Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bukan Pernikahan Biasa
"Sudah siap apa belum?" teriak sang Mama di depan pintu kamar Safa.
Pagi-pagi sekali ia sudah meminta Safa untuk merias diri. Ini adalah hari pernikahan putrinya. Tak ada MUA pengantin, tak ada persiapan mewah. Ia hanya meminta Safa berdandan sendiri.
Safa berdiri anggun dalam balutan abaya dan jilbab putih yang selaras. Tak butuh riasan berlebih atau kain mewah untuk menonjolkan parasnya, kesederhanaan itu justru menjadi bingkai yang mempertegas kecantikannya yang alami.
"Aku sudah siap, Ma."
Safa melangkah melewati pintu berdiri tepat di depan sang Mama.
Ambar hanya menatap sekilas. "Ya sudah ayo pergi. Yang jemput sudah datang."
Mamanya berjalan jauh di depannya meninggalkannya sendiri. Bi Ijah menggenggam tangannya dan menuntunnya.
"Di sana yang hati-hati nggeh, Non. Jangan lupa makan tepat waktu, biar gak kambuh magnya," tutur sang bibik.
Safa mengusap lembut punggung tangan bi Ijah. "He'em, Bik. Bibik juga jangan lupa jaga kesehatan, ya."
Lagi-lagi air mata bi Ijah luruh. Saat melihat Safa yang hampir meneteskan air mata bi Ijah buru-buru memberinya tisu.
"Jangan nangis, Non. Nanti make upnya luntur."
Safa hanya mengangguk sambil mendongak.
"Bik kopernya biar saya saja yang bawa. Itu berat, loh."
"Udah gak papa Non. Non Safa gak usah peduliin yang lain. Sekarang fokus saja sama diri Non sendiri, ya?"
"Iya, Bik." Saat sampai di ambang pintu ia berhenti. Safa berbalik menatap sekali lagi rumah yang penuh kenangan itu. Walau bukan semua kenangan indah, ia tetap berat untuk melangkah pergi.
Dengan helaan nafas panjang kakinya melangkah meninggalkan rumah yang menjadi tempatnya berlindung selama ini.
Mobil hitam mewah sudah menunggu di depan pintu gerbang. Seorang wanita dengan pakaian rapi berdiri di depan mobil menantinya.
"Sudah sana pergi!" usir sang kakak.
Safa mendekat ke arah mereka. Ia menyalimi sang mama walau sang mama enggan menatapnya untuk yang terakhir kali.
"Aku pergi, Ma. Mama jaga kesehatan, ya." Safa mencium punggung tangan mamanya dengan tulus. Ini terakhir kali baginya memberi bakti pada sang mama.
Namun, saat ingin menyentuh tangan sang kakak, Riana justru menarik tangannya dengan kasar. Bi Ijah yang melihat itu hanya bisa mengusap dada.
Langkah Safa berhenti saat ingin bersalaman dengan bapak tirinya. Namun, ia terpaksa melakukannya.
Saat saling berjabat tangan, tangan Safa di pegang erat seolah enggan dilepas. Bahkan satu jari sang bapak menggelitik telapak tangan hingga membuat Safa terlonjak kaget dan menariknya keras.
Merasa muak, ia buru-buru berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu. Safa tak menolah untuk yang terakhir kalinya.
"Silahkan masuk, Non Safa. Saya Luna, asisten yang bertugas mengurus segala keperluan, Non Safa."
Safa tertegun. Apa suaminya begitu kaya bahkan menyiapkan seorang asisten untuknya. Ia gugup dan hanya mengangguk.
Pintu mobil dibuka. Luna mempersilahkan untuk masuk dan Safa segara masuk ke dalam mobil.
Sebelum pergi Luna membungkuk ke arah rumah, isyarat untuk pamit.
Saat mobil berderu meninggalkan kediaman Ambar hanya tersenyum getir. Melihat cek di tangan mempu menghapus rasa kehilangan satu putrinya.
"Apa kalian yakin membiarkan Safa pergi sendiri?" ucap Hendra cemas.
"Halah!" Ambar melengos berjalan masuk ke dalam rumah. "Buat apa menemaninya. Toh walinya juga sudah gak ada. Semua sudah di atur kakek tua itu. Jadi semua sudah beres," ungkapnya sambil memainkan selembar cek di tangan.
Riana menyambar cek itu dan menciumnya. "Muah! Cek ini wangi banget ya, Mah."
"Iya.Dengan ini mama bisa lunasi hutang dan sisanya bisa buat senang-senang."
Mendengar kata "senang-senang" membuat Hendra bersemangat. Ia segera mendekati sang istri dan merangkulnya.
🍃🍃🍃
Kediaman Wijaya Kusuma.
Sebuah rumah dengan gaya joglo Jawa klasik tampak asri dan damai. Pilar-pilar beton dengan sentuhan ukiran Jawa menghiasi setiap sudut rumah.
Walau ada prosesi pernikahan, rumah itu cukup sepi. Di sebuah pendopo dengan sebagian bangunan terbuat dari kayu hitam tengah di langsungkan prosesi ijab kabul.
Prosesi ijab kabul berjalan hikmat, hanya dihadiri beberapa orang termasuk saksi dan penghulu. Sedang Safa dibiarkan menunggu dalam sebuah kamar.
Disebuah rumah terpisah Safa menunggu dengan gelisah. Ia bahkan tak diberitahu siapa sosok suaminya itu.
"Ijab kabulnya sudah selesai Non Safa. Sekarang Non Safa resmi jadi Nyonya di rumah ini," ungkap Luna sembari memberika sebotol air mineral.
Safa mengambil dan menggenggamnya erat. Pikirannya campur aduk membayangkan malam pertama mereka.
"Aku belum siap," gumamnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Luna mengusap bahunya dengan lembut. "Non Safa tunggu saja di sini. Saya harus pergi untuk urusan lain."
Safa mengangguk patuh dan pasrah, bagaimana pun juga kini ia sudah menjadi istri orang.
Selang beberapa menit, pintu kamar diketuk dari luar.
"Assalamu'alaikum, boleh saya masuk?" ucap suara renta.
Kedua tangan Safa bertaut dengan gugup. Ia menatap pintu itu lekat.
"Waalaikumsalam, iya silahkan." Tak berani menatap, Safa memilih menundukkan pandang.
Kreek!
Pintu perlahan terbuka.
Tak! Tak! Tak!
Langkah kaki mendekat. Safa bisa melihat kaki keriput yang beralaskan sendal putih berbahan kulit itu berjalan semakin dekat. Tak hanya itu, terlihat juga sebuah tongkat kayu yang mengkilap sebagai tumpuannya.
"Jadi kamu yang namanya Safa?" suaranya serak menginterupsi.
Karena merasa tak sopan, Safa memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Di depannya berdiri seorang tua, wajahnya keriput denga kaca mata hitam. Rambutnya putih sepenuhnya. Namun, dia tetap terlihat gagah berwibawa.
"Benar. Saya Safa istri Anda," ucapnya dengan ragu.
Tuan Wijaya mengernyitkan kening. Alisnya bertaut karena bingung.
"Istri saya? Memangnya kamu mau menikah dengan lelaki tua sepertiku, cah ayu?" ujar Tuan Wijaya dengan nada menggoda.
Safa menatapnya lekat. Ia adalah istrinya, tapi ia bingung kenapa Tuan Wijaya mengatakan hal seperti itu.
"Saya tidak punya pilihan, Tuan. Demi kebahagiaan ibu saya, apapun akan saya lakukan."
Tuan Wijaya menggeleng tak percaya. "Ck ... ck ... ck ... tidak bagus juga kalau seperti itu. Kalau ibumu meminta nyawamu, apa kamu juga akan berikan?"
Safa hanya terdiam. Sebagai orang yang tahu sedikit tentang agama tentu hal itu tidak mungkin. Karena nyawa adalah milik sang Pencipta.
"Dengar ya, Nak," Tuan Wijaya duduk di kursi rias, menatap Safa dengan tatapan seorang kakek yang penuh pengalaman.
"Bakti itu ibadah yang agung, tapi ia tidak boleh membutakan nurani. Ada garis yang tegas antara berbakti dan menghancurkan diri. Jika orang tua meminta sesuatu yang justru merusak dirimu atau melanggar ketetapan Sang Pencipta, maka menolak dengan santun adalah bentuk bakti yang sebenarnya, karena kamu menjaga mereka agar tidak terus memikul dosa karena telah menzalimimu."
Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap.
"Tuhan memberimu nyawa dan hati untuk dijaga, bukan untuk diserahkan begitu saja sebagai alat tukar kebahagiaan orang lain, sekalipun itu ibumu. Kamu punya hak untuk bahagia, dan ibumu punya kewajiban untuk menuntunmu menuju keselamatan, bukan pengorbanan yang sia-sia."
Tuan Wijaya tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Dan satu lagi ... kakek ini bukan suamimu, cah ayu. Aku ini kakekmu. Menikahimu hanya akan membuatku merasa seperti mencuri masa depan orang lain."
Kedua mata Safa membulat sempurna. Ia semakin bingung, bagaimana bisa kakek tua di depannya bukan suaminya. Padahal jelas-jelas sang mama mengatakan ia akan dinikahi oleh seorang kakek bernama Wijaya Kusuma.