NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan / Robot AI / Spiritual / Fantasi Wanita
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata

Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja

Bagaimana kisah Sany selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertama part 4

Melihat perempuan itu yang semakin terdesak oleh gerombolan robot, Sany mulai mengangkat tangan kanannya dan mulai menunjuk ke arah robot-robot tersebut satu per satu.

Kini, Sany tidak perlu lagi mengucapkan kata-kata untuk mengaktifkan kemampuannya. Cukup dengan keinginannya saja, setiap robot yang ditunjuk langsung mati dan jatuh ke tanah berlogam.

Seketika beberapa robot jatuh, robot yang tersisa dan perempuan itu menoleh ke arah Sany.

Robot-robot yang mengidentifikasinya sebagai ancaman baru, segera beralih sasaran dan terbang mendekatinya.

Melihat kesempatan ini, perempuan itu segera memanfaatkan momentum untuk melepaskan diri dari kepungan.

Dengan lincah ia melesat meninggalkan arena pertempuran, langsung terbang menuju meriam kolosal yang masih dalam proses pengisian energi.

Meriam kolosal itu bergemuruh, energi biru menyala-nyala di intinya menunjukkan bahwa senjata pemusnah itu hampir mencapai daya tembak maksimalnya.

Saat perempuan itu terbang mendekat, tiba-tiba dari samping muncul kilatan logam yang terlalu cepat untuk dihindari. Membuatnya jatuh ke tanah berlogam, dan pingsan ditempat.

Pemimpin pasukan robot, dengan tubuh yang lebih besar dan bersinar lebih terang dari yang lain, menghantamnya dengan pukulan dahsyat. Perempuan itu terlempar seperti boneka, jatuh tak bergerak di atas permukaan logam.

Namun sebelum pemimpin robot itu bisa menyelesaikan misinya, beberapa robot kuat lainnya tiba-tiba berjatuhan. Pemimpin robot itu berbalik, melihat Sany yang masih berdiri tenang dengan jari terangkat.

Sany dengan tenang mengangkat tangan kanannya. Hanya gerakan jari telunjuk, seluruh pasukan robot kuat terdekatnya mulai terangkat ke udara oleh kemampuan telekinesisnya, lalu dihempaskan dengan keras ke permukaan logam.

Pemimpin robot itu mulai terbang mendekati Sany, ia bersiap untuk pertempuran. Namun, sebelum pertarungan itu dimulai, pemimpin robot itu justru mengeluarkan serangkaian suara elektronik yang terstruktur seperti bahasa robot yang hanya dimengerti oleh sesama mesin.

Dia mengirim sinyal perintah kepada seluruh pasukannya untuk tidak menyerang. Para robot kuat itu patuh, serentak mundur dan memberi jarak antara pemimpin mereka dengan Sany.

Menyadari perubahan situasi ini, Sany memusatkan perhatiannya pada pemimpin robot itu, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Siapa kau? Kenapa ada manusia sekuat ini di sini?" tanya pemimpin robot melalui bahasa mesinnya.

"Tidak usah peduli siapa aku. Kalau aku musuhmu, lawan saja," balas Sany singkat yang tidak berniat berunding dengan musuh.

Melihat sikap Sany yang tidak mau berkompromi, pemimpin robot itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Namun, serangan pertamanya meleset.

Pemimpin robot itu berbalik arah, mencoba lagi dengan segala senjata yang dimilikinya, laser, roket, bahkan pukulan berkecepatan tinggi.

Anehnya, semua serangan itu justru mengenai pasukannya sendiri yang berada di sekeliling mereka.

Sany tetap tak tersentuh.

Pasukan robot terkuatnya tetap utuh karena mereka memang dirancang kebal terhadap serangan fisik yang mengarahnya, termasuk pemimpin robot itu sendiri.

Melihat serangannya yang tidak berguna, pemimpin robot itu tidak menyerah. Tubuh logamnya mulai berubah bentuk, bertransformasi menjadi model robot yang lebih kuat dan jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Tanpa pikir panjang, pemimpin robot itu melancarkan serangan lagi. Kali ini dengan kecepatan yang melebihi cahaya, membuatnya tak terlihat oleh mata.

Namun anehnya, setiap serangan yang diarahkan ke Sany, tidak ada satupun yang mengenai sasaran. Sany masih berdiam di tempatnya, bahkan tidak berusaha menghindar sekalipun.

Merasa pertarungan ini hanya membuang-buang waktu, Sany mulai menggunakan kemampuan yang lain.

Hanya dengan keinginannya, tubuh pemimpin robot tiba-tiba mulai melukai dirinya sendiri, sebelum terjun bebas dan menghantam permukaan logam dengan keras.

Melihat pemimpin mereka jatuh, pasukan robot yang tersisa mulai terbang mendekati Sany.

Namun, Sany justru menyadari sesuatu yang lebih penting. Matanya tertuju pada meriam kolosal yang kini sudah sepenuhnya terisi energi. Pancaran laser raksasa mulai ditembakkan dari meriam itu.

Tepat sebelum laser menghancurkan segalanya, Sany dengan tenang mengangkat tangannya. Laser raksasa itu tiba-tiba menghilang di udara, dan telah terhapus dari eksistensi sebelum sempat mengenai targetnya.

Pasukan robot yang menyaksikan meriam kolosal mereka lenyap seketika terdiam. Memanfaatkan momen itu, Sany dengan santai mulai menyentil satu per satu pasukan robot kuat tersebut.

Robot-robot yang selama ini kebal terhadap segala bentuk serangan fisik ternyata tak berdaya menghadapi sentilan sederhana Sany.

Setiap sentilannya membuat tubuh robot terpental tak beraturan, seolah-olah kekebalan fisik mereka tak berarti apa-apa di hadapan Sany yang merupakan seorang Any.

Dengan situasi yang sudah aman, Sany pun turun dan menghampiri perempuan yang masih pingsan.

Dengan lembut ia mengangkat tubuh perempuan itu dengan kedua tangan, lalu menggunakan kemampuan berpindah tempat untuk membawa mereka pergi dari lokasi pertempuran.

Sany membawa perempuan itu ke dalam tempat ibadah robot yang tenang.

Setelah menempatkannya di atas sebuah meja altar, melalui kemampuan unik yang dimilikinya sebagai Any, ia mulai melihat informasi dari perempuan yang masih tak sadarkan diri itu.

Dengan melihat informasinya, Sany dapat mengetahui apa saja dari perempuan itu.

"Akhirnya aku mengerti, mengapa bos ingin aku membawanya pergi dari sini," gumam Sany setelah memahami informasi yang didapatnya.

Tiba-tiba, ada sosok yang mendekatinya dari belakang.

"Oh, ada manusia yang berani menodai tempat suci ini," ucap sosok yang tepat di belakang Sany.

Sany berbalik perlahan, menghadapi sosok yang tak terduga itu.

Sany menatap sosok di hadapannya, rambut putih, pakaian putih, dan lambang biru, merah, dan ungu yang persis seperti terpampang di altar tempat ibadah ini.

"Siapa kau? Kenapa lambang yang disembah para robot ada di bajumu?" tanya Sany yang suaranya penuh rasa penasaran dan keterkejutan.

"Aku tahu kau lupa padaku, biarkan aku memperkenalkan diriku lagi. Namaku SIA, aku adalah Dewi dari para robot dan Android," jelas SIA dengan tatapan datar namun penuh wibawa.

"Hmm, SIA? Sepertinya aku pernah mendengar namanya," gumam Sany dalam hati yang mencoba mengais ingatannya yang masih belum pulih sepenuhnya.

"Ada apa kau menemuiku?" tanya Sany yang berusaha mengetahui, maksud kedatangan SIA.

"Aku hanya ingin memberitahumu untuk tidak berlama-lama di sini. Aku memberimu waktu untuk menyelesaikan urusanmu," jelas SIA secara langsung.

Sany terdiam sejenak mendengar penjelasan itu.

"Tentu, aku akan segera menyelesaikan urusanku di sini," jawab Sany dengan jujur.

Tiba-tiba, sebuah portal terbuka di sebelah mereka. SIA langsung memasukinya tanpa berkata-kata lagi.

Setelah portal tertutup, Sany kembali fokus memeriksa informasi perempuan yang masih tak sadarkan diri itu.

Sany terkesan menemukan salah satu kemampuan unik perempuan itu, jika tubuhnya mati, jiwanya akan otomatis berpindah ke tubuh baru yang sudah disiapkan. Selain itu, dia adalah ahli dalam menggunakan berbagai senjata.

Setelah selesai memeriksa informasinya, Sany mulai menyembuhkan luka perempuan itu dengan ucapannya.

"Sembuhlah. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Sany lembut sambil menatapnya.

Seketika, perempuan itu terbangun. Tubuhnya terasa lebih ringan dan sehat daripada sebelumnya.

Bersambung...​

1
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!