Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
"I'm not ready."
"No one ever is. We don't get to choose out time."
^^^-Doctor Strange, Marvel^^^
...----------------...
Mak Mila sedang sibuk di dapur mengajarkan Ella membuat bermacam-macam kue. Sekarang Mak Mila janya berjualan kue buatan Ella di pasar, setelah dipaksa oleh Ella untuk berhenti bekerja keras di ladang
"La, apa sudah daftar SMA?" tanya Mak Mila sembari membungkus kue nogosari.
"Minggu depan pendaftaran-pendaftarannya baru mulai buka, Mak. Ella mau coba ambil jalur beasiswa saja, doakan keterima ya, Mai. Kalau pendaftarannya sudah buka, Ella mau ke warnet, pemdaftarannya online, Mak," ucap Ella.
"Kamu urusin sendiri bisa, Pa? Mak nggak paham yang begitu-begitu, La" jawab Emak.
"Mak nggak mau ke dokter? Batuk Emak belum sembuh, sudah 10 hari loh," ucap Ella khawatir.
"Nggak papa La, kan batuknya nggak sering, cuma kadang-kadang saja," jawab Mak Mila tersenyum.
"Mak apa langganan ojek aja ya ke pasar bawa kuenya biar nggak lelah," usul Ella.
"Sayang La, kan mahal," jawab Mak Mila.
"Nggak papa Mak, Ella sudah hitung, dan masih tetap dapat untung kok. Dan Emak juga nggak lelah bawanya, kan berat. Apalagi ini sudah 7 macam kue, belum lagi kalau ada pesanan," ucap Ella mengamati Mak Mila yang tampak kurusan.
"Ya wis, kalau maumu begitu, besok biar Emak bicara sama Pak Jonet, tukang ojek di pasar ya, La," jawab Mak Mila tak ingin berdebat karena dia pun merasakan badannya yang melemah, tapi dia nggak mau Ella tahu.
Hari terus berganti, Ella selalu memperhatikan Mak Mila yang semakin hari semakin kurus dan melemah, itu membuat dirinya khawatir.
###
Pagi hari, Ella sudah datang ke sekolah dan menuju ke kantin. Ella juga menitip kue buatannya di kantin sekolahnya. Syukurnya, kuenya selalu habis terjual, itu membuat Ella senang dan semakin semangat.
"La, kamu mau masuk SMA mana?" tanya Ira sahabat setianya dari kelas 7.
"Belum tahu Ra, aku mau daftar yang ada jalur beasiswanya saja," ucap Ella.
"Besok jalur beasiswa udah dibuka loh, La. Daftar dulu gih, katanya kuotanya terbatas loh," ucap Ira.
"Oo.. Ya nanti aku ke warnet deh," jawab Ella tersenyum.
Sepulang sekolah, Ella pulang kerumah seperti biasanya. Setelah merapikan tugas hariannya, Ella mendekati kamar Emak, dilihat Mak Mila tertidur dengan pulas.
Ella kemudian pergi ke warnet untuk mendaftar SMA melalui jalur beasiswa.
Saat melihat daftar sekolah, Ella melihat ada sebuah SMA di Jakarta yang membuka jalur beasiswa. entah kenapa dia juga mendaftar di sana.
Ella sedang sibuk mengajari anak-anak SD. Ia tersenyum melihat tingkah laku mereka, ada yang nakal, ada yang tak asyik ngobrol sendiri, ada yang ngambek tak mau belajar. Tapi semua sudah menjadi kegiatan rutin dan itu tak membuat Ella merasa lelah.
Setelah anak-anak lesnya pulang, Ella memasuki kamar Mak Mila, dan membangunkan Mak Mila perlahan.
"Mak bangun yuk, sudah mau magrib," ucap Ella pelan, tapi Mak Mila tak bergeming.
Ella kaget karena Mak Mila tak bangun-bangun. Ella terus mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Mak Mila tapi tetap diam. Ella langsung berlari keluar memanggil tetangga sebelahnya.
"Bude Sri.. Bude Sri.. Tolong Bude," teriak Ella kencang sambil menangis.
"Kenapa La?" tanya Bude yang keluar tergopoh-gopoh.
"Emak ... Bude ... Tolong Emak ... " ucap Mila sambil menunjuk ke rumahnya.
Bude Sri segera berlari menuju rumah Ella.
"Astagfirullah,"
"Mbak, tangi Mbak," panggil Bude Sri.
*Mbak, bangun Mbak
Tapi Mak Mila diam tak bergeming, Bude Sri segera berlari keluar memanggil tetangga yang lainnya.
Tak lama Mak Mila sudah dibawa ambulance ke rumah sakit terdekat. Ella ikut dalam mobil sambil terus menangis ditemani Bude Sri.
"Mak … bangun Mak ... " ratap Ella yang sudah bersimbah air mata.
"Mak ... Bangun ... Jangan tinggalkan Ella.. "
"Dek.. Sudah jangan menangis lagi, sebentar lagi sampai rumah sakit," hibur petugas kesehatan di dalam ambulance.
"Pak.. Emak saya nggak papa kan? Pasti sembuh kan?"
Sesampainya di rumah sakit, Mak Mila langsung dibawa ke ruang perawatan.
"Mak ... Bangun ... Mak ... Jangan tinggalin Ella ... Ella takut Mak ... Mak ..." ratap Ella tak berhenti menangis.
"La, emakmu mana?" tanya Bude Sri yang baru sampai di rumah sakit, menyusul menggunakan motor.
"Bude… Emak nggak papa kan? Emak pasti sembuh kan?"
"Sudah jangan menangis lagi La. Emakmu pasti sembuh," hibur Bude Sri sambil memeluk Ella.
Tak Lama seorang dokter keluar dari ruang perawatan Emak.
"Keluarga Ibu Karmila?" tanya Dokter.
"Saya Dok, saya putrinya, Emak nggak papa kan,Dok, pasti sembuh kan Dok?" tanya Ella sambil mendekati dokter tersebut.
"Ayo dik, kita bicara di ruangan saya," ajak Dokter.
Dengan ditemani Bude Sri, Ella mengikuti langkah Dokter menuju ke ruangannya.
"Silakan duduk," ucap Dokter.
"Bagaimana keadaan Emak, Dok?" tanya Ella cemas dengan wajah yang basah oleh air mata.
"Dik, dari catatan medis Ibu Karmila, beliau mempunyai riwayat kanker stadium 2, dan sekarang sepertinya sudah mencapai stadium 4."
"Apa Dok? Dokter bohong!" teriak Ella kembali menangis.
"Emak nggak mungkin kena kanker, Emak pasti sembuh," jerit Ella sambil menangis kencang.
"La.. Tenang La.." Bude Sri mencoba menenangkan Ella, dia juga terkejut mendengar ulasan Dokter.
"Ibu Karmila pernah kemari beberapa kali untuk kontrol penyakitnya, tapi di rumah ini tidak memiliki peralatan khusus untuk pasien kanker. Saya sudah pernah menyarankan untuk pergi ke rumah sakit besar di Semarang, tapi sepertinya Ibu Karmila tidak melanjutkan check upnya lagi," ucap Dokter menghela nafas panjang.
"Dok.. Tolong sembuhkan Emak.. Cuma Emak yang Ella punya.. Tolong Dok," ucap Ella yang tak berhenti menangis.
"Kita berdoa saja ya, Dik," ucap Dokter.
"Ibu Mila mungkin sudah diruang perawatan sekarang, bisa adik besuk," ucap Dokter menatap kasihan kepada Ella.
"Permisi kalau gitu Dok, ayo La kita lihat Emakmu," ajak Bude Sri sambil menarik Ella untuk beranjak.
Ella menatap Mak Mila yang terbaring lemah.
"Dik.. Biarkan ibunya istirahat dulu ya," ucap Suster mendekati Ella yang masih menangis.
Bude Sri membawa Ella keluar ruangan, diajaknya Ella mencari tempat duduk.
"La, jangan menangis lagi, matamu sudah bengkak. Doakan saja ya" hibur bude Sri.
"Bude.. Emak pasti sembuh kan.. Pasti kan Bude?" tanya Ella dengan tatapan kosong.
"Iya La.. " hibur bude Sri yang juga meneteskan air mata melihat Ella begitu menyedihkan.
"Ella mau disamping Emak ... Ella nggak mau jauh dari Emak ..." gumam Ella berjalan menuju keruangan Emak Mila.
Bude Sri segera menahan Ella.
"Di sini saja La."
Tapi Ella menipiskan tangan Bude Sri dan berlari ke kamar Mak Mila.
Sesampainya di kamar, Ella menarik sebuah kursi dan duduk di sisi ranjang. Digenggamnya tangan Mak Mila yang tak bergerak.
"Mak.. Ella di sini.. Emak bangun ya.. Jangan tinggalin Ella.." ucap Ella terus menangis.
Bude Sri cuma bisa menatap dengan diam di belakang Ella.
"Mak.. Ayo bangun Mak.. Jangan tinggalin Ella sendiri.. Ella takut Mak.." ratap Ella.
"Mak ... Mak.. Bangun Mak.. "
Ella terus menangis hingga akhirnya Ella terkulai lemas. Bude Sri yang melihat Ella tiba tiba terkulai langsung berteriak memanggil suster.
"Sus.. Sus.. Tolong Sus," panggil Bude Sri bingung.
"Ada apa Bu?" tanya Suster segera menghampiri.
"Itu.. Ella kenapa Sus?" ucap Bude Sri khawatir.
Segera suster mengecek keadaan Ella dan meminta perawat lain membantunya membawa Ella keruangan untuk diperiksa.
Satu jam kemudian Ella terbangun. Ela melihat sekelilingnya ditutupi tirai berwarna putih. "Di mana aku," gumannya.
"Sudah bangun dik," sapa seorang suster begitu melihat Ella membuka matanya.
"Saya di mana?" tanya Ella yang masih belum sadar penuh.
"Adik di rumah sakit, tadi adik pingsan," jawab suster sambil melakukan pemeriksaan terhadap Ella.
"Rumah sakit ... Emak.. Emak di mana Sus?" tanya Ella begitu kesadarannya mulai terkumpul.
"Tenang dulu, adik masih lemah, minum susu ini dulu ya, biar bisa besuk Emak lagi," rayu suster.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...