Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Arini
Rasa takut akan terkurung setelah menikah yang selalu terbayang. Akhirnya Ziara bisa bernapas lega. Disaat Raka mengizinkannya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Ia memutuskan hari ini akan langsung bekerja. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Sita untuk bercerita seperti biasanya.
Zia bergegas pergi keluar mengikuti Raka yang jalan lebih dulu dihadapannya. Saat ia sampai di lantai bawah. Para pelayan memberi salam. Mereka menunduk dan berkata, "Selamat pagi tuan—nona."
Namun Raka tidak menjawab, terus saja berjalan ke meja makan. Zia tersenyum ramah menjawab sapaan mereka. Kebiasaan dari kecil didikan dari orang tuanya. Menanamkan sifat rendah hati. Selalu ia bawa kemanapun berpijak. Menjadi pegangan oleh sebab itu Zia selalu mempunyai banyak teman. Ia sangat mudah bergaul dengan siapapun.
Saat mendekat ke meja makan, mulut Ziara dibuat menganga. Saat melihat banyak menu yang berderet di meja makan. Rasa canggung saat duduk di sana. Bahkan ia tidak berani berbicara saat melihat wajah Raka yang dingin seperti es.
"Kupaskan aku udang!"
Akhirnya mulut yang terkunci rapat itu terbuka, walau membuat Ziara bingung. Dia harus apakan udang itu. Pelan-pelan gadis itu meraih sepiring udang.
"Bisa cepat sedikit? Apa udang itu terlihat menakutkan?" ucap Raka memandang malas.
"Ih, kenapa kalau kamu bisa nggak kupas sendiri, jarimu hilang ya? Sampai harus menyuruhku membuka kulit udang. Seperti anak kecil" gumam Ziara sambil mengupas udang di hadapannya. "Ini! Silahkan dimakan, yang mulia raja." Meletakan piring dihadapan Raka.
"Aku nggak mau, selera makanku hilang," Raka meletakan sendok mengelap mulut dengan kain yang sudah disiapkan.
Dasar ... Cowok aneh, sifatnya menyebalkan. Apa tangannya sakit? Bikin repot aku saja! Setelah aku susah payah membuka, dia malah menolaknya.
"Makan saja kalau mau." Raka beranjak dari duduknya.
Pak Handoko dengan sigap tiba-tiba sudah ada disana. Membicarakan tentang rapat yang harus di hadiri Raka. Sedangkan Ziara terlihat tidak perduli, sambil melanjutkan makan dengan lahab. Hingga mereka berdua hilang dari hadapanya. Ketika gadis itu sedang enak-enaknya makan. Ia dikejutkan suara hp notifikasi pesan Watsapp masuk. Nama Sita mengirim Chat yang berisikan.
[Hae Zia,]
Ziara membalas. [Hae juga, ada apa kamu pagi-pagi menghubungiku? Tumben.]
[Aku hanya mau kasih kabar kalau aku melihat Arini sudah kembali,]
[Beneran? Baguslah kalau begitu aku akan menemuinya. Sudah kangen beberapa hari ini dia menghilang. Udah dulu ya Sita, aku mau siap-siap kerja ini,]
[Oke, sampai jumpa di kantor.]
Setelah selsai makan Ziara segera bersiap untuk bekerja. Mendengar Arini kembali ia sudah tidak sabar ingin menemuinya. Tapi ia mempunyai tanggungan pekerjaan di kantor. Mungkin saat jam makan siang ia akan menemui temannya itu
"Arini sebenarnya kamu dari mana tiga hari ini menghilang bahkan kamu tidak ada saat aku butuh." batin Ziara.
Ziara penasaran kenapa Arini tiba-tiba menghilang tanpa kabar, bahkan mematikan ponsel. Kenapa bersamaan dengan Rio menghilang. Mereka berdua bahkan tidak tau kalau Ziara sudah menikah dengan orang lain.
Gadis itu pergi ke kamar untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Setelah selsai mengambilnya. Ia melihat pintu ruang kerja Raka terbuka dan berniat akan menutupnya. Saat gadis itu menarik hendel akan menutup. Tiba-tiba matanya terarah kesebuah foto di atas meja. Di pajang mengarah ke pintu.
Ziara masuk ingin melihat foto lebih jelas lagi. dan menatap foto seorang laki-laki sepantaran dengan ayahnya saat ini. Namun sepertinya foto itu diambil sudah beberapa belasan tahun yang lalu. Bisa dilihat dari warna gaya rambut dan pakaian.
Sepertinya dia adalah cowok itu, ternyata tanpangnya waktu kecil seculun ini.
Ziara tertawa sembunyi menutup mulut dengan tangan.
Aku mau foto pakai hp, akan kugunakan saat waktu yang tepat.
Gadis itu manggut-manggut merencanakan hal konyol. Setelah selesai mengambil foto ia ingin langsung keluar. langkahnya terhenti saat melihat kertas putih di dalam map yang terbuka. Mungkin Raka lupa menutupnya semalam.
Ziara mendekat ke meja membaca kertas putih. Yang berisikan tulisan.
Ibu adalah tidak nyata, kasih sayangnya adalah demi uang, tidak ada hal penting baginya selain uang.
Gadis itu membungkam mulutnya mata membulat. Tentu saja ia merasa tidak terima saat membaca kalimat tulisan di tangannya. Ziara terlahir ditengah keluarga harmonis. Ketika kecil hingga sekarang ia tak pernah kekurangan kasih sayang. Berbanding jauh dari Raka yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang 'IBU."