NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

​"Huh, bosen banget gue!"

​Ziva mengembuskan napas kasar. Gadis itu tengah rebahan di atas ranjang apartemennya dengan posisi tengkurap. Dagunya ditumpu kedua tangan, sementara kakinya sesekali menendang udara pelan. Tatapannya kosong menatap dinding kamar yang dicat putih gading.

​"Gini nih nasibnya kalau anak apartemen. Sepi kayak kuburan, nggak ada rame-ramenya. Bosen gue! Coba saja nih gedung kebakaran, pasti rame dan gue nggak bakal kesepian. Udah jomblo, malam minggu cuma sama guling, saldo kosong pula. Hahhh!" keluh Ziva panjang lebar.

​Ziva memang sedang berada di unit apartemennya. Ia sengaja tidak pulang ke rumah besar keluarganya karena malas melihat drama yang terus berulang. Rumah itu sebenarnya adalah rumah peninggalan almarhumah ibu kandungnya, namun sekarang rumah itu telah sepenuhnya dikuasai oleh ibu tirinya, Ratna. Setahun setelah ibunya meninggal, ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Sejak itulah kehidupan Ziva berubah total. Gadis yang semula manja dan penuh kasih sayang itu kini bertransformasi menjadi sosok yang rapuh di dalam, namun bar-bar di luar. Ia menutupi kerapuhan dan kesendiriannya dengan tingkah laku yang meledak-ledak, berharap benteng itu cukup kuat untuk melindunginya dari pahitnya kenyataan.

​Ayah Ziva menikahi Ratna murni karena rasa kasihan. Ratna adalah sahabat mendiang istrinya yang kala itu hidup susah sambil menghidupi dua orang anak. Namun, naluri Ziva kecil tidak pernah salah. Saat pertama kali Ratna dan anak-anaknya menginjakkan kaki di ruang keluarga mereka, hati Ziva selalu gelisah tak tenang. Tapi, Ziva tidak mau egois. Ia ingin melihat ayahnya bahagia kembali, maka ia mencoba menerima kehadiran mereka dengan tangan terbuka.

​Sayangnya, kebaikan itu dibalas dengan kepahitan. Perlahan tapi pasti, sifat asli Ratna muncul. Ia mulai mempengaruhi ayah Ziva hingga sang ayah tidak lagi peduli pada putri kandungnya sendiri. Ziva menjadi makhluk transparan di rumahnya sendiri. Darah dagingnya sendiri dianggap beban, sementara anak-anak tiri sang ayah dimanjakan layaknya pangeran dan putri raja. Apa pun yang mereka mau, sang ayah akan memberikannya dengan senang hati. Berbeda dengan Ziva; jika ia meminta sesuatu, ayahnya akan membentaknya dan menyuruhnya jangan manja.

​Ziva harus selalu mengalah. Mengalah pada kakak tirinya yang sebenarnya hanya terpaut usia enam bulan lebih tua darinya. Ayahnya seolah menganggap anak-anak Ratna masih balita yang butuh perlindungan ekstra, padahal mereka semua sudah remaja. Di rumah itu, Ziva adalah angin lalu. Hampa. Sejak SMP, Ziva sudah mulai bekerja paruh waktu di kafe milik keluarga Karlota demi membiayai sekolah dan makanannya sendiri, karena sang ayah merasa membuang uang jika harus membiayai pendidikan Ziva.

​"AAAAA Bosen banget gue!!!" teriak Ziva lantang ke arah bantal.

​Setelah puas tidur di kelas hingga bel pulang dan dilanjutkan tidur di apartemen sampai jam tujuh malam, Ziva merasa energinya meluap-luap. Ia baru saja selesai mandi dan sekarang kembali terjebak dalam ritual rebahan yang membosankan.

​Drett... drett...

​Ponsel di atas kasur bergetar. Nama "Karlota" terpampang di layar. Ziva langsung menyambarnya secepat kilat.

​"SELAMAT MALAM BESTIE-KU!" teriak Karlota dari seberang sana.

​Ziva menjauhkan ponsel itu dari telinganya dengan wajah meringis. Telinganya berdengung hebat. "BISA NGGAK SIH LO NGGAK USAH TERIAK?!" balas Ziva tak kalah kencang.

​"Eh buset, lo juga teriak, Maimonah!" gerutu Karlota.

​"Ngapain lo telepon-telepon gue?"

​"Ini malam minggu, Ziv. Gue mau ajak lo jalan-jalan. Kita nongki-nongki cantik, yuk?"

​Ziva mendengus. "Astaga, gue masih normal ya, Kar!"

​"Lah, yang bilang lo belok siapa, Anjir?"

​"Elo! Lo bilang mau ajak gue jalan, ogeb!"

​"Heh! Maksud gue itu jalan-jalan sebagai teman, bukan kencan orang pacaran! Ya kali gue suka sama sesama jenis, big no! Nggak level gue sama lo, ya walaupun lo cantik tapi lo cewek. Kalau lo cowok mah gue gaspol!"

​"Ya lo nggak bilang, kan gue jadi salah konsep," sahut Ziva sambil terkekeh.

​"Ck, makanya punya otak itu disekolahin, elah. Jadi mau nggak lo? Gue gabut nih di rumah mulu."

​"Perginya ke mana dulu? Nanti tiba-tiba lo malah bawa gue ke rumah om lo lagi. Ogah gue ke sana lagi. Om lo sih memang keren, tapi botak! Gue nggak suka botak, Kar, mengkilat kayak pentolan bakso Mang Dadang," cerocos Ziva.

​Karlota tertawa terbahak-bahak di seberang sana. "Nggak, tenang aja. Gue mau ajak lo nonton balapan motor. Kata Bang Dipo ada balapan besar hari ini di tempat biasa, jam sembilan nanti."

​Mata Ziva seketika berbinar. Adrenalinnya mulai terpacu hanya dengan mendengar kata 'balapan'. "Wih, seru tuh! Udah lama gue nggak nonton balapan. Skuy lah kita pergi sekarang. Gue siap-siap dulu, lo jemput gue ya, bestot!"

​Tut.

​Tanpa menunggu jawaban Karlota, Ziva langsung mematikan sambungan telepon. Ia bisa membayangkan Karlota sedang mencak-mencak di rumahnya karena diputus sepihak.

​"Gue harus dandan cantik dan menarik, biar 'Aura Subuh' gue terpancar memikat kaum Adam. Semoga saja di sana gue dapet gebetan. Minimal spek Oppa-oppa Korea lah ya, yang pastinya bener-bener cowok, bukan setengah cewek-cowok," gumam Ziva antusias.

​Ia bangkit dari ranjang, menuju lemari pakaian. Ziva memilih hoodie hitam oversize, celana legging hitam yang membentuk kakinya yang jenjang, dan sepatu sneakers putih bersih. Ia menyemprotkan parfum beraroma vanila favoritnya dan memoleskan sedikit bedak tipis serta liptint merah alami.

​"Perfect," ucap Ziva sambil mematangi pantulan dirinya di cermin full-body.

​Ting tong!

​Bel apartemen berbunyi. Ziva segera menyambar tas kecilnya dan membuka pintu. Karlota sudah berdiri di sana dengan ekspresi kesal, mengenakan hoodie cokelat.

​"Buset, lo lama bener sih! Lumutan gue nunggu di bawah, mana lo nggak keluar-keluar lagi," keluh Karlota.

​"Ya, sorry. Gue ini lagi berusaha tampil perfect biar pas di sana aura subuh gue itu terpancar menyilaukan mata, siapa tahu dapet gebetan. Sesekali gue mau ngerasain punya cowok gimana, ye kan?"

​"Halu lo! Udah buruan, nanti keburu mulai," Karlota menarik lengan Ziva menuju lift.

​Setibanya di lokasi, Ziva langsung membulat matanya. Area jalanan yang biasanya sepi kini penuh sesak oleh manusia, mayoritas remaja seusia mereka. Deru mesin motor yang meraung-raung menjadi musik latar yang membakar semangat. Ini adalah ajang balapan liar yang cukup prestisius di kalangan mereka.

​"Wow, rame bener ya, Kar! Ini lebih rame dari tahun lalu," ujar Ziva sambil turun dari mobil Karlota.

​"Iya, katanya sih King Racing sudah pulang dan bakal ikut balapan ini," Karlota memberitahu.

​"King Racing?" Ziva mengernyit. "Siapa itu?"

​"He'em, tadi Bang Dipo bilang gitu ke gue. Tapi gue juga nggak pernah tahu mana orangnya, wajahnya aja gue nggak tahu. Dia legendaris di sini."

​"Emangnya tuh King Racing habis menjelajahi gua mana kok baru pulang?"

​"Anjir, bukan gua, oge! Ya mana gue tahu, emangnya gue emaknya?" sahut Karlota sewot. "Udah lah, yuk samperin Bang Dipo saja, gue juga penasaran."

​Mereka berjalan membelah kerumunan menuju arah Dipo, sang panitia sekaligus koordinator balapan. Dipo adalah sosok kakak angkat bagi Ziva dan Karlota. Pria itu selalu menjaga mereka di jalanan.

​"Hey, Bang!" sapa Ziva pada Dipo yang tengah mendata peserta.

​"Eh, Dek! Udah sampai aja lo," ucap Dipo sambil tersenyum. Tangannya bergerak gemas mengusap puncak kepala Ziva dan Karlota secara bergantian.

​"Aaarggg, Ziva kangen banget sama Abang!" rengek Ziva sambil memeluk Dipo erat. Ia tidak peduli jika orang-orang di sekitar menatapnya heran.

​"Abang juga kangen banget sama adek nakal Abang ini," balas Dipo seraya membalas pelukan Ziva.

​"Ya elah, nggak malu apa? Tuh liat semua orang pada natap kalian berdua. Udah kayak anak bocah TK aja," sindir Karlota meski dalam hati ia juga merasa senang.

​"Iri bilang bos!" ejek Ziva.

​"Gue? Iri sama manusia kerdil kayak lo? Sorry ya, nggak level," Karlota mengibaskan tangannya ke udara.

​"Abang, liat Karlota! Dia ngatain aku kerdil!" adu Ziva dengan nada manja yang dibuat-buat.

​Dipo terkekeh. "Karlota, jangan gitu dong."

​Ziva melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Dipo. Dengan tinggi 156 cm, Ziva memang harus bersusah payah jika ingin menatap wajah Dipo yang setinggi 170 cm itu.

​"Abang, kok tumben ini balapannya rame banget? Padahal belum jam sembilan," tanya Ziva. Kapasitas otaknya yang menurutnya cuma 1 GB itu memang sering lambat memproses info.

​"Iya, Dek. Ada sekitar empat kubu geng motor yang ikut, ditambah lagi sama King Racing yang baru pulang."

​Mata Ziva berbinar lagi. "Abang sudah pernah lihat wajah King Racing? Namanya siapa, Bang? Ganteng nggak orangnya? Udah punya pacar atau istri belum, Bang? Bang Dipo, jawab Ziva!"

​Dipo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Astaga, Dek, kamu nanyanya banyak banget. Yang mana dulu yang harus Abang jawab?"

​"Otak lo ini ya, Ziv, cowok mulu isinya," ketus Karlota.

​"Abang jawab aja sih, apa susahnya tinggal jawab kok," Ziva tidak memedulikan Karlota.

​"Kalau masalah pacar, Abang belum pernah lihat. Padahal sudah lima tahun King Racing nggak pernah ikut balapan lagi di sini. Abang kira dia sudah pensiun atau pindah ke luar negeri," jelas Dipo.

​"Lima tahun? Lama juga. Kira-kira dia umur berapa, Bang?"

​"Nggak tahu pasti, tapi setahu Abang dia masih SMA, mungkin seangkatan kalian tapi beda sekolah."

​"Wow, SMA, Kar! Eh, gue mau ikut balapan juga deh, Bang. Daftarin gue, ya!" ucap Ziva antusias.

​"NO!" teriak Karlota dan Dipo secara bersamaan.

​Ziva terlonjak kaget. "Loh, kenapa? Gue kan sudah lama nggak ikut balapan lagi. Gue rindu aspal!"

​"Gue nggak izinin ya, Ziv! Lawan lo kali ini bukan kaleng-kaleng. Ini sekelas King Racing, Ziva! Gue nggak mau lo kenapa-kenapa," Karlota menatap Ziva dengan tatapan khawatir yang serius.

​"Bener yang dibilang Karlota, Dek. Kali ini saja Abang mohon, jangan ikut dulu. Lawan kamu bukan orang biasa. Kamu bisa ikut balapan di hari lain, bukan yang sekarang," tambah Dipo tegas.

​"Aaa, kalian mah pelit banget sih!" Ziva memanyunkan bibirnya, merajuk.

​"Ingat tujuan kita ke sini buat nonton, bukan buat cari maut, oge!" Karlota mengingatkan.

​Ziva menghela napas pasrah. Ia bersandar pada motor besar milik Dipo dengan wajah cemberut. Namun, suasana hatinya berubah 180 derajat saat matanya menangkap sosok pemuda di kejauhan.

​"Gila! Kar, Kar, liat noh! Ganteng banget nggak sih?" Ziva mendadak heboh sambil menarik-narik ujung hoodie Karlota.

​"Apaan sih, Ziv?" Karlota risih karena hampir terjungkal.

​"Kar, lo liat noh! Cowok yang duduk di atas motor ninja hitam, pake kaus hitam. Auranya... gila, ganteng banget! Uhhhh!" Ziva tampak seperti cacing kepanasan.

​Karlota dan Dipo serentak mengikuti arah telunjuk Ziva. Mereka melihat seorang pemuda bertubuh tegap dengan rahang tegas yang sedang tertawa bersama kawan-kawannya. Memang tampan, namun bagi Karlota dan Dipo, reaksi Ziva selalu berlebihan.

​"Ck, gitu doang. Abang masih lebih ganteng dari dia," protes Dipo tak terima. Sebagai kakak, ia merasa harga dirinya sedikit terusik jika adiknya memuji laki-laki lain secara frontal di depannya.

​Ziva sama sekali tidak mendengarkan. Ia seolah tersihir. Namanya Mahendra, meski Ziva belum mengetahuinya saat itu. Pemuda itu memiliki karisma yang berbeda. Saat Mahendra tertawa, Ziva merasa "Aura Subuh" yang ia banggakan tadi mendadak tersambar petir asmara.

​Tiba-tiba, tanpa rasa malu sedikit pun, Ziva mulai menggumamkan nada, lalu suaranya mengeras memenuhi area sekitar Dipo berada.

​"Aduh, Mamae, ada cowok baju hitam..."

"Bikin saya terpana..."

"Lihat dia pu senyuman, bikin hati tergoda..."

​Suara Ziva yang cempreng namun penuh percaya diri mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Karlota sudah menutupi wajahnya dengan telapak tangan, sementara Dipo pura-pura sibuk memeriksa daftar peserta lagi.

​"Mau tanya-tanya, dia siapa yang punya?"

"Siapa tahu belum ada, kita mau masuk tengah..."

"Sayang, ko sungguh manis, bikin sa tertarik..."

​Ziva terus bernyanyi sambil sedikit bergoyang mengikuti irama lagu viral itu. Ia bahkan sempat melambaikan tangan ke arah Mahendra yang berada beberapa meter di depannya, meski pemuda itu tampaknya belum menyadari siapa yang sedang membuat kegaduhan.

​"Bolehkah aku kenalan denganmu?"

"Bolehkah aku mencoba dekati kamu?"

"Sudah lama tak ada yang memeluk..."

"Memeluk badan ini, kesepian sendiri..."

​"Ziva, berhenti! Malu-maluin banget, sumpah!" bisik Karlota dengan wajah merah padam karena menanggung malu.

​Ziva tetap tidak peduli. Ia justru semakin bersemangat saat sampai di bagian akhir lagu versinya sendiri.

​"Sudah lama tak ada yang menggenggam..."

"Menggenggam tangan ini, kedinginan sendiri..."

"Pingin gue cipok, cipok selalu, emmuachhh!"

​Ziva menutup nyanyiannya dengan gerakan memberikan ciuman jauh (flying kiss) ke arah kerumunan di depan sana. Sontak, beberapa orang yang mendengar tertawa terbahak-bahak, sementara beberapa lainnya menatap Ziva dengan pandangan 'kasihan-gadis-cantik-ini-agaknya-kurang-waras'.

​Karlota dan Dipo benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Punya teman dan adik seperti Ziva memang harus memiliki stok sabar dan urat malu yang sudah putus. Ziva sendiri? Ia hanya nyengir lebar, merasa puas telah mengekspresikan kekagumannya. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dijalani dengan rasa malu, apalagi jika ada pemandangan seindah cowok berbaju hitam itu di depan mata.

​Tanpa Ziva sadari, di kejauhan sana, pemuda berbaju hitam yang dipuji-pujinya itu sempat menoleh sebentar ke arah sumber suara, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyum yang nanti akan mengubah hidup Ziva selamanya. Namun untuk sekarang, Ziva hanya tahu satu hal: malam minggunya tidak lagi membosankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!