"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SAINGAN DARI MASA LALU
Dermaga 7 berubah menjadi neraka dalam sekejap. Asap tebal dari bom asap membuat pandangan menjadi abu-abu, namun bagi Gwen, nama yang baru saja diucapkan Elang melalui radio terdengar lebih pekak daripada ledakan mana pun.
Sarah.
Gwen mencengkeram kemudi mobilnya. Matanya pedih, bukan karena asap, tapi karena nada suara Elang yang bergetar. Dia belum pernah mendengar Elang—pria sedingin es itu—tampak begitu rapuh hanya karena sebuah nama.
"Elang! Fokus!" teriak Gwen melalui radio. "Siapa wanita itu? Dia membawa Reno!"
Melalui celah asap, Gwen melihat siluet wanita bernama Sarah itu. Dia tampak sangat tangguh dengan pakaian tempur hitam yang membentuk lekuk tubuhnya. Sarah menarik Reno dengan kasar menuju helikopter yang masih melayang rendah, sementara tangannya yang lain menodongkan senjata ke arah kegelapan—tempat Elang bersembunyi.
"Elang, aku tahu kamu di sana!" suara Sarah melengking di antara deru mesin helikopter. "Sepuluh tahun tidak mengubahmu, ya? Masih suka bersembunyi di balik bayang-bayang!"
Elang, yang berada di atap kontainer, membeku. Jarinya yang berada di pelatuk senapan sniper membatu. Di dalam teleskopnya, wajah Sarah terlihat jelas. Wanita yang ia tangisi selama satu dekade, wanita yang ia kira telah tewas dalam ledakan yang menghancurkan keluarganya, kini berdiri di sana sebagai bagian dari organisasi yang ia benci.
"Sarah... bagaimana mungkin?" bisik Elang pelan.
"Jangan bodoh, Elang!" suara Gwen kembali memecah lamunan Elang melalui earpiece. "Dia akan membawa flashdisk itu pergi! Tembak!"
Namun, Elang tidak menembak. Keraguan itu memberi celah bagi Sarah. Dengan gerakan cepat, Sarah melempar sebuah granat cahaya (flashbang) ke arah posisi Elang.
BOOM!
Cahaya putih membutakan segalanya. Elang terhuyung, menutupi matanya yang perih. Di saat yang sama, Sarah mendorong Reno masuk ke dalam helikopter dan ikut melompat naik.
"Gwen, injak gasnya sekarang! Jangan biarkan helikopter itu naik!" perintah Elang dengan suara parau, mencoba menguasai dirinya kembali.
Gwen tidak menunggu perintah kedua. Dia menginjak pedal gas Bentley-nya hingga menyentuh lantai. Mobil itu melesat membelah asap, menuju landasan dermaga.
"Reno! Turun!" teriak Gwen, meski ia tahu Reno tidak bisa mendengarnya.
Gwen menabrakkan moncong mobilnya ke arah sekoci-sekoci yang menghalangi jalan, menciptakan jalur untuk mengejar helikopter yang mulai terangkat. Namun, Sarah menoleh dari pintu helikopter yang terbuka. Dia menatap mobil Gwen dengan senyum mengejek, lalu mengarahkan laras senjatanya.
DOR! DOR!
Dua peluru menghantam ban depan mobil Gwen. Mobil itu terpelintir hebat, berputar 360 derajat sebelum akhirnya menghantam tumpukan kayu palet dengan keras.
BRAK!
Gwen terhentak. Sabuk pengamannya menahan tubuhnya, tapi kepalanya membentur setir. Pandangannya mengabur. Dalam sisa kesadarannya, ia melihat helikopter itu terbang menjauh, menghilang di balik kegelapan awan malam.
Beberapa saat kemudian, pintu mobil dibuka paksa dari luar. Sosok Elang muncul, wajahnya penuh kecemasan. Dia segera menggendong Gwen keluar dari mobil yang mulai berasap.
"Gwen! Gwen, buka matamu!" Elang menepuk pipi Gwen dengan lembut, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.
Gwen terbatuk, darah mengalir kecil dari pelipisnya. Dia membuka matanya dan langsung menepis tangan Elang. "Kenapa kamu tidak menembak, Elang? Kenapa?!"
Elang terdiam. Dia tidak bisa memberikan jawaban.
"Dia mantan tunanganmu, kan? Wanita yang kamu bilang sudah mati?" Gwen tertawa pedih sambil berusaha berdiri meski kakinya lemas. "Hebat sekali. Kita hampir mendapatkan Proyek Gerhana, tapi kamu melepaskannya hanya karena hantu dari masa lalumu muncul!"
"Gwen, dengarkan aku—"
"Tidak! Kamu yang dengarkan aku!" Gwen menunjuk ke arah langit yang kosong. "Reno pergi membawa kunci untuk menghancurkan Paman Pratama. Dan sekarang, dia bersama wanita itu. Siapa pun dia, dia musuh kita, Elang! Tapi kamu... kamu bahkan tidak bisa menarik pelatukmu!"
Elang mencengkeram tangan Gwen, matanya menatap tajam namun penuh luka. "Dia seharusnya sudah mati, Gwen! Aku melihat rumahnya meledak sepuluh tahun lalu! Aku mencari sisa-sisa tubuhnya selama berbulan-bulan! Bagaimana aku bisa menembak seseorang yang selama ini menjadi alasan aku bertahan hidup?"
Gwen terdiam. Rasa cemburu dan marah bercampur menjadi satu di dadanya. "Jadi, dia adalah alasanmu bertahan hidup? Lalu apa aku? Hanya klien yang memberimu uang?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi sunyi. Elang melepaskan cengkeramannya. Dia memalingkan wajah, tidak mampu menatap mata Gwen yang dipenuhi kekecewaan.
"Kita harus pergi dari sini sebelum polisi datang," ucap Elang dingin, kembali ke mode profesionalnya yang kaku.
Mereka kembali ke safe house dalam keheningan yang menyakitkan. Gwen membersihkan lukanya sendiri di depan cermin, menolak bantuan Elang. Setiap kali ia melihat pantulan dirinya, ia merasa bodoh. Baru saja ia menyerahkan hatinya melalui sebuah ciuman, tapi ternyata ruang di hati Elang sudah penuh dengan kenangan wanita lain.
Elang berdiri di balkon, menatap kegelapan hutan. Dia mengeluarkan sebuah kalung perak usang dari sakunya—sebuah liontin yang berisi foto seorang wanita muda yang tersenyum. Itu Sarah.
Tiba-tiba, ponsel Elang bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat.
Nomor Tak Dikenal: "Dia cantik, Elang. Istri baru si Reno itu. Tapi dia terlalu lemah untukmu. Datanglah ke alamat ini besok malam jika kamu ingin tahu kenapa aku masih hidup. Datang sendiri, atau Nona Adiguna-mu akan menjadi sejarah."
Elang meremas ponselnya. Dia tahu ini jebakan. Tapi dia juga tahu dia tidak punya pilihan.
Di dalam ruangan, Gwen memperhatikan Elang dari balik pintu yang sedikit terbuka. Dia melihat Elang menyimpan kembali liontin itu ke dekat jantungnya. Gwen mengepalkan tangannya.
"Jika kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi ke pelukannya dan menyerahkan segalanya, kamu salah besar, Elang," gumam Gwen dalam hati. "Aku sudah belajar cara berakting buta untuk menang. Dan sekarang, aku akan belajar cara menjadi iblis untuk mempertahankan milikku."
Gwen mengambil ponselnya sendiri, menghubungi asisten barunya yang merupakan seorang ahli intelijen yang diam-diam ia sewa tanpa sepengetahuan Elang.
"Cari tahu semua tentang Sarah. Mantan tunangan Elang. Apa pun hubungannya dengan Organisasi Hitam dan Paman Pratama. Aku ingin datanya besok pagi."
Perang ini bukan lagi hanya soal harta Adiguna. Ini adalah perang tentang siapa yang akan bertahan di samping Elang, dan siapa yang akan musnah dalam bayang-bayang Proyek Gerhana.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia