Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: TEATER KEBOHONGAN DI RUANG SIDANG
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berdiri dengan kokoh dan angker di bawah langit ibu kota yang mendung. Pilar-pilar betonnya yang tinggi menjulang nampak seolah-olah menyimpan ribuan rahasia kelam yang terkunci rapat di dalam dinding-dindingnya. Bagi siapa pun yang melangkah masuk, atmosfer di tempat ini selalu berhasil mengerdilkan nyali.
Siang itu, udara di dalam ruang sidang utama terasa begitu pengap oleh ekspektasi yang membubung tinggi dan ketegangan yang nyaris mencapai titik didih. Aroma cairan pembersih lantai yang tajam beradu dengan bau kayu tua dari kursi-kursi pengunjung yang penuh sesak oleh wartawan, keluarga, serta para pengamat hukum.
Vanya Hutama duduk di barisan paling depan, tepat di belakang meja Jaksa Penuntut Umum. Jemarinya yang dingin meremas tas tangan kulit Hermes miliknya dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih, menyalurkan rasa gelisah yang luar biasa dahsyat.
Di samping kanannya, Derian duduk dengan punggung tegak sempurna. Pria itu sesekali mencondongkan tubuh, membisikkan kata-kata penenang ke telinga Vanya. Namun, alih-alih menyejukkan jiwa Vanya yang sedang kalut, bisikan-bisikan itu justru terdengar seperti sebuah instruksi doktrin yang sangat menekan ego dan mentalnya.
"Tenang, Sayang. Hari ini adalah awal dari akhir riwayat si kecoa itu. Fokus pada apa yang sudah kita sepakati," bisik Derian dengan senyum manis yang menyimpan kilat kepuasan.
TOK! TOK! TOK!
"Sidang perkara pidana nomor 425 dengan terdakwa Reyhan, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," suara ketuk palu Hakim Ketua bergema lantang, seketika memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruangan.
Pintu kayu tebal di sisi kanan ruang sidang perlahan terbuka kasar. Dua orang petugas kejaksaan mengawal seorang pria melangkah masuk ke dalam ruangan. Kedua tangan pria itu tampak terborgol erat di depan tubuhnya. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi—sebuah pemandangan yang tidak biasa bagi seorang tahanan, karena ia menolak keras menggunakan rompi tahanan berwarna oranye sebelum ada vonis tetap.
Meskipun wajah tampannya masih menyimpan sisa-sisa lebam kebiruan akibat pengeroyokan di sel, dan kaki kanannya nampak sedikit menyeret saat berjalan, pria itu melangkah dengan martabat yang luar biasa aneh. Bahunya tegak. Dagunya tidak menunduk sedikit pun. Pancaran auranya tetap sama: dingin, berwibawa, dan mutlak.
Matanya yang setajam elang menyapu seisi ruangan dengan santai, seolah ia adalah seorang raja yang sedang meninjau rakyatnya, bukan seorang pesakitan. Tatapan itu kemudian berhenti sejenak, mengunci pandangan Vanya yang duduk di barisan depan.
Hanya satu detik. Namun bagi Vanya, kontak mata itu terasa bagai sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung membakar saraf-saraf tubuhnya. Jantungnya mencelos ke dasar lambung. Dengan gerakan panik, Vanya segera memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menyembunyikan getar ketakutan dan kebimbangan yang mendadak muncul di balik topeng kebencian yang ia agungkan.
Kesaksian yang Sempurna
Setelah pembacaan dakwaan yang formal, Jaksa Penuntut Umum (JPU) langsung tancap gas dengan menghadirkan saksi kunci pertama mereka. Pria itu adalah eksekutor lapangan—si pelaku begal berjaket ojek online yang tertangkap pertama kali di tempat kejadian perkara. Pria berwajah sangar itu kini duduk di kursi saksi dengan kepala tertunduk dalam-dalam, memasang gestur tubuh kurus yang bergetar. Aktingnya sebagai "seorang kriminal yang telah bertobat dan menerima hidayah" benar-benar terlihat sangat meyakinkan di depan majelis hakim.
"Saudara saksi," ujar Jaksa Penuntut Umum sembari melangkah maju, memegang beberapa lembar berkas berita acara pemeriksaan. "Ceritakan dengan sejujur-jujurnya di hadapan majelis hakim yang terhormat, bagaimana kronologi yang sebenarnya dan siapa otak intelektual yang merencanakan pembegalan brutal terhadap Nona Vanya Hutama malam itu?"
Saksi itu menarik napas panjang yang terdengar dramatis, seolah-olah ia sedang memikul beban penyesalan yang teramat berat. Ia perlahan mengangkat wajahnya, lalu mengacungkan jari telunjuknya yang bergetar tepat ke arah Reyhan yang duduk tenang di kursi terdakwa.
"Bang Reyhan, Pak Hakim! Dia otaknya!" seru saksi itu dengan suara yang sengaja digetarkan. "Dia yang memberi kami informasi detail mengenai jam berapa Nona Vanya akan keluar dari diskotek sendirian dalam kondisi mabuk. Dia juga yang bilang kepada kami kalau Nona Vanya punya banyak uang dan aset berharga di tasnya. Tugas kami di lapangan sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti dan melukainya sedikit, lalu nanti Bang Reyhan akan datang berpura-pura sebagai pahlawan kesiangan. Rencananya itu semua dilakukan supaya dia bisa terus bekerja sebagai supir di rumah mewah itu dan memeras keluarga Hutama dengan jumlah yang jauh lebih besar lagi di kemudian hari!"
KASAK-KUSUK!
Suasana ruang sidang seketika riuh rendah. Suara bisik-bisik dari pengunjung dan jepretan kamera wartawan memenuhi udara seperti lebah yang mengamuk. Kesaksian itu terdengar begitu rapi, sinkron dengan kronologi kejadian, dan nampak sama sekali tanpa celah hukum.
Derian yang duduk di barisan pengunjung menyunggingkan senyum puas yang amat lebar. Ia melirik Vanya, seolah ingin berkata, 'Lihat? Aku benar, kan?'
Sementara itu, di kursi pesakitan, Reyhan... pria itu hanya duduk diam dengan posisi kaki yang menyilang santai. Tidak ada gurat amarah, tidak ada teriakan protes, tidak ada kepanikan yang menghiasi wajahnya. Sebaliknya, Reyhan justru menyunggingkan sebuah senyum tipis yang sarat akan misteri—sebuah senyum dingin yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang tahu bahwa sebuah badai kehancuran tingkat tinggi sedang bersiap untuk menghantam panggung sandiwara ini hingga rata dengan tanah.
"Bagaimana Saudara terdakwa?" tanya Hakim Ketua dengan nada tegas, menatap Reyhan melewati kacamata bacanya. "Apakah seluruh keterangan yang disampaikan oleh saudara saksi ini benar?"
Reyhan mendongakkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah tiga majelis hakim di depannya. Saat ia berbicara, suaranya terdengar begitu jernih, berat, dan bergaung penuh otoritas di dalam ruangan yang bising itu.
"Saya tidak akan memberikan bantahan atau pembelaan apa pun untuk saat ini, Yang Mulia," ucap Reyhan dengan ketenangan yang mengerikan. "Biarlah drama komedi yang murah ini mencapai puncak kejayaannya terlebih dahulu. Saya sangat menikmatinya."
Dilema di Kursi Panas
"Baik. Jika demikian, selanjutnya... kami memanggil saksi korban, Nona Vanya Hutama. Silakan maju dan duduk di kursi saksi," panggil Hakim Ketua.
Mendengar namanya disebut, seluruh sendi di tubuh Vanya mendadak lemas. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar hebat di balik gaun mahalnya. Dengan langkah yang terasa sangat berat, ia berjalan maju menuju kursi panas yang terletak di tengah-tengah ruang sidang.
Setelah meletakkan tangan di atas kitab suci dan mengucapkan sumpah demi nama Tuhan untuk memberikan keterangan yang sebenar-benarnya, Vanya duduk dengan punggung kaku. Ia langsung dicecar oleh pertanyaan dari Jaksa Penuntut Umum.
"Nona Vanya Hutama, sebagai korban langsung dari peristiwa mengerikan malam itu, apakah Anda mengenali dengan jelas wajah pelaku yang menyerang dan memukul Anda hingga pingsan di jalanan?" tanya Jaksa dengan nada menuntut.
Vanya terdiam. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia melirik ke arah kanan bawah, tempat di mana Reyhan duduk memperhatikan dirinya dengan tatapan mata yang dalam dan tidak terbaca. Vanya kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Jaksa, jemarinya meremas kuat saputangan di pangkuannya.
"Malam itu... suasana jalanan sangat gelap dan sepi, Yang Mulia," jawab Vanya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba bersikap seobjektif mungkin. "Pelaku yang mengendarai sepeda motor berjaket ojek online itu mengenakan masker hitam tebal dan helm dengan kaca yang tertutup rapat. Saya... saya tidak bisa melihat wajah aslinya dengan jelas."
"Tetapi," Jaksa kembali mendesak, mencondongkan tubuhnya ke depan podium saksi. "Apakah postur tubuh, tinggi badan, dan perawakan pelaku di lapangan memiliki kemiripan yang signifikan dengan postur tubuh saudara terdakwa Reyhan yang saat ini duduk di depan Anda?"
Vanya kembali terpaku dalam keheningan yang menyiksa. Di dalam kepalanya, memori malam berdarah itu berputar kembali seperti rol film rusak. Ia teringat bagaimana pria di atas motor itu menghantam kepalanya dengan kejam tanpa ampun sampai ia jatuh pingsan, dan ia juga teringat bagaimana hangatnya dekapan tangan Reyhan saat pria itu menemukannya di semak-semak dan membawanya ke rumah sakit dengan sisa tenaga yang ada.
Meskipun logika dan egonya saat ini dipenuhi oleh racun kebencian akibat hasutan Derian, nurani terkecil Vanya menolak untuk menjadi seorang pembohong di bawah sumpah kitab suci.
"Secara... secara postur tubuh... mungkin memang ada kemiripan," ucap Vanya dengan suara melemah, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sesak yang melankolis. "Tetapi, saya tidak berani memastikan seratus persen bahwa terdakwa adalah pelakunya, karena semuanya terjadi dengan begitu cepat di bawah tekanan rasa takut yang luar biasa hebat."
Mendengar jawaban yang menggantung itu, Derian yang duduk di barisan pengunjung seketika menegang. Gurat kemarahan kilat melintas di wajah tampannya. Rahangnya mengeras. Ia sangat berharap Vanya akan langsung menunjuk wajah Reyhan dengan penuh keyakinan di depan hakim agar kasus ini bisa segera ditutup dengan kemenangan mutlak di tangannya. Namun, kejujuran naluriah Vanya justru menjadi batu sandungan kecil yang tidak ia duga.
Hakim Ketua saling berbisik sejenak dengan dua hakim anggota di kiri dan kanannya, mencatat keterangan penting dari sang korban.
"Baiklah. Mengingat keterangan dari saksi korban yang belum bisa memberikan kepastian mutlak, serta keterbatasan bukti visual yang dihadirkan oleh Penuntut Umum hari ini," ketuk palu hakim berbunyi satu kali. "Maka sidang perkara ini ditunda selama satu minggu ke depan, untuk memberikan waktu bagi pihak kepolisian menghadirkan bukti tambahan yang lebih konklusif."
Sesi persidangan yang melelahkan itu pun resmi berakhir untuk hari pertama.
Manipulasi di Balik Kaca Kemewahan
Dalam perjalanan pulang dari pengadilan, mobil mewah Rolls-Royce milik Derian membelah jalanan kota Jakarta yang padat merayap dan diguyur oleh rintik hujan sore. Vanya menyandarkan kepalanya yang terasa mau pecah pada kaca jendela mobil yang dingin, menatap bulir-bulir air yang mengalir turun seperti air mata yang enggan berhenti.
"Vanya, kenapa tadi kamu ragu-ragu di depan majelis hakim?" suara Derian memecah keheningan di dalam kabin mobil. Nada suaranya terdengar penuh dengan kekecewaan yang mendalam, meskipun ia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya agar tetap terdengar lembut. "Jelas-jelas si eksekutor tadi sudah mengaku dengan gamblang di bawah sumpah. Kamu hanya perlu mengiyakan pertanyaannya saja, Sayang, supaya bajingan sialan itu bisa cepat divonis dan membusuk di dalam penjara seumur hidupnya!"
"Aku tidak mau bersumpah palsu di hadapan Tuhan, Derian!" sahut Vanya dengan nada lelah, tanpa menoleh sedikit pun dari kaca jendela. "Aku memang benar-benar tidak melihat wajah orang di balik masker itu malam itu. Aku tidak bisa menuduh seseorang hanya berdasarkan asumsi postur tubuh."
Derian menghela napas panjang yang terdengar frustrasi. Ia menggeser duduknya mendekati Vanya, lalu meraih tangan kanan gadis itu, menggenggamnya dengan sangat erat—cenderung memaksa.
"Aku tahu kamu masih mengalami trauma psikologis yang berat akibat kejadian itu, Sayang," ucap Derian dengan intonasi suara yang kembali dimodifikasi menjadi sangat manipulatif, seolah-olah ia adalah satu-satunya pelindung waras yang dimiliki Vanya. "Tapi tolong buka matamu lebar-lebar. Pria bernama Reyhan itu sudah menipu keluarga kita selama setahun ini! Dia tinggal di paviliun rumahmu, makan dari uang papamu, bersikap manis di depanmu, sambil diam-diam merencanakan kejahatan busuk ini di belakang kita semua!"
Derian menatap wajah samping Vanya dengan pandangan yang menuntut kepatuhan. "Kamu harus kuat, Vanya. Pertunangan kita semalam sudah dipublikasikan. Jika sidang ini berlarut-larut dan si bajingan itu entah bagaimana caranya bisa bebas karena celah hukum, posisi finansial Hutama Group akan kembali berada di ujung tanduk! Investor asing dari Singapura tidak menyukai adanya ketidakpastian hukum di lingkaran dalam pemilik perusahaan. Ini demi Papamu, Vanya. Demi kelangsungan hidup keluargamu."
Vanya tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, membiarkan air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya yang pucat. Detik itu juga, Vanya merasa seolah-olah dirinya tidak lebih dari seonggok boneka marionette mewah yang seluruh tali kehidupannya sedang ditarik dan dikendalikan secara kejam oleh jemari tangan Derian. Ia benci pada pengkhianatan Reyhan yang ia yakini, namun di saat yang sama, dadanya terasa sangat sesak dan tercekik oleh cara Derian yang terus-menerus mendikte dan memanipulasi setiap jengkal pikirannya dengan tameng utang budi.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan