Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Beberapa bulan berlalu sejak keputusan Arka membatalkan pernikahannya dengan Nanda. Ancaman keluarga itu terbukti bukan sekadar gertakan.
Satu per satu investor dan mitra kerja mulai menarik diri. Mereka tidak mau berisiko berselisih dengan keluarga Nanda yang pengaruhnya cukup besar di dunia bisnis.
Aliran dana yang biasanya masuk ke perusahaan Mahendra berhenti hampir sepenuhnya. Tagihan menumpuk, gaji karyawan tertunda, dan pinjaman ke bank terus membengkak.
Situasi ini tidak terjadi dalam semalam. Selama beberapa bulan, Arka dan ayahnya sudah mencoba berbagai jalan.
Mereka menghubungi kenalan lama, mencari investor baru, menegosiasikan ulang beberapa kontrak yang masih bisa diselamatkan.
Tapi nama Mahendra sudah terlanjur tercoreng di lingkaran bisnis itu. Pintu demi pintu tertutup.
Suatu sore, Arka, Tuan Mahendra, dan Raka duduk di ruang kerja utama. Meja di depan mereka penuh dengan dokumen keuangan dan laporan yang sudah berkali-kali mereka baca ulang.
Arka menaruh selembar kertas di meja dan mendorongnya ke arah ayahnya. "Tidak ada cara lain lagi, Yah. Satu-satunya aset yang bisa kita cairkan cepat dengan nilai cukup besar hanyalah rumah itu."
Tuan Mahendra mengambil kertas itu dan membacanya sebentar. "Rumah yang kau tempati bersama Aluna dan Arfan, Ka."
"Iya." Arka menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Daripada perusahaan bangkrut total dan kita kehilangan segalanya, lebih baik kita lepas itu dulu. Rumah bisa dibangun lagi nanti. Tapi kalau perusahaan sudah jatuh, tidak mudah untuk bangkit kembali."
Raka yang duduk di sudut ruangan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap mejanya.
Tuan Mahendra meletakkan kertas itu kembali. Ia mengangguk pelan, tanda menyetujui.
...---...
Berita itu sampai ke telinga Aluna siang harinya.
Ia sedang duduk di ruang tengah bersama Arfan ketika Arka datang dan menceritakan semuanya. Aluna mendengarkan tanpa menyela. Setelah Arka selesai berbicara, ia hanya menunduk dan menatap jari-jari kecil bayinya.
Ia tahu semua ini bermula dari keputusan Arka memilih dirinya. Rasa bersalah itu tidak mudah untuk diabaikan, meski Arka sudah berkali-kali bilang bahwa keputusan itu sepenuhnya miliknya.
Keesokan harinya mereka mulai membereskan barang. Kardus-kardus besar dibawa masuk ke kamar, lemari dikosongkan satu per satu. Rumah yang selama ini terasa besar dan lapang mendadak terlihat berbeda ketika isinya mulai dikurangi.
Aluna sedang melipat baju bayi ketika ia mengangkat kepalanya. "Tuan... kita mau pindah ke mana?"
Arka berhenti membungkus sesuatu dan berpaling ke arahnya. "Ke rumah utama keluarga. Rumah tua Ayah dan Ibu di ibu kota."
Ia duduk di tepi ranjang, di dekat Aluna. "Udaranya lebih tenang di sana. Lingkungannya juga cukup asri. Meskipun tidak seluas ini, tapi cukup untuk kita berteduh sementara."
Aluna mengangguk pelan. Di dalam kepalanya sudah terbayang wajah Nyonya Soraya. Tinggal satu atap bersamanya setiap hari adalah hal yang berbeda dari sekadar bertemu sesekali di acara keluarga.
"Baiklah, Tuan. Aluna ikut saja." Aluna melanjutkan lipatannya. "Asalkan kita bertiga masih bersama."
Arka menatapnya sebentar. "Terima kasih sudah mengerti. Maafkan aku yang belum bisa memberi banyak saat ini."
...---...
Hari kepindahan tiba dua minggu kemudian.
Truk pengangkut barang sudah menunggu di depan sejak pagi. Mobil-mobil yang dulu biasa mereka gunakan sudah tidak ada.
Mereka berangkat dengan satu mobil keluarga yang sudah cukup berumur namun masih layak jalan.
Perjalanan ke ibu kota memakan beberapa jam. Aluna duduk di kursi penumpang dengan Arfan di pangkuannya. Ia banyak diam sepanjang jalan, sesekali melihat ke luar jendela.
Pemandangan berganti dari jalanan kota yang ramai menjadi jalan yang lebih sepi dan rindang.
Rumah utama keluarga Mahendra berdiri di sebuah jalan yang tenang. Bangunannya besar, bergaya klasik, dengan halaman yang rapi dan pohon-pohon tua di sisinya. Berbeda dari rumah yang mereka tinggalkan, tempat ini terasa lebih kaku dan formal.
Nyonya Soraya sudah berdiri di teras ketika mobil mereka masuk ke pekarangan.
Begitu Aluna turun dan membuka pintu belakang untuk mengambil Arfan, Nyonya Soraya sudah ada di sisinya. Tanpa bertanya lebih dulu, ia mengambil bayi itu dari gendongan Aluna.
"Aduh, cucu nenek." Nyonya Soraya menimang Arfan dan suaranya berubah lembut. Matanya tidak lagi memandang ke arah Aluna.
Setelah beberapa detik, ia mengangkat kepalanya. Nada suaranya kembali seperti biasa. "Hem. Akhirnya jadi pengemis juga ya kalian. Dari hidup bergelimang, sekarang harus numpang di rumah orang tua."
Arka berdiri di sebelah Aluna. "Bu, kita sedang dalam masa sulit. Tolong sambut kami dengan baik."
"Aluna juga lelah setelah perjalanan panjang," lanjut Arka, kali ini lebih pelan.
Nyonya Soraya tidak menjawab. Ia berbalik masuk ke dalam rumah sambil masih menggendong Arfan. "Sudah, masuk saja. Jangan berdiri di depan pintu."
Aluna berdiri di halaman sebentar sebelum akhirnya melangkah masuk.
Raka yang berjalan di belakangnya menepuk bahunya pelan. "Sudah, Non. Masuk saja."
"Biar aku bantu bawa barang," tambah Raka sambil mengangkat dua kardus sekaligus.
...---...
Kamar yang disiapkan untuk mereka ada di lantai dua. Cukup luas, tapi sederhana. Tidak ada kamar mandi di dalam, tidak ada banyak perabot. Jendelanya menghadap ke halaman belakang yang ditumbuhi beberapa pohon.
Aluna mulai mengeluarkan isi kardus dan menata barang-barang mereka. Arka membantunya melipat pakaian di sisi lain ranjang. Mereka bekerja tanpa banyak bicara, hanya sesekali saling mengoper sesuatu.
Aluna tidak mengangkat kepala saat berbicara. "Tuan, Aluna janji akan berusaha tidak membuat masalah di sini."
"Aluna akan coba sabar menghadapi Tante Soraya," lanjutnya pelan.
Arka menatapnya tapi tidak langsung menjawab.
"Aluna juga tidak akan minta macam-macam." Aluna meletakkan baju yang sudah ia lipat ke dalam lemari. "Kita sedang susah, Aluna tahu itu."
Arka menaruh apa yang ia pegang dan bergerak ke sisi istrinya. Ia melingkarkan tangannya di bahu Aluna.
"Kita kehilangan banyak hal." Suaranya pelan. "Dan ibuku masih menyakitimu. Tapi kamu tidak mengeluh."
Aluna menggeleng. "Dimana ada Tuan dan Arfan, di situ rumah Aluna." Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arka. "Harta dan rumah bisa dicari lagi. Tapi keluarga tidak bisa diganti."
Arka diam sebentar. Tangannya mengusap rambut Aluna, lalu ia mencium keningnya.
"Terima kasih." Suaranya pelan. "Aku janji, suatu hari nanti kita akan bangkit dari ini semua."
...---...
Malam itu Aluna berbaring di ranjang kamar yang baru dengan Arfan di sisinya. Kamar itu sepi, berbeda jauh dari kamar yang selama ini ia kenal. Tapi tubuhnya lelah dan pikirannya sudah tidak sanggup berputar lebih lama.
Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia mendengar suara Arka mengecek pintu kamar, memastikan semuanya terkunci dengan baik. Lalu langkahnya mendekat, dan ia berbaring di sisi lain ranjang tanpa bersuara.
Tantangan ke depan nyata dan tidak kecil. Tinggal bersama Nyonya Soraya, kondisi keuangan yang belum jelas ujungnya, semua itu masih harus dihadapi. Tapi malam ini Aluna memilih untuk menutup matanya dan beristirahat.
Besok adalah hari lain.