NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Aris

Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden kamar 302, menyapu wajah Rania yang masih terlelap dalam pengaruh obat penguat kandungan. Aris, yang sepanjang malam tidak memejamkan mata, berdiri di dekat jendela. Matanya yang merah menatap kosong ke arah deretan ambulans di parkiran bawah. Setiap embusan napas Rania yang teratur adalah satu-satunya irama yang menenangkan badai di kepalanya.

Pukul tujuh pagi, suara langkah kaki yang berat terdengar di lorong. Bapak Suprapto dan Ibu Lastri datang membawa tas berisi pakaian ganti dan rantang makanan. Wajah mereka tampak lebih tegar meski gurat kesedihan tidak bisa disembunyikan. Aris segera menyambut mereka di depan pintu, memberikan ruang bagi Ibu Lastri untuk langsung menghampiri Rania dan mencium keningnya dengan penuh kasih.

"Biarkan dia istirahat dulu, Bu," bisik Aris.

Bapak Suprapto memberikan isyarat kepada Aris untuk bicara di luar. Mereka berjalan menuju bangku panjang di ujung koridor yang sepi. Udara pagi itu terasa dingin, namun pembicaraan yang akan mereka lalui jauh lebih membeku.

"Aris," buka Bapak Suprapto dengan suara rendah namun berwibawa. Pria tua itu menumpukan kedua tangannya di atas lutut yang gemetar. "Bapak sudah berpikir semalaman. Bapak tidak mau Rania kembali ke kantor itu. Tidak akan pernah."

Aris mengangguk pelan. "Saya setuju, Pak. Tekanannya terlalu besar untuk kondisi Rania saat ini."

"Bukan cuma itu," Bapak Suprapto menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit rumah sakit. "Kantor itu... itu adalah sumber penderitaan menantuku sekarang. Damar sudah merusaknya. Jika kita terus memaksakan kantor itu tegak, Rania akan terus teringat pada pengkhianatan ini. Bapak ingin kantor itu ditutup. Sekarang juga."

Aris tertegun sejenak. Menutup perusahaan sebesar PT Bangun Sejahtera bukanlah perkara mudah. Ada kontrak yang harus diputus, denda yang harus dibayar, dan pesangon karyawan yang jumlahnya tidak sedikit.

"Pak, menutup kantor itu artinya kita harus menyelesaikan semua kewajiban finansial secara instan. Dendanya miliaran," Aris mencoba menjelaskan realita hukumnya.

Bapak Suprapto menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad. "Bapak punya sedikit tabungan di kampung, Ris. Dan Bapak sudah bicara dengan Ibu. Kami akan menjual semua tanah dan sawah kami di Semarang. Semuanya. Kami tidak butuh harta itu di masa tua jika menantu dan calon cucu kami menderita. Kami hanya ingin fokus merawat Rania. Uang bisa dicari, sawah bisa dibeli lagi, tapi nyawa Rania dan anak itu... tidak ada gantinya."

Mendengar ketulusan pria tua itu, Aris merasa tenggorokannya tercekat. Ia melihat betapa besar cinta keluarga angkat Damar kepada Rania—seorang wanita yang secara darah tidak memiliki hubungan dengan mereka, namun dijaga melebihi nyawa sendiri.

"Pak," Aris memegang bahu Bapak Suprapto dengan mantap. "Bapak simpan tanah dan sawah itu. Jangan dijual. Itu adalah pegangan Bapak dan Ibu di masa tua."

"Tapi, Ris, denda itu..."

"Biar Aris yang urus semuanya," potong Aris dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Aris punya tabungan, Pak. Jumlahnya cukup untuk menutup semua lubang yang dibuat Damar. Aris tidak punya keluarga lain selain Rania. Uang itu memang Aris kumpulkan selama bertahun-tahun untuk masa depan... dan masa depan Aris adalah memastikan Rania bahagia."

Bapak Suprapto terperangah. "Miliaran, Ris? Kamu itu polisi, dari mana uang sebanyak itu?"

Aris tersenyum tipis, sebuah senyum pahit. "Bapak lupa kalau Aris juga punya warisan dari orang tua angkat Aris yang pengusaha? Dan selama ini Aris tidak pernah belanja apa pun. Aris hidup seperti bujangan yang medit karena Aris hanya butuh uang itu untuk keadaan darurat Rania. Dan inilah saatnya."

Mereka berdua sepakat dalam musyawarah sunyi itu. Tanpa meminta persetujuan Rania—karena mereka tahu Rania pasti akan menolak demi harga dirinya—keputusan besar diambil. Kantor itu harus mati agar Rania bisa tetap hidup.

Siang harinya, Aris meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Rania dijaga ketat oleh Ibu Lastri. Ia tidak memacu motornya pulang untuk istirahat, melainkan menuju sebuah firma hukum di kawasan SCBD milik Bayu, teman masa sekolahnya yang kini menjadi pengacara litigasi papan atas.

"Kau gila, Ris?" Bayu meletakkan bolpoin emasnya setelah mendengar penjelasan Aris. "Kau mau melikuidasi seluruh tabunganmu, deposito, bahkan menjual apartemenmu hanya untuk menutup utang perusahaan pria yang mencampakkan sahabatmu? Itu namanya bunuh diri finansial!"

Aris duduk di depan meja kerja Bayu yang mewah, wajahnya tampak sangat tenang, ketenangan seorang pria yang sudah tidak memiliki beban apa pun di pundaknya.

"Aku tidak butuh apartemen itu, Bay. Aku bisa tinggal di asrama polsek kalau perlu. Yang aku butuhkan adalah Rania tidak pernah lagi melihat wajah Pak Broto yang marah-marah, atau staf-staf serakah yang menagih pesangon di depan wajahnya yang pucat. Aku ingin semua kontrak itu diputus secara terhormat. Bayar semua dendanya, bayar semua gajinya, lalu kunci pintu kantor itu selamanya."

Bayu menggelengkan kepala, tak habis pikir. "Kau benar-benar mencintainya sampai ke tahap ini, ya? Bahkan saat dia hamil anak pria lain?"

Aris menatap tajam ke arah Bayu. "Anak itu adalah anak Rania. Itu saja yang penting bagiku. Sekarang, urus administrasinya. Aku sudah membawa semua dokumen kepemilikan asetku. Jual semuanya secara cepat, aku tidak peduli jika harganya jatuh sedikit. Yang penting minggu ini semua cek ganti rugi sudah bisa dikirimkan ke vendor dan klien."

Setelah berjam-jam berkutat dengan dokumen hukum dan pemindahan aset, Aris keluar dari kantor Bayu dengan perasaan yang anehnya sangat ringan. Secara materi, ia kini hampir tidak memiliki apa-apa lagi selain seragam di badan dan motor tuanya. Namun di dalam hatinya, ia merasa seperti pahlawan yang baru saja menebus tawanan.

Ia kemudian melajukan motornya menuju kantor PT Bangun Sejahtera. Ia tidak lagi datang sebagai sahabat Rania, melainkan sebagai "wakil keluarga" yang membawa vonis akhir.

Setibanya di sana, suasana kantor masih sama kacaunya dengan kemarin. Faisal dan beberapa staf lainnya sedang berkumpul di lobi, tampak sedang merencanakan sesuatu. Begitu Aris masuk dengan seragam polisinya—yang ia sengaja kenakan untuk memberikan efek psikologis—suasana mendadak hening.

"Mana Pak Heru?" suara Aris menggelegar di lobi yang sunyi itu.

Pak Heru keluar dari ruangannya dengan wajah lesu. "Ada apa lagi, Pak Aris? Ibu Rania masih di rumah sakit, kan?"

"Kumpulkan semua staf di ruang rapat sekarang," perintah Aris dingin.

Di ruang rapat yang sama tempat Rania pingsan kemarin, Aris berdiri di ujung meja. Ia meletakkan sebuah map hitam yang berisi pernyataan hukum yang baru saja ia buat bersama Bayu.

"Dengarkan baik-baik," Aris menatap satu per satu staf senior itu dengan tatapan mengancam. "Mulai hari ini, PT Bangun Sejahtera dinyatakan dalam proses likuidasi sukarela. Kantor ini ditutup. Semua operasional dihentikan."

Gumam kaget memenuhi ruangan. Faisal langsung berdiri. "Lalu bagaimana dengan gaji kami? Kami akan lapor—"

"Diam!" Aris memukul meja dengan keras, membuat Faisal terlonjak duduk. "Pengacara keluarga sudah menyiapkan semua cek. Gaji bulan ini dibayar penuh. Pesangon dibayar sesuai undang-undang, bahkan kami tambahkan bonus satu bulan gaji bagi kalian yang tidak banyak bicara. Cek itu akan dikirimkan ke alamat kalian masing-masing lusa, setelah audit internal selesai."

Aris kemudian menoleh ke arah Pak Heru. "Untuk klien, sampaikan bahwa denda wanprestasi akan dibayar tunai. Tidak ada lagi tuntutan hukum. Tapi, sampaikan juga pada mereka... jika ada satu saja dari mereka yang berani menghubungi Rania lagi atau datang ke rumahnya, mereka akan berurusan dengan saya secara pribadi di kantor polisi. Mengerti?"

Ketegasan Aris membuat semua orang di ruangan itu tertunduk. Aura otoritasnya sebagai perwira kriminal keluar sepenuhnya. Orang-orang yang kemarin mengeroyok Rania dengan kata-kata kasar, kini hanya bisa terdiam melihat kekuatan yang berdiri di belakang wanita itu.

Setelah membubarkan rapat, Aris berdiri sendirian di ruangan itu. Ia mengamati kursi tempat Rania pingsan. Ia membayangkan betapa takutnya Rania saat itu, dikelilingi oleh serigala-serigala yang hanya peduli pada uang.

"Selesai, Ran," bisiknya. "Tidak akan ada lagi yang menyakitimu dari tempat ini."

Aris keluar dari gedung itu dengan langkah mantap. Ia merasa lega karena telah membersihkan jalan bagi Rania. Ia tidak peduli jika tabungannya ludes. Baginya, uang bisa dicari lagi dengan mengambil lembur atau tugas-tugas lapangan yang berisiko tinggi. Namun, ketenangan pikiran Rania adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Sambil menghidupkan mesin motornya, Aris melihat ke arah langit yang mulai berubah jingga. Perjuangannya hari ini telah menguras energinya, namun ia merasa puas. Ia telah membuktikan sumpahnya untuk menjadi perisai.

Ia melaju kembali menuju rumah sakit. Di tengah jalan, ia mampir ke toko buah, membeli keranjang buah terbaik untuk Rania. Ia tahu Rania akan marah jika tahu apa yang ia lakukan. Rania adalah wanita yang mandiri dan tidak suka berutang budi. Namun Aris sudah menyiapkan jawaban. Ia akan mengatakan bahwa itu adalah hasil negosiasi dengan aset kantor yang tersisa, atau bantuan dari orang tua Damar.

Aris tidak butuh pengakuan. Ia tidak butuh Rania tahu bahwa setiap rupiah yang ia keluarkan adalah wujud dari cintanya yang tak bersyarat. Baginya, melihat Rania bisa tersenyum lagi tanpa beban denda miliaran adalah upah yang lebih dari cukup.

Sesampainya di rumah sakit, ia melihat Ibu Lastri sedang menyuapi Rania buah jeruk. Rania tampak sedikit lebih segar, meski masih sangat pucat.

"Aris... kau dari mana saja?" tanya Rania lemah saat melihatnya masuk.

Aris tersenyum hangat, menyembunyikan lelah di matanya. "Hanya mengurus beberapa hal kecil di kantor, Ran. Semuanya sudah beres. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang Faisal atau klien-klien itu. Mereka sudah setuju untuk menempuh jalan damai."

Rania menatap Aris dengan penuh selidik. "Bagaimana bisa? Kita tidak punya uang sebanyak itu, Ris."

"Pak Heru menemukan cadangan dana dari piutang lama yang baru cair," Aris berbohong dengan lancar, sebuah keahlian yang ia asah di ruang interogasi. "Cukup untuk menenangkan mereka. Sekarang, tugasmu cuma satu: cepat sembuh dan jaga keponakanku ini."

Rania menghela napas lega, sebuah beban besar tampak terangkat dari bahunya. Ia menggenggam tangan Aris. "Terima kasih, Ris. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu."

Aris hanya mengangguk, membiarkan tangannya digenggam oleh Rania. Di dalam hatinya, ia berbisik: Kau tidak akan pernah tahu seberapa jauh aku akan melangkah untukmu, Rania. Bahkan jika aku harus jatuh miskin sekalipun, selama kau aman, aku adalah pria paling kaya di dunia.

Malam itu, di bawah lampu kamar rumah sakit yang temaram, Aris duduk kembali di kursinya, menjaga Rania yang mulai tertidur pulas. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang kini tidak lagi memegang aset properti atau tabungan besar, namun tangan yang merasa bangga karena telah berhasil melindungi jantung hatinya.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!