Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Lagi?
“Loh, Dek, kenapa baru pulang?” tanya Raka saat melihat Dhea baru datang.
“Eh, maaf, Kak. Tadi ada teman Dhea di sana, jadi pulangnya agak telat,” jelas Dhea sambil masuk ke dalam rumah.
Di tangannya terlihat beberapa bingkisan makanan dan camilan.
Tadi sebenarnya Dhea hanya ingin membeli beberapa buah untuk ibunya. Namun tanpa diduga, Arelia malah membelikan banyak jajanan untuknya karena Dhea sudah menemaninya.
“Banyak sekali yang kamu beli,” ucap ibunya sambil menatap bingkisan itu.
“I-itu tadi teman Dhea yang bayarin, Bu. Padahal Dhea cuma beli buah buat Ibu,” jawab Dhea jujur.
Raka yang sejak tadi duduk langsung menoleh.
“Teman?” tanyanya curiga.
“Iya, Kak.”
“Teman yang mana?”
“Yang kemarin bantu Dhea di toko bunga.”
Seketika Rafa yang sedang minum langsung berhenti.
“Dia lagi?” gumamnya pelan.
Dhea mengangguk kecil dengan polos.
“Iya.”
Raka langsung menyipitkan matanya pelan.
“Perempuan yang mukul Rafa waktu itu?”
“Kak!” protes Dhea cepat.
Sedangkan Rafa malah terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Lumayan sakit juga ternyata pukulannya.”
“Kak Rafa!”
Melihat wajah panik adiknya, Rafa malah tertawa kecil.
Namun berbeda dengan Rafa. Raka justru terlihat masih memikirkan sesuatu. Entah kenapa, ia merasa perempuan bernama Arelia itu terlalu sering muncul di sekitar Dhea.
“Dek, kalau bisa jangan terlalu dekat sama orang,” ucap Raka kepada Dhea.
“Loh, kenapa, Kak?” tanya Dhea bingung.
“Kamu tahu sendiri kehidupan kita bagaimana, Dek. Kita nggak tahu hati orang seperti apa.”
Dhea langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Tapi, Kak… Mbak Arelia orangnya baik.”
Raka menatap adiknya tanpa bicara.
“Dia juga selalu bantu Dhea di toko. Bahkan kalau ada orang aneh-aneh, dia suka jagain Dhea,” lanjut Dhea membela.
“Apa salahnya coba kalau Dhea berteman?”
Suasana langsung sedikit hening. Dan ucapan terakhir Dhea membuat Raka perlahan melembutkan tatapannya.
“Lagipula…” suara Dhea mengecil.
“Dia teman pertama Dhea.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat Raka dan Rafa saling berpandangan sebentar. Karena mereka tahu, selama ini Dhea memang hampir tidak pernah punya teman.
Rafa menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau dia memang baik, nggak masalah,” ucap Rafa santai.
“Tapi tetap hati-hati.”
Dhea langsung mengangguk cepat.
“Iya, Kak.”
Namun Raka masih terlihat diam memikirkan sesuatu. Entah kenapa, ia tetap merasa ada sesuatu yang aneh dari Arelia.
**
Saat malam berganti pagi.
Tepat pukul 07.00, Dhea sudah berada di toko bunganya. Saat ini, ia sedang membersihkan teras luar sebelum membuka toko. Walaupun tokonya kecil, Dhea selalu menjaga kebersihannya dengan baik.
Saat Dhea sedang menyapu teras, pandangannya tiba-tiba menangkap sepasang kaki yang berdiri di depannya. Dhea pun langsung mengangkat wajahnya.
“Selamat pagi, Dhea.”
“Eh, Mbak Arelia!”
Ternyata itu Arelia.
Kali ini, wanita itu kembali datang sambil membawa beberapa bingkisan di tangannya. Wajah Arelia terlihat jauh lebih cerah dibanding malam sebelumnya.
Bahkan senyumnya tampak begitu jelas saat melihat Dhea.
Sedangkan Dhea langsung menghentikan aktivitasnya sambil menatap bingkisan itu bingung.
“Mbak beli lagi?” tanyanya heran.
Arelia mengangguk kecil.
“Iya.”
“Tapi kenapa jadi sering banget beliin Dhea makanan?”
Arelia terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah mendekat.
“Karena aku mau.”
Jawaban sederhana itu langsung membuat Dhea sedikit salah tingkah.
“J-jangan terus-terusan begitu, Mbak. Nanti uang Mbak habis.”
Arelia langsung tersenyum tipis.
“Tenang saja. Aku masih kaya.”
Ucapan santai itu membuat Dhea langsung melotot kecil.
“Mbak!” protesnya malu.
Melihat ekspresi polos Dhea, Arelia justru semakin merasa gemas sendiri.
Tiba-tiba—
“Loh, Aren? Ngapain kamu di sini?”
Suara seseorang membuat Dhea dan Arelia langsung menoleh bersamaan.
Seketika mata Dhea membesar saat melihat siapa orang itu.
“Kak Reno…” ucap Dhea pelan.
Arelia langsung menoleh menatap Dhea.
“Kamu kenal dia?” tanyanya pelan.
“I-iya kenal. Dia kakak sepupu Dhea, Mbak,” jelas Dhea.
Penjelasan itu langsung membuat jantung Arelia berdegup kencang.
Sedangkan Reno justru menyeringai kecil. Karena ia sangat mengenal siapa sebenarnya Arelia. Dan kini, mantan teman SMA-nya itu justru terlihat dekat dengan adik sepupunya sendiri.
“Wah, wah… apa ini?” ucap Reno sambil menatap mereka bergantian.
Tatapannya lalu berhenti pada Arelia.
“Dan lagi, apa-apaan kamu, Aren? Malah dekat sama dia?”
Dhea langsung mengernyit bingung mendengar ucapan itu.
“Aren? Siapa dia?”
Reno menatap Dhea seolah terkejut.
“Kamu nggak tahu siapa Aren itu?”
Dhea langsung menggeleng pelan. Dan jawaban polos itu justru membuat Arelia semakin gugup. Tangannya perlahan mengepal kecil. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut.
Takut Dhea mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Takut melihat ekspresi jijik yang mungkin akan muncul di wajah gadis itu setelah semuanya terbongkar. Sedangkan Reno justru terkekeh kecil sambil menatap Arelia penuh arti.
“Jadi kamu belum cerita apa-apa ke dia, Aren?”
Merasa kesal, akhirnya Dhea kembali membuka suara.
“Kak Reno kenapa sih manggil Mbak Arelia dengan sebutan
Aren terus?” tanya Dhea dengan nada tidak suka.
“Arelia?” ulang Reno dengan wajah terkejut.
“Jadi kamu benar-benar nggak tahu orang yang di sampingmu itu siapa sebenarnya?”
Deg.
Ucapan itu langsung membuat suasana mendadak terasa tegang.
Dhea menatap Reno bingung, lalu perlahan menoleh ke arah Arelia. Sedangkan Arelia terlihat membeku di tempatnya.
Wajahnya mulai pucat. Tangannya bahkan gemetar kecil tanpa sadar.
“A-apa maksud Kak Reno?” tanya Dhea pelan.
Reno menyeringai tipis sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Orang yang kamu panggil Mbak Arelia itu—”
“Cukup, Reno.”
Suara Arelia langsung memotong ucapan Reno dengan nada dingin. Tatapan tajamnya membuat Reno terkekeh kecil.
“Kenapa? Takut dia tahu?” ejek Reno santai.
Dhea semakin bingung melihat reaksi keduanya. Tatapannya kembali beralih ke arah Arelia yang kini terlihat sangat gelisah. Untuk pertama kalinya, Dhea melihat wanita itu benar-benar ketakutan.
“Mbak Arelia…” panggil Dhea pelan.
Namun Arelia justru menundukkan wajahnya. Karena saat itu juga, ia merasa semuanya akan hancur.
Tanpa berkata apa pun lagi, Arelia langsung memberikan bingkisan yang tadi ia bawa kepada Dhea.
Setelah itu, ia pergi begitu saja.
“Mbak Arelia!” teriak Dhea karena benar-benar bingung dengan situasi yang terjadi.
Namun Arelia tidak berhenti.
Langkahnya justru semakin cepat meninggalkan tempat itu. Dhea hanya bisa menatap kepergiannya dengan perasaan sedih dan bingung bercampur menjadi satu. Lalu perlahan, ia menoleh kembali ke arah Reno.
“Kakak kenapa sih suka sekali mengganggu hidupku?” protes
Dhea dengan nada yang mulai marah.
“Bahkan temanku saja Kakak ganggu begitu!”
Reno terlihat sedikit terkejut mendengar Dhea mulai berani membalas ucapannya.
“Aku cuma ngomong kenyataan,” jawab Reno santai.
“Tapi Kakak bikin dia pergi!”
Dhea menggenggam bingkisan di tangannya erat.
Wajahnya terlihat benar-benar kecewa.
“Kakak tahu nggak sih…” suaranya mulai melemah. “Dia baik banget sama Dhea.”
Reno langsung menghela napas kasar.
“Dhea, kamu terlalu polos.”
“Apa salahnya berteman sama dia?”
“Karena kamu bahkan nggak tahu siapa dia sebenarnya!”
Deg.
Ucapan itu kembali membuat Dhea terdiam. Namun kali ini, bukan bingung yang lebih terasa di hatinya. Melainkan rasa khawatir. Karena untuk pertama kalinya, Arelia pergi dengan wajah yang terlihat sangat terluka.
“Mau sebenarnya dia siapa, itu tidak penting untukku. Karena menurutku Mbak Arelia sangat baik kepadaku,” sahut Dhea dengan nada ketus.
Setelah mengatakan itu, Dhea langsung masuk ke dalam toko dan meninggalkan Reno sendirian di luar.
Raut wajah gadis itu terlihat sangat kecewa dan marah. Namun di balik itu semua, ia juga merasa sedih karena Arelia pergi begitu saja.
Dhea perlahan menatap bingkisan yang tadi dibawakan oleh Arelia. Tangannya menggenggam kantong itu pelan. Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa orang-orang jahat sekali sih?” lirihnya pelan.
Dhea benar-benar tidak mengerti. Menurutnya, Arelia tidak pernah melakukan hal buruk kepadanya.
Wanita itu selalu membantu dirinya.
Menjaganya. Bahkan selalu datang membawa perhatian kecil yang membuat Dhea merasa dihargai.
Namun kenapa, setiap kali Dhea mulai merasa nyaman dengan seseorang, selalu ada saja yang mencoba merusaknya.
Perlahan, Dhea duduk di kursi kecil dekat meja kasir sambil memeluk bingkisan itu. Dan entah kenapa, hatinya terasa sangat tidak tenang memikirkan Arelia saat ini.