Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Berpacu Tanpa Garis Akhir
Tak terasa, jarum jam di ruang makan sudah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.
Beberapa saat kemudian, bel pintu depan berbunyi nyaring.
Bi Inah segera bergegas menuju pintu untuk membukakan.
Terdengar percakapan singkat di ambang pintu, sebelum akhirnya Bi Inah kembali masuk, diikuti seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa.
Ia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru muda, dengan stetoskop tergantung di lehernya.
Dari cara ia melangkah dan menatap ruangan, jelas ia bukan orang biasa. Itu pasti Dokter Handoko, dokter spesialis Onkologi Medik yang telah secara khusus dipanggil oleh keluarga Pak Armanto untuk menangani kondisi Alden.
Ayah dan ibu tirinya segera bangkit menyambut kedatangan tamu itu.
Alden ikut berdiri, sedikit ragu, dengan rasa gugup menghadapi dokter yang akan menangani kondisinya mulai sekarang.
“Selamat pagi, Dokter Handoko. Terima kasih sudah berkenan datang secepat ini,” sapa Pak Armanto sambil menjabat tangan sang dokter dengan hangat.
“Sama-sama, Pak Armanto. Saya sudah bilang sebelumnya, untuk keluarga ini saya selalu siap kapan pun dibutuhkan,” jawab Dokter Handoko ramah.
Setelah itu, pandangannya beralih kepada Alden.
Sejenak suasana terasa lebih hening.
Dokter itu memperhatikan Alden beberapa saat. Tatapannya tenang dan profesional, namun tidak membuat lawan bicaranya merasa tertekan.
Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
“Jadi ini Aldenbashra Gavinda?” ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
Alden segera menyambut uluran tangan itu.
“Selamat pagi, Dokter.”
“Wah, sudah besar dan gagah sekarang, ya. Terakhir kali saya melihatmu masih anak SMA yang sedang sibuk menghadapi ujian kelulusan. Sekarang sudah jauh lebih dewasa.”
Alden tersenyum kecil.
“Rasanya baru kemarin, ya, Dok.”
“Betul,” sahut Dokter Handoko sambil tertawa pelan. “Tahu-tahu sudah pulang dari Perth saja.”
“Terima kasih sudah bersedia menangani saya dan datang ke sini, Dok.”
“Sama-sama, Nak.” Dokter Handoko menepuk ringan bahu Alden.
“Dan jangan terlalu formal. Panggil saya Pak Dokter atau Om Dokter juga boleh. Kita sudah cukup lama saling mengenal dengan keluargamu.”
Alden mengangguk sambil tersenyum.
“Baik, Om Dokter.”
Dokter Handoko lalu menoleh ke sekeliling.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita duduk dulu? Lebih nyaman kalau sambil ngobrol santai.”
“Mari, Dok. Silakan duduk di ruang tengah saja,” ujar Ranti lembut sambil mempersilakan.
Mereka pun berjalan menuju ruang keluarga yang cukup luas.
Di tengah suasana rumah yang hangat itu, Alden perlahan merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, orang yang akan menanganinya bukanlah orang asing.
Kemudian Dokter Handoko segera mengeluarkan perlengkapan medis dari tas hitam mengkilapnya dan mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Ia mengukur tekanan darah Alden, mendengarkan detak jantung serta pernapasan dengan stetoskop, lalu perlahan memeriksa area perut kanan Alden untuk menilai tingkat nyeri yang dirasakan.
Selama proses itu berlangsung, Ranti tampak gelisah. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, sesekali menatap Alden dengan sorot penuh kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.
Pak Armanto duduk di sampingnya, berusaha terlihat tenang, meski ketegangan jelas masih tergambar di wajahnya.
“Baik, pemeriksaan fisik sudah selesai,” kata Dokter Handoko sambil menutup kembali tas medisnya.
Ia lalu duduk dengan posisi lebih santai, meski sorot matanya tetap menunjukkan keseriusan.
Pandangannya bergantian menatap Alden, Ranti, dan Pak Armanto.
Ia menarik napas panjang, seolah sedang memilih kata-kata yang paling tepat agar tidak menambah beban kecemasan di ruangan itu.
“Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah sesuai dengan berkas yang kami kirim sebelumnya?” tanya Pak Armanto, memecah keheningan. Nada cemasnya sulit disembunyikan.
Dokter Handoko tersenyum tipis, berusaha menenangkan suasana.
“Tenang dulu, Pak Armanto, Bu Ranti. Dari pemeriksaan fisik yang saya lakukan tadi, kondisi Alden masih cukup stabil. Bahkan beberapa parameter yang saya lihat sedikit lebih baik dari yang saya bayangkan setelah membaca ringkasan medisnya.”
Ranti dan Pak Armanto tampak sedikit mengembuskan napas lega. Namun Dokter Handoko belum selesai.
“Tapi saya juga harus jujur. Setelah mempelajari seluruh rekam medis, hasil laboratorium, dan laporan dokter yang menangani Alden di Perth, memang terlihat bahwa penyakitnya sudah berada pada tahap lanjut.”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Ranti menunduk. Tangannya perlahan menutup mulut, berusaha menahanan emosi yang kembali menyeruak.
Sementara Pak Armanto hanya menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
Alden sendiri tetap diam. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar penjelasan serupa selama beberapa bulan terakhir. Lambat laun, kalimat-kalimat itu berubah menjadi bagian dari kenyataan yang harus ia terima.
“Lalu... langkah selanjutnya bagaimana, Dok?” tanya Pak Armanto pelan.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada Dokter.”
Ia melirik ke arah putranya.
“Yang terpenting bagi kami, Alden bisa tetap nyaman dan tidak terlalu sering kesakitan.”
Dokter Handoko mengangguk.
“Itu juga menjadi prioritas saya, Pak. Untuk saat ini, tujuan utama kita adalah menjaga kualitas hidup Alden sebaik mungkin, mengendalikan perkembangan penyakitnya, serta mengurangi keluhan-keluhan yang muncul agar aktivitas sehari-harinya tetap bisa berjalan senyaman mungkin.”
Dokter itu membuka beberapa catatan di hadapannya.
“Sebelum menentukan terapi lanjutan, saya ingin melakukan beberapa pemeriksaan ulang terlebih dahulu. Saya perlu melihat kondisi terkini tubuh Alden secara langsung dan membandingkannya dengan hasil terakhir dari Perth. Setelah itu baru kita tentukan langkah yang paling sesuai. Bisa berupa kemoterapi lanjutan dengan penyesuaian tertentu, terapi suportif, atau kombinasi beberapa pendekatan lain.”
Ia lalu menambahkan dengan nada menenangkan,
“Yang jelas, saya tidak akan mengambil tindakan yang justru membuat tubuh Alden terbebani tanpa manfaat yang sepadan. Setiap keputusan akan kita pertimbangkan berdasarkan kondisi dan kenyamanannya. Saya juga sudah menyiapkan tim pendamping dan perawat yang nantinya bisa membantu pemantauan rutin di rumah. Jadi tidak semua hal harus dilakukan di rumah sakit. Kita akan berusaha membuat proses ini senyaman mungkin bagi Alden dan keluarga.”
Suasana kembali hening setelah penjelasan itu.
“Boleh tidak, Om… saya tanya sesuatu?” suara Alden tiba-tiba memecah keheningan.
Semua mata langsung tertuju padanya. Dokter Handoko menatapnya lembut lalu mengangguk. “Silakan, Alden. Tanyakan saja.”
"Dokter di Perth bilang saya hanya punya waktu sekitar satu tahun. Hampir dua bulan sudah saya lewati di sana. Sekarang berarti tinggal sekitar sepuluh bulan lagi."
Alden berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Apakah... hasilnya akan sama di sini? Atau masih ada kemungkinan saya punya waktu lebih lama?"
Pertanyaan itu diucapkannya pelan, namun tegas. Ia membutuhkan kepastian, meski jauh di dalam hati, ia tahu jawaban yang akan diterimanya mungkin bukan jawaban yang ingin didengar.
Ruangan itu kembali hening.
Dokter Handoko terdiam sejenak. Ia menatap Alden dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada empati, ada kehati-hatian, dan ada rasa hormat karena pertanyaan itu diajukan dengan kepala dingin, tanpa penyangkalan maupun kemarahan.
"Alden," ujarnya akhirnya, tenang.
"Di dunia medis, tidak ada yang bisa memberikan kepastian mutlak mengenai berapa lama seseorang akan bertahan. Yang bisa kami berikan hanyalah perkiraan berdasarkan data dan kondisi yang terlihat saat ini. Kalau berdasarkan hasil pemeriksaan yang saya lihat, perkiraannya memang masih berada di rentang yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan dokter di Perth."
Alden tidak menyela.
"Tapi itu bukan hitungan pasti," lanjut Dokter Handoko.
"Bisa lebih singkat, bisa juga lebih lama. Semuanya bergantung pada bagaimana tubuhmu merespons pengobatan, bagaimana penyakitnya berkembang, dan bagaimana kondisi fisikmu dari waktu ke waktu. Saya pernah melihat pasien yang bertahan jauh lebih lama dari perkiraan awal. Saya juga pernah melihat yang kondisinya memburuk lebih cepat dari yang diperkirakan. Karena itu, saya tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak bisa saya pastikan."
Dokter Handoko menatap Alden lurus.
"Yang bisa saya katakan sekarang, kita masih akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas hidupmu dan memperpanjang waktu yang ada. Selama masih ada pilihan terapi yang bisa diberikan, kita akan terus berjuang."
Kalimat itu tidak terdengar seperti janji kosong. Justru karena disampaikan dengan jujur, kata-kata itu terasa jauh lebih berat untuk didengar.
Dokter Handoko sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu berkata lagi,
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat, Alden. Perkiraan waktu bukanlah garis akhir yang pasti. Itu hanya gambaran berdasarkan kondisi yang kami lihat saat ini. Saya pernah melihat pasien yang kondisinya secara medis terlihat sangat berat, tetapi mampu bertahan lebih lama dari perkiraan. Sebaliknya, ada juga yang perkembangannya lebih cepat dari yang diprediksi."
Sorot matanya melunak.
"Karena itu, jangan menjalani hari-hari kamu dengan terus menghitung berapa bulan yang tersisa."
Hening sesaat memenuhi ruangan.
"Fokuslah pada apa yang masih bisa kamu lakukan hari ini. Jalani pengobatan sebaik mungkin, jaga kondisi tubuhmu, dan gunakan waktumu untuk hal-hal yang memang berarti bagimu. Jangan biarkan angka itu menentukan cara kamu menjalani hidup."
Kalimat itu menggantung di udara.
Alden terdiam.
Di satu sisi, kenyataan itu tetap menyesakkan. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dadanya. Bukan penolakan, melainkan penerimaan yang mulai belajar berdiri.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏