksi sesama manusia, tapi interaksi antara mangsa dan predator. Dan Amelia lebih dari sekedar mangsa bagi Jetro, dia adalah mainan yang telah dirusak mentalnya oleh pria itu. Hingga satu-satunya reaksi yang diberikan oleh tubuh Amelia sesuai dengan ingatan masa lalunya hanya ketakutan luar biasa yang membuat gadis itu bergetar hebat. Reaksi yang memperingatkan tubuh agar lari sejauh mungkin seolah telah melihat hewan buas.
Sebuah trauma yang membuat siapa pun nyaris tak bisa mengendalikan diri.
“Kenapa dia kembali lagi?”