Lahir, dan besar, di negara yang terkenal karena budaya tolong menolong terhadap sesama, tanpa sengaja Reina menolong seseorang yang sedang terluka, tepat ketika salju tengah turun, saat dirinya berkunjung ke negara asal ayah kandungnya.
Perbuatan baik, yang nantinya mungkin akan Reina sesali, atau mungkin justru disyukuri.
Karyaku yang kesekian kalinya, Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan
Taman di tengah kota, menjadi pilihan Reina, untuk duduk berdiam diri, merenungi nasihat yang diberikan dokter padanya.
Tadi usai pemeriksaan Ultrasonografi, mendadak mata Reina berkaca-kaca, dia tengah dilanda kebingungan, akan hidupnya kelak.
Dokter yang menyadari, jika salah satu pasiennya belum siap menerima kenyataan, memberikan penjelasan tentang kondisi janin kembar itu, yang baru berusia beberapa Minggu, dan diselingi dengan nasihat. Berharap agar pasiennya tak berbuat nekat.
Reina menghela nafas berat untuk kesekian kalinya, dia mengelus perutnya yang masih rata, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" monolognya.
Jika dia mengaborsi, maka dirinya akan dicap pembunuh darah dagingnya sendiri, dan akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Lalu jika pulang kampung, maka hujatan bertubi, dan diusir pasti akan diterimanya.
Tapi jika dirinya mempertahankan bayi ini, bagaimana bisa, dia tetap bekerja, dalam kondisi hamil, tanpa menikah, jelas dia akan malu, mendapatkan cibiran dari para rekannya.
Belum soal biaya hidup, dan menjaga, serta mendidik, kedua calon anaknya. Reina baru bekerja, tak mungkin baginya sering bolos, dengan alasan sakit.
Jadi Apa yang harus Reina lakukan?
Cukup lama, Reina duduk di bangku besi, seraya memandangi tanaman hijau yang rimbun didepannya.
Walau mulutnya tak berucap, tapi pikirannya sangatlah berisik, menimbang ini-itu untuk hidup, termasuk soal keuangan.
Reina sempat mengecek total saldo, yang ada di aplikasi, m-banking miliknya, Apa ini cukup, untuk kehidupannya kelak?
Mustahil baginya menghubungi, bapak si bayi, untuk meminta pertanggung jawaban, selain berbahaya, bukankah lelaki itu, sudah kembali ke Itali? Dan Reina tak tau alamat di sana.
Sepertinya tak ada pilihan lain, selain menjalani hidup seorang diri, tapi yang jadi masalahnya adalah, bagaimana dirinya menjelaskan, tentang kondisinya, pada atasannya di kantor? Apa mereka mau tetap mempekerjakannya, dengan kondisinya yang sekarang?
Karena tak mungkin baginya, menutupinya terus-menerus. Cepat atau lambat, perutnya akan membuncit, apalagi dirinya mengandung janin kembar.
Lalu soal tempat tinggalnya, apa bisa suatu saat menampung dua bayi kembarnya? Karena kamar kosnya hanya pas, untuknya tinggal sendiri.
Reina membuang nafasnya kasar, dia jadi kesal, saat mengingat Rita menjual rumah warisan dari mendiang Papanya, tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu, demi menutupi hutang ayah tirinya.
Dan mirisnya, uang yang diberikan padanya, dari hasil penjualan rumah itu, bahkan tak cukup untuk dirinya makan, selama sebulan.
Sebelum anak-anaknya lahir, setidaknya dia harus tinggal di tempat yang lebih besar, kontrakan tiga petak, atau mungkin membeli rumah. Sayangnya, saldo tabungannya, tak cukup untuk membeli rumah di ibu kota, yang harganya cukup mahal.
Rasanya Reina ingin berteriak, dan bertanya, apa yang harus dia lakukan? Karena membayangkannya saja, membuatnya dadanya sesak.
Tak terasa, cairan bening, mengalir dari sudut matanya, dia mulai terisak, di tengah kemelut masalah, yang menimpanya saat ini.
Tak ada untuknya tempat bersandar, dan berbagi keluh kesah, dia benar-benar sendirian, sebatang kara di ibu kota nan kejam ini.
Juga tak ada pelukan hangat, yang menenangkannya, di saat dirinya tengah gundah gulana. Reina benar-benar sendirian.
Apa lebih baik dia menyusul Papanya saja? Toh mungkin tak ada yang akan mencarinya, termasuk ibunya yang sejak kejadian itu, sama sekali tak menghubunginya.
Entah karena membuangnya, atau memang merasa bersalah, karena memakan haknya, demi suami barunya.
Sikap Rita benar-benar berubah, padahal tak perlu sampai seperti ini, toh Reina pikir, hal itu sudah terlanjur, dan dirinya juga sudah berusaha untuk ikhlas. Jadi bisakah Rita menghubunginya, sekadar menanyakan keadaannya? Sehingga Reina tak merasa hidup sebatang kara.
Reina bangkit, dan melangkah, menelusuri jalanan, yang membawanya, ke arah halte bus, sepertinya dia harus kembali ke kosan, dia mulai lelah, dan lapar.
Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya, Reina menatap jalanan yang dilaluinya, dia melihat aktivitas penduduk ibu kota, yang sibuk, seraya berpikir tentang hidupnya.
Tak sengaja dia mendengar percakapan, dari dua perempuan, yang duduk bersebelahan dengannya.
Intinya keduanya, sedang membicarakan tentang program kehamilan, dari salah satu perempuan itu, yang sudah berkali-kali dilakukannya, dan tak kunjung membuahkan hasil.
Reflek Reina, menyentuh perutnya yang masih rata, dia mengelusnya lembut, dan sebuah ide, tiba-tiba muncul di pikirannya.
***