Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suara adzan berkumandang, tanda waktu subuh tiba. Medina merasakan lengan kekar melingkari perutnya. Ia menoleh. Benar, sang suami sudah pulang. Tapi jam berapa ia sampai, Medina bahkan tidak tahu.
"Sudah bangun sayang? " suara serak Rendra menyapa sang istri dengan mata masih menyipit.
"Mas sampai jam berapa? "
"Hm malem sayang, kamu udah bobo...."
Tiba-tiba Medina merasakan gejolak di perutnya. Ia lantas bangun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
"Hoekkk Hoeekk..! "
Rendra bergegas mengejar istrinya dan mengusap punggung Medina lembut.
"Masih mual sayang. " Medina hanya mengangguk.
"Mas buatin teh jahe ya? "
"Gak usah mas. "
"Sayang, wajah kamu pucet banget lho. Nanti mas kupasin buah juga. Kata bunda, udah nyetok buah buat kamu. "
"Ehh.. "
"Semenjak hamil, kamu jadi susah makan sayang. Jadi banyakin buah gak papa biar gak mual. "
Medina akhirnya mengangguk.
"Setelah minum teh jahe, kita sholat subuh berjamaah ya?"
Medina mengangguk dengan senyum terpaksa. Perutnya masih terasa mual.
Hal yang paling di rindukan Rendra adalah dapat melaksanakan ibadah bersama Medina.
Entahlah, saat di Amerika sifat bejatnya bisa muncul tiba-tiba. Namun saat bersama Medina, ia merasakan kedamaian dan ketenangan. Serasa Medina adalah angin surga yang selalu bersemilir di wajah Rendra.
Selesai sholat berjamaah. Rendra menyuapi Medina dengan buah apel yang sudah ia kupas. Medina memakannya hingga habis.
"Mau makan bubur? "
"Mas, aku gak sakit. Kenapa harus makan bubur? "
"Kamunya gak mau makan nasi. Mas jelas khawatir. Atau mau bubur gandum? Bagus buat kesehatan. "
Medina sempat berpikir. Akhirnya ia menyetujui tawaran Rendra.
Kini Rendra sedang uprek di dapur, di temani Medina. Selingan tawa dan canda membuat hati Rendra menghangat.
"Sudah siaaap. "
"Wangi mas, sepertinya enak. "
"Tentu saja. Ini sarapan pagi yang selalu aku makan di Amerika. "
"Benarkah? "
"Cobalah. Pasti nanti kamu ketagihan."
Medina dengan senang hati makan bubur gandum buatan suaminya. Rendra menjadi gemas. Ia pun mengambil alih sendok yang ada di genggaman Medina.
"Biar mas suapin. "
"Kan tadi pas makan buah udah di suapin. "
"Kan mas jarang di rumah. Makanya mumpung di rumah mas pengin suapin kamu. "
"Mas bakal lama gak di sini? "
"Kenapa sayang? "
Medina menundukkan kepalanya. Ia merasakan sesak di dada. Ia tak ingin di tinggal pergi lagi oleh Rendra.
"Heii lihat wajah mas. Kok sedih. Mas bakal empat bulanan disini. Ada yang perlu mas urus juga di perusahaan pusat. Ayah lagi butuh bantuan mas. "
Namun Medina masih terdiam.
"Nanti, setelah empat bulan mas bakal kembali ke Amerika. Tapi tidak sendiri."
"Mas akan berangkat sama siapa? asisten baru, atau sekertaris baru? "
"Buat apa, mas gak butuh mereka. Mas kan butuhnya kamu. "
"Hah? "
"Dengerin sayang, mas perginya sama kamu. Mas gak bisa tinggalin kamu, apalagi sedang kondisi hamil. Gak mungkin kan? "
"Mas mau ajak aku? "
"Tentu saja. Dulu kan mas udah ajak, kamunya gak mau. Sekarang kalau kamu gak ikut. Mas bakal kepikiran sayang. "
"Tapi, mas.. "
"Mas udah beli rumah sayang. Kita akan tinggal disana. Mas juga udah cari asisten rumah tangga, asli orang Indonesia juga. Kamu gak bakal kesepian. "
"Bener? "
"Iya dong, mas juga udah siapin supir. Kenalannya Bayu. Biar bisa antar kamu kemana-mana. Biar gak bosen di rumah terus. "
Medina tersenyum lebar lalu memeluk tubuh suaminya. Ia merasa lega akan bisa bersama suaminya terus menerus.
"Ehmmm yang lagi kangen-kangen nan. " goda Yasmin melihat putra dan menantunya sedang berpelukan mesra.
"Ah bunda, ganggu aja. "
"Lah, kan bunda mau sarapan. "
Ayah Rendra pun baru saja keluar dari kamarnya. Mereka sarapan bersama.
"Biar lah bund, namanya masih bau bau pengantin baru. " ucap ayah Rendra.
Setelah sarapan, Rendra mengajak Medina jalan-jalan. Ia ikutin semua keinginan Medina kesana dan kemari.
Medina terlihat cerewet dan banyak mau. Tapi justru itu yang ia suka. Gadis itu menunjukkan pribadinya yang sesungguhnya di hadapan dirinya.
"Sayang, lihat sini sebentar. "
Medina menolah, lalu Rendra mengecup singkat bibir istrinya. Medina terkejut, lalu menutup mulutnya.
"Mas, ini di tempat umum lho! "
"Biarin aja. Kan kamu istriku. Mau es krim? "
"Boleh, aku mau tiga rasa! "
"Waow, banyak sekali. Itu maunya kamu atau baby kita. "
"Anggap aja, keinginan ibu dan baby nya. "
Rendra tertawa. Begitulah Medina, berbicara sesuai usianya. Ia sangat gemas dengan istrinya.
"Baiklah, kamu mau rasa apa aja? "
"Strawberry, vanila, sama blueberry! "
"Bakal habis gak itu? "
"Habis mas. lihat aja deh nanti. Gak percaya banget. "
"Oke oke. Kita beli sekarang. Atau mau aku beli sekalian gerobaknya? "
"Jangan ngaco deh mas. " Rendra lagi-lagi tertawa.
Rupanya benar ucapan Medina. Rendra bahkan speechless melihat istrinya dengan lahap memakan ke tiga rasa es krim itu hingga tak tersisa.
"Kenyang gak sayang? "
"Hmm nanti aku pengen jagung rebus."
"Oke. Kita cari. " Rendra terkekeh. Ternyata begini bawaan ibu hamil. Suka di luar nalar dari kebiasaan nya.
Setelah berburu jagung rebus. Rendra mengajak Medina untuk makan siang. Namun, Medina menginginkan makan di warung pecel lele di pinggir jalan.
Rendra menengok ke kanan dan kiri. Ia tak pernah makan di warung pinggir jalan seperti ini sebelumnya.
"Mas kaget ya? Atau gak nyaman? "
"Haah? E-engggak sih. Cuma, kok kamu apal bener sama penjualnya? " tanya Rendra saat ia melihat Medina sempat berbincang dengan penjual itu.
"Dulu waktu sekolah, kalau pas pulang sore. Aku suka makan disini sama temen-temen mas. Jadi bapak penjual nya udah apal sama aku. "
"Iya kah? Kok bisa? Kenapa gak makan di restoran aja sayang. Apa uang jajan dari bunda kurang waktu itu? "
"Gak lah mas. Selalu lebih. Justru itu, aku gak mau buang-buang uang untuk makan makanan mahal. Lagian makan di sini juga enak kok, kita juga bisa memberi rezeki pada mereka pedagang kecil. "
Rendra semakin kagum dengan istrinya. Ia memang sempat tinggal bersama Medina namun hanya beberapa tahun, saat Medina masih kecil. Setelah Medina remaja beranjak dewasa. Rendra kurang melihat sisi lain di balik kehangatan Medina.
"I love you sayang.. "
"Ya? " Medina menatap bingung saat Rendra tiba-tiba mengucap kata cinta di depan umum.