"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11 - Cermin dan Kehadirannya Yang Mengejutkan
Maura tidak menjawab pertanyaan Adrian, justru perempuan itu meremas perutnya dan mengatakan dengan lembut.
“Aku ke kamar mandi sebentar,” ujar Maura akhirnya, setelah beberapa menit duduk dengan senyum yang terasa semakin dipaksakan.
Maura tidak tahan karena perutnya merasa mual karena dipaksa terus menelan makanan di saat kondisinya sedang tidak stabil secara emosional.
Renata mengangguk cepat, terlalu cepat. “Oke. Santai aja.”
“Kamu baik-baik saja, Maura?” tanya Adrian yang merasa sebelumnya baik-baik saja.
“Tidak apa-apa. Cuma mau kencing,” jawab Maura yang membuat Adrian bernafas lega.
Maura berdiri, menyambar tas kecilnya, lalu melangkah menjauh dari meja tanpa menoleh lagi ke arah ujung restoran. Ia tahu kalau ia menoleh, ia akan menemukan tatapan itu lagi. Tatapan tajam dan berhasil mengintimidasinya.
Lorong menuju kamar mandi terasa lebih sepi, lebih sunyi dibanding ruang makan yang penuh suara. Setiap langkah Maura menggema ringan di lantai marmer, seolah mengingatkannya bahwa ia sedang mencoba menenangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin tenang.
Begitu pintu kamar mandi tertutup di belakangnya, Maura menghela napas panjang. Ia berdiri di depan wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang bersih. Wajahnya biasa saja, tapi tersirat ada kelelahan, sisa tegang yang belum benar-benar pergi.
“Tenang, ini cuma kebetulan,” gumamnya pelan pada bayangannya sendiri.
Namun bahkan saat mengucapkannya, Maura tahu ia sedang berbohong. Setya Pradana bukan tipe kebetulan yang mudah diabaikan.
Ia membasuh tangan, merapikan anak rambut di pelipisnya, lalu berdiri lebih lama dari yang perlu, seolah berharap cermin itu bisa memberinya jawaban atau setidaknya alasan untuk kembali ke meja dengan wajah yang sama seperti saat ia pergi.
Ketika akhirnya ia memutuskan keluar, langkahnya sudah lebih stabil. Pintu kamar mandi terbuka dan Maura hampir menabrak seseorang.
Ia refleks berhenti mendadak, tubuhnya menegang, jantungnya melonjak ke tenggorokan. Setya Pradana berdiri tepat di depannya.
Maura mengangkat wajahnya perlahan. Matanya bertemu mata pria itu tanpa bisa dihindari.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Pria itu terlihat sama seperti di aula dan di restoran dengan jas gelap, kemeja rapi, postur tegak. Tapi ekspresinya tidak sama, karena terasa lebih lembut dan tenang.
“Maura,” katanya, suaranya rendah, tenang.
Maura menelan ludah, lalu tersenyum kecil.
“Selamat sore, Pak Setya.”
Ia berniat melangkah ke samping, memberi jalan. Namun Setya tidak bergeser dan menghalangi benar-benar tidak memberi ruang terlalu cepat untuknya pergi.
Sejenak, Maura merasa seperti kembali ke ruangan VIP itu. Bukan karena ancaman, melainkan karena intensitas yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Maaf,” katanya singkat, lalu mencoba melangkah lagi.
“Boleh kita bicara sebentar?” tanya Setya.
Tawaran itu datang tiba-tiba, tidak pernah Maura sangka bahwa pria keras, dingin dan kejam itu mampu mengatakan ‘boleh’, mengingat sebelumnya tidak kesan baik yang diberikan seorang Setya Pradana.
Maura ragu sepersekian detik sambil menatap sekitar yang sepi dan tidak ada siapapun.
Ia mengangguk kecil. “Sebentar saja, Pak.”
Setya menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang. Maura berdiri di hadapannya, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.
“Senang bertemu lagi, Maura,” kata Setya lebih dulu.
Kalimat itu sederhana hingga membuat Maura terheran-heran, tidak sepenuhnya.
Maura mempertahankan senyumnya. “Saya juga, Pak. Tidak menyangka akan bertemu dengan Bapak di sini.”
Setya mengangguk tipis, seolah mengakui kebetulan yang sama-sama mereka pahami sebagai bukan kebetulan.
“Saya melihat kamu bersama seseorang,” katanya. “Teman?”
Maura tidak menjawab pertanyaan itu langsung.
“Sahabat saya,” jawabnya akhirnya.
Setya menatap lurus perempuan yang menatap ke arah lain. Sama sekali tidak ingin menatap ke arahnya. Setya memahami dan tidak memaksa, toh pria itu kemari hanya ingin megakui kesalahannya.
“Saya ingin minta maaf,” katanya kemudian.
Maura terdiam. Setya menatapnya dengan tatapannya yang masih membuat Maura merinding.
“Untuk sikap saya waktu itu. Saya kehilangan kendali. Itu tidak pantas. Dan itu sepenuhnya tanggung jawab saya,” lanjutnya.
Maura merasakan sesuatu bergetar halus di dadanya. Lebih seperti pengakuan yang akhirnya mendarat setelah lama melayang. Ia tidak langsung menjawab.
“Terima kasih sudah mengatakannya. Saya menghargai itu,” ucapnya pelan akhirnya.
Setya mengangguk kecil. “Saya tidak berharap dimaafkan begitu saja.”
Maura menatapnya. “Saya bukan orang yang memendam benci, Pak.”
Maura tidak berbohong, sejak kecil orang tuanya selalu mengajarinya untuk tidak menjadi seorang pendendam. Seburuk apa pun, sebesar apa pun kesalahan orang lain, Maura harus tetap memaafkannya, apalagi kalau orang itu datang untuk meminta maaf.
Hening kembali hadir di antara mereka.
“Kamu kelihatan baik-baik saja,” ujar Setya kemudian.
Maura tersenyum tipis. “Saya berusaha.”
Setya memperhatikannya sejenak dari cara Maura berdiri, cara ia menjaga jarak, cara ia tetap sopan tanpa membuka ruang lebih jauh. Ada batas yang jelas. Dan untuk pertama kalinya, Setya tidak mencoba menembusnya.
“Good for you,” katanya pelan.
Maura mengangguk. “Pak Setya, jika tidak keberatan, saya ingin kembali ke meja.”
“Tentu,” jawabnya cepat, lalu menyingkir setengah langkah, memberi jalan sepenuhnya.
Maura melangkah pergi, namun berhenti satu langkah kemudian. Ia menoleh sedikit, cukup untuk memastikan suaranya terdengar.
“Maura,” panggil Setya yang menghentikan langkah perempuan itu.
“Kamu berhasil menurunkan ego dan prinsip saya. Bukankah seharusnya kamu merasa terhormat akan hal itu,” lanjut Setya.
Maura menghela nafas lelah dan lagi-lagi pria gila itu membuatnya naik darah. Benar-benar luar biasa dalam gila hormat, Setya Pradana memang pria yang beranggapan bahwa semua orang harus patuh dan tunduk padanya.
“Kalau Bapak tidak nyaman meminta maaf atau melakukan hal-hal seperti ini, tidak perlu dilakukan, Pak. Saya tidak akan merasa terhormat hanya karena Bapak mengatakan maaf dengan wajah dingin dan nada datar itu.”
Keberanian Maura memang patut diacungi jempol dan pria itu mendekat ke arah Maura. Menunduk untuk menatap langsung mata yang menyalang padanya.
Jarak mereka kini terlalu dekat untuk ukuran dua orang dewasa yang sedang berdebat. Maura bisa mencium aroma parfum yang tipis, maskulin, dingin. Pria itu menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu memang sangat berani atau mungkin... bodoh,” kata Setya.
“Sering kali dua hal itu dibedakan oleh orang yang merasa terancam,” balas Maura cepat, tanpa sempat menyaring emosinya.
Untuk sesaat, Maura yakin ia telah melangkah terlalu jauh. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Setya meluruskan tubuhnya perlahan, mengambil kembali jarak yang tadi ia ciptakan sendiri. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya rileks, tapi matanya masih mengunci Maura dengan fokus yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kamu menganggap saya gila hormat. Asumsi yang menarik,” katanya tenang.
“Bapak menyebut menurunkan ego dan prinsip sebagai sesuatu yang pantas membuat saya merasa terhormat. Itu bukan asumsi, melainkan kesimpulan dari pernyataan Bapak sendiri,” jawab Maura, nadanya kini lebih terkendali.
Setya mengangguk kecil. “Fair enough.”