"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Tidak tuan, tolong biarkan dia makan terlebih dahulu."ucap Fathan.
"Dia akan makan tapi tidak disini."ucap Aksa tegas.
"Yang akan makan itu saya tuan, jadi saya yang akan menentukan dimana saya akan makan."ujar Daisy yang akhirnya angkat bicara.
"Jangan membantah ku Dy, sekarang juga ayo kembali."ucap Aksa.
"Saya tidak mau."ucap Daisy dengan raut wajah penuh kekesalan.
"Baiklah jangan salahkan aku jika teman mu celaka!"ujar Aksa yang kini menatap penuh ancaman terhadap Fathan.
"Anda hanya bisa mengancam saja."ucap Daisy yang kini merogoh saku celana nya dan mengeluarkan uang kertas berwarna merah sebanyak dua lembar dan meletakkan nya di meja untuk membayar makanan yang sudah dia pesan.
"Dy biar aku saja."ujar Fathan.
"Tidak apa kak aku ada kok, maaf aku pergi dulu."ucap Daisy yang kini membuat pria tampan satunya lagi menahan amarahnya.
Daisy yang baru saja bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dua langkah, tiba-tiba tubuhnya melayang di udara.
Daisy yang kaget setelah mati pun langsung mencari pegangan karena takut terjatuh, dan saat ini tangan nya sudah melingkar di leher jenjang nan kokoh milik Aksa yang kini menatap datar kearahnya lalu dengan cepat melangkah pergi menuju mobil.
Daisy pun hanya bisa pasrah, beruntung dia pergi bersama Fathan hingga dia tidak meninggalkan mobilnya di tempat itu, tapi dia meninggalkan Fathan yang kini terlihat patah hati.
Sementara Aksa yang kini duduk di jok belakang dengan Daisy karena di bagian kemudi ada asisten pribadi nya Kris.
Tatapan mata Aksa seakan tengah menguliti Daisy yang kini berbalik menatap kearah jendela tapi tidak lama Daisy langsung menoleh kearah Aksa saat pria tu menarik lengannya.
"A apa yang anda inginkan?"tanya Daisy gelagapan saat Aksa menarik nya dan menahan tubuhnya di jok mobil yang masih ditempati oleh nya.
"Kamu tanya apa yang saya inginkan?" ujar Aksa yang kini semakin mendekatkan wajah nya kearah wajah Daisy dengan tatapan mata penuh kekecewaan.
"Ya tuan tolong menjauh lah, jangan seperti ini anda sebentar lagi akan bertunangan jadi jangan sampai saya disalahkan karena sikap anda saat ini."ujar Daisy yang kini semakin membuat Aksa marah dan sangat kecewa mendengar perkataan Daisy.
"Saya tidak akan pernah bertunangan dengan siapapun jika kamu melanggar janji mu, apalagi kamu telah diam-diam berkhianat padaku dengan pergi dengan nya.... Ya biarkan saja dunia menyalahkan mu agar kau tau akibat dari perbuatan mu itu."ujar Aksa dengan nada mengancam.
Wajah tampan yang kini terlihat sangat menakutkan bagi Daisy karena melihat tatapan mata penuh amarah hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi saat Aksa menyambar bibir nya dan melumat nya dengan sangat kasar bahkan bibir Daisy sampai berdarah karena gigitan yang Aksa berikan saat ini hingga gadis itu hanya mampu menitikkan airmata.
Sampai nafas Daisy hampir habis Aksa tidak melepaskan ciumannya itu hingga Daisy mendorong dada Aksa sekuat tenaga dan dengan nafas tersengal-sengal, Daisy pun akhirnya menangis sesenggukan.
"Itu belum seberapa, jika kamu berani berselingkuh lagi saya akan berlaku kejam, bahkan saya tidak segan untuk menghabisi pria manapun yang berani mendekati mu."ucap Aksa yang kini menatap tajam kearah Daisy.
Mobil itu sudah terparkir di parkiran hotel, namun asisten pribadi Aksa tidak berbicara apapun pada mereka, justru dia malah pergi begitu saja meninggalkan keduanya.
"Sekarang kamu makan dulu, setelah itu rapikan barang-barang mu dan ikut saya. Kita akan kembali ke rumah kita."ujar Aksa dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
"Tidak bisa tuan saya harus mengikuti seminar besok pagi, saya janji akan datang ke pesta pertunangan anda besok malam."ucap Daisy.
"Saya tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, dan mengenai seminar besok sudah saya batalkan dan kamu tidak perlu beralasan lagi sekarang turun dan ikuti saya. "ucap Aksa yang kini membuat Daisy hanya bisa pasrah karena tidak ingin pria itu berbuat lebih jauh lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00:34 Daisy kini sudah berada di restaurant hotel tempat yang menjadi tujuan nya sedari awal, dan saat ini dia terpaksa makan salad karena sudah terlambat untuk makan malam, Daisy yang saat ini masih makan pun masih diperhatikan oleh Aksa yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya.
"Kenapa tidak dihabiskan, kamu bahkan makan salad hanya beberapa sendok dari porsi yang hanya sedikit bagaimana bisa kenyang."ujar Aksa.
"Itu sudah cukup, dan saya tidak bisa lanjut makan, saya permisi."ucap Daisy yang kini bangkit dari duduknya.
"Setidaknya habiskan susunya terlebih dahulu,"ucap Aksa.
"Perut saya sakit, saya tidak bisa makan di jam seperti ini."balas Daisy yang kini buru-buru pergi dari hadapan Aksa.
"Saya tunggu kamu di mobil jika dalam sepuluh menit tidak kembali maka kamu akan tau akibatnya."ucap Aksa tegas.
Daisy hanya bisa menghela nafas tanpa bisa protes lagi, diapun melanjutkan langkahnya menuju ke luar restaurant dan berjalan menuju lift yang akan membawa nya ke lantai atas dimana kamar yang tadi sore ia tempati berada.
Daisy rasanya ingin berteriak memaki pria yang sudah beberapa hari ini membuat hidup nya seperti di penjara, meskipun itu adalah penjara cinta.
Sesampainya di dalam kamar Daisy pun langsung bergegas merapihkan barang-barang nya kedalam koper, sambil berusaha untuk menghubungi Fathan yang kini entah berada di mana.
Daisy yang tidak mendapatkan jawaban pun langsung mengirim pesan untuk memberitahu pemuda itu bahwa ia akan kembali ke kota tempat tinggal nya saat ini juga dengan Aksa.
Daisy pun langsung bergegas memasukkan handphone nya kedalam tas miliknya dan bergegas meraih koper miliknya dan pergi ke luar ternyata disana sudah ada Kris asisten pribadi Aksa.
"Mari nona, biarkan saya yang bawa berikut kunci mobil anda."ucapnya sopan.
"Tidak usah biarkan saya sendiri yang bawa. "ucap Daisy yang kini berjalan mendahului asisten Aksa.
"Tapi nona ini perintah tuan muda, dan saya harus melakukan nya."ucap Kris lagi yang akhirnya membuat Daisy mengalah.
Sampai saat mereka tiba diparkiran hotel, Daisy langsung diantar menuju mobil Aksa yang ternyata berbeda dengan yang tadi.
Saat ini Aksa menggunakan mobil sport yang hanya muat dua orang saja, sementara Kris akan pulang dengan membawa mobil Daisy berikut koper milik gadis itu.
"Masuklah."ucap Aksa yang kini membuka pintu untuk Daisy, mobil Ferarri berwarna hitam mengkilap itu pun mengeluarkan aroma yang menyegarkan saat Daisy masuk kedalam.
...*****...
Dan kini setelah perjalanan panjang yang mereka lalui meskipun hanya beberapa jam saja dengan menggunakan mobil sport milik Aksa, Daisy kembali berada dalam kebingungan saat Aksa membawa nya ke sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan gaya minimalis modern.
Daisy masih mematung di tempatnya saat ini sampai Aksa menarik nya dan memaksa dia untuk masuk kedalam rumah tersebut.
"Saya sudah bilang bahwa kita akan pulang ke rumah kita, jadi kenapa masih berdiri disini?"ujar nya sambil membawa Daisy masuk.
"Bagaimana apa kamu suka dengan rumah nya, kalau tidak aku bisa Carikan rumah baru."ucap Aksa.
"Tuan hentikan semuanya, ini tidak benar kita tidak seharusnya berada disini, dan saya pun masih memiliki rumah meskipun tidak semewah ini."ucap Daisy merendah sambil berusaha menyadarkan Aksa bahwa itu semua salah.
"Siapa yang bilang kamu tidak punya rumah, dan siapa yang akan menyalahkan kita saat kita sudah menikah nanti."ucap Aksa yang kini membuat Daisy mematung di tempatnya.
"Kamu bisa minta asisten rumah mu yang dulu untuk tinggal disini bersama kita."ujar Aksa yang kini berjalan membuka pintu lift dan menarik Daisy untuk masuk kedalam nya.
"Mulai sekarang kita akan tinggal bersama disini, dan kamu bisa tetap lanjut kuliah hingga kamu lulus menjadi dokter spesialis Obgyn seperti yang kamu cita-cita kan selama ini, oh iya sebentar lagi hari kelulusan mu bukan aku akan menjadi orang pertama yang akan hadir mendampingi mu."ucap Aksa yang kini membawa Daisy ke lantai tiga dimana kamar utama berada.
"Ini kamar kita."ucap Aksa.
Entah kenapa Daisy tidak sedikit pun merasa senang dengan semua itu, bahkan dengan cinta Aksa yang terlihat begitu besar itu pun justru malah membuat dirinya semakin takut.
Daisy takut tidak bisa mengendalikan diri nantinya, dia juga takut semua itu menjadi mala petaka baginya mengingat apa yang telah dijelaskan oleh Fathan semalam.
Ya, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Daisy yang sejak tadi anteng dengan lamunannya pun kembali tidak bisa mengelak dari kecupan bibir Aksa yang kini menuntut balasan darinya.
Daisy pun langsung mendorong dada bidang pria yang selama beberapa hari ini bertingkah seenaknya, tapi Daisy tidak bisa berbuat banyak setelah itu karena Aksa langsung mendorong Daisy untuk masuk kedalam kamar yang kini pintunya terkunci secara otomatis.
"Lepas tuan apa yang kau lakukan, jangan keterlaluan atau saya akan melaporkan anda pada uncle Dimitri."ucap Daisy yang kini membuat Aksa menghentikan pergerakan nya sejenak sambil menatap lekat wajah cantik Daisy yang kini penuh ketakutan.
"Hahaha.... kamu pikir saya takut dengan itu, asal kamu tau Dy, dengan begitu justru saya senang karena kamu akan mempermudah jalan kita untuk bisa bersama."ucap Aksa yang kini membuat Daisy menggelengkan kepalanya pelan.
Dia sudah kehabisan akal saat ini, entah apa lagi yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Baby, istirahat lah, nanti sore akan ada MUA yang akan datang untuk membantu mu bersiap."ucap Aksa yang kini merebahkan diri di kasur empuknya itu.
Daisy sendiri kini justru malah berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengunci pintu itu dari dalam.
Dia ingin buang air sekaligus sekaligus menenangkan diri disana.
Sementara Aksa sudah terlelap dalam tidurnya bahkan dia tidak menghiraukan ponselnya yang saat ini bergetar tanda panggilan masuk.
Daisy sendiri baru keluar setelah satu jam berada di dalam kamar mandi dan kini sudah terlihat jauh lebih fresh setelah dia memutuskan untuk mandi meskipun tidak berganti pakaian.
Daisy berjalan keluar dari dalam kamar mandi, dia langsung bergegas menuju pintu kamar, tapi Daisy tidak bisa membuka nya hingga ia putus asa dan mencoba untuk menghubungi seseorang, namun tidak lama kemudian handphone itu melayang dan hancur berkeping-keping di lantai karena perbuatan Aksa yang kini menatap tajam kearah nya.
"Apa yang kamu lakukan baby?"ujar Aksa.
"Saya ingin pulang please ijinkan saya untuk pulang."ucap Daisy memohon.
"Tidak bisa, rumah kita disini dan kamu hanya akan keluar bersama saya saat akan kuliah saja."ucap Aksa yang kini merangkul pinggang ramping milik Daisy dan menempelkan kening nya di kening Daisy sambil berkata.
"Patutlah jika kamu masih ingin meraih cita-cita."ujar Aksa yang kini membuat Daisy tidak bisa berkata apa-apa.
Sampai saat Daisy terjerembab di atas ranjang empuk itu, dan Aksa menyusul nya dan mendekapnya.
"Sekarang temani aku istirahat baby."bisiknya pelan.
Daisy pun hanya bisa memejamkan matanya sejenak, sementara Aksa kembali terlelap dalam tidurnya bahkan dengkuran halus itu membuat Daisy yang kini berada di dalam dekapan pria tampan itu mematung di tempatnya.
Dan entah apa yang terjadi yang jelas Daisy pun menyusul kealam mimpi hingga siang harinya tepat saat Aksa keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan juga rambut klimis nya yang menandakan bahwa pria itu baru saja selesai mandi.
"Siang baby sudah bangun hmm... bagaimana dengan kamar ini apa kamu nyaman, jika tidak kamu bisa membuat perubahan disini seperti yang kamu suka."ucap Aksa yang kini tersenyum manis pada Daisy.
Tapi senyum itu seperti senyum maut bagi Daisy yang kini kembali melirik kearah lain.
"Oh iya babe semua barang-barang kebutuhan mu sudah ada disini, kamu bisa gunakan apapun yang tersedia di sana."tunjuk Aksa ke sebuah pintu yang sudah pasti adalah walk-in closed.
"Aku ingin pulang please ijinkan aku pulang, aku janji akan patuh, tapi please ijinkan aku pulang."ucap Daisy memohon.
"Baiklah baby saya akan ijinkan kamu pulang setelah malam pertama kita yang akan terjadi saat ini juga bagaimana?"balas Aksa yang sebenarnya hanya ingin membuat Daisy berhenti meminta untuk kembali ke rumahnya.
Sontak mata Daisy membulat sempurna dan saat ini Daisy langsung menutup tubuh nya dengan selimut tebal dan itu membuat Aksa semakin ingin menggodanya karena tingkah Daisy yang begitu menggemaskan saat ini.
Aksa sendiri tidak bisa bayangkan bagaimana malam pertama mereka nanti setelah mereka menikah.
"Bersiaplah sebentar lagi kita akan makan siang." ucap Aksa yang kini berjalan menuju pintu yang sempat ia tunjukkan pada Daisy.
Sementara itu Daisy hanya bisa menghela nafas berat entah sampai kapan dia akan terpenjara di rumah mewah itu.
Sementara Aksa sendiri kini tengah berpakaian sambil sesekali tersenyum manis kearah cermin yang menjulang tinggi di ruangan tersebut.
Daisy pun langsung bergegas bergegas menuju kamar mandi, saat ini dia baru sadar bahwa ternyata sabun yang tadi dia gunakan benar-benar disiapkan untuk dirinya.