Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU KATA SAH, SEPULUH TAHUN MUSNAH
Mira menarik napas panjang, mencoba menekan sesak yang seolah menghimpit paru-parunya. Ia berdiri mematung di depan gerbang rumahnya, menatap pintu kayu besar yang di baliknya ada empat kakak laki-laki dan seorang ayah yang siap pasang badan untuknya. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan nama Nayaka dan Azzura yang tercetak indah di atas kertas emas tadi siang.
Rasanya perih, namun ada sesuatu yang menahan lidahnya untuk meluap.
Mira tidak mau kondisi semakin memburuk. Ia tahu betul jika ia masuk ke dalam dan melempar kabar pernikahan itu di depan Mas Danang atau Mas Damar, rumah ini akan berubah menjadi medan perang. Mas Danang mungkin akan langsung menghidupkan motornya dan kembali mendatangi rumah Nayaka, dan Mas Damar—yang biasanya tenang saja bisa memukul—mungkin akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.
"Cukup, Mir. Jangan ada darah lagi, jangan ada keributan lagi," bisiknya pada diri sendiri sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Ia memutuskan untuk mengubur rapat-rapat fakta tentang undangan itu. Ia tidak akan bercerita bahwa pria yang mereka benci itu akan segera naik pelaminan hanya dalam hitungan hari setelah mereka putus. Ia membiarkan keluarganya mengira bahwa hubungan itu berakhir karena ketidakmampuan Nayaka melawan orang tua, bukan karena sebuah pengkhianatan yang sudah direncanakan dengan rapi—setidaknya itu yang Mira percayai sekarang.
Dengan senyum yang dipaksakan, Mira membuka gerbang. Ia melihat Mas Danang sedang duduk di teras sambil menyesap kopi.
"Baru pulang, Dek? Kok pucat?" tanya Danang, matanya yang tajam langsung menyelidik wajah adiknya.
"Iya, Mas. Tadi kerjaan kantor lagi numpuk banget," sahut Mira berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Mira langsung masuk ya, Mas. Mau mandi, gerah banget."
Mira melangkah cepat melewati ruang tengah. Ia tidak sanggup menatap mata kakak-kakaknya lebih lama. Di dalam kamar, ia merosot di balik pintu, membekap mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar sampai keluar. Ia memilih menanggung luka ini sendirian, menjadi pelindung terakhir bagi ketenangan keluarganya, sementara di belahan kota lain, laki-laki yang ia lindungi itu sedang bersiap menjadi milik orang lain.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Mira mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras, namun tidak ada isak tangis yang terdengar. Hanya ada keheningan yang menyakitkan dan sebuah tekad yang perlahan membatu di dalam dadanya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang selama sepuluh tahun ini selalu tersenyum setiap kali mendengar nama Nayaka, kini tampak begitu asing dan hancur.
"Cukup sampai di sini, Mir. Cukup," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah janji lahir. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus hidup dalam ketidakpastian atau sisa-sisa harapan yang menyiksa. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan datang ke pernikahan itu. Bukan untuk membuat keributan, bukan untuk memohon agar Nayaka kembali, dan bukan pula untuk menunjukkan betapa hancurnya dia.
Ia akan datang hanya untuk satu tujuan: memastikan.
Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Nayaka mengucapkan janji suci untuk wanita lain. Ia ingin menyaksikan momen ketika pria yang dulu berjanji akan menjadikannya satu-satunya, justru memberikan seluruh hidupnya kepada orang lain di depan altar atau penghulu. Ia butuh rasa sakit itu—rasa sakit yang paling hebat—untuk benar-benar membunuh setiap sel harapan yang masih mencoba hidup di hatinya.
"Aku akan datang," tekadnya dalam hati. "Aku harus melihatnya bersanding dengan Azzura. Aku harus melihat akhir dari sepuluh tahunku, supaya setelah itu, tidak ada lagi alasan bagiku untuk menoleh ke belakang. Harapanku harus mati di sana, di hari pernikahan itu."
Setelah hari itu, ia berjanji akan mengubur nama Nayaka dalam-dalam. Tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi penantian. Ia akan datang sebagai tamu yang asing, menyaksikan pemakaman cintanya sendiri, lalu pulang sebagai Damira yang baru—yang sudah benar-benar merdeka dari bayang-bayang seorang laki-laki pengecut.
Hari yang bagi banyak orang adalah puncak kebahagiaan, bagi Nayaka adalah hari eksekusi mati bagi jiwanya. Di dalam masjid yang suci itu, aroma melati dan wangi dupa terasa mencekik lehernya. Nayaka duduk bersimpuh dengan tubuh yang tampak jauh lebih kurus. Wajahnya kemerahan, matanya sembab dan berair, menyiratkan hari-hari panjang tanpa tidur dan malam-malam yang habis hanya untuk meratapi nasib.
Ia tidak terlihat seperti seorang mempelai pria, melainkan seperti seorang tawanan yang sedang menunggu vonis.
"Saksi, sah?" tanya penghulu memecah keheningan setelah jabat tangan erat ayah Azzura melepaskan tangan Nayaka.
"Sah!" seru para saksi serempak.
Dunia Nayaka runtuh saat itu juga. Kata "sah" itu menjadi palu hakim yang memutus hubungannya dengan Damira selamanya. Dengan gerakan kaku dan perlahan, Nayaka berbalik untuk melihat Azzura, wanita yang kini resmi menjadi istrinya di mata hukum dan agama.
Namun, bukan sosok Azzura yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di antara kerumunan tamu yang berdiri di bagian belakang, di balik pilar masjid, ada seorang gadis yang terpaku menatapnya. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana, namun wajahnya yang pucat dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis terlihat begitu kontras di tengah kemewahan acara itu.
Itu Mira.
Dia benar-benar datang. Dia berdiri di sana, menyaksikan sendiri bagaimana laki-laki yang dicintainya selama sepuluh tahun mengikat janji dengan wanita lain. Tatapan mereka bertemu—sebuah tatapan yang menghancurkan segala pertahanan yang dibangun Nayaka selama berhari-hari.
Air mata Nayaka yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata akhirnya jatuh tak terbendung, membasahi pipinya yang masih menyisakan sedikit bekas lebam. Bibirnya bergetar hebat saat sebuah nama yang paling ia cintai meluncur pelan dari sela giginya.
"Mira..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah riuh rendah ucapan syukur para tamu.
Suara itu adalah jeritan jiwanya yang paling dalam. Nayaka ingin berlari, ingin memeluk kaki Mira dan menjelaskan semuanya—tentang ancaman ayahnya, tentang foto di depan kantor, tentang pengorbanannya. Namun, tangannya kini sedang digenggam oleh Azzura, dan ayahnya berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan yang seolah mengingatkan: Satu langkah salah, dan gadis itu celaka.
Ia hanya bisa menangis dalam diam, menatap Mira yang masih mematung di sana. Di tempat suci ini, Nayaka baru saja menyadari bahwa dengan menyelamatkan nyawa Mira, ia justru baru saja membunuh hati gadis itu dengan cara yang paling kejam.
Mira melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Azzura meraih tangan Nayaka, menciumnya dengan takzim sebagai tanda bakti pertama seorang istri. Ia bisa melihat bahu Nayaka berguncang hebat, ia tahu pria itu sedang hancur, namun rasa sakit di dada Mira jauh lebih mendominasi. Rasa perih itu begitu nyata hingga ia merasa seolah jantungnya diremas paksa.
Cukup. Harapannya sudah mati total di bawah kubah masjid ini.
Mira berbalik dan melangkah cepat, nyaris berlari meninggalkan ruangan suci yang terasa menyesakkan itu. Begitu sampai di area parkir yang agak sepi, pertahanannya runtuh. Air matanya tumpah tak terbendung, dadanya naik turun berusaha menghirup oksigen di antara isak tangis yang tertahan.
"Jangan nangis, malu nanti orang nilai kamu jelek," sebuah suara bariton rendah terdengar dari sampingnya.
Seorang pria berdiri di sana, menyodorkan selembar sapu tangan bersih berwarna gelap. Mira tertegun, ia meraih sapu tangan itu dengan tangan gemetar. Saat ia mendongak untuk melihat siapa pria itu, ia melihat pantulan luka yang sama. Pria di hadapannya memiliki sorot mata yang redup, wajahnya tegar namun menyimpan kepedihan yang sangat dalam—persis seperti dirinya.
Pria itu menatap ke arah pintu masjid sejenak, lalu kembali menatap Mira dengan senyum tipis yang pahit.
"Memang sakit ketika melihat orang yang dicintai menikahi orang lain," ucap pria itu pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri juga. "Tapi hidup kamu harus terus berjalan. Jangan biarkan hari ini menjadi akhir dari segalanya buat kamu."
Pria itu tidak menunggu jawaban. Ia mengangguk kecil sebagai tanda pamit, lalu melangkah pergi meninggalkan Mira yang masih terpaku memegang sapu tangannya. Mira tidak tahu siapa pria itu—mungkin dia adalah seseorang dari pihak Azzura, atau mungkin tamu lain yang bernasib sama—namun kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa di dunia ini, bukan hanya dia yang sedang bertaruh nyawa melawan patah hati.
Mira menghapus air matanya dengan sapu tangan itu. Ia menarik napas dalam, menatap masjid itu untuk terakhir kalinya, lalu berjalan menuju motornya. Benar kata pria tadi, hidupnya harus terus berjalan, meski separuh jiwanya tertinggal di dalam sana, bersimpuh di samping pria yang kini telah menjadi milik orang lain.