Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Boikot Dapur dan Pesta Sambal Terasi
Pagi pertama tanpa Jenderal Arga rasanya seperti hari pertama liburan sekolah.
Aku terbangun dengan perasaan ringan yang luar biasa. Tidak ada ancaman hukuman mati, tidak ada tatapan dingin yang mengawasi setiap gerak-gerikku, dan yang paling penting: tidak ada kewajiban bangun subuh untuk menyambut suami.
"Merdeka!" teriakku pelan sambil merentangkan tangan di atas kasur.
Aku bangkit, mencuci muka, dan bersiap menuju "kantor" baruku: Dapur Utama.
Rencanaku hari ini sederhana. Aku ingin membuat sarapan enak untuk diriku sendiri—mungkin Nasi Uduk atau Lontong Sayur—lalu bersantai seharian sambil maskeran pakai putih telur.
Namun, begitu aku melangkah masuk ke dapur, atmosfernya terasa salah.
Sangat salah.
Dapur sepi. Tidak ada bunyi pisau beradu dengan talenan. Tidak ada api yang menyala di tungku.
Mbok Darmi dan Sari berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat pasi, menunduk dalam-dalam.
"Selamat pagi," sapaku ceria. "Kenapa sepi? Mana bahan makanan? Aku mau masak Nasi Uduk."
Mbok Darmi gemetar. Dia tidak berani menatap mataku.
"Ampun, Nyonya... Bahan makanan... tidak ada."
"Tidak ada?" Aku mengernyit. "Kemarin kulihat di gudang masih ada dua karung beras dan sisa daging."
"Diambil... Nyonya," cicit Sari pelan.
"Diambil siapa? Maling?"
"Bukan. Diambil oleh... pelayan dari Paviliun Teratai Putih."
Darahku mendidih seketika.
Paviliun Teratai Putih. Tempat tinggal Laras.
Sari memberanikan diri melanjutkan, "Pagi ini, kepala pelayan Nona Laras datang. Dia bilang... karena Jenderal Arga sedang pergi perang, Nona Laras yang memegang kendali keuangan rumah tangga."
"Lalu?" desakku.
"Lalu... Nona Laras memerintahkan agar dapur utama ditutup untuk penghematan. Katanya... katanya Nyonya Tantri sedang dalam masa hukuman kurungan, jadi tidak pantas makan enak. Semua bahan makanan dipindahkan ke dapur paviliun Nona Laras."
Aku tertawa. Tawa yang kering dan dingin.
Penghematan?
Alasan macam apa itu? Arga adalah Jenderal Besar, kekayaannya mungkin bisa membeli satu pulau. Dia tidak akan miskin hanya karena istrinya makan nasi uduk.
Ini jelas bukan soal uang. Ini soal kekuasaan. Laras ingin menunjukkan siapa Bos di rumah ini saat Arga tidak ada. Dia ingin membuatku kelaparan dan memelas minta makan padanya.
"Jadi, apa yang tersisa di sini?" tanyaku sambil berjalan memeriksa keranjang.
Kosong.
Daging? Nol.
Telur? Nol.
Beras? Hanya ada sisa menir (beras patah-patah sisa ayakan) di dasar gentong yang bau apek.
Sayuran? Hanya ada beberapa ikat bayam yang sudah layu dan menguning.
Laras benar-benar ingin aku makan sampah.
Mbok Darmi mulai menangis. "Maafkan kami, Nyonya. Kami tidak berdaya. Nona Laras mengancam akan memecat kami kalau kami memberi Nyonya makanan diam-diam."
Aku menatap wajah-wajah ketakutan itu. Mereka orang kecil. Mereka butuh pekerjaan ini. Aku tidak bisa menyalahkan mereka.
"Jangan menangis, Mbok," kataku tenang. "Hapus air matamu. Di kamus Chef Kirana, tidak ada kata mati kelaparan selama masih ada tanah dan air."
Aku berjalan keluar dapur, menuju ke halaman belakang.
Di belakang dapur, ada kebun liar yang berbatasan langsung dengan sungai kecil. Laras mungkin bisa menyita gudang makanan, tapi dia tidak bisa menyita alam.
Mataku memindai semak-semak.
Bingo.
Di pinggir sungai, tumbuh subur tanaman hijau yang sering dianggap gulma oleh orang kaya zaman ini, tapi dianggap delicacy (makanan enak) oleh lidah rakyat jelata.
Kangkung Liar.
Batangnya besar-besar, daunnya hijau segar. Jauh lebih segar daripada bayam layu di dapur tadi.
Dan di sudut kebun, ada pohon cabai rawit yang buahnya merah merona, luput dari perhatian pelayan Laras.
Di tanah lembab dekat pohon pisang, aku melihat beberapa Jamur Tiram liar tumbuh di batang kayu lapuk.
"Sari! Ambil keranjang!" perintahku.
"Kita mau apa, Nyonya?"
"Kita mau panen. Hari ini kita pesta Tumis Kangkung Belacan dan Jamur Crispy."
[Satu Jam Kemudian]
Asap kembali mengepul dari dapur utama. Tapi kali ini aromanya berbeda. Bukan aroma daging mewah, melainkan aroma yang menusuk, tajam, dan... sangat menggugah selera.
Aroma Terasi yang dibakar.
Aku sedang mengulek sambal. Cabai rawit, bawang merah, bawang putih, sedikit garam, gula merah, dan terasi udang yang kutemukan terselip di rak bumbu (Laras pasti jijik sama terasi, makanya nggak diambil).
"Mbok Darmi, apinya besarkan!"
"Baik, Nyonya!"
Aku memanaskan wajan besi. Minyak kelapa mendesis.
Aku memasukkan bumbu halus (terasi, bawang, cabai).
SRENGGGG!
Bau pedas dan gurih terasi langsung meledak, memenuhi udara, menyebar keluar jendela, dan—aku yakin—terbawa angin sampai ke hidung mancung Nona Laras.
Aku memasukkan kangkung segar yang baru dipetik. Aduk cepat dengan api besar. Tambahkan sedikit air.
Dalam dua menit, kangkung layu tapi warnanya tetap hijau cerah.
Matang.
Menu kedua: Jamur Goreng Tepung (Crispy Mushroom).
Jamur tiram kucuci bersih, peras airnya, lalu kubalut dengan adonan tepung beras dicampur bawang putih halus dan ketumbar.
Goreng di minyak panas.
Krrriiik... krrriikk...
Suara garingnya terdengar merdu.
Dan menu terakhir: Nasi Menir Liwet.
Beras patah-patah itu kalau dimasak biasa pasti jelek. Jadi aku memasaknya jadi Nasi Liwet. Ditambah serai, daun salam (petik di kebun), dan sedikit minyak bekas goreng ikan asin (nemu satu ekor nyelip di toples).
Hasilnya? Nasi yang wangi, gurih, dan pulen.
"Makan!" seruku pada Mbok Darmi dan Sari.
"T-tapi Nyonya... ini jatah Nyonya..."
"Makan! Aku tidak suka makan sendirian. Lagipula, kita harus menghabiskan ini sebelum 'Tamu Tak Diundang' datang."
Kami pun makan. Duduk melingkar di lantai dapur.
Aku menyuap nasi liwet hangat dengan tangan, mencocol jamur krispi ke sambal terasi, dan melahap tumis kangkung.
Rasanya?
Heavenly.
Kesederhanaan yang hakiki. Pedasnya sambal terasi menampar lidah, jamurnya renyah seperti ayam goreng, dan kangkungnya crunchy.
"Enak, Nyonya! Pedas tapi nagih!" Sari makan sambil kepedesan, keringat bercucuran.
Tepat saat aku sedang menjilati jari, bayangan seseorang menutupi pintu dapur.
"Wah... meriah sekali."
Suara itu lembut, halus, tapi nadanya penuh ejekan.
Laras.
Dia datang dengan gaun sutra warna pastel yang mahal, dikawal dua pelayan pribadinya. Dia menutup hidungnya dengan sapu tangan berenda, seolah bau terasi adalah gas beracun.
"Kak Tantri," Laras tersenyum manis (senyum palsu). "Laras dengar keributan di dapur, Laras kira ada tikus yang masuk. Ternyata Kakak sedang... makan rumput?"
Laras melirik kangkung dan jamur di lantai dengan tatapan jijik.
"Kasihan sekali. Jenderal baru pergi sehari, Kakak sudah jadi pemulung. Kalau Kakak lapar, kenapa tidak minta pada Laras? Di paviliun Laras ada sisa Sup Sirip Hiu."
Mbok Darmi dan Sari langsung berhenti makan, menunduk ketakutan.
Aku? Aku santai saja. Aku menjilat sambal di jempolku, lalu berdiri perlahan.
"Halo, Adikku sayang," sapaku ramah. "Terima kasih tawarannya. Tapi maaf, lidahku alergi makanan hambar. Aku lebih suka makanan yang punya 'karakter'."
"Karakter?" Laras tertawa kecil. "Makanan bau busuk begini kau bilang berkarakter? Kakak, kau ini Putri Raja Selatan. Jaga martabatmu. Makan kangkung liar dan jamur kayu itu makanan kuda."
"Oh ya?"
Aku mengambil sepotong jamur krispi yang masih hangat. Aku berjalan mendekati Laras.
"Kau tahu, Laras? Arga pernah bilang padaku..." (Bohong. Arga nggak pernah ngomong ini).
"...Dia bilang dia bosan dengan makanan istana yang terlalu 'bersih'. Dia merindukan rasa yang membumi. Rasa yang jujur."
Aku mematahkan jamur krispi itu di depan wajah Laras. Krak! Suaranya renyah sekali.
"Kau memboikot bahan makananku, silakan. Kau ambil daging, ambil beras, ambil semuanya. Tapi kau lupa satu hal, Laras."
Aku menatap matanya tajam.
"Koki yang hebat tidak butuh bahan mahal untuk membuat makanan enak. Tapi koki yang bodoh... dikasih daging Wagyu pun bakal dimasak jadi sandal jepit."
Wajah Laras memerah padam. Dia merasa tersindir (padahal dia nggak bisa masak).
"Dan satu lagi," lanjutku, "Bau busuk yang kau bilang ini namanya Terasi. Dan tahukah kau? Arga paling suka makan pakai tangan, berkeringat kepedesan. Sesuatu yang tidak mungkin kau berikan dengan Sup Sirip Hiu-mu yang dingin itu."
Laras menggigit bibir bawahnya. Dia kalah argumen. Dia tidak tahu selera Arga sedetail itu (karena Arga memang jarang makan bersamanya).
"Hmph! Terserah Kakak!" Laras mengibaskan selendangnya. "Makanlah sampah-sampah itu sampai kenyang. Jangan harap aku akan memberimu beras satu butir pun sampai Jenderal pulang!"
Laras berbalik pergi dengan hentakan kaki kesal.
"Sari!" panggilku keras-keras saat Laras belum jauh. "Tutup pintunya! Bau parfum murah bikin nafsu makanku hilang!"
BLAM!
Sari menutup pintu dapur dengan semangat 45.
Kami bertiga di dalam dapur saling pandang.
Hening sejenak.
Lalu...
"BWAHAHAHA!"
Kami tertawa terbahak-bahak. Mbok Darmi sampai memegangi perutnya.
"Nyonya hebat! Wajah Nona Laras tadi merah seperti kepiting rebus!" seru Sari.
"Rasain," kataku puas. "Dia pikir dia bisa bikin gue kelaparan? No way."
Aku kembali duduk menghadapi sisa sambal terasi.
"Ayo habiskan. Besok kita cari menu baru. Aku lihat di kolam teratai Laras ada banyak ikan mas yang gemuk-gemuk."
Mbok Darmi melotot. "Nyonya... itu ikan hias kesayangan Nona Laras..."
"Ikan hias kalau digoreng kering pakai bumbu Pesmol rasanya sama aja kayak ikan mas biasa, Mbok."
Aku menyeringai jahat.
Perang Logistik baru saja dimulai. Dan aku, Kirana, tidak akan main bersih lagi.
Kalau dia main kasar, aku akan main barbar.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal