NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Bekas Sarung Kotak-Kotak

Matahari pagi menembus kaca jendela yang retak, membawa berkas cahaya kekuningan yang perlahan mengusir sisa hawa mencekam semalam. Lapisan kristal es yang sempat memenuhi dinding kamar kosanku kini telah luruh, berubah menjadi bulir-bulir embun yang menetes lesu ke lantai semen.

Suara bising dari pasar ikan di ujung gang mulai terdengar—teriakan para pedagang yang menjajakan tongkol segar dan deru mesin motor bebek yang lalu lalang. Hidup berjalan normal kembali, seolah-olah rombongan mobil SUV hitam milik pasukan keamanan Baron tidak pernah datang mengepung tempat ini beberapa jam yang lalu.

Aku menghela napas panjang, bersandar pada lemari tripleks kelabu tempatku menyimpan seluruh pakaian harian. Punggungku pegal luar biasa. Semalaman suntuk aku menahan napas, mendengarkan bentakan petugas di Kamar Nomor Tiga milik Mak Sumi yang letaknya tepat di sebelah kamarku. Beruntung bagi kami, orang-orang Baron itu mengira target mereka bersembunyi di sana, lalu pergi kocar-kacir setelah hanya menemukan tumpukan baju kotor dan bau sarden kalengan dari dapur Mak Sumi.

Namun, hilangnya ancaman luar tidak lantas membuat atmosfer di dalam Kamar Nomor Empat mendingin. Justru sebaliknya. Ada rasa canggung yang mendadak menebal, menyumbat tenggorokanku hingga aku bingung harus melempar pandangan ke mana.

Kala sedang duduk di tepi kasur lantai yang tipis.

Cowok itu sudah mengenakan kaus oblong hitamnya kembali. Sisa-sisa sisik perak di pelipis matanya telah tenggelam di balik kulit, menyisakan sepasang mata emas yang kini menatap lurus ke arah ujung kakinya sendiri.

Rambut hitamnya agak berantakan, dan dia tampak beberapa senti lebih tinggi saat terduduk lesu seperti itu.

Aku berdeham kecil, mencoba memecah keheningan yang membuat kupingku berdengung.

"Ehem. Baguslah mereka sudah pergi. Berarti nyawamu masih aman untuk hari ini."

Kala tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sekali. Rahangnya yang tegas bergerak sedikit, seakan ada kata-kata yang tertahan di balik bibirnya yang mulai kembali kemerahan.

"Soal… semalam," suara Kala terdengar parau, memecah kesunyian dengan nada yang sangat rendah.

Mukaku mendadak terasa panas. Aku tahu persis arah pembicaraannya. Kenekatanku memeluk tubuh besarnya yang sedingin es batu semalam adalah murni karena panik, karena aku tidak mau mati konyol akibat uap bekunya memancing alat pemindai suhu petugas Baron. Tapi tetap saja, mengingat bagaimana dia balas memelukku dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku semalam membuat gengsi pelabuhanku serasa diinjak-injak.

"Nggak usah dibahas," potongku cepat, sedikit ketus sambil memalingkan wajah ke arah pintu.

"Itu cuma urusan darurat. Anggap saja aku sedang menolong kucing kurap yang hampir mati membeku di got. Jangan kegeeran."

Kala mendongak, menatapku dengan sebelah alis terangkat. Sudut bibirnya berkedut tipis, tampak seperti ingin mengejek balik namun dia mengurungkannya. Dia mengembuskan napas panjang, lalu pandangannya jatuh pada selembar kain yang tergeletak kusut di atas lantai semen, tepat di dekat kakinya.

Itu selembar sarung kotak-kotak berwarna hijau tua yang sudah agak pudar. Semalam, kain itu terjatuh dari atas lemari saat aku panik mencari selimut tambahan.

Kala mengulurkan tangannya yang besar.

Jemarinya yang panjang dan kaku memungut kain itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah sarung tua itu bisa hancur berantakan jika dia menggenggamnya terlalu kuat. Kontras sekali melihat cowok bertubuh tegap dengan aura berbahaya itu memegang selembar kain domestik yang rapuh.

"Ini… punya siapa?" tanya Kala, jempolnya mengusap permukaan kain yang kasar.

"Punya almarhum ayahku," jawabku, suaraku melunak tanpa bisa kucegah. "Peninggalan Ibrahim. Cuma itu salah satu barangnya yang tersisa di kosan ini selain beberapa baju kerja lama."

Kala terdiam sejenak. Dia menatap pola kotak-kotak pada sarung itu dengan saksama, lalu dengan canggung mulai membentangkan kain tersebut di atas lantai. Tubuh tingginya harus membungkuk dalam-dalam di ruangan yang sempit ini. Dia melipat bagian ujung atas ke ujung bawah, mencoba merapikannya. Namun, tangan besarnya yang kaku justru membuat kain itu melintir dan semakin kusut. Lipatannya mencong ke kanan dan ke kiri, sama sekali tidak berbentuk segi empat.

Aku yang memperhatikan dari dekat lemari seketika berdecak gemas. Gengsiku mendadak terkalahkan oleh rasa kesal melihat hasil kerjanya yang berantakan.

"Aduh, Kala! Sini, sini, biar aku saja! Kamu itu mau melipat sarung atau mau bikin buntelan ikan asin sih?" ketusku sambil melangkah maju dan merebut paksa ujung sarung dari pegangannya.

Kala menarik tangannya kembali, sedikit terkejut namun kemudian dia hanya memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan lurus. "Aku cuma mau membantu. Semalam kain ini kena imbas hawa dinginku."

"Kalau mau bantu, pakai cara yang benar," ujarku sambil berlutut di depannya. Aku menarik kedua ujung sarung kotak-kotak itu, meluruskannya dengan sentakan kecil agar lipatannya simetris.

"Lihat ini. Pertama, pertemukan dulu sudut atas dengan sudut bawah. Jangan asal ditekuk.

Setelah itu, lipat jadi tiga bagian. Mengerti?"

"Tanganmu bergerak terlalu cepat," gumam Kala datar, matanya terus mengikuti jemariku yang lincah mengunci lipatan kain.

"Makanya matanya dipasang, jangan cuma dipakai buat melototi orang di pelabuhan," balasku, tetap mempertahankan nada ketusku meski sebenarnya jantungku kembali berulah karena jarak kami yang kini hanya terpaut setengah meter. Bau lumut basah dan tanah dari tubuhnya masih tertinggal tipis, bercampur dengan wangi matahari pagi yang masuk dari jendela.

"Coba sekarang kamu yang teruskan bagian ini," perintahku sambil menyerahkan sisa lipatan sarung ke arahnya.

Kala maju sedikit, membuat lututnya hampir bersentuhan dengan lututku. Dia menerima kain itu lagi, mencoba meniru gerakanku dengan sangat perlahan. Kulit tangannya yang besar sempat bergesekan dengan jemariku—masih terasa lebih dingin dari ukuran orang normal, tapi tidak lagi sedingin es batu seperti semalam.

Sensasi itu membuatku reflek menarik tanganku dengan cepat.

Kala menunduk, fokus melipat bagian terakhir.

Wajahnya terlihat sangat serius, seolah-olah melipat sarung tua milik ayahku ini adalah misi hidup dan mati yang setara dengan meloloskan diri dari kejaran Baron Logistics. Keningnya sedikit berkerut, dan rambut depannya jatuh menutupi sebagian matanya. Ada kehangatan aneh yang mendadak merayap di dadaku melihat pemandangan domestik yang kikuk ini. Cowok misterius berdarah dingin ini ternyata bisa terlihat sebodoh dan secanggung ini hanya karena selembar kain.

"Seperti ini?" tanya Kala kemudian, menunjukkan hasil lipatannya yang kali ini jauh lebih rapi, meski sudutnya tetap agak miring.

Aku menatap sarung hijau kotak-kotak yang kini sudah terlipat di atas pangkuannya. Kenangan tentang ayahku mendadak melintas di kepala—bagaimana dulu ayah sering memakai sarung ini saat duduk di depan pintu kosan sambil menghisap rokok kreteknya setelah pulang kerja dari hulu sungai Asahan. Ayah selalu bilang ada hal-hal besar yang tersembunyi di air muara, hal-hal yang tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang kota seperti Tuan Baron.

"Ya… lumayan lah untuk ukuran pemula," kataku sambil mengalihkan pandangan, menyembunyikan mataku yang mendadak terasa sedikit panas. Aku berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana jinsku yang berdebu. "Setidaknya tidak bikin sarung ayahku kelihatan seperti gombalan pel lantai."

Kala ikut berdiri. Tubuh besarnya kembali mendominasi ruang kamarku, membuat langit-langit kosan terasa semakin rendah. Dia meletakkan sarung yang sudah rapi itu di atas kasur lantai dengan perlahan.

"Ayahmu… orang yang baik?" tanya Kala tiba-tiba, suaranya terdengar tulus, tanpa ada nada ejekan sama sekali.

Aku tertegun sejenak di depan lemari tripleks, tanganku memegang pinggiran pintu kayu yang lapuk. "Dia orang tua yang keras kepala. Tapi dia tahu banyak hal tentang tempat ini. Lebih banyak dari yang seharusnya dia tahu."

Aku membalikkan badan, kembali menatap Kala dengan tatapan tegas yang biasa kugunakan saat menghadapi kurir-kurir senior yang licik di depo logistik. "Sudah, jangan banyak tanya lagi.

Sebentar lagi matahari meninggi. Aku harus segera bersiap-siap pergi ke depo sortir untuk absen pagi sebelum gajiku dipotong habis oleh bos. Dan kamu… tetap di dalam kamar. Jangan pernah coba-coba memunculkan hidungmu di dekat jendela, paham?"

Kala hanya menatapku, sepasang mata emasnya berkilat tenang di bawah cahaya pagi. Dia tidak membantah, hanya mengangguk kecil sebagai tanda setuju. Interaksi canggung di antara kami pagi itu ditutup oleh ketukan sepatu flat milikku yang melangkah terburu-buru menuju kamar mandi umum di ujung gang, meninggalkan kehangatan aneh yang masih membekas di Kamar Nomor Empat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!