Alea, seorang wanita muda dan cantik, terpaksa menikahi Rian melalui perjodohan. Namun, kebahagiaan yang diharapkan pupus ketika Rian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan Gina. Patah hati, Alea memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan Rian. Takdir berkata lain, bis yang ditumpangi Alea mengalami kecelakaan tragis. Di tengah kekacauan, Alea diselamatkan oleh Ben, seorang pria berkarisma dan berstatus sebagai bos besar yang dikenal dingin dan misterius. Setelah sadar, Alea mendapati dirinya berada di rumah mewah Ben. Ia memutuskan untuk berpura-pura hilang ingatan, sebuah kesempatan untuk memulai hidup baru. Ben, yang ternyata diam-diam mencintai Alea sejak lama, memanfaatkan situasi ini. Ia memanipulasi keadaan, meyakinkan Alea bahwa ia adalah kekasihnya. Alea, yang berpura-pura hilang ingatan tentang masa lalunya, mengikuti alur permainan Ben. Ia berusaha menjadi wanita yang diinginkan Ben, tanpa menyadari bahwa ia sedang terperangkap dalam jaring-jaring cinta dan kebohongan. Lalu, apa yang akan terjadi ketika ingatan Alea kembali? Apakah ia akan menerima cinta Ben, atau justru membenci pria yang telah memanipulasinya? Dan bagaimana dengan Rian, apakah ia akan menyesali perbuatannya dan berusaha merebut Alea kembali?
ALEA KECELAKAAN
Waktu merayap lambat, setiap menit terasa seperti jam. Alea memejamkan mata, mencoba mengabaikan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya. Namun, semakin ia berusaha, semakin kuat pula kenangan pahit itu mencengkeram benaknya.
Tiba-tiba, bus terasa bergetar hebat. Kecepatannya semakin bertambah, melaju tak terkendali. Para penumpang mulai panik, berteriak histeris. Alea membuka matanya, melihat sang sopir yang tampak kalut, berusaha keras mengendalikan kemudi. Rupanya, rem bus blong.
Jantung Alea berdegup kencang, rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mencengkeram erat sandaran kursi di depannya, mencoba menenangkan diri. Namun, kepanikan para penumpang semakin menjadi-jadi, menciptakan suasana mencekam di dalam bus.
Dalam hitungan detik, bus oleng tak terkendali, keluar jalur, dan menabrak pembatas jalan. Alea menjerit, memejamkan mata, dan pasrah pada takdir.
Kemudian, semuanya terjadi begitu cepat. Bus terjun bebas ke dalam jurang yang dalam. Suara benturan keras, pecahan kaca, dan jeritan kesakitan bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.
Alea merasakan tubuhnya terlempar ke sana kemari, terbentur benda-benda keras di sekitarnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah, menunggu ajal menjemputnya.
Kegelapan pun menyelimutinya.
Dua minggu berlalu dalam kabut tak berkesudahan. Dunia terasa buram dan samar, suara-suara menggema tanpa makna. Perlahan, kesadaran mulai merayap kembali, membawa serta rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuh.
Alea membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya. Ia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit, dikelilingi dinding berwarna lembut dan peralatan medis yang canggih. Kamar VIP yang mewah, jauh dari bayang-bayang terminal bus yang kumuh.
Ia mencoba bergerak, namun rasa sakit yang menusuk membuatnya meringis. Tubuhnya terasa remuk, setiap otot dan sendi terasa nyeri. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, namun ingatannya masih terpencar, seperti pecahan kaca yang berserakan.
Potongan-potongan memori mulai muncul; bus yang melaju kencang, teriakan histeris, dan terjangan maut ke dalam jurang. Kecelakaan. Ia selamat dari kecelakaan maut itu? Bagaimana mungkin?
Alea memandang sekeliling, mencari sosok familiar. Ia sendirian di kamar mewah itu. Siapa yang membawanya ke sini? Siapa yang membiayai perawatannya? Mengapa ia berada di kamar VIP yang begitu mahal?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, menciptakan kebingungan yang semakin besar. Ia mencoba duduk, namun kepalanya terasa pening. Ia kembali berbaring, memejamkan mata, dan mencoba menenangkan diri.
Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia harus mencari tahu siapa yang telah menyelamatkannya. Ia harus memulai hidupnya kembali, sekali lagi. Namun, kali ini, ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Seketika, sebuah pikiran melintas di benak Alea: mungkinkah Rian yang membawanya ke sini? Mungkinkah pria itu yang membiayai perawatannya di kamar VIP semewah ini?
Bayangan Rian muncul di benaknya, wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi. Mengapa Rian melakukan ini? Bukankah pria itu membencinya? Bukankah Rian ingin menghapus dirinya dari kehidupannya?
Pikiran itu menghantam kepalanya seperti palu godam, menciptakan rasa sakit yang luar biasa. Ia memegangi kepalanya erat-erat, meringis kesakitan.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka dan seorang perawat masuk dengan senyum ramah. Perawat itu mendekat ke arah Alea, namun wanita itu hanya bisa merintih kesakitan.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya perawat itu panik. "Saya panggilkan dokter, ya?"
Alea hanya bisa mengangguk lemah, air mata mengalir deras di pipinya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan kebingungan dan ketakutan yang melandanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya ingin rasa sakit ini segera berakhir.
Alea kehilangan kesadaran, kegelapan kembali merenggutnya. Tubuhnya terkulai lemas di ranjang rumah sakit, rasa sakit dan kebingungan masih mencengkeram benaknya.
Tidak lama kemudian, seorang dokter datang bersama perawat. Mereka memeriksa kondisi Alea dengan seksama, memberikan pertolongan pertama, dan memasang beberapa alat medis untuk memantau keadaannya.
Setelah memastikan Alea stabil, dokter itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seorang pria. Pria yang telah membawa Alea ke rumah sakit, pria yang bertanggung jawab atas perawatannya.
"Halo, Tuan," ucap dokter itu dengan nada hormat. "Pasien sudah sadar tadi, tapi kemudian pingsan lagi karena syok. Kami sudah memberikan penanganan yang terbaik. Anda bisa datang ke sini sekarang?"
Dokter itu mendengarkan jawaban dari seberang telepon dengan seksama, lalu mengangguk. "Baik, Tuan. Kami akan menunggu kedatangan Anda."
Dokter itu menutup teleponnya dan menatap Alea dengan tatapan prihatin. Ia tidak tahu apa hubungan antara wanita itu dengan pria yang telah membawanya ke rumah sakit. Namun, ia bisa merasakan ada sesuatu yang rumit dan menyakitkan di balik semua ini.
Alea membuka mata perlahan, kesadarannya kembali merayap seperti embun pagi. Pandangannya masih buram, namun perlahan mulai fokus. Ia melihat sosok seorang pria berdiri di dekat ranjangnya. Pria itu tinggi, tampan, dan berkarisma, mengenakan jas yang tampak mahal.
Pria itu tersenyum lembut, lalu meraih tangannya dengan hati-hati. "Kamu sudah sadar?" ucapnya dengan nada lega.
Alea mengerutkan kening, merasa bingung dan asing. Ia tidak mengenali pria itu. Siapa dia? Mengapa ia berada di sini?
"Maaf, siapa Anda?" tanya Alea dengan suara lemah. "Dan di mana saya sekarang?"
Pria itu tampak terkejut mendengar pertanyaan Alea. Senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi khawatir.
"Kamu tidak ingat saya?" tanyanya dengan nada cemas. "Ini saya, Ben. Kamu berada di rumah sakit."
Alea menggelengkan kepalanya. "Saya tidak ingat apa pun," jawabnya jujur. "Saya tidak ingat siapa Anda, saya tidak ingat bagaimana saya bisa sampai di sini. Saya... saya tidak ingat apa-apa."
Pria itu menghela napas dalam-dalam, lalu memanggil dokter yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.
"Dokter, sepertinya dia mengalami amnesia," ucap pria itu dengan nada khawatir. "Dia tidak ingat siapa saya, dia juga tidak ingat apa yang terjadi padanya."
Dokter itu mengangguk mengerti. "Sepertinya pasien mengalami post-traumatic amnesia akibat syok yang dialaminya," jelas dokter itu. "Kehilangan ingatan seperti ini biasanya bersifat sementara, namun bisa juga permanen tergantung pada kondisi pasien."
Alea hanya bisa terdiam, mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. Ia mengalami amnesia? Ia kehilangan ingatannya? Bagaimana mungkin?
Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan kosong. Siapa dia? Mengapa ia begitu peduli padanya? Apa hubungannya dengan dirinya?
Pikiran-pikiran itu berputar-putar di benaknya, menciptakan kebingungan yang semakin besar. Ia merasa seperti terdampar di pulau asing, tanpa tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana ia harus pergi.
Ben menatap Alea dengan tatapan lembut, berusaha menyembunyikan kebingungan dan ketakutan yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan. Kesempatan untuk mendekati wanita yang selama ini ia kagumi, wanita yang pernah menolongnya di masa lalu.
"Alea," ucap Ben dengan suara lembut dan penuh kasih sayang. "Aku tahu ini sulit untukmu, tapi percayalah, aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan membantumu mengingat semuanya."
Ben menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan kata-katanya. "Aku adalah kekasihmu, Alea. Nama saya Ben. Kita sudah lama menjalin hubungan, dan kita berencana menikah bulan depan."
Alea menatap Ben dengan tatapan tidak percaya. Kekasih? Menikah? Ia tidak ingat apa pun tentang itu. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Ben, dalam suaranya, yang membuatnya merasa nyaman dan aman.
Ben tahu bahwa Alea dan Rian sudah bercerai. Ia juga tahu bahwa Alea telah mengalami banyak penderitaan dalam pernikahannya. Diam-diam, Ben selalu memantau Alea, memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Ia tidak bisa membiarkan Alea terluka lagi.
"Aku tahu kamu mungkin tidak percaya padaku sekarang," lanjut Ben. "Tapi aku akan membuktikan padamu bahwa aku adalah orang yang tepat untukmu. Aku akan mencintaimu, menjagamu, dan melindungimu selamanya."
Ben meraih tangan Alea, menggenggamnya erat. "Kita akan menikah satu bulan lagi, Alea. Aku akan menjadi suamimu, dan kita akan membangun keluarga yang bahagia bersama."
Alea terdiam, menatap Ben dengan tatapan bingung dan ragu. Ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Namun, ia merasa ada sesuatu yang menariknya pada pria ini. Sesuatu yang membuatnya merasa ingin percaya padanya.
"Saya... saya tidak tahu," ucap Alea dengan suara bergetar. "Saya tidak ingat apa pun. Saya tidak tahu apakah saya bisa mempercayai Anda."
Ben tersenyum lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alea. "Percayalah padaku, Alea," bisiknya. "Aku tidak akan pernah menyakitimu."
Ben mengecup kening Alea dengan lembut, lalu menjauhkan wajahnya. "Aku akan membantumu mengingat semuanya," ucapnya. "Kita akan melewati ini bersama-sama."