Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 11.
Keesokan harinya Aurora sampai ke sekolah di antar oleh ayahnya, Gama hari ini izin tidak masuk sekolah. Sesampainya di sekolah Aurora merasa semua murid memperhatikannya memandang Aurora dari atas ke bawah, Aurora yang risih melihat penampilannya menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilan dirinya hari ini, Aurora membuka tas sekolahnya untuk mencari kaca kecil takut wajahnya ada sesuatu yang membuat murid memandangnya aneh.
Tetapi, setelah Aurora bercermin di kaca kecilnya tidak ada yang enah dengan wajahnya masih dengan make up yang natural. Jadi, apa yang membuat semua murid memandang Aurora aneh lebih ke ekspresi ketidaksukaannya, tatapan sinis, dan senyum mengejek terutama dari kalangan siswi.
Aurora berjalan cepat dengan menunduk menuju ke kelasnya rasanya Aurora tidak nyaman dengan tatapan orang orang, dengan pikiran yang berkecamuk. Tapi, tidak menemukan kesalahan Aurora dimana, lantas apa yang membuat siswa-siswi memandangnya dengan tatapan ketidaksukaannya.
"AURORA." Teriak Zara kencang setelah sampai di kelas.
Zara dan Khanza menghampiri Aurora dengan tergesa.
"Lo gapapa?." Tanya Zara khawatir.
Aurora mengerutkan kening heran kenapa Zara dan Khanza terlihat panik seperti itu.
"Iya gue gapapa, kenapa emangnya?." Tanya balik Aurora.
"Lo nggak nyadar siswa sini pada liatin lo?." Tanya Khanza.
Aurora terdiam Ya, Aurora menyadari bahwa siswa-siswi sekolahnya memerhatikan setiap langkah Aurora. Tapi, Aurora mencoba abai karna Aurora rasa dia tidak melakukan kesalahan.
"Oh, iya gue nyadar kok."
"Terus kenapa lo bisa santai gini?." Zara heran setelah orang lain memandang Aurora dengan tatapan ketidaksukaannya, respon Aurora biasa biasa saja.
"Terus gue harus gimana? gue nggak punya salah kok sama mereka." Ucap Aurora.
Zara yang greget menggetok kepala Aurora." Bego kok di pelihara."
"aw, sakit ih." Ringis Aurora sambil mengelus kepalanya yang kena getok oleh Zara.
"Lo nggak inget kejadian kemarin?." Tanya Khanza.
Aurora mengingatnya mana mungkin ia melupakan kejadian kemarin, terus apa hubungannya dengan kejadian sekarang.
"Gini nih kalau punya temen yang kurang peka." Tukas Zara pedas.
"Apa sih, jelasin makannya bukan maki gue doang anjir. Gue kagak ngerti ama sikap mereka, gue lagi jalan aja mereka kayak mau nerkam gue."
"Perasaan kagak ada yang aneh sama penampilan gue, terus kenapa mereka mandang gue sinis banget." Lanjut Aurora.
"Bukan karna penampilan lo yang salah atau lo ngelakuin kesalahan." Terang Zara.
"Terus apa?."
"Lo nggak update di ig sekolah Mandala hah! di sana lo viral gara gara kejadian kemarin, saat kita hormat di tiang bendera dan lo pingsan saat itu Gama yang gendong lo ke UKS, dan ada orang yang videoin lo dan dia kirim ke ig sekolah mandala."
"Dan lo tau setelah di up beberapa menit di ig sekolah Mandala karna kejadian lo di gendong Gama di serbu sama murid-murid terutama di kalangan cewek-cewek, mereka nggak terima cowok incaran mereka gendong lo di saat mereka ingin dekat sama Gama susahnya minta ampun. Dan lo dengan gampangnya Gama langsung gendong lo tanpa di minta." Jelas Zara.
"Ya mikir dong gimana gue mintanya kalau gue waktu itu lagi pingsan." Sela Aurora.
"Bukan itu maksudnya Markonah!!! Lo tau sendiri Gama itu cowok inceran cewek-cewek Mandala kan. Tapi, karna sifat Gama yang dingin dan nyeremin cewek-cewek Mandala nggak berani terus terang deketin Gama, dan lagi Gama orangnya cuek bahkan kalau ada orang yang jatuh atau butuh pertolongan dan ada Gama di depannya. Gama nggak akan nolong tuh orang dia akan ngelengos pergi gitu aja tanpa peduli."
Aurora juga awalnya merasa Gama nyeremin tapi setelah Aurora mengenal Gama tidak semenyeramkan itu.
Aurora sekarang sadar di saat Aurora dan kedua temannya ke kantin beberapa murid sengaja menoleh lebih lama dari biasanya. Bukan sekadar melihat, tapi menilai. Ada yang berbisik pelan sambil tertawa kecil, ada yang menatap dari atas ke bawah seolah sedang membandingkan. Tanpa perlu kata-kata keras, suasananya sudah terasa tidak nyaman.
Beberapa murid perempuan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan. Tatapan sinis, senyum tipis yang terasa mengejek, hingga komentar setengah bercanda yang sebenarnya menyindir. Seolah-olah Aurora tidak pantas berada di posisi itu—berdampingan dengan seseorang yang dianggap terlalu tinggi untuknya.
Pada dasarnya Aurora itu orangnya overthinking ia mulai memikirkan omongan murid sekolahnya, yang mengatakan bahwa Aurora tidak pantas bersanding dengan Gama. Aurora memang menyadarinya apa sih yang spesial dari dirinya pikir Aurora.
Zara yang menyadari perubahan ekspresi Aurora."Enggak usah peduliin tatapan mereka."
"Dan nggak usah mikir lo nggak pantes sama Gama." Karna Zara tahu Aurora selain sangat suka uang dia suka sekali overthinking, ngerendahin diri sendiri.
"Gue tau lo pacaran kan sama Gama." Lanjut Zara sebelum Aurora ingin membalasnya.
"Udah lah, nggak usah ngelak."
Akhirnya Aurora mau tidak mau mengangguk mengiyakan.
Mereka duduk di sisi kanan pojok yang memesan makan Khanza.
"Mau makan apa lo berdua?." Tanya Khanza.
"Gue nasi goreng sama es teh manis." Ucap Zara.
"Samain aja cuman airnya air putih."
"Okay deh." Khanza pergi dari hadapan mereka untuk memesan pesanan mereka.
Aurora diam melamun apa benar dirinya seburuk itu sampai orang orang membandingkan fisiknya, memang sih Aurora tidak secantik itu bahkan di bandingkan sama kedua temannya Aurora paling jelek. Kedua temannya termasuk cewek tercantik di sekolahnya, sedangkan dirinya mungkin cewek terjelek di sekolahnya. Kan, seperti langit dan bumi perbandingannya, pantas saja orang-orang memandangnya rendah.
"Heh melamun aja lo." Tegur Zara.
Aurora merengut ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, Aurora juga sadar bahwa Aurora tidak pantas bersanding dengan Gama yang sempurna, kalau di ibaratkan Gama sebagai pangeran kerajaan dan Aurora sebagai pelayan.
"Gue tau di otak lo sekarang pasti lagi mikir yang nge rendahin diri sendiri kan." Tebak Zara dan sepertinya tebakannya benar setelah melihat ekpresi Aurora yang lesu.
Aurora terduduk lesu melipat kedua tangannya di atas kepalanya menggeliat gelisah dengan pikirannya sendiri.
"Udah deh ah, bisa stop nggak lo jangan nilai diri lo lebih rendah daripada orang lain."
"Ada yang lebih rendah dari lo contohnya LC. Tapi, mereka malah bangga dengan kelakuan mereka."
Aurora mencibir."Lo nyamain gue sama LC?!."
Zara memutar bola matanya malas." Perumpamaan anjir."
Aurora memalingkan wajah kesal dering handphone Aurora mengalihkan perhatian Aurora tertera nama Gama. Aurora tidak langsung membuka room chatnya.
"Buka itu."
"Enggak mau."
"Lah kenapa anjir?."
"Kayak anak kecil lo ngambekan." Khanza berujar setelah membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Gue nggak ngambek ya." Elak Aurora.
"Iya dah serah lo, padahal bukan salah Gama ya kan kenapa lo malah marahnya ke Gama." Ucap Zara.
"Gue nggak marah ya."
Setelah cerocosan kedua temannya Aurora terpaksa membuka room chatnya dengan Gama.
Gama :
lo gapapa?
Aurora diam berpikir apakah Gama tahu tentang masalah ini makanya Gama menayakan keadaannya.