Aditya permana, dokter muda yang terpaksa harus kehilangan cintanya, lantaran kekasihnya yang bernama Nadia mahardika, menikah dengan ayahnya sendiri, tanpa sepengetahuannya. Hubungan yang tidak harmonis antara Adit dan ayahnya, semakin memanas ketika mengetahui kekasihnya menjadi ibu tirinya. Sejak kematian ibunya, hanya Nadia lah tempatnya mengadu.
Suatu ketika, pertemuan tidak sengaja Aditya dan Alexa terjadi, Alexa bekerja di bawah tanggung jawab Aditya, Aditya yang selalu bersikap dingin, suatu saat menjadi luluh dan mulai mencintai Alexa.
Tapi sebuah teror melanda, Aditya harus bekerja keras bersama Rangga, sahabatnya untuk dapat mengungkap sang peneror.
Hingga sebuah insiden terjadi, membuat Aditya harus kembali hancur untuk kedua kalinya, tapi sebagai seorang dokter, Aditya harus profesional dalam pekerjaannya, di tengah kesibukannya, Aditya tetap menjalankan misinya untuk mengungkap pelaku kejahatan itu.
Lalu bagaimana setelah itu?
Siapakah sang peneror sebenarnya?
Dan ada motif apa dibaliknya?
yuk baca kelanjutan ceritanya.
beri dukungan untuk author ya, terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Dini Thamara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman pertama.
Setelah keluar dari restoran, Alexa segera masuk ke dalam mobil Adit dan duduk di samping kursi kemudi.
Adit yang juga sudah keluar dari restoran segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Hei tuan, apa kau mau mati?" Alexa sedikit berteriak karena ketakutan.
"Biarlah, kita akan mati bersama" jawab Adit.
"Hah? apa kau sudah gila?! turunkan aku disini!" Alexa terlihat marah. Tapi Adit tetap melajukan kendaraannya.
"Tuan, berhenti! atau aku akan lompat!" Alexa sedikit mengancam.
Mendengar ancaman Alexa, Adit segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, Alexa segera keluar dari mobil dengan wajah yang marah.
"Hei kau mau kemana?!" teriak Adit. Tapi Alexa tidak menghiraukannya.
Alexa terus berjalan menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri, hingga tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi datang hampir menabrak Alexa.
Adit yang melihat hal itu, segera menarik tangan Alexa dan membuat tubuhnya bersandar pada dinding toko yang ada di sepanjang jalan itu.
Alexa sangat terkejut, jantungnya berdebar kencang, matanya terpejam karena ketakutan.
"Kau sudah aman" ucap Adit.
Alexa membuka matanya, dan melihat Adit yang sudah berdiri di hadapannya, karena masih kesal, Alexa mencoba pergi, tapi tangan Adit menghalanginya.
"Kau mau kemana?" ucap Adit mendekatkan wajahnya.
"Emhh.. aku harus pulang" jawab Alexa gugup.
"Apa yang membuatmu kesal kepadaku? kenapa kau menghindariku?" tanya Adit lirih.
"Tidak, aku tidak menghindarimu" Alexa masih gugup.
Adit semakin mendekatkan wajahnya, membuat jarak hanya satu inchi dengan wajah Alexa.
"Ka-kau, mau apa?" Alexa semakin gugup.
"Kau cemburu kan melihatku bersama wanita lain?" Adit berbisik.
Alexa hanya diam seribu bahasa, dia tidak menyangka Adit akan berkata begitu kepadanya.
"Kau tidak usah cemburu, wanita itu hanya masa laluku, dia sudah tidak ada artinya bagiku" Adit menjelaskan.
Alexa semakin gugup, nafas Adit semakin terasa di wajahnya, wajah tampannya tampak jelas di mata Alexa.
Adit semakin mendekat, hingga akhirnya Adit mendaratkan bibirnya di bibir merah Alexa.
Alexa membelalakan matanya, dia benar-benar tidak menyangka, seorang Aditnya permana saat ini tengah menciumnya.
Suasana malam yang dingin dan sepi, membuat keromantisan tersendiri untuk mereka.
Adit semakin menikmati ciuman itu, begitu pun Alexa, ini adalah ciuman pertama baginya.
Tiba-tiba...
Sebuah sorotan lampu mobil membuyarkan suasana romantis itu, Adit melepaskan ciumannya dan Alexa mengelap bibirnya.
"Hei Dit, sedang apa kalian?" Ternyata itu adalah Rangga.
"Hmh, kami habis makan malam, mobil ku mogok" jawab Adit berbohong.
"Hah, payah sekali, membawa gadis tapi mobilmu mogok" Rangga sedikit mengejek.
"Hah diamlah, mana aku tahu kalau kejadiannya akan seperti ini"
"Haha.. baiklah tuan muda, jangan marah, ayo masuklah, biar aku antar kalian!"
"Alexa ikutlah dengan Rangga!" Adit menatap Alexa.
"Tidak usah tuan, aku datang denganmu, aku juga akan pulang denganmu" jawab Alexa.
"Haha.. so sweet sekali, jadi mau aku antar atau tidak?" Rangga kembali menawarkan tumpangan.
"Tidak usah, kau pergi sana!" Adit mengusir Rangga.
"Hmm.. baiklah kalau begitu, hati-hati ya, jaga Alexa baik-baik hihi" Rangga pergi meninggalkan mereka.
Adit menendang batu di depannya seolah akan mengenai Rangga dan tersenyum.
"Baiklah, ayo masuk ke dalam mobil"
Adit membukakan pintu untuk Alexa, Alexa segera masuk begitupun Adit.
Dertt... dertt... dertt...
"Kenapa dengan mobil ini?" Adit mencoba menyalakan mobilnya.
"Mungkin mobil ini marah, karena kau bilang dia mogok" ucap Alexa di tambah senyuman di wajahnya.
"Aku periksa dulu" Adit keluar dan membuka bagian depan mobilnya.
Tapi Adit tidak melakukan apa-apa, dia hanya memandang apa mesin mobilnya, Alexa yang melihat Adit hanya diam, ikut keluar dari mobil dan mendekatinya.
"Apa yang rusak?"
"Entahlah"
"Apa kau tidak memeriksanya?"
"Mana aku tahu, aku tidak mengerti soal mesin" Adit sedikit kesal.
Alexa melongo mendengar kata-kata Adit, dia menutup mulutnya dan tertawa.
"Kenapa kau tertawa? apa kau mengerti soal mesin?"
"Tidak, aku hanya merasa geli saja, kau pura-pura memperbaikinya padahal kau tidak mengerti apa-apa"
"Hah, sudahlah" Adit kesal dan menutup mobilnya.
Alexa masih tertawa sambil bersandar di depan mobil Adit, Adit yang melihat tawa Alexa malah ikut tertawa.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada mata yang sedang memperhatikan mereka.
Mereka semakin dekat, tapi kedekatan mereka akan segera kuhancurkan.
*****
"Hmm.. udara malam ini sangat segar" ucap Alexa.
"Iya, dan sangat romantis" jawab Adit.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki, kedua tangan mereka saling bergandengan.
Sesekali mereka bercanda di tengah jalan, suasana romantis kembali mereka rasakan setelah tertunda karena gangguan Rangga yang datang tiba-tiba.
Setelah satu jam berjalan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Alexa, Adit segera berpamitan dan pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki.
Tidak terasa, Adit sudah sampai di rumahnya, belum sempat menekan bell, pintu rumah sudah terbuka, dan berdiri di hadapannya ibu tirinya, Nadia.
"Wajahmu berseri sekali, apa kau habis memenangkan undian?" ucap Nadia.
Wajah bahagia Adit berubah masam saat mendengar kata-kata Nadia.
Adit mencoba tidak menghiraukan Nadia, dan melangkahkan kakinya menuju lift.
"Dit, maafkan aku" ucap Nadia.
Adit membalik badan dan menatap Nadia yang kini berjalan mendekatinya.
"Maafkan aku karena tadi di restoran, aku mengganggu kencan kalian" ucap Nadia lirih.
Adit tersenyum sinis.
"Iya, kau memang sangat menggangguku, kalau bisa kau enyahlah dari kehidupanku" ucap Adit menekankan suaranya.
"Jadi, kau sudah benar-benar tidak mencintaiku?"
"Hmh.. Cinta? apa itu cinta? aku tidak perlu cinta yang hanya bisa di ucapkan tapi tak bisa mempertahankan"
"Asal kau tahu Dit, aku menikah dengan ayahmu karena sebuah kesalahan, bukan karena aku ingin meninggalkanmu"
Adit mengeryitkan dahinya, Nadia kembali menceritakan semua tentang pernikahannya dengan Brata.
Adit hanya terdiam dan mendengar cerita Nadia.
"Sekarang kau faham kan Dit? aku harap kau tidak membenciku lagi" Nadia semakin mendekat dan memegang tangan Adit.
"Aku mohon Dit, maafkanlah aku, aku masih mencintaimu" Nadia memeluk Adit yang masih terdiam tanpa kata.
Nadia menangis dalam pelukan itu.
"Hm.. sudah malam, kau tidurlah" ucap Adit sambil melepaskan pelukan Nadia.
"Tapi, apa kau mau memaafkanku?" Nadia semakin memelas.
"Aku akan fikirkan, kau tidurlah"
"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku" Nadia tersenyum memperlihatkan wajah cantiknya kepada Adit, dia kembali ke kamarnya dan meninggalkan Adit sendiri.
Adit yang masih terlihat bingung dengan cerita Nadia, mencoba memahami setiap kata-katanya.
Dia segera masuk ke dalam lift menuju kamarnya yang berada di lantai 3 rumah itu. Adit berbaring di atas tempat tidurnya, tidak lama ponselnya bergetar, dia melihat sebuah pesan dari Alexa.
Selamat tidur tuan muda, semoga kau bermimpi indah, besok kita akan bertemu di rumah sakit. bye
Adit tersenyum melihat pesan itu, dia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur, tidak terasa matanya terlelap dalam tidurnya.
feedback nya ya kk
SIMPANAN OM AROGAN
jangan lupa mampir semua
CUKUP! Aku Dan Anakku
Semangat