Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Sampai di rumah kamu harus istirahat, ya," ucap Vana lembut sambil mengelus rambut Aksa dengan penuh kasih.
Aksa menatapnya dengan wajah merengut, matanya tampak sendu. Ia tahu Vana tidak akan ikut pulang bersamanya kali ini.
"Mami ikut pulang, ya… Abang masih sakit, Mi," ujarnya dengan nada memohon, berharap Vana berubah pikiran.
Vana tersenyum kecil, menatap pemuda itu penuh sayang. Sejujurnya, ia pun ingin selalu berada di dekat Aksa dan Aska. Tapi statusnya sebagai orang baru di kehidupan mereka membuatnya harus menahan diri. Ia tak ingin orang lain salah paham melihat kedekatan nya dengan keluarga Leo yang tidak selevel dengan nya.
"Hari ini Mami nggak bisa ikut, sayang. Mami harus ke tempat kerja dulu, ada urusan mendadak," jawabnya lembut.
Setelah Aska pergi dari apartemen nya pagi ini, ia mendapatkan telpon dari Yasmine agar segera ke restoran, karena salah satu temannya libur dan meminta Vana untuk menggantikan nya untuk hari ini.
Aksa menunduk, memainkan ujung bajunya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tapi Abang pengen Mami di rumah..." bisiknya lirih.
Vana terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. Ia mencubit pipi remaja itu dengan gemas.
"Jangan manyun kayak gitu, lain kali Mami main ke sana, ya?" katanya menenangkan.
Aksa mendongak, menatapnya penuh harap.
"Kapan?" tanyanya pelan.
"Tunggu Mami libur kerja dulu, oke?" jawab Vana sambil tersenyum hangat.
"Janji!" seru Aksa sambil mengulurkan jari kelingkingnya seperti anak kecil.
Vana tertawa kecil, lalu mengaitkan kelingkingnya dengan milik Aksa.
"Janji," ucapnya.
"Nah, mana senyum manis anak Mami ini?” goda Vana lembut, matanya menatap penuh kasih.
Aksa sempat menahan senyum, berusaha terlihat cuek, tapi bibirnya akhirnya juga terangkat sedikit. Ia tak kuasa menahan diri saat melihat senyum manis Vana,senyum yang terasa hangat dan tulus.
Tanpa keduanya sadari, Leo yang berdiri di belakang Vana hanya mengamati dalam diam. Senyum kecil muncul di wajahnya. Dalam hati ia mengakui, Vana adalah perempuan pertama yang mampu membuat Aksa dan Aska tersenyum lebar tanpa paksaan, tanpa rasa marah yang biasa menutupi wajah mereka.
Namun kehangatan itu tiba-tiba terpecah oleh suara getar ponsel milik Leo. Reflek Vana dan Aksa langsung menoleh pada Leo.
Drt... drt... drt...
Leo segera mengambil ponselnya di dalam saku celananya dan menatap layar. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
“Ada apa? Katakan,” suaranya terdengar datar namun waspada.
“Ini gue.” Suara di seberang membuat Leo sedikit mengernyit.
“Agam? Ngapain lo di rumah? Bukannya lo di kantor?” tanyanya cepat.
“Tadinya iya,” jawab Agam terdengar tergesa. “Tapi gue udah pulang. Aska demam tinggi. Tapi dia nggak ngizinin siapapun masuk kamarnya, termasuk Kenan.”Ucap Agam.
Nada panik Agam membuat rahang Leo menegang.
Sebelum Leo sempat bertanya lebih jauh, Agam kembali menjelaskan dengan cepat.
“Tadi salah satu ART nelpon gue. Mereka bilang dari balik pintu kedengeran Aska manggil-manggil Maminya. Gue langsung pulang, terus panggil Kenan. Tapi waktu Kenan datang, Aska malah ngusir dia. Nggak ada yang berani maksa masuk. Lo tahu sendiri gimana anak itu kalau udah ngelawan.”
Saat Agam di kantor tadi, salah satu Art menelfon nya dan mengatakan kalau Aska sepertinya sedang demam. Karena mereka mendengar dari balik pintu kalau Aska yang terus memanggil maminya. Tanpa pikir panjang Agam langsung pulang, tak lupa ia juga menelfon Kenan, sahabat sekaligus dokter pribadi keluarga Leo.
Sesampainya dirumah, Agam langsung memeriksa Aska dikamarnya, benar saja anak itu sedang demam tinggi. Agam segera memanggil Kenan yang juga baru datang, tapi Aska langsung menolak nya untuk masuk kekamar nya. Tak ada satupun yang berani membantah dan melanggar aturan itu. Akhirnya Agam memilih menelfon Leo. sebenarnya tadi Saat para Art memberi tahu kabar Aska, Ia sudah menelfon Leo, tapi tiba-tiba ponselnya mati.
Dan jangan tanya kenapa para Art memilih menelpon Agam dibandingkan Leo ? Jawaban nya karena mereka takut dengan kemarahan Leo.
Leo mengembuskan napas berat. Nada suaranya kini tegas, tapi ada nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.
“Gue akan pulang sekarang.”
Leo terdiam sesaat. Ia tahu betul,Aska bukan tipe anak yang mudah ditenangkan, apalagi kalau sudah marah atau panik.
“Kalau bisa lo bawa Vana sekalian,” sambung Agam cepat. “Anak itu terus manggil-manggil Maminya.”
Kata-kata terakhir itu membuat Leo terdiam sesaat, matanya melirik ke arah Vana yang kini memandangnya bingung. Tanpa menjawab panjang, Leo hanya mengangguk pelan, lalu menutup panggilan.
Aksa yang memperhatikan dari dalam mobil langsung bertanya, “Kenapa, Pi?”Tanya nya penasaran melihat ekspresi papinya yang berubah setelah mendapatkan panggilan itu.
Leo menoleh sebentar ke arah Aksa. “Aska demam tinggi,” jawabnya singkat.
“Apa? Aska demam?” seru Vana refleks, matanya membulat kaget. “Kenapa bisa—”
“Kita harus pulang sekarang,” potong Leo cepat, suaranya penuh nada perintah.
Aksa segera bersuara, “Mami ikut, ya! Pasti Adek manggil-manggil Mami terus!”Ucap Aksa yang khawatir dengan adik kesayangan nya itu.
Vana sempat ragu, “Tapi aku—”
Belum sempat ia menolak, Leo sudah mendorongnya dengan lembut untuk masuk ke mobil.
“Nggak usah tapi-tapian. Aska butuh kamu sekarang.” ucapnya tegas namun lembut.
Vana menatap Leo sejenak, matanya menunjukkan kebimbangan, tapi hatinya sudah lebih dulu mengalah. Ia mengangguk pelan.
“Baik… saya ikut.”
Leo segera menutup pintu, lalu masuk ke kursi sebelah kemudi. Mobil Alphard itu pun melaju dengan kecepatan yang sedikit meningkat, menembus jalan sore yang mulai ramai.
Di dalam mobil, suasana mendadak hening. Aksa menatap keluar jendela, wajahnya tegang.
“Adek pasti takut sendirian, Mi,” katanya pelan.
Vana menatapnya, menepuk pelan lutut putranya itu. “Nggak apa-apa, sayang. Kita segera sampai. Mami janji.”
Leo yang mendengar percakapan itu menatap sekilas lewat kaca spion. Ada sesuatu dalam sorot matanya,kekhawatiran yang sama, tapi juga kelegaan kecil.
Karena di tengah situasi panik itu, ia tahu… hanya Vana yang mampu menenangkan kedua anak itu.
Tak butuh waktu lama, mobil itu akhirnya berhenti di halaman luas rumah mewah milik Leo. Tanpa banyak bicara, Leo langsung keluar, membukakan pintu untuk Vana dan Aksa. Melihat ada perempuan yang turun dari mobil itu, membuat para penjaga yang ada diluar terkejut.
Begitu mereka masuk ke rumah, para ART dan pekerja yang sedang menunggu kedatangannya langsung terkejut melihat tuan mereka membawa seorang perempuan kerumah. Ini pertama kalinya mereka melihat tuan besar dan tuan muda mereka mengizinkan seorang perempuan asing untuk masuk kerumah mereka.
Suasana rumah yang biasanya dingin kini mendadak ramai oleh langkah tergesa mereka bertiga.
Leo berjalan cepat menuju tangga, Aksa menyusul di belakangnya, sementara Vana berusaha menyesuaikan langkah keduanya. Di lantai dua, dua sosok sudah menunggu, Agam dan Kenan.
Dari jauh, Kenan sempat melirik ke arah mereka yang sedang berlari menaiki tangga bdan berbisik pelan pada Agam.
“Apa dia… perempuannya itu?”Tanya Kenan.
Agam hanya mengangguk dengan senyum samar. “Iya. Dia perempuan yang bisa meluluhkan hati dua anak singa itu.”Jawab Agam tidak melepaskan pandangan dari ketiganya.
Begitu mereka sampai di depan kamar Aska, Aksa langsung bertanya cemas, “Gimana keadaan Adek, uncle?”
Agam menghela napas. “Demamnya masih tinggi. Om Kenan udah coba masuk, tapi Aska nggak mau. Dia ngusir semua orang.”Jawab Agam.
Tanpa banyak bicara, Leo langsung meraih gagang pintu dan membukanya. Namun sebelum melangkah masuk, ia menoleh pada Vana.
“Kamu ikut, saya,” ucapnya mantap.
Vana sempat menatap Leo dengan ragu, tapi tatapan tegas itu membuatnya mengangguk.
Leo menggenggam lembut pergelangan tangannya dan menariknya masuk bersamanya disusul oleh Aksa yang juga ikut masuk.
Pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka.
Dan di luar, para pekerja hanya bisa saling pandang,terkejut dan berbisik pelan melihat Leo yang membawa Vana masuk kekamar Aska.
Hari itu, untuk pertama kalinya, seorang perempuan melangkah masuk ke kamar anak-anak keluarga Pradipta… dan tak ada yang berani menghentikannya.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊